
Hari berganti hari bulan berganti bulan tidak terasa sudah setahun aku bekerja sebagai CEO. aku sangat mencintai pekerjaanku.dan perkembangan properti ku pun sungguh maju sangat pesat
Hal ini pun membuat ayahku sangat senang dan bangga padaku. aku pun ikut merasakan senang karena secara otomatis sudah membuat orang yang selama ini aku cintai dan aku sayangi bahagia.
Sehabis makan malam ayah mengajakku untuk mengobrol santai di sofa karena sejak kesibukanku sebagai CEO aku jarang punya waktu untuk berbincang- bincang dengannya.
"Gimana pekerjaanmu sayang..". ujar Ayah memulai percakapan
" Ya begitulah yah.... cukup melelahkan tapi aku suka.". jawabku sambil memeluk pinggang ayah dengan manja.
Aku sangat merindukan momen ini ....pikir ku dalam hati..
karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk melepaskan kerinduanku pada Ibuku.
Sekarang orang yang berada di sampingku adalah Ayah dan sekaligus ibu bagiku.... walaupun sesosok ibu sampai kapan pun tidak akan bisa tergantikan... tetapi paling tidak aku masih punya ayah yang sekarang ini masih menemaniku dan menyayangiku entah sampai kapan.... tapi aku tidak perduli. aku tidak mau memikirkan itu.. aku hanya memikirkan kebahagiaan yang aku rasakan hari ini.
"Anakku sayang.... sampai kapan kamu akan begini terus " ujar Ayah mengganggu lamunanku
"....Eeemmm memang ayah nggak suka ya.. kalau aku peluk ". rengek ku sedikit kesal sambil mulai melepaskan pelukanku
" .... Bukan begitu sayang... umur kamu sudah dua puluh empat tahun tetapi kelakuan kamu masih juga seperti anak belasan tahun.
__ADS_1
"... Emang kenapa ? apa salah aku bermanja sama ayahku sendiri ? gerutu ku
"...Ya nggak sih....
o.. ya sayang..ayah ingin bicara serius sama kamu " ujar Ayah dengan mimik wajah yang sedikit serius.
" Mer..... perusahaan yang kamu kelola sekarang sudah cukup berkembang...ayah bangga padamu nak ...
tapi kamu harus ingat kebahagiaan seorang ayah bukan disitu saja... kamu harus memikirkan masa depanmu yang lain" lanjut Ayah kembali
"Maksud ayah .....". aku mulai menebak kemana arah pembicaraan ayahku
"Bagaimana hubunganmu dengan Hendra? " ujar ayah kembali ....yang sudah bisa aku tebak maksud dari pertanyaanya
"Sayang kalau orang tua lagi bicara kamu tidak boleh lain-lain. itu tidak sopan
taruh HP mu dulu nak...." ujar Ayahku sedikit keras dan dengan nada tidak suka
Aku pun menaruh ponselku di meja tamu karena aku tidak ingin membuat Ayahku marah
" Ya yah....maaf .." jawabku sambil menaruh ponselku di meja tamu
__ADS_1
"Sayang...ayah ingin kamu bertunangan dengan nak Hendra Minggu depan. "
Mendengar ucapan ayah... bagaikan petir yang menyambar di telingaku
"Ayahhh...pekikku... belum selesai aku berbicara. Ayah sudah mulai berbicara lagi
"kamu tidak boleh memotong pembicaraan ayah " ujar ayah lagi
" Hendra itu anak yang baik aku yakin dia bisa menjadi Imammu nanti " ayah juga sudah berbicara dengannya dan dia setuju dengan keputusan Ayah..dan ayah rasa kamu pasti setuju dengan keputusan ayah....karena sudah setahun ini dia menjadi asisten kamu dan dia selalu bersamamu kemanapun kamu pergi kamu pun pasti sudah mengenal banyak tentang dia bukan.....Tidak ada salahnya kalian meresmikan hubungan kalian dengan ikatan pertunangan. Ayah akan merasa sangat bahagia kalau kamu mau menerimanya nak... karena dia akan selalu melindungi mu kemanapun kamu pergi itu yang membuat ayah tenang dengan anak gadis ayah.." Gimana sayang ? " tanya ayah lagi dengan nada serius.
Setelah berpikir cukup lama Aku pun mulai membuka suara.
" Yah..... aku tidak tahu harus berkata apa.... selama ini aku hanya merasa bahwa Mas Hendra itu hanya lah sebatas teman..aku tidak pernah merasakan sesuatu yang aneh atau sesuatu yang semestinya dirasakan oleh sepasang kekasih..Dan akhir- akhir ini aku memang dekat sama dia yah .....tetapi itu hanya perasaan seorang adik terhadap kakak.. tidak lebih... karena memang dari dulu aku menginginkan untuk memiliki seorang saudara yang bisa berbagi cerita bisa berantem selayaknya adik dan kakak. Hanya itu yah." ujarku sedikit memelas.
"Apakah kamu sudah punya pacar sayang..." tanya Ayah ku kembali.
Aku hanya menggelengkan kepalaku. karena memang kesibukanku di kantor membuatku untuk tidak sempat memikirkan urusan pribadiku
"Anakku sayang " ujar Ayah sambil memegang bahuku terus membelokkan badanku agar kita bisa berhadapan
" Tidak ada salahnya kamu mencoba untuk bertunangan dengan Hendra....ayah yakin seiring waktu kamu pasti bisa mencintai nak Hendra.. dengan tulus.
__ADS_1
Aku hanya berdiam... karena memang Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.
Disatu sisi aku tidak mau mengecewakan ayah... karena hanya dia yang aku miliki sekarang ini... tetapi disisi lain aku takut dengan perasaanku dan kedepannya apa yang akan terjadi pada diriku.. kalo sampai aku tidak bisa mencintai mas Hendra seperti apa yang diharapkan ayahku.