Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 30


__ADS_3

Selesai sarapan pagi, Tio kembali ke kamar ingin melihat istrinya sudah bangun belum.


Membuka pintu kamar, ternyata Eni masih tidur dengan selimut yang hanya menampakkan kepalanya saja.


"Astaga, bagaimana mau jadi istri yang baik bila belum bangun sedari tadi."


Tio duduk di tepi kasur dan menatap istrinya yang tertidur pulas itu. Kemudian Tio berniat membangunkannya, tetapi ada pergerakan kecil dari Eni yang ternyata hanya menggeliatkan badannya saja.


Ternyata suasana dingin di daerah tersebut sungguh membuat orang malas bangun.


"Eni bangun! Sudah jam 6 pagi!" Tio menepuk - nepuk bahu Eni pelan.


Tio berkali - kali membangunkan Eni tampaknya gadis ini betah tidur.


Setelah beberapa kali membangunkan, akhirnya Eni bangun dengan mengerjapkan matanya.


"Eh Mas Tio sudah bangun. Jam berapa ini Mas?" Eni langsung terduduk saat melihat suaminya sudah bangun lebih awal.


"Jam 6.30 pagi. Kamu telat bangun, semua orang sibuk di dapur kamu malah enak - enakan molor." tutur Tio langsung berdiri mengambil jaket di lemari.


"Apa jam 6.30 pagi! Kenapa Mas Tio tidak bangunkan aku!" ucap Eni dengan nada agak tinggi.


"Tidurmu terlalu nyenyak, Mas gak tega untuk membangunkanmu."


"Mas Tio mau kemana? Kok pakai jaket!" rengek Eni dengan manja yang masih duduk di kasur.


"Mau keluar sebentar ada perlu dengan Mas Arif."


"Eni ikut Mas Tio,"


"Tidak usah, kamu dirumah saja bantu Ibu." Tio langsung keluar kamar dan berpamitan kepada Ibu mertuanya.


Sedang Eni hanya memasang wajah cemberut saat keluar kamar membuntuti Tio yang sudah berada di pintu rumah.


"Ya ampun, jam segini baru bangun! Bukannya mengurus suami malah enakan molor." seru Bu Neneng menasehati putrinya itu saat memasak sayuran yang sebentar lagi matang.

__ADS_1


"Iya Bu iya, maaf. Namanya juga pengantin baru jadi wajar dong," jawab Eni berlalu meninggalkan Ibunya menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang bau.


Bu Neneng hanya menggelengkan kepala akan sikap putrinya itu. Selesai memasak, Bu Neneng langsung ke toko karena sedang ramai.


Di tempat lain, Tio sedang duduk termenung di bawah pohon sawit yang memang keadaan sepi. Setelah Tio menikah, Aldi pindah tempat ke rumah Arif agar lebih nyaman dan bisa bebas bercanda bersama teman yang lainnya.


"Feni, bagaimana kabarmu? Mas sebenarnya rindu, tapi kini Mas Tio sudah menikah. Andai takdir mempertemukan kita suatu saat nanti, Mas akan langsung melamarmu bila sudah sukses nanti." gumam Tio bermonolog sendiri.


Tio melamun dan membayangkan nasib pernikahannya dengan Eni seperti apa nantinya. Sebenarnya Tio tak terlalu menyukai Eni dan hanya menganggapnya sebagai teman, namun  gadis itu yang terlalu berharap banyak padanya.


"Aku akan berusaha mencintaimu Eni walau hatiku masih ada satu nama yaitu Feni sampai kapanpun."


Dua jam duduk di bawah pohon sawit, Tio memilih kembali ke rumah dan ingin langsung tidur karena pikirannya yang lelah.


"Kok baru pulang Mas?" cecar Eni saat melihat suaminya pulang tanpa menyapanya.


"Habis dari rumah teman, memang kenapa? Apakah tidak boleh main!" ketus Tio menjawab pertanyaan istrinya itu dan langsung berjalan menuju kamar.


"Mas! Kok pergi begitu saja sih!" teriak Eni yang sedang melayani pembeli.


"Sudah biarin saja Mbak Eni. Namanya juga suami baru pulang harusnya disambut bukan di omelin." tutur pembeli tersebut.


