Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 29


__ADS_3

Acara pernikahan telah selesai, beberapa tamu sebagian pulang dan ada juga yang berkumpul untuk saling sekedar mengobrol. Tentunya, semua tidak pulang dengan tangan kosong. Para tamu undangan di beri souvenir sederhana berupa gelas mug warna putih mengingat hari ini adalah hari bahagia.


Kedua mempelai saat ini berada di kamar setelah berdiri lama menyambut para tamu yang ingin bertemu dengan pasangan baru tersebut.


"Mas, mandi duluan saja. Aku masih mau melepas hiasan dan beberapa peniti yang menempel di rambutku." ujar Eni meminta Tio untuk mandi.


"Iya dek, Mas mandi dulu." Tio langsung melepas baju pengantinnya begitu saja, lalu mengambil pakaian di lemari dan berlalu keluar kamar meninggalkan Eni sendirian.


Eni tersenyum bahagia, tak disangka dirinya akan menikah muda secepat ini. 


"Aku seperti baru terbangun dari mimpi indah, tapi ternyata sadar aku tidak bermimpi saat ini." gumam Eni menatap cermin seraya tersenyum memegang wajahnya yang memerah itu.


Selesai melepas semua hiasan di rambutnya, Eni melepas baju pengantinnya yang sedari tadi membuatnya terasa sesak.


Tak lama, Tio kembali ke kamar setelah mandi dengan badannya yang lebih segar dan merebahkan tubuhnya di kasur karena efek lelah berdiri seharian tanpa melihat istrinya.


Eni langsung merasa senang saat mellihat suaminya masuk ke kamar, namun senyum itu langsung memudar saat wajah Tio terlihat datar.


"Kenapa wajah Mas Tio datar sekali? Apakah Mas Tio bahagia menikah denganku?" batin Eni bertanya pada dirinya sendiri. Namun Eni tak peduli karena saat ini yang terpenting adalah kebahagiaannya menikah dengan sosok ganteng yang sedang terbaring di kasur itu.


Eni kemudian mengambil handuk di lemari dan keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket.


Saat lewat di depan semua orang, banyak yang memberi semangat pada pengantin baru itu.


"Cieee, pengantin baru siap - siap mandi nih! Tadi suaminya sudah mandi, sekarang gantian bininya yang mandi. Habis ini pasti belah duren." ujar salah satu warga yang membantu bagian dapur acara pernikahan tertawa senang karena menggoda Eni.


Eni yang mendengar hal itu langsung bergegas masuk kamar mandi. Hatinya berdegup kencang saat di goda seperti itu oleh orang - orang. "Ya ampun Mas, kenapa jantungku selalu berdetak kencang bila selalu di dekatmu." gumam Eni membayangkan hal mesum yang sering dibicarakan orang - orang sini.


Satu jam lamanya, Eni baru selesai dengan ritual mandinya itu. Dirinya ingin terlihat segar dan wangi di hadapan suaminya.

__ADS_1


"Eni, mandimu lama sekali. Berendam apa luluran?" tanya salah satu tetangga Bu Neneng yang masih berada di tempat itu.


"Luluran dong, aku 'kan ingin tampil cantik dan wangi di depan suamiku." ujar Eni dengan perasaan bangga.


"Semangat ya belah durennya? Awas jangan sampai berteriak bila kena durinya! Hahahaha…" seru orang tersebut tertawa lagi dan Eni hanya lewat begitu saja tanpa menjawabnya lagi.


Masuk ke kamar, Eni langsung duduk di depan cermin lalu menyemprotkan parfum ke badannya agar semakin wangi. Selesai berdandan, Eni berbalik langsung berdiri terpaku melihat suara dengkuran halus suaminya di kasur dengan memeluk guling.


"Bagaimana mau malam pertama bila yang diajak malah tidur pulas begitu." gumam lirih Eni mengucapkannya.


Eni akhirnya berjalan menuju kasur dan tidur di samping suaminya yang sudah jauh ke alam mimpi. Eni menatap lekat wajah Tio dengan seksama dan pipi cubby itu pun langsung merah merona karena ketampanan suaminya.


