
Enam bulan berlalu…
Tio tak menyangka, bahwa kehidupannya yang dulu pas - pasan telah berubah. Kini semenjak bekerja di perkebunan sawit, Tio sudah bisa mencukupi kebutuhan Ibu dan juga adiknya.
Vino sebentar lagi naik kelas tiga SMP. Tentu, Tio berharap agar adiknya bisa sekolah tinggi dan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
Di sela - sela istirahat kerjanya, Tio menghubungi Ibunya di kampung.
"Halo buk, bagaimana kabar Ibu?" tanya Tio yang duduk bersandar di pohon sawit.
"Assalaamualaikum dulu Tio bila mengawali berbicara di telepon." ujar Bu Nani yang menasehati putranya itu.
"Hehehe, iya Buk maaf." ucap Tio seraya tertawa nyengir di seberang sana.
"Kamu itu ya Tio, sekarang sudah lupa ngucap salam bila menghubungi Ibuk. Pasti sekarang lupa sholat 'kan?" tutur Bu Nani.
"Iya Buk, Tio sekarang sibuk kerja bahkan sampai lembur," terang Tio menjelaskan pada Ibunya.
"Biar bagaimanapun, jangan tinggalkan sholat dalam keadaan apapun itu Tio." Bu Nani menasehati Tio agar tidak meninggalkan kewajiban sholatnya.
"Iya Buk iya, akan Tio usahakan." jawab Tio mengiyakan saja nasehat dari Ibunya.
"Vino dimana Buk?" tanya Tio mengalihkan pembicaraan.
"Vino masih sekolah, satu jam lagi baru pulang." sahut Bu Nani yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Oh, ya nanti salam saja sama Vino Buk, jangan nakal dan main - main." pinta Tio pada Ibunya.
"Iya nanti disampaikan. Bagaimana pekerjaanmu Tio? Lancar?" tanya Bu Nani yang merindukan suara putra sulungnya itu.
"Alhamdulillah lancar Buk, sekarang Tio juga menabung dan sisanya dikirim buat kebutuhan Vino dan juga Ibu. Jualannya lancar 'kan Buk?" ungkap Vino menceritakan kegiatannya selama di perantauan dan keadaan Ibunya di kampung.
"Disini alhamdulillah jualan Ibu laris manis Tio, sekarang Ibu nambah karyawan untuk bantu - bantu jualan. Kalau Ibu sendiri kewalahan ditambah ngurus Vino." terang Bu Nani bahagia berbagi cerita dengan Tio.
"Tio ikut senang Buk mendengarnya. Semoga makin lancar dan rejeki nambah ya Buk," ucap Tio mendoakan dagangan Ibunya.
"Kamu juga ya Tio, moga sukses dan pulang nanti bawa anak dan istri." balas Bu Nani mendoakan putranya itu.
__ADS_1
"Hahaha, apaan sih Ibuk. Masih lama aku mikirin nikah. Ya sudah Buk, Tio mau melanjutkan pekerjaan lagi. Waktu istirahat sudah selesai." pamit Tio pada Ibunya.
"Semangat bekerja ya sayang," kata Bu Nani menutup teleponnya.
Telepon berakhir, Tio dan Bu Nani kembali melanjutkan aktifitas mereka masing - masing.
Sudah beberapa bulan ini, Tio bak ditelan bumi. Hubungannya dengan Feni memang kandas tapi bagi Feni, hubungan itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Bagi gadis itu, cintanya yang sudah lama terjalin dengan Tio sangatlah susah dilupakan.
Orang tua Feni memang belum tahu soal hubungannya dengan Tio karena Feni masih sekolah dan permintaan Ayah Feni agar fokus sekolah dahulu.
Kini, Feni hanya bisa menjalani hari - harinya dengan belajar dan belajar karena kelas 3 mendekati ujian.
"Mas Tio, bagaimana kabarmu? Feni kangen Mas, kapan pulang?" gumam Feni duduk di kursi belajarnya.
Selesai belajar, Feni memandang foto Tio seraya mengusap wajahnya di ponselnya. Rindu, ya Feni rindu berat pada Tio karena sudah beberapa bulan tidak ada kabar dari kekasihnya itu yang alias mantan.
