
Tok tok tok
Hakim mengetuk palu 3 kali, tanda perceraian Tio dan Eni sah di mata agama dan hukum.
Pak Broto dan Bu Neneng tak bisa berbuat banyak perihal masalah rumah tangga putrinya.
Perceraian yang dilaksanakan di kota tersebut hanya di hadiri Pak Broto, Bu Neneng dan keluarga dekat saja.
Tio nampak bahagia setelah sah bercerai dari Eni. Tak ada raut wajah penyesalan di matanya, hanya senyum yang terukir di bibirnya. Kini, Tio menoleh pada Pak Broto dan Bu Neneng.
"Maafkan Tio Pak, Buk. Tio tak bisa menjadi suami yang baik buat Eni." Tio menggenggam tangan Bu Neneng dan menatap wajah mantan mertuanya bergantian.
"Kamu tidak salah Nak Tio, semua ini sudah suratan takdir. Justru Bapak dan Ibu yang seharusnya minta maaf sama kamu karena tak bisa menjaga Eni dengan baik." ucap Pak Broto dengan wajah lelahnya.
Eni yang berdiri di belakang orang tuanya hanya menatap lantai dengan perasaan campur aduk. Pasalnya, Miko telah mengetahui kalau Eni telah menikah dari sahabatnya.
Kemudian Miko mengirim pesan padanya saat sedang sidang bahwa Miko meminta putus karena telah membohonginya perihal pernikahan yang disembunyikan Eni.
Kini, hancur sudah hidupnya. Eni hanya terdiam dan mendengar percakapan orang tuanya dan mantan suaminya.
"Setelah ini, kamu mau kemana Nak Tio?" Pak Broto merasa sedih karena Tio pasti akan pergi meninggalkan perkebunan sawit.
"Tio berencana pulang kampung Pak bulan depan. Tio sudah kangen sama Ibu dan adik saya Vino. Terimakasih sudah membawa saya ke tempat ini Pak, jika bukan karena Bapak pasti Tio tidak akan sukses seperti sekarang." Tio berucap dengan menahan air matanya agar tidak keluar.
Beralih ke Bu Neneng, Tio menatap Ibu mertuanya dan memeluk dengan erat. "Ibu jangan bersedih dan menangis. Tio senang, Ibu adalah ibu kedua setelah ibu kandung saya. Kesabaran dan nasehat Ibu akan selalu Tio simpan di hati, maafkan Tio bila ada salah ya Buk." Tio tak kuasa menahan gejolak rasa di dadanya yang sedari tadi ditahannya.
Akhirmya luruh sudah air matanya menetes di pundak Bu Neneng. Mereka berdua berpelukan menahan rasa haru dan tangisan air mata di luar gedung pengadilan.
Pak Broto yang menyaksikan istri dan Tio itu akhirnya memeluk keduanya dan disaksikan Eni yang sejak tadi terdiam duduk di depan mereka yang saling berpelukan.
Air mata Eni ikut mengalir setelah mendengar penuturan mantan suaminya yang baik itu.
__ADS_1
"Mas Tio…?" Eni berdiri setelah sejak tadi diam di kursi serta menyesali perbuatannya selama ini.
Tio melepaskan pelukannya dan menatap mantan istrinya itu dengan tersenyum dan memeluk dengan mengusap punggungnya.
"Mas sudah memaafkanmu dek, tapi ingat jagalah sikapmu dan jangan kekanak - kanakan lagi. Carilah lelaki yang lebih mencintaimu apa adanya." tutur Tio menasehati mantan istrinya itu.
"Maafkan Eni ya Mas, Eni menyesal telah melakukannya." Eni menangis terisak di pelukan mantan suaminya.
"Sudah - sudah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang jagalah Bapak dan Ibumu, Mas yakin suatu saat akan ada lelaki yang lebih baik lagi daripada Mas Tio." perkataan Tio semakin membuat Eni menangis di pelukannya.
Setelah mengobrol panjang lebar, semuanya memutuskan kembali ke rumah karena masih ada beberapa hal yang harus di urus.
Beberapa jam terlewati, mereka semua sampai di rumah pukul 2 siang. Tampak mereka lelah setelah melakukan perjalanan panjang. Terutama Bu Neneng, yang sejak tadi menangisi akan nasib putrinya yang sudah menjadi janda.
