Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 45


__ADS_3

Sore hari saat sedang menikmati kebersamaan dengan Ibu dan adiknya. Mobil dealer MPM datang ke rumah Tio.


"Mas, apa itu gak salah alamat ya? Mobil dealer berhenti di depan rumah kita?" Vino bingung dan heran akan kedatangan mobil tersebut. Begitu juga dengan Bu Nani memandang ke arah mobil itu.


Tio langsung berdiri tanpa membalas ucapan adiknya tadi.


"Selamat sore Mas. Bener ini alamatnya Mas Tio?" tanya petugas dealer tersebut.


"Benar Mas dengan saya sendiri Tio." Vino dan Bu Nani berdiri disamping Tio melihat interaksi keduanya.


"Baiklah." petugas tersebut langsung meminta salah satu temannya membantu menurunkan motor CBR terbaru dan perlengkapan helm di depan rumah mereka.


"Ada apa Tio? Kamu membeli motor baru Nak?" Bu Nani menatap putranya karena penasaran.


"Iya Buk, motor baru untuk Vino sekaligus hadiah ulang tahun dariku." ungkap Tio memberitahu Ibu da Vino.


"Apa! Hadiah untukku Mas! Jadi, di dealer tadi Mas Tio membeli motor langsung cash." tukas Vino berbinar bahagia.


"Iya, untukmu Vin. Selamat Ulang Tahun adikku tersayang." Tio memeluk adiknya erat dengan rasa bahagia dan Vino membalas pelukan hangat Kakaknya itu.


"Terimakasih Mas Tio. Aku sangat menyayangimu Mas. Tahu saja kalau aku lagi butuh motor. Hehehe," sahut Vino dengan cengengesan dan berjalan menghampiri motor barunya itu dan mencoba motornya.


"Gimana Mas, keren dan ganteng 'kan?" Vino bergaya diatas motornya itu.


Bu Nani dan Tio tersenyum melihat tingkah adiknya itu.


"Silahkan ditandatangani dulu Mas Tio." petugas tersebut menyerahkan bukti surat penyerahan motor tanda telah diterima oleh pemiliknya.


"Terimakasih Mas," ucap Tio setelah menandatangani surat tersebut.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi." petugas tersebut masuk mobil dan berlalu meninggalkan tempat itu.


"Tio, terimakasih. Ibu tak mampu berkata - kata lagi, Ibu hanya senang melihat kalian berdua bahagia. Untuk Vino selamat Ulang tahun, nanti malam kalau begitu kita jalan - jalan. Bagaimana?" Bu Nani merasa terharu dan bahagia melihat kedua putranya sudah tumbuh dewasa.


Sejak Tio pulang dari merantau, Tio lah yang menjadi tulang punggung keluarganya. Kini, Tio membelikan hadiah kepada Vino adalah hadiah terindah untuknya dan juga Vino.


Malam, telah tiba. Tio membonceng Ibunya dan Vino menaiki motor barunya itu berkeliling kota.


"Kita ke alun - alun Buk, sambil menikmati suasana malam." ajak Tio dan Vino mengikuti Kakaknya dari belakang.

__ADS_1


Sampai di alun - alun, keduanya memarkirkan motornya dan berjalan beriringan di sebuah tempat lesehan di warung sate ayam.


"Mang, 3 sate ayam ya?" ucap Tio pada abang satenya.


"Baik Mas,"


"Vin, tugasmu pesan minuman ke sebelah." titah Tio.


Vino mengangguk dan menghampiri penjual tersebut.


"Dua minuman teh hangat dan satu es teh bang." ucap Vino dan penjual tersebut mengangguk.


Vino kembali bergabung dengan Ibu dan Kakaknya Tio.


Tak lama, 3 minuman diletakkan di depan mereka dan penjual tersebut berlalu pergi. 20 menit kemudian 3 nasi dan 3 sate ayam telah tersedia di hadapan mereka, lalu ketiga orang tersebut segera menyantap makanan dengan santai.


"Tio, apakah kamu gak punya keinginan untuk menikah?" Bu Nani menanyakan kepada Tio tentang hal yang satu ini.


Tio yang sedang asik makan langsung tersedak mendengar penuturan Ibunya itu.


Uhuk…uhuk…uhuk


"Ibu, Tio belum ingin menikah. Tio hanya ingin menikmati kesendirian dulu dan membiayai Vino hingga kuliah." jelas Tio aga Ibunya tidak mendesaknya lagi.


