Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 23


__ADS_3

Seperti hari biasanya, Tio berangkat pagi bersama dengan Pak Broto dan pekerja yang lainnya. Berdiri di pagi hari yang dingin mendengar beberapa kata dari  Asisten kepala atau Mandor yang siap bekerja memberi semangat para anggotanya agar lebih rajin bekerja.


Bahkan saat bekerja atau sedang istirahat makan siang, mereka selalu menghibur diri mereka dengan bercanda atau mendengar musik untuk melepas penat.


Beberapa jam terlewati, para pekerja waktunya pulang dan sorak gembira menghiasi wajah mereka.


Tio langsung meletakkan peralatan kerjanya dan juga sepatu boot di rak yang telah tersedia. Mengambil handuk yang tersampir di dinding triplek lalu masuk ke kamar mandi.


Setengah jam berlalu, Tio keluar dengan rambut basah dan badan yang segar.


"Nak Tio, ini kopinya di meja ya," ujar Bu Neneng meletakkannya bersama kopi suaminya yang sedang bercanda dengan temannya.


"Iya Buk, terimakasih." sahut Tio saat melewati dapur dan masuk ke kamar untuk memakai kaos oblong dan celana panjang.


Setelah rapi, Tio keluar kamar dan bergabung dengan teman - teman yang duduk di teras.


"Gimana Tio, sudah mulai betah tinggal disini?" tanya teman Pak Broto yang sedang duduk di sebelahnya.


"Iya Pak, mulai betah dan disini banyak cewek cantik juga ternyata." jawab Tio tertawa nyengir.


"Hahahaha, dasar anak muda tahu saja kalau ada yang bening." timpal teman Pak Broto.


"Biasa Wan, masih muda jiwanya labil dan selalu ingin tahu." sahut Pak Broto seraya tertawa.


Tio ikutan tertawa lebar karena memang benar adanya, banyak gadis disini yang membuat hatinya seakan lupa bahwa Feni sedang menantinya di kampung tanpa kabar dari Tio.


Hari tak terasa sudah malam. Mereka makan malam bersama sambil menonton televisi semakin menambah suasana ramai di rumah tersebut juga banyak teman - teman Tio yang makan di tempat Bu Neneng.


"Buk, saya mau beli pulsa dulu ke konter di depan sana." pamit Tio pada Bu Neneng.


"Iya Nak Tio," sahut Bu Neneng lalu melanjutkan melayani pembeli yang sedang ramainya.

__ADS_1


Sampai di konter yang hanya melewati jembatan kayu tersebut. Tio membeli pulsa dan kuota untuk bisa terus menghubungi Ibu dan juga adiknya.


"Mas beli pulsa lima puluh ribu dan juga kuota 4GB." pinta Tio pada pemilik konter tersebut.


"Oke. Catat nomer dulu disini."


Setelah mengisi pulsa dan kuota, Tio duduk seraya membeli snack untuk camilan sambil memandang suasana divisi yang seperti desa. Beberapa menit disana, Tio lebih memilih pulang dan ingin tidur untuk merebahkan tubuhnya yang lelah.


"Halo Eni, bagaimana kabarmu nak?" tanya Bu Neneng yang sangat merindukan putrinya tersebut.


"Kabar Eni baik Buk. Ibu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Eni balik kepada Ibunya.


"Ibu juga sangat baik dan makin gemuk disini," ujar Bu Neneng seraya tertawa menutup mulutnya dan Pak Broto hanya tersenyum saja melihat tingkah istrinya.


"Enak sekali Ibu disana ditemani Bapak, sedang aku disini hanya bersama Nenek. Aku kangen Ibu dan Bapak, boleh 'kan Eni nyusul kesana?" tukas Eni yang merasa kesepian selama 5 tahun ditinggal merantau oleh kedua orang tuanya.


"Kamu yakin mau menyusul kesini? Disini banyak binatang buas loh dan dikeiling lahan sawit." terang Pak Broto ikut menimpali percakapan istri dan putrinya itu.


"Boleh ya Pak, Buk." rengek Eni memelas dan merayu pada kedua orang tuanya agar di bolehkan menyusul ke Riau.


