
Di dalam kamar, Tio dan Eni saling memunggungi tanpa ada yang mau berbicara satu sama lain. Keduanya memilih diam dengan pemikiran mereka masing - masing.
Hingga Tio terlelap karena mengantuk, sedang Eni masih membayangkan apa yang dilakukannya dengan Miko tadi di belakang pasar malam.
"Selamat malam Miko sayang," Eni mengirim pesan pada Miko dengan emoticon love.
"Selamat malam juga sayangku," balas Miko dengan emoticon cium.
"Entah kenapa aku jadi rindu lagi sama kamu," kata Miko.
"Benarkah. Aku juga Mas, ciuman mautmu bikin ku melayang." jawab Eni dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Sudah malam, bobok yuk?" ajak Miko karena ngantuk dan besok harus berangkat pagi.
"Iya Mas, selamat tidur. Jangan lupa mimpiin aku ya." pinta Eni.
"Iya, kamu mimpiin aku juga."
Setelah berkirim pesan berakhir, Miko mematikan ponselnya agar tidak ada yang menganggu saat tidur.
Sedang Eni, meletakkan ponselnya di meja kecil samping kasur dan mulai memejamkan matanya perlahan karena 10 menit lagi lampu divisi akan mati.
*
*
Di luar negeri, Feni kini bekerja sebagai TKW di hongkong. Dirinya diajak temannya bekerja karena menggantikan salah satu temannya yang pulang untuk menikah dan gak kembali lagi.
"Fen, gimana? Betah 'kan di Hongkong?" tanya Sulis tetangga Feni yang mengajaknya kerja jadi TKW.
"Iya Mbak Sulis, awalnya aku gak betah. Tapi karena majikannya baik dan pengertian aku jadi betah rasanya walau harus masak dan menjaga anak majikannya." terang Feni menceritakan dirinya selama beberapa bulan bekerja di Hongkong.
"Aku jamin kamu akan kaya mendadak disini. Gajinya juga lumayan Fen, bahkan kita bisa libur tiap minggu dan juga hari besar libur." sahut Sulis yang sedang berbelanja bersama Feni karena mereka sengaja janjian bertemu di salah satu pasar di Hongkong.
__ADS_1
"Aamiin Mbak, semoga aku betah bersamamu dan teman - teman yang lainnya." kata Feni melanjutkan aktifitasnya.
*
*
Pagi hari yang dingin dan mendung telah menyambut suasana divisi 1. Cuaca yang suka berubah - ubah, apalagi waktu hujan deras menjadi kesenangan tersendiri bagi semua orang karena tidak bisa bekerja dalam keadaan hujan dan banjir di lahan.
Walau begitu mereka tetap di gaji asal absen agar bayaran mereka full. Setelah semua orang absen di kantor divisi, mereka kembali ke rumah masing - masing dengan payung dan ada juga yang memakai mantel.
"Kali ini hujan deras banget di sertai angin. Lihat saja mendungnya gelap sekali. Aku yakin besok pasti banjir." celetuk Tio yang memandang ke arah langit.
"Iya Tio, kayaknya begitu. Minum kopi sambil makan gorengan enak ini." sahut Suroto yang duduk di ruang tamu bersama Tio.
"Mau aku bikinkan Pak Lek." Tio menawarkan diri membuat kopi untuk mereka berdua.
Bu Neneng, Pak Broto dan Eni sedang di toko karena melayani pembeli yang terjebak hujan dan menunggu hujan agak mereda.
Setelah air mendidih, Tio mengisi air ke gelas dan mengaduknya. Segelas kopi telah tersedia di depan Pak Suroto dan Tio langsung menyeruput kopi tersebut dengan meniup pelan berulang kali supaya nikmat diminum.
"Ini Pak Lek kopinya, tapi gorengan yang gak ada." Tio meletakkannya seraya tertawa menampakkan deretan giginya yang putih.
"Tidak apa - apa Tio, begini saja sudah nikmat kok," ujar Suroto menyeruput kopinya.
