Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 47


__ADS_3

"Bagaimana kabar orang tuamu?" tanya Tio melihat Feni hanya diam tanpa membalas ucapannya.


"Orangtuaku baik Mas," jawab Feni.


"Apakah kamu sudah menikah Fen?" Tio bertanya lagi karena melihat Feni tadi berjalan sendirian.


"Apa! Menikah? Belum lah Mas! Aku masih menunggumu sejak lama, bahkan setelah Mas Tio pergi meninggalkanku, Feni belajar dengan tekun hingga kelulusan SMA, orang tuaku berkali - kali menjodohkanku dengan anak sahabatnya sampai aku bosan dan pergi ke luar negeri setelahnya.


Tio terkesiap mendengar hal tersebut. Ternyata, sejak lulus SMA Feni akan dijodohkan oleh ayahnya dengan orang yang lebih mapan. Namun, sikap keras orang tuanya membuat Feni memilih kabur dari rumah bersama temannya dengan meninggalkan surat di kamar.


"Gadis nakal!" gumam lirih Tio tersenyum tipis.


"Tapi, aku belum yakin kalau Mas Tio belum menikah? Secara wajah, Mas Tio memiliki ketampanan yang lumayan lah dan pasti banyak cewek - cewek yang mendekati." ujar Feni memangku tangan di dagunya.


Tio sebenarnya, ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada Feni, bahwa dirinya sekarang telah menjadi duda. Tapi, apakah itu perlu? Sedangkan, kejadiannya pun sudah lama sekali.


Tapi dalam pernikahan Tio tak ingin ada kebohongan di antara keduanya kelak. Akhirnya, Tio akan menceritakan secara pelan - pelan pada Feni agar tidak terkejut.


"Menurutmu…"


"Hmmmm, menurutku Mas Tio terlihat seperti pemuda berusia 20 tahunan dan semua orang pasti tak menyangka kalau Mas Tio sebenarnya–" potong Feni menatap Tio tersenyum menutup mulutnya.


Tio balas menatap Feni menunggu ucapannya tentang dirinya.


"Menurutku aku bagaimana Fen?"


"Mas Tio sebenarnya bujang lapuk yang sudah tua tertutupi oleh wajah tampan dan juga dingin." tukas Feni mengingat kenangannya dengan lelaki yang ada di depannya ini dulu begitu hangat dan romantis. Tapi sekarang, begitu berbeda hanya melihat tatapannya yang dingin.


"Benarkah…?"


Feni menanggapinya dengan menganggukkan kepala dan keduanya pun mengobrol menceritakan hal - hal yang telah mereka lewati bersama.


Keduanya keluar Mall dan menuju mobil Tio yang terparkir. Masuk ke mobil, Tio melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju rumah Feni.

__ADS_1


"Sekarang kamu tinggal dimana Fen?" Tio menanyakan alamat rumah Feni yang baru, sebab pernah Tio melewati rumah Feni yang lama ternyata rumah itu telah berganti pemiliknya.


Sekarang, Tio memiliki kesempatan untuk datang kerumah Feni dan menyapa kedua orang tua Feni. Entah mereka mengingat sosok Tio atau tidak yang pasti saat ini Tio bukanlah sosok lemah seperti dulu.


"Feni sekarang pindah di kota Mas, nanti bila ada pertigaan belok kanan lurus dan rumah ber cat biru itu rumahku." terang Feni menjelaskan arah rumahnya pada Tio.


Tio mendengarkan dan mengikuti arahan Feni yang menunjuk jalanan di depannya.


Hanya setengah jam perjalanan mereka sampai di rumah ber cat biru itu yang besar tersebut. Namun, suasana perumahan sekitar tampak lengang dan semua tertutup rapat.


"Gak masuk dulu Mas?" Feni meminta Tio untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu.


"Baiklah, tapi hanya sebentar saja, Mas Tio ada urusan setelah ini di bengkel." sahut Tio.


Feni tersenyum dan keduanya keluar mobil berjalan masuk ke rumah setelah pintu terbuka dan Tio mengikuti dari belakang.


"Siapa Fen yang datang?" Ayah Feni, Pak Seno duduk di ruang tamu melihat sekilas saat Feni masuk lalu kembali membaca koran, namun tak melihat Tio yang di belakang putrinya itu.


