Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 22


__ADS_3

Hari ini, Tio bersama Pak Broto belanja kebutuhan makanan dan juga persediaan toko yang mulai kosong. Sebulan sekali Pak Broto biasanya selalu belanja dengan istrinya, kali ini ditemani Tio dan juga Aldi sekalian liburan.


"Untung hari minggu ya, kita bisa liburan ke kota. Dah lama juga gak cuci mata seperti ini selama sebulan." kata Tio yang bersemangat jalan - jalan.


Pak Broto yang mendengar hal itu hanya tersenyum lalu melanjutkan memandang lautan yang luas itu.


Perjalanan menempuh 3 jam lamanya. Pak Broto, Pak Niko, Tio dan Aldi juga turun dari speedboot yang mereka tumpangi dan membayar biaya perjalanan mereka.


"Baiklah, kita jalan kaki mencari angkutan umum menuju kota." ajak Pak Broto.


Pak Niko pun berjalan sejajar dengan Pak Broto diikuti Tio dan Aldi di belakang.


Setelah mendapatkan angkutan umum, mereka menuju kota dimana Pak Broto biasa berbelanja.


Tio yang pertama kali liburan hanya bisa kagum akan suasana kota tersebut begitu pula Aldi.


Satu jam perjalanan, mereka tiba di sebuah kota yang ramai penduduk berlalu lalang.


"Kita sudah sampai, ini Mas terimakasih." kata Pak Broto menyerahkan uang seratus ribu.


"Terimakasih Pak,"


Mereka berempat turun dan Pak Broto memberitahu kalau Tio ingin mengirim uang kepada Ibunya dikampung.


"Tio, Bapak tunggu disini. Silahkan kalau mau mengirim uang. Aldi tidak sekalian mengirim?" tanya Pak Broto. Namun Aldi hanya menggelengkan kepala.


Sedang Tio sudah masuk ke dalam mesin ATM dan transaksi berhasil.


"Sudah Pak, sekarang kita kemana?" tanya Tio.


"Kita belanja ke pasar di depan," ujar Pak Broto menunjukkan dagunya dan berjalan.


Banyak yang mengenal Pak Broto karena beliau setiap sebulan sekali datang ke kota Kuala Tungkal untuk belanja keperluan tokonya.


Setelah dua jam berjalan kesana kemari hanya di satu toko besar tersebut. Pak Broto segera meminta orang - orang tersebut untuk mengantarkan barangnya ke tempat biasanya di dermaga.

__ADS_1


Sementara Pak Broto dan yang lainnya mencari makanan karena sudah jam waktunya makan siang.


"Kita ke tempat langgananku, disana rumah makan padang paling enak," ajak Pak Broto dan mencari angkutan umum lagi.


Kini disinilah mereka berempat. Rumah makan padang paling lengkap menunya dan murah. Tetapi bagi Tio dan Aldi ini adalah makanan termahal.


Mereka semua makan dengan lahap, Tio dan Aldi seumur - umur baru pertama kali melihat menu sebanyak ini. "Buset banyak sekali!" ucapnya dalam hati.


Setengah jam berlalu, Pak Broto dan Pak Niko sudah selesai makan begitu pula Tio dan Aldi yang hanya mengambil ayam goreng dan telor dadar. Setelah membayar mereka keluar dari rumah makan dan menanyakan pada Tio apakah ingin jalan - jalan.


"Tio, Aldi. Apa kalian tidak ingin membeli sesuatu?" tanya Pak Broto yang merasa dari tadi kedua anak muda tersebut hanya diam tanpa bicara seperlunya.


"Sebenarnya ingin sekali beli baju Pak," jawab Tio seraya tersenyum canggung.


"Baiklah, kita ke toko baju," balas Pak Broto dan berjalan kaki 10 meter dari tempat rumah makan tersebut.


Ternyata di kota ini begitu banyak toko dan para pedagang berjejer. Bahkan di kota ini, rumah mereka pun rumah panggung yang memiliki tangga dari luar namun ada juga yang tidak.


Masuk ke toko, Tio dan Aldi segera memilih baju atau celana yang mereka butuhkan. Sedang Pak Tio dan Pak Niko juga ikut menemani kedua anak muda tersebut. Namun, yang namanya mata bila melihat barang bagus pasti juga akan membeli.


