Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Draft


__ADS_3

" ya nanti kalau mau aki sama Nini Abi ajak". semuanya tersenyum bukan mereka tak pernah ke desa tapi rindu saja.


Semua berpamitan tak lupa Salim dengan takzim, barra yang sudah di tunggu Fauzan dan Ratih. Khalid dengan sepeda nya dan Khansa dengan motor maticnya.


Seperti biasa Khansa menghampiri Mahya terlebih dahulu, Mahya sudah menunggu di depan. sebenarnya Mahya bisa saja berangkat bareng sama abinya tapi ia tak mau lebih senang bersama Khansa. Senyum terukir dari bibir Mahya ketika melihat motor Khansa yang mulai mendekat.


" ayo cepat nanti terlambat". panggil Khansa ia sengaja tidak turun supaya cepat sampai.


" iya sebentar aku pamit dulu sama umi". Mahya sedikit berlari ke dalam untuk pamit kepada ibunya.


" Pakai helmnya Mahya aku tak mau sampai kita kena tilang nanti jadi lebih terlambat kita " ucap Khansa yang masih sedikit cerewet pagi ini.


" tumben banyak kata yang kamu keluarkan pagi ini Khansa kesambet apa".


" ngga aku cuma ngga mau telat aja ini nampaknya sudah siang". Khansa menambah kecepatan motor nya.


" hati-hati Khansa jangan ngebut". ucap Mahya ia berpegangan erat pada sisi gamis Khansa.


" Alhamdulillah". ucap Khansa saat motor itu sudah terparkir pada tempatnya.


" astaghfirullah kamu bikin aku jantungan saja Khansa". Mahya masih memegangi dadanya yang masih merasa syok.


" maaf, ayo cepat keburu dosen nya masuk nanti". Mahya dan Khansa pun berjalan lebih cepat dengan tidak menghiraukan orang-orang di sekitar yang melihat keduanya. Penampilan Khansa dan Mahya memang menjadi perbincangan di kampusnya. Gamis longgar juga jilbab besar dan panjang namun tak menutupi kecantikan keduanya.


Teman-teman mereka sudah duduk rapi di kursi masing-masing, Khansa mendapat kursi lumayan belakang karena datang kesiangan. ia lupa mengecek motor jika bahan bakarnya habis, Khansa mengantri dulu di SPBU tak di sangka akan lama jadinya hingga mereka kesiangan.


" Alhamdulillah untung dosen belum masuk". Khansa menghela nafas senang begitupun dengan Mahya.


Gagah tinggi dengan bulu tipis di rahangnya menambah aksen ketampanan seorang pria di universitas itu. semua pasang mata melihatnya bahkan seakan dunia itu berhenti waktu tidak berputar lagi.


Suasana kelas yang tadinya ramai akhirnya menjadi hening kala laki-laki masuk menenteng bukunya. ia duduk di tatapnya seluruh mahasiswa di kelasnya. Matanya menatap sosok gadis yang semalam ia temui di acara pesantren. deg,,, entah perasaan apa yang ada kini di jantungnya seakan di pukul keras bahkan makin keras detak jantung nya.


" assalamu'alaikum". ucapan salam terdengar dari bibir bapak dosen yang tampan paripurna.

__ADS_1


" wa'alaikumsalam." jawab semua mahasiswa.


" Perkenalkan saya Ameer dosen yang akan mengajar kalian, saya baru saja memasuki kampus ini". ya Ameer untuk pertama kalinya masuk kampus ini, ia di minta oleh direktur yayasan untuk mengajar di kampusnya.


Karena Ameer memang baru lulus setahun lalu jadi untuk nya ini adalah pengalaman pertama. Mahasiswa menyambut dengan suka cita, bagaimana tidak dosen muda dan tampan seorang dokter.


Ameer mempersilahkan semuanya membuka materi yang akan ia ajarkan hari ini, Ameer mengikuti yang di ajarkan oleh ayahnya dokter Azzam. Selain menjadi dokter di rumah sakit azzam juga merangkap sebagai dosen di universitas Gunadarma. berbeda dari universitas yang sekarang Ameer mengajar.


Dengan sangat mudah para mahasiswa jurusan apoteker ini menerima materi yang di sampaikan oleh Ameer. hanya materi pembuka saja yang Ameer kuasai karena ia bukan ada pada jurusan ini.


