
Keesokan harinya, Tio mulai kembali bekerja setelah masalah perceraiannya di gelar kemaren. Kini, Tio akan memulai semuanya dari nol lagi untuk menyemangati diri sendiri karena masa depan masih panjang.
"Selamat pagi Tio? Sudah siap berangkat kerja?" Arif dan Ana menyapa Tio yang baru saja keluar kamar.
"Selamat pagi juga Mas Arif dan Mbak Ana? Tentu, sudah siap banget ini. Ya, sudah Tio mau ke kamar mandi dulu?" Tio berpamitan kepada keduanya.
Tak lama, Aldi juga keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi. " Masih ada Tio di dalam Al." ucap Ana memberitahu Aldi untuk menunggu sebentar.
"Oh, ya sudah Mbak. Aku cuci muka di luar saja, 'kan ada tong tempat penampungan air." sahut Aldi yang langsung menuju belakang tempat dimana tong berada di samping kamar mandi.
Ana di dapur telah menyiapkan segala masakan dan juga bekal untuk suaminya bekerja.
Beberapa menit terlewati, Tio keluar setelah menyelesaikan ritual mandinya.
"Buruan, aku mau setor alam dulu. Sudah kebelet dari tadi nih!" Aldi langsung masuk kamar mandi begitu melihat Tio keluar setelah mencuci mukanya.
Tio hanya menggelengkan kepala melihat Aldi dan berjalan masuk ke kamar untuk sholat subuh sebelum berangkat kerja.
Selesai melaksanakan sholat subuh, Tio pergi ke dapur dan menyiapkan sendiri bekal makan siangnya.
Sedang Aldi langsung berganti pakaian saat Tio sudah keluar kamar.
"Gak mandi kamu Al?" tanya Tio yang melihat Aldi dengan terburu - buru.
"Gak Tio, mandi bebek saja aku. Bisa mati kedinginan aku kalau pagi - pagi mandi." Aldi langsung menutup pintu setelah menjawab pertanyaan Tio.
Tio hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Aldi makin lama makin menyebalkan.
"Masak apa Mbak hari ini? Oya untuk makanan selama sebulan aku akan bayar setelah aku gajian ya Mbak." kata Tio memberitahu Ana.
"Hari ini Mbak Ana masak balado telur. Halah, tidak usah Tio, Mbak gak mau merepotkan kamu?" tolak Ana dengan halus karena dirinya tahu, Tio akan kembali ke kampung halamannya.
"Pokoknya titik, tidak ada kata penolakan! Tio akan bayar nanti bulan depan." titah Tio yang sudah selesai menyiapkan bekalnya dan membawa piring ke depan untuk sarapan bersama Arif.
__ADS_1
Ana hanya tersenyum menatap punggung Tio dan melanjutkan aktifitasnya.
Aldi keluar kamar dan langsung menuju dapur menyiapkan bekal dan mengisi air ke botol untuk minum nanti. Kemudian, Aldi mengambil piring lalu menuangkan nasi dan juga lauk. Lalu, bergabung dengan Arif dan Tio di ruang tamu.
Selesai makan bersama, ketiganya bersiap - siap berangkat kerja dan Ana membawa piring kotor tersebut ke dapur.
"Mas berangkat kerja dulu dek?" Arif berpamitan dan Ana mencium punggung tangan suaminya. "Hati - hati mas."
Tio dan Aldi menyusul Arif di belakang menuju kantor divisi.
Di perkebunan sawit ini, tak terasa Tio sudah banyak melewati berbagai hal hingga membuat dirinya menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan lebih dewasa.
*
*
Sebulan kemudian…
Tio telah menghubungi Pak Broto untuk meminta memesankan tiket pulang ke kampung halamannya dua hari sebelum kepulangannya. Walau sudah menjadi mantan mertua, hubungan keduanya tetaplah baik dan Tio bukanlah orang tipe pendendam seperti lelaki pada umumnya.
"Tidak ada yang perlu direpotkan Tio, aku senang kamu sudah lebih kuat daripada sebulan yang lalu." tukas Arif menepuk bahu Tio. "Jangan lupa kabari aku bila sudah sampai di kampung." kata Arif seraya tersenyum bahagia.
