
Di tempat yang jauh, Feni sedang menikmati liburannya setelah 2 minggu bekerja mengasuh bayi berumur 1 tahun tersebut.
Di Hongkong Feni telah dikontrak 10 tahun oleh salah satu jasa layanan penyedia TKW. Kini tersisa 8 tahun lagi Feni bekerja, dan dirinya akan kembali pulang ke kampung halamannya setelah masa kontraknya dengan majikan habis.
Beruntung majikannya sangat loyal dan baik padanya. Tak segan, majikannya tersebut memberi uang jajan untuk Feni liburan.
Feni bersama teman - temannya menikmati belanja dan makan - makan di sebuah mall terbesar di Hongkong.
"Fen, mampir di kafe itu yuk? Kelihatannya enak banget." ajak salah satu temannya itu.
"Ayok, kita nikmati masa liburan ini seharian. Mumpung hari minggu, kita bebas melakukan apa saja. Hahahaha," tawa Feni dengan bahagia.
Selama di negeri orang, awalnya Feni berniat melupakan Tio mantan kekasihnya dengan bekerja sebagai TKW. Namun semenjak bekerja di Hongkong, perasaan itu seolah lenyap dengan sendirinya.
Kini, Feni telah menikmati masa mudanya dengan bekerja dan telah menghasilkan uang sendiri agar kelak bisa membuka usaha di rumahnya.
Mereka berlima nampak bersenang - senang dan sesekali melakukan selfi sebagai kenang - kenangan selama di Hongkong.
"Fen, gimana kabar hubunganmu dengan pacarmu?" tanya Ine yang mengunyah kentang goreng di cocol saus sambal.
"Rumit In, ribut mulu dan cemburuannya itu gak kuat aku." terang Feni menceritakan hubungannya dengan pacarnya yang berada di Hongkong.
"Sabar ya Fen. Terus gimana kelanjutan hubunganmu sekarang?" Ine balik bertanya lagi pada sahabatnya itu.
"Gak tahu aku In! Mungkin aku akhiri saja hubungan ini, daripada aku tersiksa sama sikap over protektif nya itu." tukas Feni menghabiskan minumannya.
"Sudah jangan dipikirkan lelaki seperti itu, yang ada malah bikin pusing. Putusin secepatnya biar hidupmu tenang." saran Ike teman Feni yang lain.
Feni menyetujui saran temannya itu. Memang sejak awal rencananya ingin memutuskan pacarnya tersebut.
*
*
Kembali ke tempat Tio.
Kesibukan Tio saat ini hanya mengantar dan menjemput Vino sekolah. Serta membantu Ibunya berjualan jika sedang ramai. Hari - harinya hanya bersantai ria, namun kadang berselancar memainkan video di youtube untuk menambah pundi - pundi rupiah.
Sesekali Tio mengecek status Feni di sosial media agar mengetahui kabar terbaru mantan kekasihnya itu. Namun, Feni sudah sebulan ini tidak aktif lagi.
"Bagaimana kabarmu Fen? Aku bahagia bisa melihat fotomu saja." gumam Tio yang menyimpan foto Feni dengan mengambil di sosial medianya.
__ADS_1
"Tio, ada yang mencarimu?" kata Bu Nani memberitahu Tio yang sedang di kamar.
"Siapa Buk tamunya?" Tio bertanya lalu berjalan kedepan dan melihat Sandi juga Reno berkunjung ke rumahnya.
"Itu ada Sandi dan entah siapa lagi temanmu yang datang." tukas Bu Nani melanjutkan aktiftasnya.
"Sandi…Reno…!"
"Wuuiihh, duda keren makin ganteng saja nih!" ucap Reno memeluk Tio erat.
"Bisa saja kamu Ren, kamu kali yang makin ganteng dan tampil keren sekarang." sahut Tio memandang Reno dari atas sampai bawah.
Ketiganya kemudian mengobrol di dalam dan Bu Nani membawakan 3 es jeruk serta rujak untuk mereka makan bersama.
Bu Nani merasa bahagia, suasana rumahnya kembali ramai sejak kedatangan Tio ditambah Sandi dan Reno yang sesekali datang berkunjung disaat bengkel Pak Eko tutup.
"Kalian berdua masih kerja di tempat Pak Eko?" tanya Tio pada dua sahabatnya.
