Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 34


__ADS_3

Miko adalah lelaki asal dari Yogyakarta yang sedang mencari pekerjaan karena ajakan temannya. Tepat sebulan lebih berada di Riau, dirinya tidak menyangka akan bertemu wanita cantik bernama Eni yang ternyata diam - diam jatuh cinta padanya.


Awalnya Miko merasa heran saat wanita tersebut meminta nomer ponselnya saat datang ke tokonya dan mengajak kenalan karena baru pertama kali bertemu. Juga beberapa kali mengirim pesan


Kini, setelah mengenal wanita yang bernama Eni dan berduaan di belakang pasar malam dirinya terkejut, Eni langsung menyatakan cinta secara langsung pada pada dirinya.


"Mas Miko, awalnya aku diam - diam memperhatikanmu selama beberapa minggu ini. Akan tetapi, aku menyadari bahwa diriku mulai jatuh cinta sama kamu." Eni berkata terus terang sambil menatap wajah Miko dengan menggenggam tangannya.


Miko hanya terdiam saat mendengar penuturan wanita itu.


Miko belum mengetahui bahwa Eni sudah menikah, namun dirinya tahu bahwa rumah Eni selalu ramai dan banyak orang keluar masuk dari rumahnya.


"Bagaimana Mas Miko, apakah Mas Miko memiliki perasaan yang sama denganku?" Eni bertanya sekali lagi pada lelaki yang ada disampingnya itu.


Miko terdiam beberapa menit karena memikirkan perkataan Eni yang mendadak.


"Apa ku terima saja pernyataan cintanya ya? Dia juga lumayan cantik sih!" batin Miko seraya menatap wajah Eni dari samping.


Setelah berperang dengan hatinya akhirnya Miko menerima Eni sebagai pacarnya.


"Eni…"


"Ya Mas,"


"Jujur saja, ini pertama kali seorang cewek nembak lelaki. Rasanya dunia seperti terbalik, aku sebagai cowok jadi merasa malu karena seharusnya yang menyatakan cinta itu aku." ungkap Miko menggenggam tangan Eni yang dingin.


"Eni, aku menerima cintamu dan kita resmi berpacaran sekarang." timpal Miko seraya mengangkat punggung tangan Eni lalu menciumnya dengan lembut.


Eni tersenyum sumringah dan bahagia karena Miko membalas cintanya.


"Terimakasih Mas. Kita resmi pacaran sekarang, aku senang sekali." Eni berucap saat memeluk Miko secara tiba - tiba.


Miko yang dipeluk terkejut, namun juga jantungnya berdegup kencang saat mendapat pelukan secara mendadak lagi.


"Astaga jantungku rasanya mau copot dari tadi mendapat serangan dadakan dua kali." batin Miko membalas pelukan Eni.

__ADS_1


Keduanya berpelukan dan bercumbu mesra di saat suasana pasar malam semakin ramai. Untung saja Miko memilih tempat paling ujung dimana orang - orang tidak dapat melihat kegiatan mereka karena terhalang pohon besar.


Di tempat berbeda, Tio, Arif dan Aldi sedang bercanda bersama seraya bermain kartu untuk menghibur suasana agar tidak jenuh.


"Ini kopi susunya diminum, mumpung masih hangat." Ana istri Arif menyodorkan 3 gelas kopi untuk ketiga pria tersebut.


"Tumben Mbak gak ke pasar malam?" tanya Tio tiba - tiba sambil melempar kartunya.


"Gak Tio, aku gak terlalu suka belanja berlebihan tiap bulan. Barang - barang juga masih lengkap dirumah, anakku masih punya mainan banyak di kamarnya. Kalau lagi butuh saja baru beli." terang Ana menjelaskan pada Tio.


"Wah keren Mbak Ana. Beruntung bro kamu punya istri yang pengertian dan baik seperti Mbak Ana." puji Tio pada istri sahabatnya.


"Bisa saja kamu Tio, kamu juga beruntung punya istri cantik seperti Eni." timpal Ana.


"Aku setuju," Aldi ikut menyahut obrolan mereka.


"Kapan kamu punya pacar Al?" seru Tio pada Aldi yang sejak awal kenal sampai sekarang lelaki seperti Aldi belum punya pacar hingga saat ini.


