
Sudah pukul setengah sebelas Ameer sudah bersiap untuk menjemput Gaza di sekolah nya. Gaza sudah menunggu bersama temannya yang lain di dalam gerbang sekolah nya. Senyumnya selalu terukir karena Gaza akan di jemput oleh sang ayah.
" ayah..." teriak Gaza ketika melihat Ameer masuk ke dalam gerbang.
" halo sayang, ayo kita pulang ". Gaza mengangguk berjalan menggandeng tangan Ameer.
" mau pulang ke rumah kakek atau Nini." tanya Ameer.
" rumah Gaza." ucap Gaza.
" rumah Gaza di mana" Gaza menggeleng.
" loh maksud Gaza, bagaimana sayang."
" semua teman Gaza punya rumah sendiri ngga tinggal sama neneknya".
" iya ayah juga sudah menyiapkan rumah untuk Gaza, tapi masih di perbaiki biar rapih dan bagus. Gaza mau liat."
" mau ayah."
" oke kita ke sana sebentar ya sayang, ". Ameer melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan selalu menjawab setiap pertanyaan Gaza.
" nah kita sudah sampai sayang". Ucap Ameer berhenti di rumah yang cukup besar dekat dengan rumah Azzam jarak satu komplek.
" wah bagus ayah, Gaza suka." Gaza berlari ke sana ke mari melihat rumahnya dan memilih kamar untuk dirinya.
" ini kamar Gaza dan sebelah sini nanti kamar adik ya ayah, Gaza mau adik."
" oke sayang, bilang sama bunda kalau Gaza mau adik ya." Gaza mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Setelah setengah jam lamanya lalu mereka kembali ke rumah nya ustadz Barra. Ameer mengantar nya ke rumah dulu sembari mau pamit pelan-pelan.
___
Khansa masih sibuk melakukan pekerjaan nya, meracik obat seperti biasa. Ia memang lebih memilih bekerja di dalam dari pada harus keluar untuk mengantar kan obat. Pikiran khansa jadi teringat Ameer yang akan pergi ke bandung, entah mengapa tiba-tiba terlintas diri suaminya kini.
" hey ada apa kok melamun." sapa Mahya setelah ia cuci tangan, akan istirahat terlebih dahulu karena waktu sudah siang.
" ngga apa-apa Mahya."
" ada apa ayo cerita, aku ini sahabat mu Khansa". Khansa menghela nafasnya.
" siang ini kak Ameer berangkat ke Bandung ".
" ngapain." tanya Mahya.
" mau mengurus kepindahan nya ke Jakarta ". Ucap Khansa ia berjalan untuk mencuci tangan nya.
" kenapa kamu tak ikut".
__ADS_1
" mana bisa aku bekerja". Ucap khansa.
" gampang Khansa sekarang kamu bersiaplah pulang nanti aku bicara sama ayahmu azzam agar memberikan izin". kini direktur utama rumah sakit itu adalah Azzam.
" eh jangan begitu Mahya meski ayah itu mertuaku tapi aku ngga boleh juga semena-mena bekerja."
" ini bukan semena-mena Khansa ini demi kamu dan Gaza, kalau tidak begini kapan kamu mau dekat dengan kak Ameer. Pokoknya kamu pulang sekarang, sebelum kak Ameer berangkat ".
" tapi Mahya."
" sudah kamu harus menurut sama aku Khansa." Mahya lalu menghentikan taksi agar mengantar Khansa untuk pulang ke rumah nya.
" terima kasih". ucap Khansa tersenyum, Mahya mengacungkan jempolnya.
Setelah itu Mahya datang ke ruang direktur ia mengatakan kepada azzam atas izin Khansa dan tujuannya. Jelas azzam mengizinkan memang itu juga kemauan dia agar anaknya bisa dekat.
" terima kasih nak Mahya."
" iya siap pak direktur." ucap Mahya nyengir lalu ia pamit.
__
Taksi sampai di rumah, Ameer pun terkejut melihat Khansa yang sudah pulang. Ia belum juga mengabari jika akan berangkat sekarang, Ameer sedang mengganti pakaian Gaza saat itu.
" bunda sudah pulang." tanya Gaza.
" kenapa kok baru jam segini sudah pulang." tanya Ameer.
" iya kak, katanya kakak mau berangkat ke Bandung jadi Khansa izin untuk pulang ". Ucap khansa.
