
4 hari berlalu…
Sebelum sampai di terminal, Tio telah menghubungi Sandi untuk menjemputnya di terminal.
"San, jemput aku di terminal bro!" pinta Tio yang sedang dalam perjalanan.
"Oke bro, setengah jam lagi aku kesana." tukas Sandi yang senang sahabat lamanya pulang setelah 2 tahun merantau dan hanya bertukar kabar melalui telepon.
Sambungan telepon terputus, Sandi bersiap - siap menjemput Tio dan memanasi mobilnya.
Setengah jam berlalu, Sandi lebih awal datangnya daripada Bus yang ditumpangi Tio.
"Aku tunggu di sini saja dekat warung sambil minum kopi." ucap Sandi keluar mobil dan masuk ke warung.
Beberapa menit kemudian, Bus yang ditumpangi Tio datang dan berhenti di tempat pemberhentian Bus.
Tio turun dari Bus dan melihat kanan kiri, berharap temannya sudah datang di parkiran terminal.
"Dimana Sandi ya?" Tio celingukan tak menemukan Sandi di manapun. Akhirnya Tio menghubungi Sandi menanyakan keberadaannya.
"Halo San, dimana kamu?" Tio menanyakan sambil menyalakan rokok yang baru saja di belinya dari pedagang asongan waktu turun dari Bus.
"Aku di warung Tio, sedang menikmati kopi sambil menunggumu tadi. Mobilku warna hitam di sedelah kanan gerbang terminal." Sandi keluar dari warung seraya mencari keberadaan Tio.
Tio pun berjalan menuju arah yang dimaksud Sandi dan kemudian menemukan mobil hitam terparkir disana tampaklah Sandi yang semakin tinggi, putih dan berkacamata layaknya artis berdiri di dekat mobilnya.
Sandi tersenyum bahagia saat Tio menghampirinya dan memeluk sahabat lamanya itu erat. Keduanya saling berpelukan satu sama lain juga menanyakan kabar masing - masing.
"Waahh, makin imut aja kamu Tio." puji Sandi menahan senyumannya namun setengah mengejek Tio karena semakin hitam.
"Terimakasih pujiannya Sandi, aku tahu kamu pasti mengejekku 'kan?" Tio seakan tahu arti ucapan Sandi barusan.
"Memangnya kapan aku mengejekmu? Aku sedang memujimu Tio, imut alias item mutlak. Hahaha…" Sandi tertawa lebar setelah mengejek Tio dengan candaannya itu. Tio pun ikut tertawa dan tak mempermasalahkannya.
Lalu keduanya masuk ke warung dimana kopi Sandi masih berada di meja.
"Kamu pasti belum makan Tio, ayo silahkan pilih menu apa saja. Aku yang akan traktir," pinta Sandi pada Tio.
"Samakan saja dengan makananmu,"
"Oke,"
__ADS_1
"Buk, soto ayam satu lagi dan es teh," pinta Sandi.
"Baik Mas,"
Tak lama, pesanan Tio datang dan langsung menyantap makanan tersebut karena lapar juga haus karena kebetulan sudah waktunya makan siang.
Selesai makan dan membayar makanan, keduanya keluar dari warung dan berjalan menuju mobil Sandi.
Tio meletakkan koper dan tas di belakang kemudi, lalu Tio duduk di depan bersama Sandi. Kemudian, mobil melaju keluar terminal menuju rumah Tio.
Dalam perjalanan, keduanya mengobrol banyak dan berbagi cerita hingga tertawa bahagia yang terpancar di antara mereka.
"Bagaimana kabar Reno? Apakah masih bekerja di bengkel Pak Eko?" Tio menanyakan kabar Reno yang beberapa waktu lalu menghubunginya namun nomer tersebut sudah tidak aktif.
"Reno sekarang sudah tidak bekerja di tempak Pak Eko sejak 5 bulan yang lalu. Iya, nomer sudah ganti karena hangus." tukas Sandi menceritakan Reno.
"Oohh…"
"Nanti aku kasih nomer Reno," timpal Sandi.
"Oke,"
Satu jam perjalanan, sampailah Tio dirumah yang sangat dirindukannya itu. Tio sengaja tidak memberitahu Ibunya soal kepulangannya kapan? Hanya memberitahu bahwa akan pulang dalam waktu dekat.
Berdiri di samping mobil, Tio melihat Ibunya berjualan, suasana warung terlihat ramai membuat hati Tio senang tapi juga sedih karena harus bekerja keras untuk membiayai sekolah Vino selama dirinya bekerja di perantauan.
