Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 21


__ADS_3

Sore hari setelah mandi, Tio duduk di teras samping Pak Broto yang sedang menikmati kopinya sendirian.


"Pak Broto, saya mau berbicara hal penting." kata Tio yang hatinya berdegup kencang takut salah bila dihadapan Pak Broto.


"Iya ada apa Tio? Hal penting apa itu?" tanya Pak Broto menyeruput kopi hitamnya.


"Begini Pak, Tio dan Aldi sudah berbicara tadi di kamar. Perihal makan di tempat Bapak biayanya berapa sebulan?" tanya Tio yang mulai berbicara santai dengan Pak Broto.


"Oalah, aku kira ada hal penting apa. Gak taunya cuma soal biaya makan toh." sahut Pak Broto di iringi tawa lebar.


"Soal itu, bicarakan dengan istriku saja Tio." timpal Pak Broto kembali.


Tak lama Bu Neneng istri Pak Broto datang membawakan kopi untuk Tio.


"Nah kebetulan orangnya ada disini. Silahkan omongin dengan Bu Broto saja." sahut Pak Broto.


Bu Neneng yang mendengar hal itu ikut duduk disamping suaminya dan menatap Tio dengan tersenyum.


"Ada apa Nak Tio?" tanya Bu Neneng ramah.


"Anu Bu, ini soal biaya makan per bulannya di tempat ini?" ujar Tio langsung ke intinya.


"Soal itu, Ibu biasanya matok harga 350ribu per bulan untuk biaya makan orang - orang yang makan di tempat ini.


"Begitu ya Bu," tukas Tio yang sedikit kaget dengan biaya makan disini. Dalam hatinya berkata, "Gila mahal juga disini, kayak biaya kos - kosan di tempat asalku."


"Baiklah Bu, saya terima." ucapnya tersenyum.


Kemudian, ketiganya mengobrol layaknya keluarga dan hal itu membuat Tio merasa nyaman berada di tempat Pak Broto.


Pasangan suami istri itu, ternyata membuka toko kebutuhan rumah tangga dan juga peralatan lainnya yang dibutuhkan oleh pekerja sawit. Hal itu membuat senang semua orang karena gak perlu repot - repot jauh ke kota yang berjarak 3 jam dari tempat mereka untuk mencari barang yang dicari.


* * *

__ADS_1


Sebulan telah berlalu.


Awal pertama kali menginjakkan kakinya di tanah rantau ini, berkali - kali Tio merasa berat dan putus asa karena rindu dengan kekasihnya juga kelpuarganya dikampung. Namun, berkat dukungan dari Pak Broto serta istrinya akhirnya Tio berhasil melewati semua ini dengan lapang dada. Semua demi keluarga yang dicintainya.


Bagi Tio, Pak Broto dan istrinya adalah keluarga ke dua disini. Dari kasih sayang mereka, Tio merasa mendapat sosok Ayah dan Ibu dari mereka juga nyaman di sisi kedua pasangan itu.


Tio hari ini menerima gaji pertamanya yang tentu membuat dirinya merasa bahagia. Selama sebulan juga, Tio sering bertukar kabar dengan Ibunya dikampung setiap kali libur kerja di hari minggu dan memberitahu bahwa disini dirinya baik - baik saja.


"Buk, adakah yang mencariku setelah aku pergi?" tanya Tio.


"Dua minggu yang lalu, ada seorang gadis selalu lewat depan rumah kita setiap hari dan menatap rumah ini Tio. Kadang - kaadang dia membeli jajan gorengan sambil celingak celinguk mencari sesuatu. Namun, Ibu tak menghiraukan karena banyak pembeli." jawab Bu Nani bingung.


"Oh, begitu ya." balas Tio dengan tersenyum getir.


"Memang ada apa Tio? Apakah dia pacarmu?" tanya Bu Nani yang penasaran.


"Bukan Buk, bukan siapa - siapa. Hanya teman saja. Tapi dia tidak menanyakan sesuatu 'kan Buk?" sahut Tio sekaligus menanyakan soal Feni walau Ibunya belum pernah bertemu dengan gadis itu.


"Tidak Tio, dia hanya membeli sebentar lalu pergi." balas Bu Nani.