"Feni akan sabar menantimu Mas Tio. Walau badai menghadang, Feni akan tetap menunggumu pulang." monolog Feni bertekad bulat menunggu Tio kembali apapun yang terjadi.
*
*
"Ah lelahnya…!"
"Baru balik Tio?" Aldi lewat dan menyapa Tio yang duduk di tangga seraya melepas sepatu bootnya.
"Iya, lembur aku. Capek banget rasanya." sahut Tio bersandar di dinding dan menghabiskan minuman di botol besar miliknya.
"Oke, kalau begitu aku keluar dulu cari angin. Bosen di kamar terus, duluan ya." pamit Aldi berlalu pergi.
Tio hanya menganggukkan kepala saja sambil memejamkan matanya karena ngantuk.
Beberapa menit berlalu, Tio berdiri menuju kamar meletakkan tas lalu mengambil pakaian di lemari dan melangkah ke kamar mandi.
Selesai dengan ritual mandi, Tio menyampirkan handuk di sebelah kamar mandi agar kering.
Kemudian, Tio bergabung dengan Pak Broto yang seperti biasa selalu bercengkrama dengan teman - temannya bahkan sesekali membantu di toko bila istri dan anaknya sedang keluar.
__ADS_1
"Malam semuanya," sapa Tio duduk di samping Pak Broto.
"Malam juga Tio," jawab kompak semuanya bersamaan.
"Sudah makan belum?" tanya Pak Broto.
"Belum Pak, sebentar lagi," sahut Tio masing ingin menikmati bercanda dengan yang lain.
"Ayo makan dulu, keburu malam dan juga sebentar lagi pasti turun hujan. Anginnya sangat kencang malam ini dan lihat awan diatas mendung." tutur Pak Niko menimpali obrolan.
"Baiklah, Tio permisi dulu semua." pamit Tio berdiri meninggalkan mereka untuk makan malam.
Sepeninggal Tio, mereka semua mengobrol dan bercanda bersama. Tawa mereka sampai terdengar hingga ke rumah. Entah apa yang dibahas, mereka sangat menikmati obrolan itu dan bahagia berkenalan dengan orang sesama rantauan.
Tio mengambil nasi dan lauk pauk ke piringnya. Kali ini beberapa masakan Bu Neneng ludes karena memang lezat dan Tio adalah orang terakhir yang menghabiskan masakan Bu Neneng.
Sedang Bu Neneng dan Eni pergi ke rumah Ana karena Eni jenuh terus berada dirumah. Makanya Bu Neneng mengajak Eni jalan - jalan ke sekitar divisi ini agar mengenal orang - orang di seluruh divisi.
Mereka bertiga mengobrol satu sama lain berbagi cerita tentang hal - hal yang hanya diketahui oleh para wanita. Hingga tak terasa dua jam mengobrol membuat mereka lupa daratan.
"Baiklah, aku pulang dulu An. Sudah malam ini nanti Pak Broto mencariku." ujar Bu Neneng tersenyum menyunggingkan kedua sudut bibirnya.
"Halah, kayak apa saja dicari sudah tua juga. Kamu gak akan kemana - kemana Mbak, teman - teman suamimu ' kan banyak. Pastinya Pak Broto tahu kamu sedang dirumahku." tukas Ana tersenyum menatap sahabatnya itu selama dirantauan.
"Iya juga sih, tapi beneran loh ini sudah malam. Kasihan Eni juga sudah ngantuk kayaknya." sahut Bu Neneng memandang putrinya yang terlihat sayu di matanya.
"Baiklah, kapan - kapan main kesini ngobrol bareng En biar gak jenuh di toko terus." ujar Ana melihat Eni.
"Iya Mbak Ana,"
"Ya sudah aku pulang dulu An," pamit Bu Neneng lagi.
"Iya hati - hati loh jalannya pakai senter biar gak terperosok karena banyak jalan yang berlubang tertutup rumput." tutur Ana.
"Iya,"
Ana mengantar kedua orang tersebut sampai di pintu saja dan menutup pintu karena hari sudah malam. Ana memilih menonton televisi bersama anaknya sembari menunggu suaminya pulang.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya author. Jangan lupa like komen hadiah dan rate ya juga iklannya. Dukungan kalian sangat berarti bagi author agar terus semangat dalam menulis. Selamat Membaca 😘