
Pesanan mereka datang, pelayan tersebut meletakkan makanan dan minuman di meja lalu berlalu kembali ke belakang.
"Ayo sarapan dulu, setelah itu kita pergi mencari angkutan umum menuju dermaga." titah Pak Broto pada keduanya.
Suroto dan Eni langsung melahap makanan karena rasa lapar yang sedari tadi berbunyi.
Selesai makan, Pak Broto membayar makanan tersebut dan langsung mengajak adik dan juga putrinya itu pergi dari Agen langganannya itu.
Setelah menghentikan angkutan umum, Pak Broto, Pak Niko, Suroto dan Eni naik ke angkutan menuju dermaga dimana speedboot yang menjemput mereka sudah menunggu sedari tadi.
Di tempat mess, Tio dan Aldi pulang istirahat untuk makan siang karena mereka tak membawa bekal gara - gara terburu - buru tadi pagi saat mau apel pagi tadi.
"Buk, Pak Broto belum pulang ya?" tanya Tio yang duduk lesehan sambil mengunyah nasi di mulutnya.
"Belum Nak Tio, palingan nanti agak siangan baru tiba." sahut Bu Neneng seraya menonton televisi.
Aldi yang sedang mengunyah makanan hanya mendengar obrolan tersebut dan ingin segera kembali bekerja agar bisa cepat pulang kerumah.
"Cepat amat Al makannya?" heran Tio melihat Aldi yang terburu - buru menyantap makanannya itu.
"Iya, aku ingin segera balik kerja Tio. Ikut gak?" tanya Aldi melirik Tio sambil mengambil air minum di teko dan meletakkan piring di dapur begitu saja.
"Iya tunggu aku dong, sebentar lagi juga selesai." ucap Tio mengunyah makanan dan segera menghabiskan sisanya.
Tio langsung berdiri dan menuju dapur meletakkan piring kotor dan menyusul Aldi memakai sepatu bootnya.
"Buk, kami berangkat kerja dulu." seru Tio dan Aldi bersamaan.
"Iya semangat bekerja kalian berdua." teriak Bu Neneng dari rumah.
Ketika Tio dan Aldi berangkat bekerja, tak lama speedboot yang membawa Pak Broto dan ketiga orang yang dibawanya telah tiba di dermaga tempat Perusahaan sawit berdiri.
Suroto dan Eni nampak tercengang menatap sebuah tabung besar dimana buah sawit diolah menjadi minyak. Sebab sedari tadi Eni nampak heboh dengan keindahan laut yang dilihatnya selama perjalanan tadi.
"Pak, kita sudah sampai ' kan?" tanya Eni yang terus mengoceh sedari tadi dan membuat Suroto dan Pak Niko hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Iya kita sudah sampai. Sekarang kita naik truk itu." jawab Pak Broto menunjuk truk yang sedang parkir di depan dermaga.
"Apa! Naik truk…! Gak salah Pak!" tukas Eni yang sedikit gusar bila harus naik truk. Dirinya sudah merasa lelah selama perjalanan empat hari ditambah dengan speedbood dan sekarang truk.
"Tidak salah anakku sayang. Truk itu akan mengantarkan kita kerumah." sahut Pak Broto tersenyum dan berjalan dimana truk berada.
Suroto dan Eni berjalan mengikuti kedua orang di depan itu. Eni mau tau mau harus nurut apa yang dikatakan Bapaknya itu.
"Eni kamu di depan bersama Bapak, biar Pamanmu bersama Pak Niko di belakang." pinta Pak Broto pada anaknya itu.
"Siap Pak,"
Perjalanan menuju divisi melewati jalan yang terjal dan berlubang dimana - mana karena habis hujan dari kemarin.
Eni berkali - kali mengoceh dan memprotes dengan keadaan jalanan yang membuatnya frustasi itu. Sedang Pak Broto dan teman Pak Broto yang menjadi sopir hanya bisa geleng - geleng kepala melihat sikap gadis tersebut.
Setengah jam berlalu, akhirnya mereka tiba di depan divisi mereka dimana banyak rumah berjajar disana.
"Terimakasih tumpangannya bro." ucap Pak Broto.
Mereka semua turun dari truk dan melihat kapal kecil yang mengangkut beberapa orang.
"Sekarang terakhir kita naik kapal itu." kata Pak Broto berjalan menuju kapal kecil.