Keduanya mengobrol santai sambil menikmati dingin air hujan diiringi hangatnya kopi yang syahdu.
Di toko, Eni duduk bersandar di kursi panjang yang dilapisi kasur agar nyaman buat tiduran sambil memainkan ponselnya. Sedang Pak Broto dan Bu Neneng memandang keluar halaman toko sambil bercanda berdua.
"Daripada bengong, enaknya chat Mas Miko ah," gumam Eni membuka aplikasi chat.
"Mas Miko sedang apa?" Eni mengirim pesan pada Miko ditambah stiker love besar.
Miko yang sedang bermain kartu bersama temannya mendengar ponselnya berbunyi bahwa ada pesan masuk lalu membukamya.
__ADS_1
Miko tersenyum mendapat pesan dari kekasihnya tersebut. "Ini sedang main kartu sayang, kamu sendiri lagi apa?" tanya balik Miko.
"Aku sedang chatingan dengan kekasihku Miko," canda Eni diiringi tertawa lirih.
Untung saja kedua orang tuanya berada jauh dari dirinya rebahan.
"Bisa saja kamu sayang. Sayang aku kangen nih? Kapan kita ketemu lagi?" Miko merindukan Eni walau baru jadian baru kemarin malam.
"Iya sayang, aku juga kangen sama kamu. Nanti aku kabari kalau gak sibuk dirumah." kata Eni seraya merencanakan siasatnya bertemu kekasihnya itu.
Lalu, Eni terus mengirim pesan kepada Miko dengan tertawa dan tersenyum sendirian di kursi panjang tersebut karena terhalang etalase dagangan toko membuatnya leluasa mengobrol dengan kekasihnya itu.
Eni tak akan bisa merubah sifatnya yang kecentilan dan manja. Selama menikah dengan Tio, dirinya merasa kurang puas karena sifat tegas dan dingin Tio membuat Eni beralih ke hati orang lain.
Inilah yang dirasakan Tio, sifat manja istrinya dan juga kekanak - kanakan membuat Tio frustasi dan membiarkan Eni berbuat sesuka hatinya.
Bahkan dalam tidurnya pun Eni sempat bermimpi dan menyebut nama Miko hingga membuat Tio menyadari bahwa di belakangnya Eni telah berselingkuh selama ini.
Namun, dalam hati Tio merasa bersyukur bahwa pernikahan yang tidak diinginkan ini akan segera berakhir setelah dirinya mengumpulkan bukti - bukti yang akurat.
"Kita lihat saja En, kamu yang telah memulainya dan juga kamulah yang harus mengakhirinya nanti." Tio bergumam lirih dengan senyuman smirknya memandang air hujan yang belum berhenti sedari tadi.
Kemudian Tio berpamitan kepada Pak Suroto karena mengantuk seraya membawa kopinya yang sudah habis menuju dapur sekalian mencuci bersih gelas tersebut dan ditanggapi Pak Suroto dengan menganggukan kepala.
Di kamar, Tio terus memikirkan Ibu dan juga adiknya yang di kampung. Selama dua tahun bekerja di lahan sawit ini tentu adalah perjuangan panjang baginya hingga menikah dengan anak Pak Broto yang mengantarkannya datang pertama kali di Riau.
"Ibuk…Vino…Tio merindukan kalian?" gumam Tio memeluk gulingnya yang terasa dingin dan memandang foto Ibu dan Vino di galeri ponselnya.
"Tunggulah sebentar lagi, bila saatnya tiba Tio akan pulang dan bersama kalian membuka usaha baru di kampung." Tio bermonolog sendiri dan mulai memejamkan matanya yang lelah.
Hujan kali ini, membawa berkah bagi semua orang karena tidak bekerja dan bisa beristirahat di rumah setelah bekerja setiap hari disertai lemburan. Namun dalam hal itu, mereka tak pernah sekalipun mengeluh akan rasa lelah itu dan malah semangat karena rasa kekeluargaan dan kekompakan di divisi satu sangatlah kental.
Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Jangan lupa like, komen, rate dan hadiah ya. Selamat Membaca 😘
__ADS_1