" tak perlu izin juga Khansa nanti jika aku berangkat langsung aku hubungi." ucap Ameer.
" ayah mau ke Bandung." ucap Gaza menyilangkan tangannya di depan dada.
" iya sayang ayah harus menyelesaikan pekerjaan ayah dulu di sana, jika sudah selesai ayah langsung pulang."
" ngga mau Gaza ngga mau ayah pergi lagi, ayah kan sudah janji ngga pergi". Gaza berucap dengan nafas naik turun.
" ayah hanya sebentar sayang mengurus pekerjaan aja, ayah janji akan cepat pulang." ucap Ameer meyakinkan.
" Putri Gaza ikut ayah saja besok kan libur." ucap Khalid sengaja.
" ah iya sayang, apa tak bisa jika Gaza dan Khansa ikut nak Ameer." ucap Alira yang saat itu sedang memasang manik-manik dalam pakaian pesanan nya.
Ameer melirik Khansa ia tak mau memaksa Khansa , memang semua sengaja mendekat kan Khansa dan Ameer. Khalid mengerti gerak mata Ameer.
" mbak Khansa pasti mau kak Ameer, iya kan kak." ucap Khalid dan khansa pun mengangguk.
" hore,,, kita jalan-jalan. terima kasih ayah, Gaza sayang ayah". Semua ikut tertawa melihat Gaza yang sangat bahagia.
__ADS_1
" Mau naik apa ke sana Ameer". Tanya barra yang saat itu masih berada di rumah.
" Ameer berencana bawa mobil sendiri Abi." ucap Ameer.
" ya sudah tak apa hati-hati di jalan, berangkat jam berapa ".
" insyaallah habis zuhur Abi."
" ya sudah sekarang lebih baik kalian istirahat dulu, biar nanti di perjalanan tidak mengantuk ". Ucap barra.
" ayo Gaza kita tidur dulu." Khalid selalu memberi kesempatan untuk Khansa dan Ameer.
Gaza naik di punggung Khalid mereka lalu tidur bersama emak dan Abah di belakang dekat kamar bibik. Ameer dan Khansa lalu naik ke atas masuk ke dalam kamar.
" Kok kamu tidur di sofa Khansa."
" gantian kakak yang tidur di ranjang". Ucap Khansa.
" nanti punggung mu sakit Khansa, biar aku saja yang tidur di sini".
" Biar Khansa juga merasakan sakitnya punggung kakak semalam." kata Khansa ia sudah memejamkan matanya di sofa.
" Khansa nanti sakit beneran loh, ayo naik ke ranjang ini perintah". Kata Ameer ia menggunakan kuasanya, Khansa tersenyum.
" tapi kakak juga harus tidur di ranjang juga". ucap Khansa sebelum dia bangkit dari sofa.
" Kakak di sofa saja ngga apa-apa".
" kak kalau kita ngga mulai dari sekarang kapan kita akan dekat, Khansa berusaha untuk menepis jarak di antara kita kak. Khansa sadar jika sekarang kakak ini suami Khansa bukan dosen Khansa lagi." ucap Khansa sembari menatap ameer, membuat Amer kikuk.
" maaf Khansa, aku takut kamu ngga nyaman ada di samping aku".
" meskipun pernikahan kita dadakan tapi kata Abi mencintai yang sudah halal bagimu itu suatu kewajiban kak".
" Aku juga berusaha tentang itu Khansa maaf aku yang masih kaku ". Ucap Ameer lalu duduk di tepi ranjang.
' seandainya kamu tau Khansa jika cinta di hatiku selamanya akan ada untuk mu, dari dulu hingga detik ini'. Monolog Ameer dalam hati.
" Apa karena aku seorang janda kak yang sudah...". Ameer meletakkan jarinya di bibir khansa yang kini keduanya duduk di tepi ranjang.
" jangan katakan itu, aku tak peduli status mu. Tak peduli bekas pelukan siapa dirimu yang penting sekarang kamu itu istri ku." ucap ameer menahan malu atas ucapannya.
" terima kasih kak sudah mau menerima Khansa". Ameer mengangguk.
" yuk tidur dulu keburu adzan Zuhur nanti." ucap khansa yang naik ke atas ranjang. Di ikuti Ameer yang juga berusaha terlelap, ia betul-betul berada di pinggir ranjang.
__
Jangan lupa kasih bintang lima ya kakak pembaca yang baik.
__ADS_1