Di kamar Tio langsung merebahkan tubuhnya dan memeluk guling memejamkan matanya. Tak lama Tio tertidur dan membawanya ke alam mimpi.


Selesai melayani pembeli dan diteruskan Ibunya, Eni bergegas menuju kamar dimana Tio berada.


Pintu terbuka dan melihat suaminya telah tertidur. Dengan tanpa rasa bersalah, Eni langsung mengguncangkan tubuh Tio dengan keras.


"Mas bangun! Kita itu baru menikah, tapi kenapa sikapmu dingin terhadapku. Apa salahku Mas!" teriak Eni duduk di samping suaminya yang tertidur.


"Mas Tio bangun! Kita harus bicara! Sejak tadi pagi aku lihat Mas Tio bersikap dingin dan tidak ada mesranya sekali kepadaku. Memang apa yang kurang dariku Mas!" seru Eni sekali lagi.


Baru beberapa menit tertidur, Tio mendengar celotehan Eni yang kasar dan tidak sopan membuat Tio terganggu. Seketika Tio membuka matanya dan menatap tajam Eni.


"Kamu bisa gak sih sopan sedikit sama suamimu. Orang sedang tidur karena capek diganggu terus." bentak Tio menjawab celotehan istrinya dengan emosi di hatinya yang sedang kalut.

__ADS_1


Eni terkejut karena Tio bisa berkata kasar dan membentaknya. Padahal selama ini dirinya mengenal Tio selalu bersikap lembut dan sabar.


"Mas, kamu membentakku!" Eni bergumam lirih menahan tangis saat Tio menatapnya tajam.


Tio langsung tersadar saat mengucapkan kata kasar terhadap istrinya itu lalu memeluk Eni agar tidak menangis.


Untung saja keadaan rumah itu sepi, karena semua orang sedang berada di toko.


"Maafkan Mas Tio. Mas capek dan ngantuk, makanya tidur. Bukan maksud Mas berkata kasar, tapi mengertilah kalau Mas benar - benar ingin istirahat." Tio mengusap punggung Eni seraya memberi pengertian pada istrinya bahwa dirinya sedang tidak ingin diganggu.


"Iya, aku mengerti Mas tapi tidak perlu membentak juga. Eni takut kalau Mas marah," ujar Eni yang sedikit takut dengan sikap Tio tadi.


"Kali ini Mas aku maafin, lain kali jangan bersikap atau berkata kasar lagi ya?" pinta Eni yang memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Iya terimakasih."


Keduanya akhirnya memutuskan keluar kamar karena Tio tidak jadi tidur dan rasa kantuknya seakan lenyap begitu saja.


Tio dan Eni memilih ke toko membantu Ibu mertuanya itu.


Bu Neneng melihat anak dan menantunya tersenyun senang berjalan gandengan tangan terasa bahagia, bahwa putrinya mendapatkan suami yang begitu menyayanginya dengan tulus akan sikap manjanya itu.


"Kalian berdua sudah makan siang? Sekarang sudah waktunya makan." pinta Bu Neneng pada pasangan pengantin baru itu.


"Iya Buk, sebentar lagi. Masih mau membantu Ibu melayani pembeli." sahut Tio tersenyum.


"Eni ambilkan suamimu makan siang sekalin makan di toko biar enak ada yang mengawasi. Dari tadi toko ramai, Ibu mau ke belakang dulu mencuci pakaian mumpung panas karena pagi tidak sempat mencuci." tutur Bu Neneng yang meninggalkan toko dengan keduanya dan salah satu karyawannya.


Eni mengangguk akan permintaan Ibunya dan berjalan menuju dapur mengambilkan nasi dan lauk ke piring suaminya.


Setelah itu Eni kembali ke toko dengan piring dan krupuk juga minuman yang diletakkan di nampan kepada suaminya agar makan siang dulu.


"Kamu tidak makan sekalian?" tanya Tio melihat istrinya hanya membawakan piring untuknya.


"Nanti saja setelah Mas makan."

__ADS_1


Tio hanya tersenyum dan menyantap makanan dengan lahap ditemani istrinya yang manja itu.


Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Jangan lupa like, komen, hadiah dan tip iklannya ya. Dukungan kalian sangat berarti bagi author. Selamat Membaca 😘


__ADS_2