
Keesokan harinya seperti biasa, Eni melayani dan tersenyum di depan Tio bahkan orang tuanya.
"Semangat bekerja ya Mas." Eni mencium punggung tangan Tio dan memberi semangat.
Tio mengangguk dan berlalu bersama mertua serta Pak Suroto menuju kantor divisi untuk apel pagi.
Sepeninggal ketiga pria tersebut, Bu Neneng melanjutkan aktifitas memasak dibantu Eni di dapur.
Satu jam setengah memasak telah matang dengan berbagai menu untuk makan siang beberapa orang yang makan di tempat Bu Neneng. Sedang Eni, berpamitan kepada Ibunya ke kamar karena lelah.
Masuk kamar langsung mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada Miko.
"Selamat siang Mas Miko?" sapa Eni lewat pesan.
"Siang juga Eni cantik. Sedang apa kamu?" jawab Miko di bumbui emot tersenyum.
"Lagi rebahan Mas habis masak ini." terang Eni tersenyum senang.
"Wah, enak sekali jam segini sudah rebahan." balas Miko yang sedang duduk di bawah pohon sawit.
"Enak apalagi kalau ada di dekat Mas Miko." Eni terkekeh membaca pesannya sendiri.
"Iya, dalam waktu dekat ada pasar malam. Kita bisa jalan - jalan nanti." ajak Miko.
"Oke Mas Miko sayang. Selamat bekerja ya?" pamit Eni dengan emoticon cium.
Setelah berkirim pesan dengan Miko, Eni melanjutkan tidurnya karena pekerjaan telah selesai. Sedang di toko telah di handle 2 karyawan Ibunya.
Tiga hari telah berlalu, semua orang merasa bahagia karena sedang mengantri untuk mengambil gaji di depan kantor divisi. Asisten Kepala divisi 1, Mandor dan 2 Krani divisi sedang membagikan gaji para karyawan satu per satu dengan teratur.
Tiga jam berlalu, pembagian telah selesai. Semua orang pulang kerumah masing - masing dengan wajah ceria dan bahagia karena bisa makan enak.
Tio, Pak Broto dan Suroto kembali dengan tertawa senang dengan pendapatan mereka masing - masing. "Pak, besok saya titip kirim uang ke kampung untuk Ibu saya kalau Bapak ke kota nanti." ucap Tio yang sudah 2 bulan tidak mengirim uang karena uang kiriman Tio masih cukup untuk beberapa bulan kedepan.
"Baik Nak Tio, besok lusa Bapak ke kota bersama Suroto dan Pak Niko." sahut Pak Broto.
Ketiganya berjalan beriringan dan menyapa saat melewati rumah warga.
Sesampainya di rumah, ketiga pria membantu mengeluarkan meja dan kursi di depan rumah untuk persiapan nanti malam.
__ADS_1
Bu Neneng, Eni dan salah satu karyawan yang membantu membuat bakso telah siap untuk dijual.
Di kamar Eni telah rapi dan wangi untuk kencannya bersama Miko nanti. Eni sudah mengirim pesan kepada Miko untuk menunggunya di belakang pasar malam dimana tempat tersebut agak gelap.
"Mau kepasar malam saja kok wangi banget!" Tio menatap Eni heran lewat cermin karena Tio sendiri akan kerumah Arif dimana Aldi berada.
"Harus dong Mas, istrimu ini harus tetap tampil cantik karena memang sudah cantik dari kecil." Eni membanggakan kecantikannya yang melebihi artis.
Tio hanya mencebikkan bibirnya dan berdiri mengambil jaket di lemari. "Jangan boros - boros kalau belanja nanti di pasar malam." tutur Tio memperingati istrinya yang suka berlebihan kalau belanja selama menikah dengannya.
"Iya…iya Mas. Aku tahu, tenang saja. Ya sudah aku berangkat dulu, takut antri nanti." pamit Eni berbohong pada suaminya seraya mencium tangan Tio.
Kemudian Eni berpamitan kepada kedua orang tuanya mau ke pasar malam sendirian. "Loh, gak sama suamimu En?" tanya Bu Neneng yang sedang melayani pembeli.
