
2 Tahun kemudian…
Pernikahan Eni dan Tio yang awalnya manis dan penuh kasih sayang, kini berubah menjadi petaka bagi Pak Broto dan Bu Neneng. Pertengkaran dan selisih paham diantara keduanya tidak bisa di perbaiki lagi.
Pasalnya, Tio telah mencari dan mengumpulkan bukti tersebut berkat bantuan dari teman - temannya yang membantu mengamati gerak gerik Eni selama Tio bekerja. Bahkan Tio lebih memilih tidur dengan Pak Suroto daripada harus sekamar bersama istrinya itu.
Kini, saatnya Tio memberitahu kepada orang tua Eni bahwa dirinya menyerah terhadap istrinya tersebut. Dirinya sudah memikirkan matang - matang tentang rumah tangganya yang tidak bisa diperbaiki lagi.
"Pak, Buk, ada yang ingin Tio bicarakan dengan kalian berdua." kata Tio duduk lesehan di lantai.
"Ada apa Tio? Apakah penting?" Pak Broto merasa heran akan sikap Tio yang menjadi berbeda semenjak pertengkarannya dengan Eni beberapa minggu lalu.
"Maafkan Tio Pak, Bu, bila Tio belum bisa membahagiakan Eni selama 2 tahun pernikahan kami. Disini, Tio ingin menyerahkan Eni sepenuhnya pada Bapak dan Ibu karena Tio sudah tidak sanggup hidup dengannya." Tio berucap tenang tanpa ada rasa sedih di hatinya.
"Kenapa Tio dan ada apa sebenarnya ini?"
Bu Neneng dan Pak Broto sebenarnya senang akan sikap Tio yang lebih dewasa daripada putrinya dan menganggap Tio seperti anak sendiri.
"Tio menyerahkan Eni pada Bapak dan Ibu karena Eni selalu bersifat manja, susah diatur dan di belakang Tio…" Tio memotong ucapanya dan menatap mertuanya merasa tidak enak hati.
"Katakan yang sebenarnya Tio, tidak perlu sungkan pada kami." ujar Pak Broto meminta Tio melanjutkan kata - katanya.
"Dibelakang Tio, Eni diam - diam berselingkuh," ucap Tio melanjutkan perkataannya pada kedua mertuanya itu.
"Apa! Bagaimana bisa!"
Tio mengambil ponsel di saku dan menggeser layar ponsel lalu membuka galeri dan menunjukkan foto perselingkuhan istrinya dengan lelaki lain pada Pak Broto.
Pak Broto mengambil ponsel Tio dan terkejut melihat beberapa foto putrinya sedang berduaan di tepi sungai tempat yang dirinya kenali, dan salah satu foto tersebut membuat Pak Broto semakin marah dengan sikap putrinya itu.
__ADS_1
"Ini 'kan…"
"Iya Pak, Eni selalu berduaan dengan Miko. Salah satu rumahnya barisan paling belakang di divisi 1 ini. Selama ini, Tio selalu curiga dengan sikap Eni selama ini." kata Tio menjelaskan sosok laki - laki tersebut.
Bu Neneng ikut merasa sedih dan kecewa setelah melihat foto putri kandungnya dan menangis di samping suaminya.
"Pak, anak kita bagaimana bisa melakukan hal ini semuanya." Bu Neneng menangis sedih dan kecewa pada putrinya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memberi pelajaran pada laki - laki itu." Pak Broto menahan amarah yang menggebu - gebu di dadanya.
Sedang Bu Neneng menahan suaminya agar tidak berbuat gegabah dengan melukai Miko.
"Tenang Pak, tenangkan diri dulu. Apa Bapak gak malu kalau sampai Bapak berbuat melanggar hukum." ucap Bu Neneng mengusap punggung suaminya.
"Benar Pak, lebih baik jangan bertindak gegabah. Kita panggil Eni kerumah." pinta Tio.
Pak Broto langsung berdiri menuju toko menemui Eni dan menarik putrinya ke rumah untuk meminta penjelasan. Eni yang ditarik oleh Bapaknya saat sedang melayani pembeli nampak kebingungan melihat amarah dari Bapaknya itu.
