
"Assallamualaikum," sapa Tio yang berada di depan rumah Arif.
"Waallaikumsalam," sahut Ana yang sedang memasak di dapur dan melihat siapa yang datang.
"Eh…Tio, silahkan masuk dan taruh barangmu di kamar Aldi ya?"
"Iya Mbak Ana," Tio kemudian masuk dan berjalan menuju kamar Aldi, lalu meletakkan tas yang hanya berisi baju dan juga koper di samping lemari Aldi.
Setelah meletakkan barang - barangnya, Tio keluar kamar dan duduk di ruang tamu seraya menghubungi Ibunya di kampung.
"Ini diminum kopinya Tio," Ana meletakkan kopi di depan Tio.
"Terimakasih Mbak,"
"Sama - sama. Kalau begitu Mbak pergi ke dapur dulu."
Tio hanya menganggukkan kepala.
"Assallamualaikum Buk," sapa Tio lewat ponsel.
"Waallaikumsallam, tumben telepon kamu Nak?" jawab Bu Nani dengan tersenyum.
"Iya Buk, Tio kangen sama Ibuk dan Vino. Gimana kabar Ibuk dan Vino?" tanya Tio menatap keluar rumah.
"Alhamdullillah kabar kami baik, kamu kapan pulang Tio? Sudah 2 tahun tidak pulang." ujar Bu Nani merindukan anak sulungnya itu.
"Tenang saja Buk, bulan depan Tio pulang kok. Tio kangen masakan Ibuk dan juga Vino." terang Tio menceritakan rencananya itu.
"Beneran Tio, kamu pulang bulan depan. Alhamdulillah kalau kamu bisa cuti setelah sekian lama merantau. Jangan lupa, ajak istrimu ya?" pinta Bu Nani yang tak mengetahui bahwa pernikahan Tio telah kandas di tengah jalan.
"Iya Buk. Ya sudah, Tio mau bekerja lagi karena ada mandor mengawasi. Assalamualaikum," ucap Tio mengucap salam pada Ibunya.
"Waallaikumsalam."
__ADS_1
Hubungan telepon berakhir, Tio menatap sendu lantai yang dia duduki. Dirinya tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Ibunya bahwa telah bercerai dari Eni. Tio akan menceritakan yang sebenarnya saat sampai di rumah bulan depan.
Tanpa disadari, Ana mendengar percakapan Tio dan Ibunya. Sebenarnya berita perceraian Tio dan Eni sudah menyebar luas ke seluruh divisi, namun beberapa orang ada yang lebih memilih tak ingin ikut campur urusan orang dan ada juga yang bergosip ria menjelekkan Eni juga Tio.
"Yang sabar Tio, namanya pernikahan pasti ada saja kesalahpahaman dan ego dari salah satu pihak. Tentu terkadang membuat kita tak berdaya saat melihat kenyataan yang sesungguhnya tidak sesuai keinginan kita." tutur Ana mengatakan perihal pernikahan.
"Aku yakin, suatu saat kamu pasti akan menemukan seorang wanita yang lebih baik daripada sebelumnya." timpal Ana sekali lagi memberi nasehat agar kuat menghadapi kenyataan.
"Iya Mbak Ana, terimakasih atas nasehatnya." Tio tersenyum tipis mendengar hal itu lalu mengambil kopi menyeruputnya agar sakit di hati dan kepalanya mereda.
Keduanya mengobrol satu sama lain hingga Tio mulai menguap karena rasa lelah yang menderanya.
Sedang Ana, melanjutkan aktifitasnya menyuapi anaknya untuk makan siang dan setelah itu mengajaknya tidur siang agar badan lebih segar dan sehat.
Di kamar, Tio berusaha memejamkan matanya namun tetap tidak bisa setelah perceraiannya tadi. Mengeluarkan ponselnya dan mencari musik dangdut koplo lalu memasang earpone di telinganya, agar bisa cepat tidur dan tidak memikirkan hal lainnya.
Beberapa menit berlalu, Tio akhirnya tertidur pulas dengan musik yang masih menyala di ponselnya, namun earpone terlepas saat posisi tidur Tio yang miring.
"Istriku, itu sandal siapa di tangga?" seru Arif melepas sepatu boot dan meletakkannya di tiang besi yang menancap di tanah.
