
Tio telah selesai memperbaiki segala perabotan yang ada dirumah dan menata ulang tempat agar menjadi lebih baik lagi.
"Haus banget, minta Mbak Lusi buatin es jeruk ah!" Tio berjalan ke depan dan ingin dibuatkan es jeruk.
"Mbak es jeruk satu ya?" pinta Tio duduk di kursi plastik.
"Iya Mas Tio, sebentar ya? Masih melayani pelanggan dulu." sahut Mbak Lusi dengan tersenyum.
Setelah menunggu beberapa menit, es jeruk Tio jadi.
"Ini Mas Tio, monggo diminum."
Tio mengambil es jeruk dan 3 gorengan lalu dibawa kedalam seraya menonton televisi.
Sudah lama Tio tidak menonton televisi seperti saat siang hari seperti ini. Dulu selama kerja di sawit, Tio tak pernah sekalipun menonton televisi dan sibuk bermain dengan teman - temannya atau melayani toko mertuanya.
Kini, dirinya bebas melakukan apapun yang diinginkannya.
Tio mengambil remot dan berganti - ganti chanel. "Acaranya kok gak ada yang bagus jam segini! Enaknya ngapain ya?" gumam Tio duduk berselonjor di kursi seraya membuka akun sosmed yang lama tak dibukanya.
Membuka akun sosmednya, Tio mencari akun mantan kekasihnya Feni dan dilihatnya aktif 2 jam yang lalu.
"Ini dimana? Kok makin cantik Feni setelah sekian tahun tak bertemu?"
Lalu Tio menscroll beberapa caption Feni yang ternyata berada di Hongkong sebagai TKW.
"Ternyata kamu sudah tidak di kampung lagi Fen? Padahal, niatku ingin bertemu denganmu karena aku tidak bisa melupakanmu begitu saja." monolog Tio pada dirinya sendiri.
"Haah, kalau begini aku bisa apa!"
"Hayo, ngelamunin siapa siang bolong begini?" Bu Nani mengejutkan Tio yang sedang membayangkan pertemuannya dengan Feni.
"Ibuk, ngagetin saja!" kaget Tio dan langsung duduk memberi ruang pada Ibunya.
Bu Nani hanya tersenyum menanggapi dan duduk di samping Tio.
"Mikirin apa to Tio, serius banget?" Bu Nani bertanya dan menatap wajah Tio.
"Ini Buk, mikirin mantan! Kira - kira sedang apa ya dia?" jawab Tio dengan tertawa lebar.
"Kalau jodoh pasti ketemu Tio. Memangnya dia kemana?" tanya Bu Nani lagi.
"Dia bekerja di Hongkong Buk sebagai TKW." sahut Tio.
"Oh TKW."
__ADS_1
"Kok cuma oh sih Buk! Jawab apa begitu kek!" protes Tio karena jawaban Ibunya begitu singkat pada dan jelas.
Bu Nani hanya tertawa lebar melihat sikap putranya itu dan Tio tetap tidak berubah dari dulu dengan sikapnya yang usil tapi kadang juga menyebalkan itu.
"Ya sudah, ini waktunya makan siang. Pasti kamu lapar 'kan setelah memperbaiki dan membersihkan perabotan tadi." ucap Bu Nani mengusap kepala Tio sekaligus mengajak makan putranya.
"Iya Buk, Tio sudah lapar banget ini."
Tio dan Bu Nani beranjak berdiri dan menuju dapur bersama - sama.
"Wah Tio, dapur Ibu kamu rubah ya? Ibu makin senang dan terlihat rapi. Selama ini belum sempat merubah karena Vino sibuk sekolah dan bermain." jawab Bu Nani tersenyum senang.
"Baguslah kalau Ibuk senang."
Ibu dan anak tersebut makan siang bersama. Tak lupa Bu Nani membawakan makan siang untuk Lusi juga. "Ini Lus, makanlah dulu? Kamu pasti kecapekan karena dari tadi kamu yang sibuk berdiri melayani pembeli." pinta Bu Nani pada Lusi karena mumpung belum ada yang datang ke warung.
"Baiklah Bu, Lusi makan di dalam saja."