Kemudian Eni langsung mendekat dan memeluk tubuh Tio. Lalu tak lama Eni memejamkan mata karena lelah dan hari juga sudah semakin larut.


*


*


Namun, saat membuka mata dirinya terkejut ada tangan yang melingkar di perutnya. Seketika Tio menoleh dan kaget saat ada gadis disampingnya adalah anak dari Pak Broto.


Seketika ingatan Tio kembali teringat akan pernikahannya digelar kemarin dengan gadis disampingnya itu. Lalu, Tio mengangkat tangan istrinya perlahan dan meletakkannya di kasur dengan pelan.


"Untung saja tidak terbangun." ucap Tio dalam hati dan langsung berdiri keluar kamar menuju dapur untuk minum air putih.


"Eh, sudah bangun Nak Tio?" celetuk Bu Neneng yang membuat Tio terkejur saat akan masuk dapur.


"Astaghfirulloh Buk!"


"Hehehe…maaf Nak Tio. Ibu ngagetin ya!" sahut Bu Neneng terkekeh geli menutup mulutnya dengan tangan.

__ADS_1


"Sedikit Buk." Tio mengambil gelas dan menuangkan air putih ke gelas dan menghabiskannya hingga tandas.


"Mumpung bangun, ayo sarapan dulu. Sejak semalam belum makan 'kan?" pinta Bu Neneng pada menantunya itu.


"Iya Buk, Tio mau mandi sebentar. Tidak lama kok!" ucapnya berlalu dari dapur menuju kamar mandi.


Bu Neneng melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Menghangatkan sayur dan nasi dalam dandang yang besar karena makanan mereka masih banyak berkat acara kemarin.


Setengah jam kemudian Tio keluar kamar mandi dengan wajah dan rambut basah terlihat segar.


Saat masuk kamar, Tio hanya menggelengkan kepala melihat istri barunya itu masih terlihat tidur dengan nyenyak di kasur. Tio membuka lemari dan mengambil kaos oblong dan celana panjang. 


Untung saja Tio mengambil cuti nikah selama seminggu agar dirinya bisa beristirahat karena semenjak bekerja disini belum pernah sekalipun dirinya cuti dan kali ini dimanfaatkannya untuk menghubungi Ibunya di kampung.


Selesai menyisir rambutnya di depan cermin, Tio keluar kamar menuju dapur karena cacing di perutnya sudah meronta minta diisi. Sebab dari semalam Tio belum sempat makan hanya camilan saja waktu bertemu dengan teman - temannya dan para tamu undangan yang lain.


Di dapur, Tio mengambil nasi dan lauk ke piring. Lalu beralih mengambil air dan dituangkan ke gelas besar. Kemudian Tio menuju ruang tamu untuk makan dimana suasana rumah ini masih sepi dan sebentar lagi Pak Broto akan keluar kamar lalu menuju kamar mandi.


Benar saja, 10 menit kemudian Pak Broto keluar kamar.


"Loh Tio! Kamu sudah bangun dan sarapan? Mana istrimu?" tanya Pak Broto yang melihat Tio duduk sendirian di ruang tamu sambil makan.


"Ada Pak, lagi tidur di kamar," jawab Tio seadanya.


"Astaga, anak itu! Baru juga menikah malah membuat ulah." geram Pak Broto bergumam lirih namun masih dapat di dengar Tio.


"Biarkan saja Pak, mungkin karena kelelahan setelah pernikahan kami kemarin. Setelah sarapan, Tio yang akan membangunkannya." sahut Tio membela istrinya di depan mertuanya itu.


"Ya sudah, lanjutkan sarapanmu. Bapak ke kamar mandi dulu? Sebentar lagi mau apel pagi." pamit Pak Broto berlalu dari hadapan Tio.

__ADS_1


Tio melanjutkan sarapan paginya dengan lahap. Bahkan, Tio sampai kembali ke dapur untuk nambah dua kali ke piringnya tersebut karena rasa laparnya yang mendera.


Terimakasih sudah mampir ke karyaku yang receh ini. Jangan lupa like, komen, hadiah, tip iklan juga yak. Dukungan kalian sangat berarti bagi author loh. Selamat Membaca 😘


__ADS_2