Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 25


__ADS_3

Keesokan harinya, Eni yang terbiasa bangun pagi di kampung kini membantu Ibunya di dapur. Tio yang keluar kamar untuk siap - siap berangkat kerja terkejut melihat ada gadis di dapur memasak membantu Bu Neneng lalu disusul Aldi yang baru saja memakai sepatu boot.


Namun, Tio hanya melihat sekilas dan tak terlalu memperdulikan kegiatan tersebut karena dirinya sudah harus apel pagi dan juga absen.


Setengah jam apel pagi, beberapa karyawan kembali pulang untuk mengambil bekalnya selama bekerja termasuk Tio yang langsung menemui Bu Neneng untuk membawa bekalnya sebab sebentar lagi berangkat.


"Buk, bekal Tio sudah?" Tio menanyakan bekal tersebut dan Bu Neneng menunjuk bekal Tio di meja makan.


"Terimakasih Bu, Tio berangkat dulu sudah ditunggu yang lain." pamit Tio menyambut tangan Bu Neneng dan menciumnya.


"Semangat Nak Tio," seru Bu Neneng pada Tio.


Tio berlari menuju kantor divisi dan berkumpul dengan anggota yang lain. Kemudian semuanya segera berangkat ke wilayah mereka masing - masing sesuai petunjuk dari mandor.


Di rumah, Eni membantu Ibunya melayani pembeli dan banyak yang penasaran siapa sosok gadis baru ini di toko Pak Broto.


"Bu Neneng, siapa gadis itu?" tanya salah satu tetangga Bu Neneng yang mengasuh anak kecil di divisi tersebut.


"Oh itu, anakku baru datang kemarin siang. Namanya Eni." sahut Bu Neneng seraya menghitung belanjaan wanita tersebut.


"Anakmu ya, namanya Eni." kata wanita tersebut dan menatap lekat gadis itu.


"Sudah kuhitung, total semuanya satu juta dua ratus lima puluh ribu." ucap Bu Neneng.


"Bah, banyak amat belanjaku satu bulan ini! Perasaan aku juga tidak terlalu banyak pengeluaran!" tukas wanita itu saat melihat catatan pembelian dari Bu Neneng.


"Astaga, banyak sekali rokok dan jajan di catatan ini. Habis sudah uangku, boros kali anak dan suamiku itu." seru wanita itu seraya mengeluarkan beberapa uang lembaran seratus ribu dan menyerahkan pada Bu Neneng.

__ADS_1


Eni yang mendengar teriakan pembeli itu langsung menoleh karena sedang melayani pembeli yang lain.


Sedang, Bu Neneng hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala saja mendengar ocehan wanita itu.


Bagi Bu Neneng, sudah terbiasa menghadapi sikap pembeli seperti wanita yang ada dihadapannya ini. Jadi, sudah hal wajar kalau dirinya tenang dan sibuk menata barang disampingnya.


"Oke, terimakasih. Besok jangan lupa belanja lagi yang banyak." pinta Bu Neneng setelah menghitung uang tersebut.


"Oke sama - sama. Aku senang belanja disini karena lengkap dan murah. Baiklah, aku pulang dulu. Nanti sore para suami gajian dan ada pasar malam disini. Jangan lupa bikin bakso yang banyak.


"Siap, tenang saja."


Setelah kepergian wanita itu, Bu Neneng menghampiri putrinya yang sibuk melayani pembeli. "Eni, Ibuk ke belakang dulu mau membuat bakso di bantu Mbak Ine. Tolong layani pembeli dulu ya?" pinta Bu Neneng dan Eni menganggukkan kepalanya.


Hari ini adalah hari dimana semua karyawan gajian dan kegembiraan tersendiri bagi seluruh karyawan. Di divisi yang ditempati Tio ini termasuk luas dan ramai. 


Beberapa orang juga sangat senang saat melihat dua kapal kepompong besar memuat berbagai barang - barang dari pedagang kota yang mampir ke divisi ini. Sebab, sudah menjadi kebiasaan dari mereka menjual barang tersebut saat mendengar bahwa tanggal muda adalah para pekerja mendapat upahnya selama sebulan sekali.