"Gak Buk, Mas Tio ada urusan sendiri dengan temannya." ucap Eni langsung berlalu dari rumah setelah mencium tangan Ibunya.
"Pulang jangan malam - malam En!" teriak Bu Neneng.
Eni hanya melambaikan tangannya tanda setuju.
"Buk, Tio mau keluar kerumah Arif dan Aldi." pamit Tio mencium punggung tangan Ibu mertuanya.
"Baik Buk."
Tio berjalan menyusuri jalanan yang sedikit basah karena seharian hujan melanda divisi 1 dan pekerjaan terpaksa libur kemarin. Untung saja waktu menerima gaji susana cerah secerah wajah para pekerja mendapat upah selama bekerja di perkebunan sawit.
Di tempat berbeda, Miko menunggu Eni di belakang pasar malam paling ujung karena tempat tersebut gelap dan jarang orang lewat.
"Eni, aku menunggu di tempat penjual paling ujung." pesan Miko pada Eni.
Saat berjalan melihat - lihat dagangan, ponsel Eni berbunyi tanda ada pesan masuk. Kemudian Eni membuka layar dan terlihat pesan dari Miko.
"Oke sayang, tunggu aku ya? Aku sedang melihat barang cantik ini." Eni membalas pesan tersebut seraya mengambil baju lengan pendek namun ketat.
"Berapa ini Bang?" tanya Eni menatap baju yang dipegangnya.
"Enam puluh ribu Neng." jawab penjual tersebut.
"Apa! Gak boleh kurang Bang!" ujar Eni berusaha menawar.
__ADS_1
"Tidak bisa Neng, sekarang apa - apa mahal. Buat makan saja susah!" celetuk penjual tersebut sambil menawarkan dagangannya pada beberapa orang yang lewat.
Beberapa kali menawar penjual tersebut tetap kekeh tidak mau memberi diskon, hingga Eni terpaksa membelinya.
"Ya sudah Bang, aku ambil ini." Eni menyerahkan bajunya untuk dibungkus lalu mengeluarkan uang lembar lima puluh ribu dan sepuluh ribu kepada penjual itu.
"Ini Neng makasih ya," penjual tersebut menyerahkan bingkisan baju tadi kepada Eni.
"Iya Bang sama - sama."
Eni kemudian kembali melanjutkan berjalan menyusuri pasar malam hingga ujung. Lalu melihat ke kanan dan ke kiri untuk menemui Miko di belakang pedagang perlengkapan tukang tersebut.
Setelah tidak ada yang melihat pergerakannya, Eni turun ke bawah mencari Miko dan mengirim pesan kembali pada lelaki tersebut.
"Mas Miko dimana? Aku sudah datang." pesan Eni pada Miko.
"Aku di depanmu, berjalanlah sepuluh langkah dari kamu berdiri." pinta Miko.
Eni membaca pesan dan melihat ke depan bahwa ada sebuah cahaya dan ternyata orang itu adalah Miko. Lalu berjalan menghampiri Miko yang sudah sejak tadi menunggunya.
"Kenapa lama sekali? Aku sampai digigit nyamuk menunggumu." celetuk Miko sedikit protes pada Eni.
"Maaf ya Mas, tadi harus berdebat dengan penjual baju jadi lama deh," terang Eni menunjukkan barang yang dibawanya pada Miko agar percaya.
Kemudian Eni dan Miko duduk di sebuah kursi panjang dimana kebetulan ada tempat duduk yang nyaman untuk berdua.
"Mas Miko," panggil Eni yang menatap wajah lelaki itu dalam gelapnya malam namun masih ada sedikit cahaya.
"Hmmm,"
"Aku cinta kamu Mas." kata Eni dengan mantap saat menyatakan cintanya pada Miko.
Miko yang sedang melihat ponselnya seketika menoleh pada Eni.
"Apa! Kamu cinta aku, sejak kapan?" tanya Miko yang merasa bingung tapi juga penasaran.
"Sejak awal Mas datang ke toko Bapakku." timpal Eni dengan wajah berbinar.
"Berarti 2 minggu yang lalu!"
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Selamat Membaca 😘