"Ini Yah, teman Feni datang mampir kerumah." Feni berucap berdiri di samping Ayahnya dan meminta Tio duduk di sofa. Lalu, Feni menuju dapur untuk membuatkan minuman pada Tio dan Ayahnya.


Dalam hati Tio berkata, "Syukurlah Ayah Feni tak begitu mengingatku saat diriku miskin dan dekil. Sekarang akan aku buktikan bahwa diriku mampu dan sederajat."


"Namamu siapa Nak dan dari keluarga mana? Lalu, apa pekerjaanmu?" rentetan pertanyaan Pak Seno mendetail perihal status keluarga dan pekerjaan Tio.


"Sugeng Prasetio, Pak! Bapak saya sudah meninggal lama sejak saya SMP." jawab Tio tegas dan mantap.


"Untuk pekerjaan, Tio sebagai pemilik bengkel mobil Pak." timpal Tio lagi agar calon mertuanya menyetujui hubungannya dengan Feni kelak.


Pak Seno menatap datar Tio, namun dalam pikirannya sangat senang dengan laki - laki yang ada di hadapannya itu. Selama ini Pak Seno cukup kewalahan menghadapi perilaku putrinya yang selalu menolak dijodohkan dengan para relasi atau anak dari sahabatnya itu.


Sudah beberapa kali banyak lamaran datang pada Feni dan selalu ditolak mentah - mentah oleh putrinya tersebut.


Kini, ada seorang lelaki entah darimana asalnya Feni membawanya kemari sebagai teman.

__ADS_1


Tak lama Feni datang membawa dua cangkir teh dan camilan lalu meletakkannya di meja.


"Silahkan Mas, diminum dulu teh nya mumpung masih hangat." Feni duduk di dekat Ayahnya tersenyum bahagia seraya melirik Tio dan ditangkap oleh Tio yang ikut menatapnya.


"Ya sudah, kalian ngobrol berdua, Ayah mau kedalam dulu untuk istirahat." Pak Seno beranjak berdiri memberi kesempatan kedua insan tersebut berbicara satu sama lain.


Tio dan Feni tersenyum setelah Ayahnya meninggalkan mereka di ruang tamu.


"Dimakan dong camilannya, jangan dilihat terus!" Feni mendekat dan duduk di samping Tio agar lebih enak ngobrolnya.


"Iya,"


Hanya 20 menit saja Tio berada dirumah Feni. Sebab, dirinya sudah ada janji dengan klien urusan pekerjaan.


"Hati - hati dijalan Mas."


Tio membunyikan klakson dan berlalu meninggalkan perumahan elit tersebut menuju sebuah kafe dimana klien tersebut berada.


Feni menutup pintu rumah dan terkejut saat berbalik badan, Ayahnya sudah berdiri di belakangnya dengan tersenyum.


"Kamu suka dengan lelaki itu Fen?" tanya Pak Seno berjalan menuju ruang tamu dan kembali duduk dimana dirinya tadi duduk.


"Ayah menguping dan mengintip obrolan kita ya!" protes Feni karena Ayahnya kedapatan mengintip interaksinya dengan Tio tadi.


"Tidak! Ayah tidak menguping ataupun mengintip. Ayah hanya kebetulan lewat mau ke dapur dan tak sengaja melihat kalian berdua duduk berdekatan seperti sepasang kekasih." elak Pak Seno berusaha menutupi kebohongannya sendiri.


"Hmmm, Ayah memang tak bisa berbohong. Terlihat jelas dari cara Ayah bicara begitu gugup dan melihat kesana kemari sambil memegang leher." tukas Feni yang kali ini Ayahnya memang tak bisa berbohong dengan benar.


"Gimana Yah Mas Tio? Mas Tio termasuk pengusaha muda yang sukses setelah merantau dari luar jawa." kata Feni membeberkan kisah Tio waktu muda dulu.


"Oh ya! Benar - benar berjiwa pengusaha. Ayah setuju bila kamu memang mencintainya. Ayah sudah lelah dengan penolakanmu karena perjodohan waktu itu." tukas Pak Seno memeluk putrinya.


Tak terasa sudah hampir tamat kisah ini. Feni dan Tio bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Semoga Ibu Tio mau menerima Feni apa adanya.

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Jangan lupa like, komen hadiah dan tip iklannya ya. Selamat Membaca 😘


__ADS_2