Selesai mengambil beberapa potong baju dan celana, mereka semua menuju kasir.


"Tapi Pak- !"


Tio dan Aldi hanya terdiam dan merasa canggung karena lagi - lagi mereka di belikan oleh orang lain yang bukan keluarganya.


"Terimakasih Pak Broto," ucap kompak Tio dan Aldi membalas kebaikan Pak Broto.


Lalu, mereka segera keluar dari toko karena hari sudah semakin siang. Sudah saatnya kembali ke rumah, takut nanti kemalaman sampai di tempat.


* * *


Tiga perjalanan mereka tempuh hingga pukul 5 sore baru tiba di tempat. Pak Broto sudah di jemput oleh salah satu teman dekatnya yang selama ini membantu membawa barangnya ke toko mereka.


Sidik dan kedua temannya, mengangkut barang dari dermaga ke truk. Mereka saling bahu membahu meletakkan barang agar lebih cepat dibawa kerumah.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, mereka berangkat. Pak Broto, Pak Niki, Tio dan Aldi langsung naik ke truk tersebut.


Tiba dirumah, Tio dan Aldi langsung melompat turun dari truk. Sidik membuka bak belakang dan mereka bergotong royong mengambil barang belanjaan Pak Broto dan diletakkan di toko mereka.


"Terimakasih Sid sudah membantu," ujar Pak Broto.


"Tidak perlu sungkan, aku senang membantumu. Kita sudah lama kenal." sahut Sidik tertawa lebar.


Sidik pun segera berpamitan kepada Pak Broto dan yang lainnya, karena tugas mereka telah selesai.


Tio dan Aldi segera bergantian mandi setelah kembali dari kota. Pak Broto pun sedang menikmati kopinya saat baru datang tadi dan istrinya pun tau bahwa suaminya pasti lelah setelah melakukan perjalanan tadi.


"Nanti malam pijat ya Buk, badan Bapak pegal sekali ini. Pijat plus sudah siapkan?" pinta Pak Broto pada istrinya.


"Iya Pak," sahut Bu Neneng dengan mata melotot pada suaminya. Pak Broto hanya tertawa lebar melihat sikap istrinya itu.


"Hahahaha,"


Di kamar, Tio dan Aldi saling bersandar di dinding triplek karena kelelahan saat perjalanan tadi.


"Huh, lelah juga ya Tio perjalanan tadi. Kakiku terasa pegal rasanya. Padahal kita gak ngapa - ngapain, cuma makan dan jalan kaki saja." celetuk Aldi sambil mendengarkan musik di ponselnya.


"Aku sih tidak masalah Al, aku sudah terbiasa jalan kaki. Jadi otot di kakiku biar tahan banting." sahut Tio menunjukkan betis kakinya yang merasa berbentuk.


"Wuiih, otot kaki segitu gedenya. Abis macul darimana kamu Tio." canda Aldi memegang betis Tio yang besar.


"Macul sawit mati tuh," balas Tio dengan tertawa lebar.


Keduanya bercanda bersama di kamar hingga ketukan pintu membuyarkan mereka.


"Tio, Aldi ayo makan bareng - bareng," ajak istri Pak Broto dari luar kamar.


"Baik Bu,"


Mereka berdua segera keluar kamar dan makan malam bersama yang lainnya. Suasana rumah Pak Broto tidak pernah sepi dan selalu ramai oleh tetangga atau teman - teman Pak Broto dari beda divisi yang membeli di tokonya atau sekedar duduk mengobrol juga menonton televisi di toko itu. Sehingga suasana ini membuat Tio merasa nyaman dan cepat mempunyai banyak teman.

__ADS_1


Selesai makan, Tio dan Aldi ikut duduk bersama mereka yang jauh lebih tua dari mereka berdua. Kehidupan di tengah - tengah lahan sawit ini ternyata tak kalah ramenya seperti di tempat kelahiran Tio. Tio merasa bersyukur di pertemukan dengan Pak Broto, sebab dari beliau kini Tio bisa menyadari banyak hal bahwa kehidupan ini terus berjalan seiringnya waktu. Tio hanya bisa berdoa diberi kesehatan untuk dirinya dan keluarganya di kampung.


Terimakasih yang sudah mampir ke karyaku ya. Selamat Membaca 😘


__ADS_2