Ana yang sudah mengetahui suaminya dan Aldi pulang langsung membuatkan kopi dan mengantarkannya di ruang tamu.
"Ow itu, sandal Tio, tadi jam 10 pagi sudah berada disini. Orangnya lagi tidur dikamar," ujar Ana memberitahu suaminya serta Aldi yang duduk bersandar di dinding karena lelah.
"Tio ada disini Mbak?" celetuk Aldi yang cukup senang Tio berada disini.
"Iya, tadi sepulang dari sidang langsung pindah kesini setelah membereskan barang - barangnya di rumah Pak Broto." sahut Ana yang duduk disamping suaminya.
"Syukurlah kalau Tio sudah pindah disini, sejak awal aku melihat mantan istri Tio seperti tidak senang karena sikapnya yang kayak anak kecil dan manja." timpal Arif yang tidak senang dengan sikap Eni itu.
"Sama Mas, aku juga gak suka sama sikap cewek itu. Perbedaan antara Tio dan Eni jauh banget, masa Tio harus menikahi bocah umur 15 tahun? Sedangkan Tio sudah berumur 22 tahun." sahut Aldi yang merasa kasian dengan Tio.
"Cinta gak mandang usia Aldi, semua tergantung dari sikap masing - masing. Kalau untuk mantan istri Tio, ya karena sikapnya saja yang manja sejak kecil dan emang masih bocah banget, apalagi kalau sudah kenal cowok cakep dikit langsung disikat." terang Ana panjang kali lebar kepada Aldi.
__ADS_1
Aldi hanya manggut - manggut kepala, sedang Arif mendengarkan kisah pilu Tio dengan sedih sebab sahabatnya dikecewakan oleh seorang wanita ular seperti Eni.
Setelah mengobrol banyak, Arif dan Aldi bergantian mandi. Selesai mandi, keduanya masuk ke kamar masing - masing.
Aldi melihat Tio yang tidur dengan sangat nyenyaknya di kasur.
"Wooiii, bangun!" Aldi menggoyangkan tubuh Tio agar segera bangun. Namun Tio seperti kebo di sawah kalau sudah terlelap tidur begitu.
"Astaga anak ini! Kayak kebo beneran. Kalau sudah gak punya istri begini ya tidurmu." Aldi berceloteh sendiri walau Tio tak mendengar ocehannya.
Aldi kemudian mempunyai ide untuk mengerjai Tio. Aldi sedikit berjongkok dan bibirnya tepat berada di telinga Tio.
"Rasain kamu Tio," gumam Aldi lirih.
"Kebakaraaaannnn…!!!" teriak Aldi di telinga Tio dan membuat si empunya seketika terbangun karena terkejut akan teriakan kata kebakaran.
"Kebakaran! dimana kebakaran? Mana…mana, mana yang kebakaran?" bingung Tio yang berlari keluar kamar namun heran karena tak ada asap di rumah.
Ana dan Arif yang sedang bermain bersama anaknya di kamar seketika keluar mendengar teriakan kebakaran.
"Ada apa Aldi, Tio? Dimana yang kebakaran?" Arif bingung dan merasa takut tadi bila terjadi kebakaran beneran.
"Itu Mas, Tio yang kebakaran jenggot. Habis dibangunin dari tadi gak bangun - bangun." Aldi mengucapkannya tanpa merasa bersalah sedikitpun seraya memegang tengkuk lehernya sambil cengengesan.
"Plak…"
"Aduuh! Sakit tahu!" Aldi memegang bahunya yang dipukul oleh Tio tadi.
"Dasar kamu ya! Ngerjain orang saja pekerjaannya. Bikin orang jantungan kamu Al, enak - enak tidur dan mimpi indah malah di ganggu." geram Tio meninggalkan mereka ke kamar mandi untuk sekalian mandi.
Sedang Ana, Arif dan Aldi hanya menggelengkan kepala melihat sikap Tio.
Kemudian, ketiga orang tersebut kembali ke kamar masing - masing. Aldi langsung menata kasurnya yang berantakan sejak pagi karena belum sempat merapikannya sebab pagi jam 5 sudah harus apel pagi di kantor divisi.
__ADS_1