"Aku masih mikir - mikir Tio kalau kenal cewek disini. Mending kalau sudah pulang kampung saja baru punya pacar." ungkap Aldi akan komitmennya bila sudah punya jodoh nanti.


"Salut aku padamu Al, kamu punya pandangan sendiri soal jodoh." Tio menepuk bahu Aldi beberapa kali agar tetap semangat.


"Terus, Eni dimana Tio? Kok gak kamu ajak main kerumah?" tanya Ana yang ikut mengobrol dengan mereka.


"Biasa Mbak An, istriku lagi belanja di pasar malam dengan teman - temannya." jawab Tio yang menghela nafas kasar karena kalah bermain.


"Yaah…kalah!"


"Akhirnya aku menang!" teriak Aldi melempar kartu tersebut dengan senang.


Arif dan Ana hanya tertawa melihat wajah Tio yang ditekuk.


Tio dirumah Arif hampir 3 jam lamanya. Tak terasa waktu cepat berlalu, dirinya segera berpamitan kepada pasangan suami istri tersebut juga Aldi.


Saat berjalan kembali pulang kerumah, Tio berpapasan dengan Eni yang saat itu juga baru kembali dari pasar malam.

__ADS_1


"Baru pulang kamu dek! Dari tadi ngapain saja di pasar malam!" seru Tio yang kaget melihat istrinya baru pulang jam 10 malam.


"Ya belanja lah! Tadi habis belanja aku mampir kerumah Mbak Ipah disana ngobrol sampai lupa wakktu." ucap Eni berbohong pada suaminya namun tetap menunjukkan barang yang dibawanya tadi pada Tio.


"Ya sudah ayo pulang, sejam lagi lampu genset akan dimatikan." Tio berjalan lebih dulu diikuti Eni dari belakang.


Eni tersenyum terus menerus saat di belakang suaminya membayangkan dirinya bercumbu mesra dengan Miko hingha nafas keduanya sesak.


"Ya ampun Mas Miko, bibirmu nakal sekali tadi sampai menggigit begitu." batin Eni tersenyum dan memegang bibirnya yang sedikit bengkak walau tertutupi oleh lipstik merahnya dengan pandangan ke bawah.


Tio berjalan dan sesekali melihat ke arah Eni yang menunduk ke bawah dengan berjalan.


Saat sampai di depan rumah Tio berhenti dan menghadap Eni yang dari tadi arah pandangannya menunduk. Entah hal apa yang di lamunkan istrinya itu.


Dug…


"Aduh…" Eni tersadar dari lamunannya dan terkejut saat suaminya berhenti dengan tatapan datar dan curiga.


"Sampai begitunya hingga gak sadar nabrak suami sendiri. Apa yang sedang kamu lamunkan dek? Dari tadi kulihat senyum - senyum sendiri tapi pandangan ke bawah." kata Tio yang meminta penjelasan dari Eni.


"Apa sih Mas! Orang gak ada apa - apa juga! Tadi candaan Mbak Ipah yang bikin aku senyum sendirian!" kilah Eni yang tetap berbohong pada suaminya dan menggeser tubuh Tio agar minggir.


Suasana toko mulai agak lengang dan Eni masuk kerumah lalu menuju kamar mandi untuk cuci muka dan kakinya.


Sedang Tio duduk di teras dengan memegang kepalanya yang terasa pusing memikirkan rumah tangganya bersama Eni.


"Tenang Tio tenang, kamu harus sabar hadapi istri yang manja dan suka membantah itu." monolog Tio berucap lirih di kursi.


Tanpa sadar, kedua orang tuanya melihat mereka berdua berdiri di depan rumah.


"Pak, semoga Eni dan suaminya tidak ada masalah lagi ya? Pusing Ibuk bila melihat mereka sedikit - sedikit bertengkar." ujar Bu Neneng pada suaminya itu.


"Iya Bu, semoga saja. Kita do'a kan yang terbaik buat mereka." sahut Pak Broto melanjutkan membantu membereskan dagangan dan juga meja kursi karena malam mulai larut.


Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Jangan lupa favorit, like, komen, hadiah, rate dan tip iklan ya. Selamat Membaca 😘

__ADS_1


__ADS_2