"Pasti Mas, akan aku kabari bila sudah sampai. Aldi! Maaf bro, aku pamit dulu." ucap Tio memeluk Aldi dengan menepuk pundaknya beberapa kali.
"Oke bro, hati - hati selama diperjalanan. Dua bulan lagi aku juga akan menyusulmu pulang ke tempat asalku karena Ibuku sudah berkali - kali menelpon memintaku pulang segera. Kalau tidak, aku akan dijodohkan sama anak sahabat orang tuaku," sahut Aldi menceritakan rencana kepulangannya dan takut akan ancaman orang tuanya itu.
"Hahahaha," Tio tertawa mendengar hal itu. "Semoga sukses bro acara perjodohannya." timpal Tio seraya melepaskan pelukannya.
" Sia*lan kamu Tio, aku tidak mau dijodohkan. Aku ingin mencari pasanganku sendiri." Aldi menjawab dengan sedikit ketus.
Ana dan Arif hanya menggelengkan kepala melihat kedua sahabat itu bertingkah konyol.
"Ya sudah, Tio pamit karena sudah ditunggu Pak Broto di dermaga." Tio pergi diantar Arif dan juga Aldi berjalan menuju dermaga kecil dimana Pak Broto berada.
__ADS_1
Berjalan sepuluh menit saja, sampailah mereka di dermaga. Tio langsung naik ke kapal kecil untuk menuju pusat dermaga besar, dimana kapal speedbot akan segera tiba setengah jam lagi yang memuat penumpang lebih banyak menuju kota Kuala Tungkal.
Tio melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya, begitu pula Arif dan Aldi hingga kapal tersebut berbelok arah barulah Arif dan Aldi kembali pulang kerumah.
Eni, mantan istri yang mendengar kabar bahwa Tio akan pulang ke tempat asalnya merasa bersalah dan menyesal telah menyia - nyiakan suami sebaik Tio hanya semata - mata demi keegoisannya.
Dua puluh menit perjalanan, sampailah di dekat pabrik sawit dan disana sudah ada teman Pak Broto yang membawa mobil pick up menunggu kedatangan mereka berdua.
"Kita sudah sampai Tio."
Tio dan Pak Broto turun dan membantu membawa kopernya menuju mobil tersebut dan meletakkannya di belakang.
"Hai Gus, maaf lama menunggu." Pak Broto menyapa temannya itu.
"Tidak masalah Broto, lagian aku juga lagi santai." sahut Agus seraya tersenyum.
"Ya sudah ayo berangkat!"
Ketiganya masuk ke mobil dan Agus melajukan kendaraannya dengan pelan karena jalanan yang sedikit berlubang.
Setengah jam perjalanan, mereka tiba di dermaga besar dimana kapal speedbot sudah datang.
Tio dan Pak Broto turun dari mobil, sedang temannya tersebut menunggu di mobil untuk mengantar kembali Broto ke tempat tadi.
"Terimakasih Pak, sudah mengantar Tio. Salam buat Bu Neneng dan juga Eni." Tio mengucapkan kata perpisahan pada mantan mertuanya tersebut dengan memeluk erat.
"Kamu juga hati - hati selama di perjalanan Tio. Maaf Bapak tidak bisa mengantarmu sampai ke kota. Oya, ini tiketmu." Pak Broto membalas pelukan Tio, lalu menyerahkan tiket tersebut saat teringat tiketnya masih berada di saku jaketnya.
Tio menerima tiket tersebut dan memasukkannya di tas. Lalu berpamitan kepada Pak Broto dan melambaikan tangan tanda perpisahan.
Naik ke kapal, Tio duduk di belakang dimana tempat tersebut masih kosong dan memandang hamparan laut yang luas.
Tak lama, kapal tersebut segera berangkat setelah penumpang masuk. "Semoga sukses Tio, masa depanmu masih panjang." gumam Pak Broto mendoakan Tio. Pak Broto kemudian kembali pulang dimana temannya menunggu.
__ADS_1
* * *
Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Jangan lupa like komen hadiah dan tips iklannya ya. Selamat Membaca 😘