Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 32


__ADS_3

Tak terasa pernikahan Tio dan Eni berjalan selama enam bulan.


Sikap Tio yang mulai menyayangi dan mencintai akan sosok Eni di awal pernikahan, semakin membuat istrinya semakin manja dan cerewet serta banyak permintaan yang tak bisa diwujudkannya.


Hal inilah yang membuat Tio frustasi dan lebih sering bermain dirumah teman - temannya karena sering bertengkar hal sepele dengan istrinya itu.


Pak Broto dan Bu Neneng tentu tak bisa ikut campur persoalan rumah tangga anaknya. Mereka hanya bisa mendoakan semoga permasalahan anak dan menantunya segera terselesaikan.


Namun, harapan hanya tinggalah harapan. Setiap rumah tangga akan selalu ada bumbu pertengkaran kecil bila tidak bisa saling memahami satu sama lainnya.


Tio yang berwatak keras dan tegas berusaha mendidik istrinya agar menjadi lebih baik. Namun perbedaan usia diantara mereka terpaut 8 tahun karena Eni yang suka manja dari kecil dan mempunyai keinginan kuat bertentangan dengan sifat suaminya itu.


Sampai sekarang Eni bahkan belum hamil saat ditanya para tetangga atau pembeli yang mampir ke toko Bu Neneng.


"En, sudah berisi belum setelah menikah selama enam bulan ini?" tanya orang tersebut saat akan membayar tagihan hutangnya.


"Belum Bu, do'akan saja semoga hasil." Eni menjawab dengan tersenyum menahan emosinya setiap kali dikasih pertanyaan yang sama di saat tertentu.


"Semoga aja En gak ada yang mandul diantara kalian setelah menikah setelah sekian lama nanti." celetuk orang tersebut agak menyentil hati Eni.


"Apa! Mandul! Tidak mungkin aku mandul!" ucap Eni dalam hati.


"Ah…tidak mungkin Bu. Kami baik - baik saja, lagian baru juga enam bulan menikah. Mana mungkin tiba - tiba mandul. Ibu jangan bicara yang tidak - tidak ya!" seru Eni sedikit membentak orang tersebut yang memang terkenal julid di divisi tersebut.


Orang tersebut tak menanggapi perkataan Eni dan berlalu meninggalkan toko dengan wajah menahan emosinya sedari tadi.


"Sudahlah Nak, perkataan orang itu jangan di dengar dan kamu sendiri tahu bagaimana sifatnya." ujar Bu Neneng memberitahu.


"Iya Buk, tapi tetap saja membuat Eni jengkel dengan ucapannya yang tajam itu."

__ADS_1


"Yang penting kamu dan Tio tidak ada masalah dalam kesehatan, Ibu yakin suatu saat kamu akan hamil." tutur Bu Neneng memeluk putrinya itu.


"Terimakasih Buk, Ibu selalu bisa menenangkan hatiku disaat seperti ini."


Setelah Bu Neneng menenangkan hati putrinya, keduanya kembali beraktifitas sambil mengobrol menanti pembeli datang.


Namun, semua orang tidak ada yang tahu kalau Eni ternyata diam - diam jatuh hati pada sosok lelaki yang baru saja tiba sebulan lalu datang ke perkebunan sawit ini. Banyak lelaki tampan pendatang baru di divisi ini untuk mencari pekerjaan. 


Salah satunya adalah Miko yang membuat Eni jatuh cinta akan ketampanan wajah lelaki itu yang berkulit putih bersih daripada suaminya Tio. Eni memang hanya menatap sosok lelaki itu hanya dari dekat maupun jauh saat sedang mengobrol di sekitar rumahnya atau datang ke toko sekedar untuk membeli rokok.


Tio baru saja pulang kerja bersama Pak Broto dan Pak suroto yang hanya berjalan kaki dari lahan sawit.


Ketiga nya meletakkan alat dan sepatu di tempat biasa mereka menyimpan barang. Lalu mereka duduk bersandar di dinding triplek untuk melepas penak dan minum air putih dari rasa haus yang mendera.


"Tio permisi dulu Pak mau mandi sekalian," pamit Tio kepada kedua orang tersebut.