Pak Broto membantu istrinya menata meja dan kursi kayu panjang di depan untuk memudahkan mereka makan bakso. Seluruh warga di divisi sudah mengetahui bahwa bakso buatan istri Pak Broto sangatlah enak.


Sedang Eni hanya duduk di teras sambil memandang orang lewat di depan rumah kedua orang tuanya itu. Tio dan Aldi keluar lalu menutup pintu kamarnya. Kemudian saat berjalan menuju depan, terlihat gadis duduk ditemani Pak Suroto sedang mengobrol dengan keponakannya itu.


Tio dan Aldi sudah berkenalan dengan mereka berdua kemarin malam dan menyapa keduanya.


"Gak keluar jalan - jalan melihat pasar malam di sana?" Tio bertanya pada kedua orang tersebut.


"Nanti menyusul, kalian duluan saja." sahut Pak Suroto adik dari Pak Broto.

__ADS_1


"Iya, Mas Tio. Aku nanti nunggu Ibu kesananya." timpal Eni menyahuti.


"Ya sudah kita jalan duluan. Yuk Al," ajak Tio  kemudian berlalu dari mereka.


Tio menyapa teman yang beberapa bulan merantau disini. "Belanja bro?" tanya Tio pada Arif teman kerjanya yang setiap hari ngobrol dan bercanda bersama di bawah pohon sawit.


"Iya belanja, biasa ngajak bini setiap bulan sekali memanjakan kebutuhannya." ujar Arif tersenyum.


"Awas mbak, dijaga Mas Arif, takutnya nanti kecantol cewek. Disini banyak cewek cantik - cantik loh!" seru Tio menggoda temannya itu.


"Tenang saja Tio, nanti tinggal ku jewer kupingnya dan kalau perlu ku sunat kedua kalinya biar kapok," ucap Ana istri Arif yang tertawa melirik suaminya yang merasa bergidik ngeri akan ancaman istrinya itu.


"Hahahahaha," Tio tertawa terbahak - bahak saat Arif meninju dadanya dengan agak keras karena candaan Tio hampir membuat dirinya dan Ana bertengkar.


Aldi berpamitan dengan Tio karena Aldi sudah bertemu dengan teman - temannya yang lain. Aldi dan Tio pun berpisah, sedang Tio melanjutkan perjalanannya bersama Arif. Untuk Ana sudah tentu berjalan bersama Ibu - Ibu muda melihat - lihat dagangan yang berjajar di tanah yang beralaskan terpal tersebut.


Suasana semakin ramai saat pukul 8 malam. Mereka saling tertawa dan berbagi cerita sesama teman kerja dengan hasil keras mereka selama kerja di sawit ini. Mereka berbelanja baju, celana dan bahkan barang peralatan pacul atau memancing juga ada di pasar malam itu.


Setelah berbelanja baju dan celana, Tio dan Arif kembali ke tempat Broto agar bisa nongkrong dengan nyaman. Sedang Arif sudah berpamitan kepada istrinya sejak tadi dan Ana akan menyusul karena masih betah melihat barang - barang berkilau di depan matanya itu.


Eni dan Ibunya berjalan menuju pasar malam yang semakin ramai itu. Berdesak - desakan dengan yang lain membuat suasana menjadi gerah.


Tio dan Arif berpapasan dengan Bu Neneng yang sudah kenal lama dengannya. "Dimana istrimu Arif?" tanya Bu Neneng, sedang Eni nampak menggandeng lengan Ibunya agar tidak hilang di tengah - tengah manusia yang saling berdesakkan.


"Disana Bu, masih berbelanja dan melihat - lihat bersama yang lainnya." sahut Arif menunjuk pasar malam itu.


"Oke, Bu Neneng duluan ya," pamit Bu Neneng lalu menarik Eni untuk jalan.

__ADS_1


Tio dan Arif hanya menganggukkan kepala dan berjalan beriringan menuju kios dadakan Pak Broto untuk makan bakso sampai kenyang.


🤤🤤Tioooo, author mau baksonya. Kan jadi laper nih ngetik bakso 🤣🤣. Oke, terimakasih bagi yang sudah mampir ke karya author. Selamat Membaca 😘


__ADS_2