Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 51


__ADS_3

2 bulan berlalu…


Segala persiapan dekorasi dan segalanya telah siap. Kini, Feni sedang dirias di kamarnya dan Tio dirias di kamar tamu dimana Ibu dan Vino menemaninya.


"Buk, Mas Tio kelihatan gugup banget dari tadi." celetuk Vino tiba - tiba saat memandang Kakaknya di cermin yang sedang dirias.


Bu Nani tersenyum menatap wajah putranya yang semakin tampan dan gagah dengan balutan jas putihnya itu.


"Apaan sih Vin! Suatu saat kamu juga akan seperti Mas mu ini kalau sudah nikah." tukas Tio melirik Vino melalui cermin. Disaat seperti ini pikiran Tio kemana - kemana, dirinya tak ingin salah mengucapkan kata ijab kabul nanti di depan banyak tamu.


"Ibu tau Tio, ini adalah pernikahan pertamamu. Wajar kamu gugup! Tapi tarik nafas dan buang kembali agar hilang rasa gugupmu itu." pinta Bu Nani seraya menggenggam jari Tio yang dingin.


Tio melakukan apa yang diminta Ibunya. Perasaan tersebut nampak membuat Tio lebih tenang dan jantung yang sedari tadi berdegup kencang, telah kembali normal setelah Ibunya memberi semangat.


"Terimakasih Ibu." Tio mencium punggung tangan Ibunya setelah selesai dirias begitu pula dengan Bu Nani dan Vino yang dirias secara sederhana saja.


Lalu, Tio keluar kamar bersama Ibu dan Vino berjalan menuju halaman rumah Feni yang berubah menjadi dekorasi pernikahan yang cantik dan elegan.


Semua para pengiring tamu dari desa Tio sudah berdatangan hadir menunggu acara sakral pernikahan Tio di gelar.


Kemudian, di kamar berbeda Feni masih tampak heboh bersama para keponakannya yang selalu menggoda Feni dengan pertanyaan - pertanyaan yang membuat Feni malu dan merona merah di wajahnya.


"Fen, sudah siap belum? Mempelai pria sudah keluar tuh?" tanya Ibunya yang masuk ke kamar untuk melihat putrinya tersebut.


"Iya Bu, sebentar lagi selesai." sahut Feni dengan tegang dan juga gugup kali ini karena hari ini adalah pernikahan yang dinantikan bersama kekasih yang telah membuatnya kalang kabut menunggu beberapa tahun.

__ADS_1


Selesai dirias, Feni berjalan keluar bersama penata rias dengan hati - hati. Di belakang Feni keponakan dan saudara yang lain turut mengantarnya sampai depan penghulu.


Feni duduk di samping Tio dan menoleh seraya tersenyum pada calon suaminya tersebut. Seketika Tio terpesona akan kecantikan Feni yang nampak berbeda kali ini.


"Cantik."


Feni mendengar hal itu hanya mencubit paha sosok lelaki di sampingnya itu.


"Aduh sakit Fen, belum apa - apa kok main cubit sih. Nanti aja mainnya kalau sudah selesai acara ini." goda Tio berbisik lirih di telinga Feni.


"Apaan sih Mas Tio! Garing candaannya, gak lucu. Malu ada Pak Penghulu depan kita!" balas Feni lirih dengan rona wajah memerah bak tomat.


Tio tersenyum tipis menanggapi sikap Feni yang menggemaskan dan lucu itu.


Setengah jam berlalu, acara akad nikad telah selesai. Tio dan Feni telah resmi menjadi suami istri sah dimata hukum dan agama.


Kedua mempelai kini, duduk di tempat pelaminan memandang para tamu yang menatap mereka dengan kagum dan iri.


"Alhamdulilah sayang, kita telah resmi menjadi suami istri. Nanti malam jangan tidur dulu ya? Kita begadang sampai pagi!" Tio menaikkan alis matanya menggoda Feni.


Feni hanya tersenyum simpul dan berkata, "Iya Mas Tio, sudah banyak rintangan yang kita lewati bersama walau kita tidak bersama tapi kita mampu melewati ujian tersebut dan kita berhasil sekarang." terang Feni menceritakan kisah dirinya dan Tio selama ini telah diuji arti sebuah kesetiaan walau jarak memisahkan mereka berdua.


Bu Nani dan Vino pun berpamitan pulang pada Tio dan juga menantunya karena hari sudah malam.


"Ibu dan Vino pulang dulu Tio, selamat ya atas pernikahan kalian." Bu Nani tersenyum bahagia memeluk anak dan menantunya bergantian.

__ADS_1


"Terimakasih Ibu, dan hati - hati di jalan." kata Feni yang menggenggam jari Ibu mertuanya itu.


Acara pernikahan di gelar sampai malam hari dan suasana semakin ramai karena banyak para tamu berdatangan baik dari kolega Pak Seno ataupun Tio. Selesai acara masih banyak para tamu yang duduk hanya sekedar mengobrol atau mengucapkan selamat atas pernikahan dari sahabat Pak Seno.


Sedang kedua mempelai telah berada di kamar. "Mas Tio mandi dulu deh, bau asem tuh!" titah Feni duduk di depan cermin menghapus riasan di wajahnya.


"Oke sayang." 


Tio turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi dan langsung menggendong Feni untuk mandi bersama.


"Aakkkkkhh Mas Tio!"


------------- T A M A T -------------


Alhamdulillah akhirnya Kisah Tio dan Feni tamat. Kehidupan keduanya telah bersatu di pernikahan walau banyak rintangan dan cobaan yang mereka lalui.


Author minta maaf 🙏 bila ada kesalahan kata yang kurang berkenan di hati kalian. Author sudah mencoba sebaik mungkin untuk menulis karya ini.


Sekalian author mau memperkenalkan karya author yang lain Derita Seorang Istri yang baru 2 bab 🥰. Silahkan cek di profil author dan jangan lupa like, rate, komen dan fav ya.


Untuk kalian yang sudah mampir di karyaku, author ucapkan banyak terimakasih atas dukungan kalian 🙏.


Terus dukung author agar tetap semangat menulis dan berkarya agar menjadi lebih baik lagi.


Selamat Membaca 🥰

__ADS_1


__ADS_2