Jam selesai lalu Ameer menutup pengajaran nya hari ini. kembali suara gaduh terdengar mereka pasti sibuk membicarakan dosen muda nya kali ini yang tampan. karena di kelas itu mahasiswi semua kecuali Rozi.


" kamu lihat tadi mouza tampan banget seperti nya dia masih single". ucap Risha salah satu mahasiswa di kelas itu.


" iya terlihat banget orangnya juga begitu ramah, ah jadi bikin semangat ke kampus nih." kata mouza, Risha pun mengangkat tangannya mengepal tanda ia semangat.


" masih gantengan aku tau". ucap Rozi.


kedua temannya mencebik ucapan Robi membuat mereka sontak tertawa mengejek. Rozi hanya garuk-garuk kepala, Rozi sebenarnya juga tampan tapi kalau di banding dengan Ameer jauh. karena Ameer terlihat laki-laki penuh wibawa senyuman nya membuat hati wanita meleleh.


" husss... Mahya tak pantas kita membicarakan soal itu".


" maaf aku wanita normal Khansa ".


" iya tapi jangan keras di tempat umum dia bukan halal bagimu, zina mata itu yang di katakan Abi ku". selalu saja Khansa menyebut kan nama Abi nya karena memang Khansa sangat dekat dengan abinya. semua nasehat yang abinya berikan ia simpan di dalam otaknya. begitulah bagi seorang wanita ayah adalah cinta pertama baginya.


" aku laper Khansa."


" ayo ke kantin". Khansa masih belum beradaptasi banyak dengan teman-teman satu kelasnya namun ia selalu bersikap ramah dengan melayangkan senyum.


" siapa sih dia, sejak kemarin aku lihat dia kok orangnya adem ya". ucap Rozi.


" ya temen kelas kita, bukan muhrim Rozi jangan dekat -dekat". ucap mouza.

__ADS_1


" husss... jangan menilai orang sembarangan dulu kalau belum mengenal nya lebih dalam, yuk kita samperin aja biar punya teman baru. lagian dari dulu cuma kalian aja temen aku, apalagi kamu Ozi ngikut aja kuliah di sini."


" ye,,, kamu yang ngikutin aku, "


Rozi orangtuanya pemilik apotek ternama dan ia di minta untuk melanjutkan sekolah nya di bidang apoteker agar usahanya bisa di lanjutkan oleh Rozi.


Khansa dan Mahya duduk ia memesan makanan memang sudah lumayan lapar, apalagi dosennya terlalu tampan hingga membuat para murid banyak yang tahan napas hingga kelaparan.


" Boleh kita duduk di sini". ucap mouza memang banyak tempat duduk yang sudah penuh. Mouza dan Khansa mendongak ke arah suara.


" ya silahkan". Khansa tersenyum memeprsilahkan.


" kenalkan aku mouza". mouza memberikan tangannya untuk berjabat tangan.


" aku Khansa".


" Mahya". Lalu Risha dan ozi mendekat.


Boleh kami juga gabung, Khansa mengangguk mereka lalu berjabat tangan giliran sampai di Rozi. Khansa hanya menangkupkan tangannya saja di depan dada.


" Ternyata kamu asyik ya di ajak ngobrol Khansa, aku kira kamu tak mau berteman dengan kami". Khansa hanya terkekeh.


" tidak sebenarnya kami suka berteman hanya saja kamu tak berani karena mungkin orang melihat kami berbeda". ucap Khansa maksud dari berbeda di sini pakaian mereka yang begitu tertutup.


" tak masalah buat kami, kamu spesial". Khansa hanya terkekeh.


" Kalau aku gabung masalah tidak Khansa".


" tidak masalah memang kenapa kita rame-rame gini, semua ada pada batasnya ". Rozi nyengir ia manggut-manggut mengerti apa maksud batas dari Khansa, sedangkan Mahya ikut tersenyum saja belum banyak berbicara.


" Ayuk makan pesanan ku sudah datang". Khansa memutus pembicaraan terlebih dahulu karena makanannya sudah datang.


kembali mouza, Risha dan Rozi mengobrol sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang. Suara cekikikan terdengar Khansa dan Mahya yang mendengar banyolan Rozi pun ikut tersenyum.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2