"Astaga!" Eni hanya mengelus dada menahan emosinya seraya berjalan mengikuti Bapaknya itu.
Beberapa menit, tibalah mereka di sebuah divisi yang ramai dengan beberapa orang yang lewat sekedar menyapa Pak Broto dan juga banyak anak kecil bermain di sekitar rumah itu.
Keempat orang itu turun secara bergantian dan berjalan menuju rumah kayu yang paling besar dan ramai.
"Assallamualaikum," sapa Pak Broto yang masuk ke rumah diikuti ketiga orang di belakangnya.
"Waallaikumsalam," sahut Bu Neneng saat melayani pembeli dan mendengar suara suaminya telah pulang yang membawa adik dari Pak Broto dan juga putri tercintanya itu terasa bahagia.
Bu Neneng yang sedang melayani pembeli terkejut saat melihat putrinya yang dulu kecil sekarang sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik dan rupawan.
__ADS_1
"Ibuuuuk…" teriak Eni yang langsung berlari menghambur ke pelukan Ibu yang sudah lama dirindukannya itu.
"Buk, aku kangen Ibuk." gumam lirih Eni mengucapkannya di sela isak tangisnya yang memeluk Bu Neneng erat.
"Iya Ibu juga kangen sekali sama Eni." sahut Bu Neneng seraya mengusap punggung Eni dan menenangkan hatinya.
Setelah agak lama berpelukan, Ibu dan anak tersebut melepas pelukan. Bu Neneng mengusap air mata putrinya itu yang terus mengalir tiada henti.
"Cup…cup…cup…, sekarang Eni sudah berada disini. Eni bisa sepuasnya bersama Bapak, Ibu dan juga Paman sambil membantu Ibu jualan di toko ini." kata Bu Neneng yang memberitahu putrinya agar tenang dan tak menangis lagi.
"Iya Buk, Eni mau asal bersama Bapak dan Ibu, Eni sudah bahagia." tandas Eni kembali memeluk kedua orang tuanya bergantian.
Lalu, keduanya mengobrol dan bercanda tawa bersama seraya melayani pembeli. Untung saja ada satu orang yang mau bekerja di toko Pak Broto tersebut. Kalau tidak pasti kewalahan.
"Masukkan barangmu ke kamar Nak?" pinta Bu Neneng pada putrinya. Sedang Suroto adik Pak Broto berada di kamar satunya lagi yang masih kosong.
Eni meletakkan barangnya di kamar kedua orang tuanya dan melihat dari jendela bahwa suasana disini sangatlah ramai hampir seperti sebuah desa. Walau saat ini masih terbilang sepi karena banyak yang bekerja karena Bapaknya sudah menceritakan semua suasana di perkebunan sawit itu.
Dalam hati Eni, dirinya akan belajar beradaptasi dengan suasana di tanah perantauan ini. Bagi Eni, ini pertama kali dirinya melakukan perjalanan jauh ke Riau hanya demi menyusul kedua orang tuanya karena rindu yang menggebu - gebu.
Saat sedang menatap keluar jendela, Eni terkejut saat mendengar suara Ibunya itu.
"Kamu gak istirahat Nak? Pasti kamu lelah setelah perjalanan panjang selama 4 hari." kata Bu Neneng duduk di kasur yang hanya beralaskan tikar itu.
"Iya, nanti saja Buk. Setelah melihat Ibuk, rasa lelahku hilang begitu saja." celetuk Eni yang langsung duduk di samping Ibunya sambil memeluk erat.
"Kamu ini tetap tidak berubah ya, masih saja cerewet dan centil." ujar Bu Neneng yang melihat wajah cantik putrinya itu.
"Bagaimana kabar Nenekmu Nak?" tanya Bu Neneng yang merasa rindu kampung halamannya.
"Kabar Nenek baik Bu, hanya saja Nenek sekarang suka sakit - sakitan dan di kampung masih ada Bibi dan saudara Ibuk yang lain. Jadi Ibu tenang saja, banyak yang merawat Nenek Buk," ungkap Eni menceritakan keadaan Nenek dari keluarga Ibunya itu.
Keduanya mengobrol hingga tak terasa hari sudah menjelang sore.
Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Jangan lupa like, komen, hadiah dan ratenya. Selamat Membaca 😘
__ADS_1