"Baik Tio, silahkan."


Eni yang baru selesai mandi dan berdandan cantik terkejut saat suaminya masuk ke kamar. "Eh, Mas Tio sudah pulang. Aku buatkan kopi dulu ya Mas." Eni beranjak berdiri keluar kamar menuju dapur.


"Hmmm,"


Tio yang melihat istrinya sudah cantik sehabis mandi merasa heran saat berdandan rapi dan wangi.


"Tumben dandan cantik, wangi pula. Biasanya juga gak pernah dandan apalgi pakai parfum." gumam Tio dan tak memperdulikan hal tersebut, namun dalam hati Tio merasa senang karena istrinya tampil cantik hari ini. Kemudian Tio membuka lemari mengambil baju dan celana lalu keluar kamar untuk mandi.


Selesai mandi, Tio membuka pintu dan menyampirkan handuk di jemuran lalu kembali ke kamar untuk menyisir rambutnya yang basah sehabis keramas.


Keluar kamar, Tio berjalan menuju teras dimana kopi telah tersedia di meja saat Eni baru meletakkannya dan duduk disamping Ibunya seraya bercanda dengan Pak Broto.

__ADS_1


Kegiatan sore hari ini sudah hal yang biasa dilakukan karena rasa kekeluargaan di rumah ini sangat nyaman bagi Tio.


Kemudian Pak Broto dan Pak Suroto bergantian mandi saat rasa lelah mereka menghilang.


Matahari mulai tenggelam berganti menjadi malam yang dingin dan tenang. Mereka makan malam bersama diiringi suasana hujan rintik serta menu makan malam tempe penyet, sambel terasi dan  lauk ikan gabus yang menggugah selera.


"Makan malam kali ini spesial. Bapak tadi habis mancing dengan Suroto dapat ikan gabus banyak. Ya 'kan Sur?" kata Pak Broto menatap adiknya seraya tertawa senang.


"Iya Mas, gak nyangka hari ini rejeki kita mancing dapat banyak ikan."


"Pak, sisa ikan gabusnya di bagi saja sama tetangga ya. Kita masih ada banyak dirumah, cukuplah sampai besok," ujar Bu Neneng memberi saran.


"Iya Buk, Bapak terserah Ibu saja." sahut Pak Broto yang telah menyelesaikan makan malamnya.


Sedang Tio dan Eni hanya mendengar kedua orang tuanya bercerita tanpa harus menimpali.


Selesai makan, Bu Neneng dan Eni mengangkat piring kotor dan sisa ikan gabus ke dapur. Sedang para pria memilih duduk di ruang tamu seraya menonton televisi sambil mengobrol membahas pertandingan sepak bola favorit mereka.


"Nak, dari tadi Ibuk lihat kamu diam saja? Gak ada masalah 'kan sama Nak Tio?" tanya Bu Neneng bingung dengan sikap anaknya tersebut.


"Hah…ti-tidak ada Buk. Tidak ada masalah kok sama Mas Tio." jawab Eni terbata - bata karena sedang melamun membayangkan wajah Miko bila dipandang dari dekat.


"Yakin kamu Nak! Alhamdulillah kalau begitu, jangan sampai bermain api En. Beruntung kamu dapat suami sebaik Tio." tutur Bu Neneng menasehati anaknya yang manja tersebut seraya menata piring yang telah dicuci.


"Iish Ibuk ini, ya gak lah kalau Eni bermain api." ucap Eni membohongi Ibu dan yang lainnya karena sifat Eni belum tercium kelakuannya.


Keluar dari dapur, Ibu dan anak tersebut bergabung dengan para pria dimana sedang asyik menonton acara sepak bola yang sedang live di televisi.


Eni duduk di samping suaminya sibuk membuka sosmed lewat ponselnya dimana berita sedang viral banyak perselingkuhan meraja lela.

__ADS_1


"Ck ck ck, perselingkuhan dan kdrt sedang viral di berita online." gumam lirih Eni membaca berita tersebut seraya menggelengkan kepala tanpa sadar dirinya juga mulai berselingkuh secara diam diam dibelakang suaminya.


Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Selamat Membaca 😘


__ADS_2