Eni terkejut dan syok saat foto dirinya dan Miko terpampang di galeri ponsel milik suaminya. "Bagaimana bisa ada fotoku dan Miko disitu." batin Eni bertanya seraya menatap Tio yang juga menatap dirinya dengan tatapan datar dan dingin dengan dahi berkerut.
"Mas Tio, bagaimana bisa kamu melakukan ini semua padaku!" bentak Eni yang sudah ketahuan hasil perselingkuhannya dan juga akal bulusnya itu.
Pak Broto dan Bu Neneng terkejut saat melihat putrinya membentak Tio di depan mata mereka.
"ENII…!
Eni langsung terdiam saat Pak Broto berteriak dengan suara menggelegar.
Jantung Eni berdegup kencang dan pikirannya langsung kacau saat itu juga, perselingkuhannya dengan Miko telah tercium. Padahal selama ini dirinya selalu berhasil menyembunyikannya dari suami dan juga orang tuanya.
__ADS_1
Eni melihat Ibu nya yang menangis dan Bapaknya dengan tatapan kecewa dan amarah. "Kenapa kamu diam saja Eni! Ayo jelaskan apa maksudmu melakukan perselingkuhan di belakang suamimu!" tegas Pak Broto dengan suara agak meninggi.
"Eni, kenapa kamu tega Nak melukai perasaan Bapak dan Ibumu." Bu Neneng berucap dengan menangis tersedu di pundak Pak Broto.
Tio hanya tinggal menunggu penjelasan istrinya itu dengan rasa kecewa walau dalam hatinya tak sepenuhnya mencintai Eni. Selama 2 tahun Tio sudah berusaha mencintai Eni, namun rasa cintanya yang besar pada Feni tak akan pernah hilang sedikit pun walau Tio berulang kali ingin melupakan mantannya itu.
Eni menatap Bapak Ibunya dan juga Tio bergantian seraya memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada kedua orang tuanya tentang hal tersebut juga pada suaminya.
"Maafkan Eni Pak Bu, Eni khilaf dan tak sengaja melakukan semua ini." ucap Eni bersimpuh di kaki Pak Broto.
"Tak sengaja katamu! Apa kamu pikir kami ini bodoh, mana ada hasil perselingkuhan itu tak sengaja kecuali kamu sendiri yang ingin bermain api sendiri." Pak Broto berucap dengan menahan emosi lagi agar tidak terdengar sampai keluar.
"Bapak gak ngerti apa yang ada dalam pikiranmu itu Eni. Kamu sudah punya suami, namun masih berani melakukan perselingkuhan." timpal Pak Broto duduk bersandar di dinding ruang tamu.
Untung saja suasana sekitar rumah sepi karena jarak rumah hanya beberapa meter saja dari rumah tetangga.
"Katakan Eni, apa yang kamu mau sebenarnya! Untuk Tio, urusan ini adalah urusan rumah tanggamu. Bapak tidak berhak ikut campur dan semuanya kuserahkan padamu. Bapak hanya terkejut melihat semua informasi yang kamu berikan." tukas Pak Broto yang merasa lelah setelah mengetahui foto putrinya.
"Seperti yang Tio katakan tadi Pak, Tio ingin menyerahkan Eni pada Bapak dan Ibu sepenuhnya. Sebab, Tio sudah tidak mencintainya lagi setelah perbuatan istri saya yang berselingkuh." kata Tio dengan tenang dan sudah memantapkan hatinya.
"Tio akan menceraikan Eni dalam waktu dekat ini." Tio mengatakannya di hadapan Eni dan juga mertuanya dengan lantang dan berani.
Pak Broto, Bu Neneng hanya bisa menarik nafas dengan berat dan tak berdaya setelah mendengar perkataan menantunya itu.
"Mas Tio…"
Eni bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Nasib sudah menjadi bubur, perbuatannya yang tak bisa dimaafkan dan perceraiannya dengan Tio akan segera di gelar dalam waktu dekat ini.
Kini, nasib pernikahan yang diimpikan hancur oleh ulahnya sendiri.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Jangan lupa like, komen, rate dan hadiah. Selamat Membaca 😘