"Kemungkinan Tio akan kembali bekerja di bengkel Pak Eko lagi Buk!" timpal Tio mengunyah sate ayamnya.


"Bener tuh Mas, lebih baik balik kerja di tempat yang dulu saja, daripada dirumah nganggur? Lagian, Vino sudah punya motor sendiri. Jadi, Mas Tio tidak usah mengantarku lagi ke sekolah." Vino ikut menimpali dengan bangga dan menyetujui Kakaknya kembali bekerja.


Bu Nani hanya bisa pasrah mendengar keputusan Tio, semua yang menjalankan adalah putranya. Sebagai Ibu, cukup mendoakan yang terbaik semoga bahagia dan menemukan jodohnya kelak.


Selesai makan sambil memandang suasana kota di alun - alun. Mereka akhirnya pulang kembali dengan perasaan bahagia. Terlebih Vino, dirinya tak menyangka Ibunya juga memberikan sebuah kado jam tangan saat makan malam tadi.


"Terimakasih Ibu dan Mas Tio. Kalian adalah penyemangatku menjalani hari - hariku walau tanpa adanya sosok ayah disisiku."


*


*


Tio kini telah kembali bekerja di bengkel Pak Eko. Setelah 2 hari yang lalu Sandi memberitahu kepada Tio, bahwa dengan senang hati mantan bosnya itu menerimanya kembali bekerja di bengkel.

__ADS_1


"Selamat datang kembali di bengkelku Tio." kata Pak Eko tertawa senang melihat Tio semakin gagah dan tampan.


"Terimakasih Pak Eko," tukas Tio berjabat tangan dengan Bos nya setelah sekian lama tidak bertemu.


"Bagaimana kabarmu? Sudah menikah belum?" tanya Pak Eko antusias.


"Sudah Pak!"


"Wah sudah menikah ya? Selamat Tio akhirnya melepas lajang juga. Hahaha," Pak Eko tertawa senang mendengar berita tersebut.


"Melepas lajang apaan Pak, harusnya melepas status dudanya, baru benar." timpal Sandi memberitahu dan seketika Pak Eko berhenti tertawa. Namun tak lama tawa itu kembali dengan lebih keras.


"Hahahahaha,"


"Lah, kok malah makin keras ketawanya Pak Eko ya Tio? Jangan - jangan kesambet setannya hutan di Riau yang kamu bawa Tio!" bisik Sandi bergidik ngeri mendengar suara tertawa Pak Eko yang menggelegar.


"Ngawur saja kamu San! Hati - hati kalau ngomong." balas Reno berbisik di sebelahnya.


Tio yang mendengar candaan Sandi hanya tersenyum tipis dan mengobrol kembali dengan Pak Eko.


"Baiklah, karena kamu sudah datang kembali ke bengkelku, aku jadikan kamu sebagai Manager bagaimana? Lagian, saya juga sudah buka cabang bengkel di tempat lain Tio. Jadi, tugasmu disini mengawasi beberapa karyawan dan mencatat hal - hal yang penting bersama Sandi sebagai sekretaris." terang Pak Eko menjelaskan panjang lebar pada Tio.


"Terimakasih Pak Eko atas kepercayaan Bapak pada Tio. Tio akan bekerja semaksimal mungkin dan membangun bengkel ini lebih baik lagi." tandas Tio dengan penuh semangat.


"Ayo, ikut aku ke ruanganmu?" ajak Pak Eko berjalan di depan diikuti Tio, Sandi dan juga Reno.


Membuka pintu ruangan, Tio terperangah dan kagum dengan ruangannya. Walau sederhana tapi Tio suka dan duduk di kursi kebesarannya.


"Ya sudah, nikmati kebersamaan kalian. Bapak tahu, kalian pasti kangen 'kan dalam suasana bekerja seperti dulu? Kalau begitu, Bapak tinggal dulu untuk mengecek di bengkel satunya." pamit Pak Eko pada mereka bertiga.


"Hati - hati Pak, kalau ada tikus lewat injak saja. Hahahaha,"


Pak Eko hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum mendengar candaan Tio dan berlalu keluar bengkel.


"Selamat bro, baru masuk langsung jadi manager. Wah, keren kamu Tio." kata Reno menepuk bahu Tio beberapa kali.


Sandi pun ikut memeluk sahabatnya itu dan senang atas kembalinya Tio. Sekarang, mereka bertiga akan selalu bersama - sama dalam suka maupun duka.


Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Jangan lupa like komen hadiah dan tip iklan ya. Selamat Membaca 😘

__ADS_1


__ADS_2