Tio berjalan menghampiri Ibunya yang sibuk melayani pembeli. Dirinya memakai masker dan berpura - pura menjadi pembeli.
"Buk, pesan kopi satu?" Tio duduk di kursi dan langsung mengambil gorengan yang ada di depannya dan memasukkannya ke dalam plastik yang sudah tersedia.
"Baik Mas,"
Bu Nani tidak menyadari, bahwa Tio putranya telah pulang dan duduk tepat di depannya karena fokus menggoreng lalu beralih membuatkan kopi.
Selesai membuat kopi, Bu Nani meletakkan kopi tersebut di meja. Tio masih sibuk mengamati sekitar rumah sambil mengirim pesan kepada Sandi agar turun dari mobil untuk menikmati kopi juga.
"Assalamualaikum," sapa Sandi pada Bu Nani.
"Waallaikumsalam, eh Nak Sandi. Sini, duduk ngopi - ngopi dulu. Habis darimana? Kok rapi banget?" tanya Bu Nani seraya membalikkan pisang gorengnya.
"Ini Buk, habis jemput teman di terminal." terang Sandi duduk disamping Tio yang mendengarkan obrolan mereka.
__ADS_1
"Lalu, dimana temanmu itu? Kok gak diajak kesini?" Bu Nani melihat Sandi duduk sendirian dari tadi saat datang ke warungnya ini, lalu membuatkan kopi untuk sahabat anaknya tersebut.
"Sudah pulang Buk kerumahnya, makanya Sandi lewat dan mampir kesini karena kangen gorengan dan kopi buatan Bu Nani." sahut Sandi terkekeh.
"Oh begitu rupanya," Bu Nani meletakkan kopi di depan Sandi.
Tio hanya memutar bola matanya malas mendengar celotehan temannya itu dan membuka masker sedikit untuk meminum kopi saat Ibunya sibuk menggoreng dan keluar masuk rumah.
Entah apa yang dikerjakan Ibunya sampai sesibuk itu keluar masuk rumah, padahal ada karyawan yang ikut membantu.
"Bagaimana kabar Tio Buk? Kapan Tio pulang? Kangen juga sama candaan dan keusilannya selama bekerja di bengkel dulu." tutur Sandi mengingat masa - masa bekerja dengan Tio.
"Katanya pulang bulan ini, tapi gak tau kenapa kok belum mengabari Ibu ya?" jelas Bu Nani dengan wajah sendu terlihat jelas bahwa sudah sangat merindukan anak sulungnya itu.
"Benarkah?" Sandi melirik Tio yang terlihat sekali suka mengerjai Ibunya padahal sudah ada di depan mata.
Bu Nani hanya menganggukkan kepala dan melanjutkan menggoreng, sedang karyawan lain sibuk membuat rujak pesanan pembeli.
Tio yang sudah rindu berat dengan rumahnya, meminta ijin kepada pemilik rumah untuk ke kamar mandi.
"Buk, saya mau ijin ke toilet boleh?" tanya Tio dengan suara agak dberatkan.
"Oh boleh Mas, silahkan masuk nanti belok kiri lurus ke belakang." jawab Bu Nani dengan tersenyum.
Tio berdiri dan berjalan masuk ke rumah dengan santainya.
Sedang Sandi hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala melihat tingkah Tio.
Sandi dan Bu Nani mengobrol seraya memakan gorengan. Tak lama, Vino datang dan mencium punggung tangan Ibunya saat pulang sekolah.
"Assallamualaikum, eh Mas Sandi. Sudah lama Mas gak datang kesini? Apa kabarnya?" Vino berdiri di samping Sandi lalu mencium tangan Sandi.
"Waallaikumsalam," ucap Sandi dan Bu Nani bersamaan.
"Kabarku baik Vin, gimana sekolahmu?" kawab Sandi tersenyum dan menanyakan sekolah Vino.
"Alhamdulillah Vino juga baik Mas dan sekolah Vino juga lancar, bulan depan ulangan harian dan banyak PR Mas, pusing kepalaku ulangan terus." ungkap Vino menceritakan kegiatan di sekolah SMA nya.
"Semangat sekolahnya dan belajar yang rajin." tutur Sandi seraya memakan gorengan.
"Vino ke dalam rumah dulu ya Mas, mau meletakkan tas dan sepatu." pamit Vino.
__ADS_1
"Iya,"
Akhirnya Tio sampai dirumah dengan selamat 😂 Dasar Tio usilnya kumat. Terimakasih sudah mampir ke karyaku, jangan lupa like, komen, hadiah dan tip iklan. Selamat Membaca 😘