Mau tak mau pasangan suami istri itu akhirnya menyetujui keinginan anaknya menyusul ke Riau. " Tapi harus sama Pamanmu ya, sebab kamu seorang gadis dan tak baik melakukan perjalanan sendirian." titah Pak Broto menasehati putrinya.


"Oke Boss."


Eni yang jauh di kampung langsung kegirangan karena akhirnya bisa menyusul orang tuanya setelah lulus SMA setahun yang lalu.


Tio yang baru sampai di rumah hanya menyapa saja dan masuk ke kamar karena lelah dan besok harus bekerja lagi. Sedang Aldi tak tahu entah kemana karena sejak pulang kerja dan makan malam Aldi pergi keluar dan belum kembali.


Lima hari telah berlalu, Eni bersama Pamannya langsung menghubungi Pak Broto untuk menjemputnya sebelum tiba di Kuala Tungkal.


Kini, disinilah Pak Broto di sebuah Agen yang menjadi langganannya setiap pulang mudik ataupun berangkat selalu berada di Agen tiket Pulau Jawa kepercayannya. Pak Broto ditemani sahabatnya Pak Niko menginap semalam di tempat tersebut sebelum putrinya datang hari ini.

__ADS_1


"Bapak dimana?" tanya Eni yang selalu menghubunginya setiap dua jam sekali itu.


"Bapak sekarang di Kuala Tungkal. Nanti Bus nya berhenti di Agen Bapak menginap.


"Apa! Memang ada ya tempat Agen punya penginapan?" tanya Eni yang bingung dengan perkataan Bapaknya itu.


"Tentu ada sayang dan ini baru pertama kali kamu mendengarnya 'kan?" ucap Pak Broto yang tersenyum lebar.


"Iya Pak, aku penasaran seperti apa tempatnya," jawab Eni memandang keluar jendela.


"Ya sudah Pak, Eni tutup dulu teleponnya. Sampai ketemu di sana Pak." pamit Eni dan menutup teleponnya.


"Iya hati - hati,"


Setengah jam kemudian, Bus yang ditumpangi Eni dan Pamannya telah tiba. Eni dan Pak Suroto turun dari Bus dan langsung disambut oleh Pak Broto yang sedang tersenyum bahagia melihat kedatangan anak dan juga adiknya itu.


Keduanya berpelukan sangat erat karena rindu. "Masa cuma Paman saja yang dipeluk, aku gak dipeluk!" celetuk Eni mendekap tangannya karena merasa dicampakkan.


Pak Broto dan adiknya seketika melepas pelukan, Bapak dan anak tersebut langsung berpelukan sangat erat sampai menggoyangkan badan ke kanan dan ke kiri tanda mereka berdua saling merindukan.


Ketiganya langsung masuk ke dalam penginapan dan meminta adik juga putrinya untuk istirahat sebentar.


"Kalian sudah makan?" tanya Pak Broto memandang keduanya bergantian.


"Belum Mas, hanya makan selama di perjalanan saja." tukas Suroto yang kebetulan pagi ini belum sarapan.


"Ya sudah aku pesankan makanan dulu kalau begitu, kalian bersama Pak Niko sebentar," ucap Broto lalu pergi memesan makanan pada pemilik warung tersebut.


"Mbak, 2 piring makanan padang ditambah telor ceplok dan juga minuman teh hangat dua." pinta Pak Broto dan pemilik warung yang bernama Mbak Lusi menganggukan kepala.


Lalu Pak Broto kembali menemani adik dan juga putri kesayangannya itu sambil menunggu pesanan datang. Eni membagikan cerita selama perjalanan empat harinya itu kepada Bapaknya dan disambut dengan senyum cerah di wajah tua Pak Broto. Melihat putrinya yang beranjak dewasa membuat Pak Broto semakin menyayangi dan ingin menjaganya sampai suatu saat ada lelaki yang akan menikahi putrinya tersebut.

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ke karyaku, jangan lupa like, komen, hadiah dan tip iklan juga rate nya ya. Selamat Membaca 😘


__ADS_2