Bu Nani pun menggantikan Lusi menjaga warung seraya menunggu pembeli datang. Hari memang sudah siang dan banyak sebagian orang belum waktunya istirahat bekerja. Biasanya para petani akan mampir di warungnya untuk sekedar makan siang.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Para pekerja sudah mulai berdatangan dan Tio membantu Ibunya hingga tak terasa dagangannya habis tak tersisa.
"Alhamdulilah," ucap ketiganya bersamaan.
"Assallamualaikum, Buk Vino pulang." sapa Vino masuk ke rumah.
"Waallaikumsalam," jawab ketiganya dari dapur.
Vino seperti biasa, langsung ke kamar mandi setelah meletakkan sepatu di rak sepatu dan tas di kursi.
"Buk, Lusi pamit pulang ya?" pamit Lusi setelah meletakkan semua barang di dapur.
"Terimakasih ya Lus, sudah membantu. Besok jangan lupa datang lebih pagi." ujar Bu Nani.
"Iya Buk, saya permisi pulang dulu. Mas Tio mari." ucap Lusi berpamitan kepada Tio juga.
"Iya Mbak Lusi."
Sepeninggal Lusi, Vino keluar kamar mandi dan masuk ke dapur dimana Ibunya menata piring dan wadah di rak perkakas yang telah di cuci oleh Tio.
"Buruan Vin makan siang. Ini masih ada sisa pecel, mau?" tawar Bu Nani pada anak bungsunya itu.
"Iya mau Buk, kebetulan lapar banget."
Vino mengambil piring dan memasukkan nasi, sayur kangkung lalu bumbu pecel kemudian melahap makanan tersebut.
__ADS_1
"Ini es jeruk nya Vin. Udara hari ini cukup terik panasnya." Tio menyodorkan es jeruk untuk melepas dahaga adiknya setelah pulang sekolah.
"Makasih Mas Tio. Tahu aja kalau aku lagi haus." Vino tertawa nyengir dengan menampakkan deretan giginya yang putih.
Tio tersenyum dan langsung berjalan menuju kamarnya untuk merebahkan badannya yang lelah.
Bu Nani menemani Vino makan seraya meminum es jeruknya.
*
*
1 bulan telah berlalu sejak kepulangan Tio dari Riau.
Di rumah selama sebulan, membuat Tio menjadi lebih putih dan tampan. Bahkan, para tetangga sudah mendengar bahwa kabarnya Tio kini menjadi Duda keren di kampungnya. Banyak para gadis datang ke warung serta melirik pesona Tio saat sedang membantu Ibunya berjualan.
"Mas Tio, pesan rujaknya 2 ya?" Nina memesan langsung pada Tio yang kebetulan sedang membungkus pesanan pembeli lain yang menunggu di kursi.
"Iya sebentar ya?"
Lusi dan Bu Nani hampir kewalahan bila Tio tidak membantunya. Sebab, warungnya semakin ramai dan menjadi berkah buat Bu Nani di masa tua nya.
Tak lama, datang janda muda genit menuju warung Bu Nani.
"Mas Tioo?" Reni memanggil Tio berdiri di samping dengan sedikit mencondongkan dadanya agar Tio terpesona dengannya.
Tio yang melihatnya sedikit bergidik ngeri bila ada janda genit seperti itu di kampungnya.
"Mas Tio kok gak nyahut sih dipanggil?" goda Reni yang memegang lengan Tio seraya mengusapnya.
Tio menampakkan deretan giginya seraya melepaskan lengannya dari si janda genit tersebut.
"Iya Mbak Reni ada apa?"
"Aku mau pesan rujaknya Mas, sekalian minta nomer teleponnya boleh?" goda Reni lagi yang masih memegang lengan Tio berkali - kali yang terlepas.
Sebagian orang yang melihat ada yang diam, bahkan ada yang menahan tawa melihat tingkah Tio digoda janda genit itu.
Bu Nani dan Lusi hanya geleng - geleng kepala melihat aksi janda genit tersebut. Namun tetap melayani pembeli yang sudah antri dari tadi.
"Iya Mbak boleh, sebentar Tio ambil ponsel di saku celana."
Tio langsung memberi nomernya pada si janda genit dan Reni pun mencatat di ponselnya langsung.
Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Jangan lupa like, komen, hadiah dan tip iklan ya. Selamat Membaca 😘
__ADS_1