Di Divisi 1, ternyata berita perselingkuhan Eni dan Miko menjadi pembicaraan hangat di beberapa warga Divisi saat Pak Broto dan Bu Neneng ikut mengawali sidang perceraian putrinya.
Kini, kedatangan mereka mendapat sindiran halus dari beberapa orang saat lewat di depan rumah mereka.
"Lihat tuh, janda muda baru di Divisi kita." cibir orang tersebut.
Pak Broto yang mendengar hal itu hanya bisa menahan amarahnya dan memeluk istrinya erat sambil berjalan bersama adiknya Suroto.
Eni juga mendengar hal itu hanya bisa terdiam tanpa bisa membalas perkataan mereka. Semua ini adalah salahnya karena tega mempermalukan kedua orang tuanya di seluruh Divisi 1.
Tio mendengar hal itu hanya terus berjalan tanpa memperdulikan perkataan orang - orang karena sebentar lagi dirinya akan pergi dari tempat ini dan kembali ke tempat asalnya.
"Pak, Buk, Tio permisi mau merapikan barang - barang dan sekalian pindah di tempat Mas Arif." kata Tio meminta ijin pada mantan mertuanya itu.
"Tapi Nak Tio…! Apa tidak besok saja, kamu pasti lelah setelah perjalanan panjang tadi." pinta Pak Broto.
"Tidak Pak, tadi Tio sudah berpesan pada Mas Arif kalau nanti sepulang dari sidang akan pindah ke rumahnya." tolak Tio dan berpamitan menuju kamarnya.
__ADS_1
Eni dan Bu Neneng duduk bersandar di dinding. Ibu dan anak tersebut saling berpelukan, Eni terus meminta maaf kepada Ibunya atas sikapnya selama ini yang terlalu manja dan kekanak - kanakan.
"Sudahlah Eni, kamu jangan rerus menangis. Ini sudah takdirmu En, kita sebagai manusia bisa apa bila yang kuasa sudah berkehendak." ucap Bu Neneng dengan wajah lesu.
"Ibuuu…."
Setelah merapikan baju ke dalam tas, Tio keluar kamar dan menuju ruang tamu di mana mantan istri juga mertuanya berada.
"Pak, Buk, Eni, Tio pamit pindah kerumah teman karena disini Tio hanya orang asing disini." Tio duduk bersimpuh di depan mertuanya dan juga Eni.
"Mas Tio…"
"Nak Tio…"
"Terimakasih Pak, Buk. Tio sudah diterima di keluarga ini dengan baik. Maaf Tio tidak bisa membalas kebaikan kalian sampai kapanpun. Hanya do'a ku yang bisa menyertai kalian semoga diberikan kesehatan selalu.
"Eni…!" Tio menatap mantan istrinya itu untuk terakhir kalinya.
"Mas…"
"Maafkan Eni ya Mas telah menyakiti hatimu. Eni janji akan merubah sikap menjadi lebih dewasa dan tidak manja lagi serta kecentilan." gumam Eni dan ditanggapi Tio dengan senyuman seraya mengusap kepala Eni.
"Ya sudah, Tio pergi dulu. Assallamualaikum,"
"Wa'allaikumsallam," jawab mereka kompak seraya mengantar kepergian Tio sampai depan pintu.
Setelah kepergian Tio, rumah terasa sepi dan tidak ada keceriaan dan candaan lagi setiap hari. Bagi Bu Neneng, Tio adalah anak yang cerdas dan pandai menghibur hati semua orang.
Kini, kehidupan Tio telah bebas dari belenggu cinta yang menyiksa selama 2 tahun pernikahannya. Tio akan kembali menata hati dan pikirannya kepada kekasihnya yang telah lama ditinggalkannya itu.
"Feni…? Bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu! Apakah kamu merindukan aku juga?"
__ADS_1
Hai semuanya, Akhirnya, Tio lepas dari pernikahan yang tidak diinginkannya itu. Apakah cinta yang sempat tertunda itu akan bersatu kembali dengan kekasihnya Feni?
Jangan lupa like, komen, hadiah dan tip iklannya. Dukungan kalian sangat berarti bagi author loh. Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Selamat Membaca 😘