
Setelah pembicaraan ayahku malam itu pikiranku selalu tidak tenang. Tetapi meskipun begitu aku tidak boleh kelihatan lemah dihadapan karyawanku aku harus berusaha bekerja secara profesional.
Begitu pula dengan Mas Hendra yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi.
Akhir- akhir ini dia selalu mengajakku ke cafe yang berada tidak jauh dari kantorku. Mungkin memang dia sengaja melakukan itu untuk lebih memberi perhatian kepadaku karena dari awal dia memang sudah tahu bahwa dia akan dijodohkan denganku. dan aku pun tidak menolak ajakannya untuk makan siang bareng dia.
karena aku masih teringat dengan perkataan ayah... dengan selalu bersama rasa cinta dan suka itu akan tumbuh dengan sendirinya. Dan aku pun mulai berpikir tidak ada salahnya aku mencoba.
Seiring waktu acara tunangan pun tiba. Malam ini ibunya Mas Hendra , Mas Hendra dan adik laki-lakinya sudah berada di ruang tamu rumah ku.
Aku pun keluar dari kamar dengan berpakaian dress putih yang cukup sopan . Setelah Bi Inah menghampiriku di kamar tadi dan memintaku untuk menemui keluarga Mas Hendra.
" Selamat malam Tante " sambutku sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya itu sesampainya aku dii ruang tamu
" Selamat malam sayang " sahut wanita itu dengan lembutnya
Setelah itu aku mulai duduk di samping ayahku.
aku merasa sedikit gugup karena ini pertama kalinya bagiku. Di sela rasa gugupku kedengaran suara yang sudah tidak asing bagiku
__ADS_1
" Selamat malam om........Mer." Hendra mulai membuka suara
"Saya bersama ibu dan adik saya merasa senang karena kedatangan kami sudah disambut baik oleh om dan Merry
Hari ini di saksikan oleh om
Ibu saya dan adik saya ......saya ingin melamar Merry untuk menjadi tunangan saya
" Mer....maukah kamu menjadi tunanganku.?pinta Hendra yang sudah menyodorkan kotak kecil berwarna merah yang sudah terbuka
Aku merasa masih sedikit gugup dan serasa belum percaya dengan apa yang barusan terjadi Walaupun sampai saat ini aku belum merasakan sedikit pun rasa cinta yang tumbuh di hatiku tetapi biar bagaimanapun aku tidak mungkin menolak Mas Hendra.
Mas Hendra pun mulai mengambil benda berharga yang ada di kotak itu dan mulai memasukkan ke jari manisku. Begitu pula dengan aku yang mengambil benda yang lagi satu dan memasukkan ke jari Mas Hendra dan setelah itu aku mencium punggung tangan Mas Hendra. Ini artinya kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
" Nak Hendra" suara Ayah mulat memecah kesunyian.
membuat aku sedikit kaget.
" Tolong jaga anak om y... saya percaya kamu bisa menjaga anak om dengan baik. " ujar ayah lagi
__ADS_1
" Baik om saya akan berusaha selalu menjaga dan menyayangi Merry om" jawab Hendra dengan semangat
" O ya satu lagi...Merry anak ayah... sebelum kalian menikah kamu harus memenuhi satu keinginan ayah" ujar ayah lagi
" Apa yah ? " jawabku sedikit kesal
" Kamu harus belajar memasak. ini sudah saatnya sayang. Sesibuk apapun kamu....kamu tetaplah seorang istri dan nantinya akan menjadi seorang ibu. dan seorang suami akan betah di rumah apabila setiap hari dia bisa menikmati masakan istrinya...... Betul tidak nak Hendra.?? guyon ayah yang membuat seisi ruangan ikut tersenyum dan menahan tertawa karena masih dengan suasana agak tegang.
Ya terserah Merry aja om...saya sih ok aja. " jawab Hendra
"Oooooo tidak...tidak..tidak itu harus Mer.... kamu harus menyempatkan diri untuk belajar memasak " ujar Ayah lagi
" Baiklah yah... nanti akan Merry pertimbangkan..
" O ya Tante , Mas Hendra adik....ayo kita makan malam dulu..bibi sudah menyiapkan makanan di meja makan.." ujarku lagi agar ayah tidak lagi membahas masalah itu disamping itu waktu pun sudah menunjukkan pukul sembilan..jadi waktu makan malam pun sudah lewat
Kami pun beranjak dari ruang tamu untuk berjalan ke ruang makan. Kami mulai menikmati makan malam bersama..
dengan sesekali kami berbincang tentang perusahaan tentang keluarga..dan sesekali dibarengi dengan tertawa kecil hingga suasana tidak canggung lagi
__ADS_1
Kurang lebih jam sepuluh Mas Hendra dan keluarga berpamitan pulang. Aku pun masuk ke kamar untuk beristirahat.