"Vino sekolahnya baik - baik saja. Semenjak kepergianmu, Vino lebih banyak murung dan sekarang membantu Ibu jualan di rumah bila libur sekolah." terang Bu Nani yang menceritakan tentang Vino dan keadaan disini.


"Syukur alhamdulillah Buk kalau begitu. Mungkin besok baru Tio pergi ke kota untuk transfer uangnya ya Buk," tukas Tio yang senang jualan Ibunya dikampung berjalan lancar.


"Iya Tio, kamu makan yang banyak dan jangan khawatir soal Vino dan Ibu. Ibu akan berjuang disini dan mendo' akan yang terbaik untukmu." tutur Bu Nani yang menahan air matanya saat mengatakannya lewat ponsel.


"Ya sudah, Ibu tutup teleponnya dulu ini mau makan malam. Assallamualaikum," ucap Bu Nani seraya menutup ponselnya.


"Waallaikumsalam,"


Setelah telepon terputus, Tio kembali melanjutkan makan malamnya bersama Pak Broto dan yang lainnya. Suasana di rumah Pak Broto memang ramai dan itu adalah hiburan bagi Tio yang ingin melupakan kekasihnya itu walau rasanya berat.


* * *

__ADS_1


Dua minggu yang lalu setelah kepergian Tio, Feni sempat marah dan kecewa kepada kekasihnya itu. Namun, setelah hati dan pikirannya tenang Feni mencari Tio dirumahnya. Berharap kekasihnya pergi hanya sementara saja.


Setiap hari Feni hanya melewati rumah Tio berharap kekasihnya ada disana. Sesekali Feni membeli gorengan atau minuman di warung rumah Tio dan berharap bertemu. Namun, kenyataan berbanding terbalik dengan harapannya yang semu. Tio memang sudah pergi dari kehidupannya tanpa mengucap sepatah katapun.


Kini, Feni tak tahu lagi harus bagaimana. Hatinya bimbang dan kacau setelah ditinggal pergi oleh kekasihnya.


"Mas Tio, akankah kita bertemu suatu saat nanti. Aku terlanjur mencintaimu, kapan kamu kembali Mas." gumamnya saat duduk di teras rumahnya.


"Feni, ayo makan malam. Ditunggu ayah dan Ibu di meja makan." ucap kakaknya yang berdiri disamping adiknya yang sedang melamun.


"Mbak Rosa ini ngagetin aja toh." ucap Feni yang sedikit ketus pada Kakaknya itu karena hatinya yang sedang galau itu.


"Anak gadis gak baik melamun di teras malam - malam. Ntar kesambet tahu rasa kamu." sahut Rosa yang menasehati adiknya itu.


"Yeeyy, Feni gak melamun kok!" jawab Feni berbohong pada Kakaknya itu.


"Mbak Rosa gak bisa dibohongi Fen. Mbak tahu kamu lagi galau abis putus cinta 'kan? Kamu kira mbak gak tau begitu." timpal Rosa yang tahu sikap adiknya itu.


"Ah, Mbak Rosa sok tahu deh!" ketus Feni menjawab dan langsung berdiri masuk rumah.


Rosa hanya menggelengkan kepala melihat sikap adiknya yang keras kepala itu dan ikut masuk ke dalam untuk makan malam bersama kedua orang tuanya.


"Ada apa to Fen, kok wajahmu ditekuk terus dari kemarin?" tanya Bu Reni yang melihat anak bungsunya itu.


"Tidak apa - apa Buk, hanya lagi PMS aja." sahut Feni tak ingin orang tuanya tahu permasalahannya lalu mengambil nasi dan lauk di piring.


"Ya sudah, makan yang banyak lalu istirahat. Lihat badanmu kurus begitu." tutur Bu Reni tersenyum.


Mereka pun makan malam bersama dan hanya keheningan yang ada. Tak ada yang boleh bersuara selama makan selain sendok yang berdenting.


* * *


Waah. Author laper nih.. istirahat dulu ya untuk makan karena butuh tenaga untuk nulis 😂😂. Nanti lanjut nulis lagi.

__ADS_1


Terimakasih bagi yang sudah mampir ke karyaku. Selamat Membaca 😘


__ADS_2