
"Beneran Yah! Ayah setuju Feni berhubungan dengan Mas Tio?" Feni bertanya memastikan akan jawaban dari Ayahnya.
"Iya sayang, apapun keinginanmu Ayah akan menerimanya. Kalau bisa secepatnya kalian menikah." tukas Pak Seno.
"Pasti Ayah, nanti Feni bicarakan lagi dengan Mas Tio." Feni kemudian menuju kamarnya untuk menghubungi Tio, sedang Ayahnya duduk di ruang tamu menonton televisi acara berita terkini yang sedang hangatnya.
Di kafe, Tio telah menandatangi kesepakatan bersama klien untuk kemajuan bersama perusahaan.
"Terimakasih Pak Tio, kalau begitu saya pergi dulu." pamit klien tersebut meninggalkan Tio sendirian.
Tak lama Tio meninggalkan kafe menuju bengkel untuk mengurus beberapa hal. Dirinya, belum ingin kembali kerumah dan tak ingin bertengkar dengan Ibunya.
Sampai di bengkel, Tio keluar dari mobil dan masuk ke bengkel yang telah berubah menjadi kantor sekaligus rumah keduanya bila sedang lembur.
Membuka pintu, Tio duduk di kursi kebesarannya dengan memejamkan matanya yang lelah.
Tok…tok…tok
"Masuk!"
Sandi membuka pintu dan melihat Tio memejamkan matanya, namun sahabatnya itu tetap bekerja keras sampai saat ini.
"Belum pulang Tio?" Sandi duduk di depan Tio.
"Belum San, aku masih ingin sendiri disini dulu. Oh ya, ini berkas milik klien simpan dengan baik karena ini kemajuan bengkel kita kedepanya." Tio membuka mata dan menyerahkan berkas tersebut pada Sandi.
"Baik Tio. Kamu sudah makan?"
"Sudah tadi di kafe, kamu pulanglah. Aku ingin mandi dan menenangkan diri dulu." Tio mengusir Sandi secara halus karena tak ingin di ganggu.
"Oke, aku pulang dulu, jaga dirimu Tio."
"Hmmm"
Sandi keluar ruangan dan mengambil tas kerja miliknya di sebelah ruangan Tio. Lalu, Sandi berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di depan bengkel tersebut.
Keluar kamar mandi, Tio terlihat lebih segar dan fresh. Setelah memakai baju baru yang diambilnya dari lemari.
Keluar ruangan dan melihat sekeliling bengkel terlihat sepi. Tio memutuskan untuk pulang kerumah dan berbicara baik - baik dengan ibunya perihal jodoh untuk dirinya sendiri.
Keluar bengkel, Tio masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya membelah jalanan dengan kecepatan sedang.
Begitu sampai di rumah, Tio turun dari mobil dan masuk ke rumah.
__ADS_1
"Assallamualaikum," ucap Tio berjalan menghampiri Ibu dan adiknya di ruang tamu.
"Waallaikumsalam," jawab kompak keduanya saat melihat Tio datang.
"Sudah makan Nak?" tanya Ibunya yang sedang makan camilan gorengan yang dibelikan Vino.
"Sudah Buk, tadi diluar makan bersama klien," tukas Tio duduk disamping Ibunya.
"Kalau begitu Tio, ke kamar dulu. Hari ini Tio sangat lelah." Tio mencium kening Ibunya dan berdiri menuju kamarnya.
"Selamat malam semua,"
"Selamat malam juga Tio,"
"Selamat malam juga Mas Tio,"
Bu Nani dan Vino menatap punggung Tio dengan pikiran mereka masing - masing. Lalu, Bu Nani pun ikut pergi ke kamarnya.
"Ibu juga mau ke kamar Vin, hari ini cukup melelahkan." Bu Nani berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Vino yang terbengong sendirian di kursi.
"Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?" gumam lirih Vino penuh dengan tanda tanya.
Vino akhirnya memilih masuk ke kamarnya daripada di ruang tamu sendirian.
Dirinya berharap, hubungannya dengan Feni kali ini mendapat restu dari calon mertuanya.
"Feni, kenapa Mas Tio jadi menrindukanmu begini?" monolog Tio menatap wajah Feni di ponselnya seraya tersenyum simpul.
