
15 tahun berlalu…
Tio semakin sukses semenjak bekerja kembali di bengkel Pak Eko. Begitu pula bisnis Pak Eko semakin lancar dan membuka cabang dimana - mana. Kini, bengkel tersebut telah diserahkan kepada Tio dan resmi menjadi milik Tio seutuhnya.
Berkat kepiawaian Tio dalam bidang manajemen bisnis. Tio sukses membiayai adiknya hingga kuliah sarjana. Bahkan, rumah mereka yang dulu hanya sebatas tembok yang rusak, kini telah di perbaiki menjadi lebih luas.
Vino, adik Tio telah lulus kuliah di bidang Tehnik Mesin sejak beberapa tahun. Kini, Vino bergabung dengan Kakaknya Tio mengendalikan bengkel yang telah dirintisnya dari nol. Sekarang, bengkel tersebut menjadi ramai dan dipercaya oleh para pelanggannya.
Sedang Bu Nani, sudah tidak berjualan lagi karena usianya yang sudah semakin tua. Melihat kedua putranya sukses di usia muda, Bu Nani tinggal menikmati masa tuanya dengan tersenyum bahagia dan tinggal menunggu waktu melihat kedua putranya untuk menikah saja yang belum terwujud.
"Tio, mau sampai kapan kamu hidup menduda terus. Ibu juga pengen punya cucu kayak teman - teman Ibu yang lain." Bu Nani mendesak Tio agar mau menikah di usianya yang sudah kepala 3 tersebut.
"Tio masih belum ingin menikah Ibu." kesal Tio terhadap Ibunya karena berkali - kali memintanya untuk menikah.
Padahal, Tio masih mengharap Feni kekasihnya kembali disisinya bila takdir mempertemukannya.
"Tapi Tio–?
"Ck.."
Tio pun berlalu pergi meninggalkan rumahnya dengan mengendarai mobil menuju jalanan.
"Selalu saja Ibu membuatku kesal." gumam Tio menatap jalan di depan seraya berbelok ke kiri.
Braaak
Tio terkejut saat tak sengaja menabrak seseorang yang menyeberang tanpa di duga.
"Maaf Mbak, tidak sengaja. Mbak tidak apa - apa 'kan?" Tio meminta maaf pada wanita itu dan saat menoleh bersamaan keduanya terkejut.
"Iya tidak apa - apa kok. Aku yang menyeberang kurang berhati - hati." tukas wanita itu menepuk badannya yang sedikit kotor dan tersenyum menoleh pada lelaki tersebut. Namun, senyum itu hilang digantikan rasa terkejut yang tak bisa diungkapkan dengan kata - kata.
__ADS_1
"Feni…!"
"Mas Tio…!"
Keduanya menatap satu sama lain di jalanan, hingga beberapa orang melihat mereka dengan heran.
Keduanya tersadar saat ada bunyi klakson kendaraan saling mendahului. Setelah sekian lama tidak bertemu, ada rasa canggung yang mendera.
"Kamu mau kemana Fen?" tanya Tio menatap wajah Feni yang semakin cantik, putih dengan rambut panjangnya. Membuat Tio makin terpesona dengan mantan kekasihnya itu.
"Aku, mau belanja Mas, kebetulan mau ke Mall itu." tunjuk Feni dimana Mall berada dengan jarinya.
"Baiklah, aku antar ke Mall. Naiklah ke mobil." pinta Tio dan keduanya masuk bersamaan dan menuju Mall tersebut.
Tio memarkirkan mobil dan keduanya turun berjalan masuk ke dalam Mall yang ramai.
"Kamu sudah makan Fen?" tanya Tio berjalan beriringan bersama Feni yang semakin tinggi semampai.
"Kalau begitu kita cari kafe disana. Sudah lama kita tidak ngobrol seperti ini." ajak Tio.
Tio memesan jus alpukat dan jus jeruk, kemudian memesan ayam bakar. Pegawai tersebut mencatat pesanan dan menyerahkan nomer meja agaf memudahkan pegawai membawa pesanannya nanti. Tio pun mengeluarkan uang dua lembar seratusan dan membayar di kasir tersebut.
Tio kembali dimana Feni telah menunggunya.
Duduk di sebuah kafe, memandang kemeriahan gedung Mall melihat orang berjalan kesana kemari.
"Kamu apakabar Fen? Sudah lama kita tidak bertemu!" Tio memandang Feni lekat saat gadis tersebut tersenyum manis.
"Feni baik Mas. Mas sendiri apa kabarnya? Kulihat makin gemuk dan seksi sekarang?" sahut Feni menatap Tio balik.
"Hahahaha," Tio tertawa mendengar perkataan Feni yang lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
"Kok malah tertawa sih Mas," dahi Feni mengernyit heran melihat Tio mantan kekasihnya itu tertawa lebar.
"Tidak apa - apa Fen, kamu tetap tidak berubah. Masih sama seperti dulu, lucu dan menggemaskan." Tio tersenyum tipis menatap wajah Feni lebih dalam.
"Mas jangan menatapku terus, yang ada gak bisa tidur nantinya." Feni sedikit berdegup kencang saat menatap manik mata Tio yang tajam dan semakin tampan itu.
Saat sedang mengobrol, pegawai datang membawa pesanan mereka dan meletakkannya di meja satu per satu.
"Terimakasih Mbak," ucap Tio dan pegawai tersebut mengangguk dan pergi berlalu begitu saja untuk melanjutkan aktifitasnya kembali.
Keduanya pun makan dengan santai karena perut yang meronta minta diisi.
"Selama ini, Mas kemana saja! Tidak pernah menghubungiku sama sekali, bahkan pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan padaku. Apakah itu yang dinamakan cinta." cecar Feni menatap Tio tajam namun dalam hatinya senang bertemu kembali dengan kekasih pujaannya itu.
"Maafkan Mas Tio, Feni. Mas tidak bermaksud meninggalkanmu, namun keadaan lah yang memaksa Mas Tio pergi begitu saja. Apalagi orang tuamu, yang masih menganggapku hanya anak ingusan dan tidak memiliki pekerjaan yang layak." terang Tio menjelaskan pada Deni kejadian yang sebenarnya.
"Justru itulah, Mas Tio pergi untuk menata hati dan juga pikiran dengan menjauh darimu sementara waktu. Agar saat aku kembali bisa menikahimu dengan baik dan orang tuamu tidak lagi memandangku sebelah mata." timpal Tio lagi berpikir untuk masa depannya kelak bersama gadis yang ada di hadapannya ini.
"Mas Tio." Feni mendengar dengan seksama apa yang diceritakan Tio padanya membuat gadis itu tak bisa membendung airmatanya.
Visual Tio
Visual Feni
Author carikan visual Tio dan Feni. Kebetulan nemu ini. Semoga kalian suka dengan visual ini ya 🥰
Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Selamat Membaca 😘
__ADS_1