"Masih, bahkan sekarang semakin ramai dan tokonya di perluas. Kamu gak pengen balik kerja di bengkel Pak Eko lagi Tio?" tanya Sandi sekaligus membujuk temannya itu.
"Bagaimana ya? Apa mungkin masih ada lowongan buatku. Pastinya, sudah banyak karyawan disana San?" Tio bingung menentukan pilihannya tersebut antara membantu Ibunya atau bekerja kembali di bengkel.
Tio hanya tersenyum menanggapi perkataan Sandi.
Keduanya berpamitan pada Tio dan juga Ibunya karena terlalu lama mengobrol hingga tak terasa waktu berlalu dengan cepat.
"Buk, Tio sekalian jemput Vino ya?" pamit Tio menaiki motor kesayangannya.
"Iya Tio, hati - hati dijalan."
Tio hari ini berniat membelikan motor untuk Vino adik kesayangannya sebagai kejutan hadiah ulang tahunnya yang ke 17.
Sesampainya di sekolah Vino, ternyata bertepatan dengan adiknya keluar gerbang dan menghampirin Kakaknya yang baru saja tiba.
"Kita jalan - jalan yuk Vin. Sudah lama kita tidak jalan bareng seperti ini." ucap Tio seraya mengendarai motornya.
"Terserah Mas Tio, Vino ngikut saja kemana motor ini melaju." sahut Vino duduk dibelakangnya.
"Oke, lets go."
Dua puluh lima menit perjalanan, Tio mampir di sebuah dealer motor.
__ADS_1
"Mas, ngapain kita kesini? Mas mau beli motor baru ya?" heran Vino yang melihat Kakaknya berhenti di sebuah dealer motor.
"Mas Tio hanya mau melihat - lihat saja Vin." jawab Tio enteng dan berjalan masuk ke dalam.
"Vino tunggu di luar saja Mas." seru Vino duduk di motor.
Selang 15 menit, Tio keluar setelah menyelesaikan urusannya di dealer motor tersebut.
"Cepat amat! Sudah kelar Mas melihat - lihat motornya." ujar Vino langsung berdiri setelah Kakaknya keluar dari dealer.
"Iya udah kelar urusannya. Yuk, lanjut jalan - jalan. Sekarang giliran kamu yang bonceng Mas Tio." titah Tio duduk di belakang.
Akhirnya Vino menggantikan Kakaknya mengendarai motor ke jalanan.
"Kita ke Mall Vin!" titah Tio pada adiknya.
"Siap laksanakan Bos,"
Vino melajukan kendaraan roda dua dengan kecepatan diatas rata - rata dan Tio langsung memeluk pinggang Vino dengan erat.
"Vin, dasar kamu ya! Pelan - pelan wooi!" teriak Tio kesal karena adiknya berusaha ngebut di jalan raya yang begitu ramai.
Namun Vino hanya tertawa melihat tingkah Kakaknya itu.
Begitu sampai di depan Mall, Vino memarkirkan kendaraan roda duanya dan Kakak beradik tersebut berjalan beriringan. Banyak pasang mata memandang ke arah mereka karena keduanya memiliki paras yang tampan dan putih.
"Kamu pilih - pilih barang apa saja yang kamu suka Vino, selama ini Mas Tio belum pernah membelikanmu sesuatu yang kamu inginkan." pinta Tio pada adiknya.
"Gak usah Mas, lagian baju Vino masih bagus kok! Mas Tio sudah pulang kerumah adalah anugerah terindah buat Ibu dan juga diriku. Di rumah tanpa Mas Tio rumah terasa sunyi." jelas Vino panjang lebar.
Tio yang mendengar hal itu langsung memeluk adiknya erat. Dirinya bangga, bahwa Vino semakin dewasa pola berpikirnya.
"Mas bangga padamu Vin."
"Tapi, walau bagaimanapun kita belikan untuk Ibu juga karena berkat beliau kita bisa seperti ini sampai sekarang." kata Tio menepuk bahu Vino pelan.
Akhirnya, Vino memilih kaos lengan panjang dan celana hitam panjang. Untuk Ibu tersayang, Tio membelikan sebuah kalung emas 3 gram dan Vino setuju saja atas usulan Kakaknya itu.
Setelah membeli barang yang diinginkan, mereka keluar Mall dan melajukan kendaraannya membelah jalanan kota menuju rumahnya yang asri.
Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Jangan lupa like, komen, hadiah dan tip iklan ya. Selamat Membaca 😘
__ADS_1