Saat sedang asik memandang wajah Feni, ponsel Tio berdering dan melihat siapa yang menelponnya malam - malam.
"Ternyata Feni," Tio mendial tombol hijau dan menerimanya.
"Halo assallamualaikum Feni," ucap Tio senang.
"Waallaikumsalam Mas Tio," sahut Feni di seberang ponsel.
"Belum tidur 'kan Mas?" tanya Feni karena ada hal penting yang ingin dibicarakannya dengan Tio.
"Belum Fen, memang ada apa?" tanya balik Tio.
"Hmmm, besok bisa kita ketemuan Mas. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu!" sahut Feni tersenyum bahagia karena impiannya menikah dengan Tio akan terwujud.
"Kenapa tidak bicarakan saja sekarang?" Tio penasaran dengan hal yang dikatakan Feni barusan.
__ADS_1
"Besok saja ya pas ketemu. Kalau sekarang, yang ada bukan hal penting lagi. Pokoknya, besok pagi aku kabari lagi. Selamat malam Mas Tio." Feni memutus ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Tio.
Sedangkan Tio merasa heran dengan sikap gadis pujaannya itu karena terlihat bahagia bila mendengar dari suaranya tadi.
"Baiklah, waktunya tidur dengan nyenyak Besok ada janji temu dengan gadis pujaan hati. Semoga beritanya baik dan menyenangkan.
Tio meletakkan ponselnya di nakas, mematikan lampu kamarnya dan menutup tubuhnya dengan selimut agar malam ini bisa bermimpi indah bersama Feni yang membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak setelah beberapa tahun.
Keesokan harinya, Tio, Bu Nani dan Vino sarapan bersama dengan menu sederhana.
"Buk, maafkan sikap Tio kemarin. Ada beberapa hal yang membuat Tio sampai saat ini belum menikah." kata Tio saat mengunyah nasi di mulutnya.
Vino yang mendengar hal itu semakin penasaran. Namun, Vino bisa menangkap maksud dari perkataan kakaknya itu bahwa Tip sedang menunggu cinta pertamanya.
"Iya Tio, Ibuk tidak akan memaksamu lagi. Semua itu adalah keputusanmu karena kamu yang menikah. Sebagai Ibu, Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya." jelas Bu Nani yang telah menyelesaikan makanannya.
"Terimakasih Bu, terimakasih sudah menghadapi sikap Tio yang keras kepala ini." Tio berdiri dan memeluk Ibunya dari belakang dengan rasa sayang.
Bu Nani tersenyum bahagia, dan menatap kedua anaknya bergantian. "Semoga nanti setelah kakakmu menikah, kamu bisa segera menyusul Vin!" ujar Bu Nani berharap kedua putranya bisa menikah sama - sama.
"Vino gak akan menikah sebelum Mas Tio menikah lebih dulu." tandas Vino berdiri membawa piring kotornya ke dapur.
Bu Nani hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Vino dan menatap Tio yang tersenyum bahagia pagi ini.
"Hari ini ada apa? Kenapa dari tadi senyum - senyum sendiri." heran Bu Nani melihat senyum Tio yang manis.
"Doakan Tio Buk, agar nanti bisa membawa calon menantu Ibu yang cantik kesini." kata Tio memberitahu kepada Ibunya agar merestui hubungannya dengan Feni walau belum resmi pacaran.
"Siapa nama calonnya?" tanya Bu Nani berbinar bahagia di wajah tuanya.
"Namanya Feni Buk, anaknya baik dan cantik. Ibu pasti suka setelah melihatnya nanti." sahut Tio menyudahi sarapan pagi nya.
"Tio berangkat kerja dulu Buk," pamit Tio mencium kening dan punggung tangan Ibunya.
"Mas nebeng kali ini ya, bosan naik motor terus?" Vino berujar saat sampai di meja makan.
"Buruan kalau gitu, hari ini banyak tugas yang harus dikerjakan." pinta Tio pada adiknya.
Vino bergegas masuk kamar mengambil tas kerjanya dan mencium pipi Ibunya.
"Vino berangkat kerja Buk, doakan anakmu ini segera memiliki jodoh juga." ujar Vino pada Ibunya dan membuat tertawa Bu Nani semakin lebar.
Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Jangan lupa like komen hadiah dan tip iklannya ya. Selamat Membaca 😘
__ADS_1