Cinta Yang Tertunda

Cinta Yang Tertunda
CYT 28


__ADS_3

Kedekatan Eni dan Tio yang selalu berdua di teras atau jalan - jalan berdua telah tercium oleh Pak Broto beberapa minggu ini. Banyak teman - temannya yang bilang bahwa sering melihat Eni dan Tio duduk bersama di tempat penitipan anak dan di lapangan dimana mereka seperti orang berpacaran. Hal itu membuat Pak Broto semakin kecewa dan malu di lihat orang banyak.


"Tio, bisa bicara sebentar berdua." pinta Pak Broto saat keluar dari kamar.


Tio berdiri dan duduk disamping Pak Broto. "Ada hal penting apa ya Pak?" Tio bertanya dengan bingung melihat wajah Pak Broto yang datar.


"Aku sering mendengar dari orang - orang, bahwa kamu sering terlihat berjalan bersama Eni. Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya Pak Broto menatap sungai kecil di depannya.


"Apa! Tidak Pak, kami berdua tidak menjalin hubungan apa - apa, hanya berteman biasa saja." ujar Tio menjelaskan pada Pak Broto.


"Lalu, kedekatanmu bersama anakku apakah bukan sesuatu hal yang lain. Dimata orang lain kalian seperti orang berpacaran." terang Pak Broto memberitahu hal tersebut.


Tio hanya menunduk diam tanpa berani melawan perkataan Pak Broto daripada dirinya diusir.


Tak lama, Eni dan Bu Neneng pulang setelah acara arisan Ibu - Ibu di salah satu rumah warga.


Pak Broto lalu memanggil Eni dan mengajak Tio masuk ke dalam rumah diikuti Bu Neneng yang merasa bingung akan sikap suaminya itu.


"Kalian berdua duduk!" pinta PaK Broto ikut duduk di depan mereka.


"Pak, sebenarnya ada apa in?" Bu Neneng heran dan bingung kenapa Eni dan Tio seperti di sidang seakan melakukan kesalahan.


"Sudah, Ibu diam saja dulu!" tegas Pak Broto berbicara pada Bu Neneng.


Seketika Bu Neneng terdiam dan hanya mendengar apa yang akan dibicarakan suaminya itu terhadap kedua anak muda di depannya.


"Eni, apakah kamu suka dengan Nak Tio?" Pak Broto ingin tahu tentang perasaan putrinya itu terhadap pemuda tersebut.


Eni yang sedari pulang langsung dipanggil dan duduk berdua dengan pujaan hatinya terasa bahagia. Apalagi setelah mendapat pertanyaan dari Bapaknya semakin membuat Eni senang dalam hatinya.

__ADS_1


"Iya Pak, Eni suka dengan Mas Tio sejak dua bulan yang lalu." ungkap Eni dengan berani. Sedang Tio terkejut akan penuturan gadis disampingnya itu.


"Eni, bagaimana mungkin-!" ucapan Tio terpotong saat Eni menyatakan tidak akan menikah dengan lelaki manapun selain dirinya dan semakin membuat Tio tak berdaya.


"Eni hanya mau menikah dengan Mas Tio Pak. Titik!" tegas Eni mengatakannya di hadapan kedua orang tuanya dan Tio.


"Apa kamu sudah yakin Nak?" tanya Pak Broto sekali lagi. Sedang Bu Neneng tak bisa berbuat apa - apa demi kebahagiaan putrinya yang manja itu.


"Eni sudah yakin dan mantap dengan Mas Tio." tukas Eni penuh keyakinan.


Tio hanya terdiam dan tak berani mengucapkan sepatah katapun di depan Pak Broto yang sudah dianggap orang tuanya sendiri.


"Tio kamu dengar sendiri apa yang putriku katakan." ucap Pak Broto.


Tio hanya mengangguk lemah setelah mendengar pernyataan gadis tersebut. Dirinya tidak ingin membuat masalah selama hidup di perantauan. "Iya Pak saya mendengarnya."


"Demi kebaikan bersama dan tak ingin ada gosip yang membuat Bapak dan Ibu malu, bulan depan kalian akan menikah." titah Pak Broto dan membuat Tio dan Bu Neneng lebih terkejut lagi. Sedang Eni hanya tersenyum senang karena keinginannya menikah dengan pujaan hatinya terwujud.


Masuk kamar, Tio merebahkan tubuhnya yang lelah disamping Aldi menutupi wajahnya dengan bantal.


"Kenapa kamu Tio, tumben kali ini diam saja." celetuk Aldi yang melihat tingkah Tio sejak masuk kamar tadi.


Sebenarnya, Aldi sudah mendengar apa yang dibicarakan Tio dan Pak Broto tadi saat melewati dapur setelah selesai mandi. Hal itu membuat Aldi ikut terkejut bahwa Tio sahabatnya akan menikah dalam waktu dekat ini karena gadis tersebut menyukai Tio sejak pandangan pertama.


"Jadi, bagaimana bisa kamu tidak tahu bahwa Eni menyukaimu Tio?" heran Aldi karena sahabatnya itu memang orang yang supel dan berteman dengan siapa saja.


"Aku juga gak tahu Al, sebenarnya aku kesini kerja jauh - jauh untuk menabung masa depanku di kampung. Akan tetapi malah-" ungkap Tio terpotong menceritakan kisahnya sebelum akhirnya memukul tembok triplek itu.


Aldi tentu sudah banyak tahu tentang kisah Tio bersama kekasihnya di kampung. Namun, perbedaan itulah yang membuat Tio nekad datang ke Riau demi kekasih yang dicintainya hingga rela meninggalkannya tanpa kata perpisahan.

__ADS_1


"Aku akui Al, bahwa aku juga salah karena terlalu dekat dengan Eni tanpa sadar aku membuat gadis itu menjadi cinta pertama baginya. Aku tak berdaya Al apalagi dihadapan Pak Broto." gumam Tio merasa bersalah.


"Apa boleh buat Tio, jalani saja takdir hidupmu. Selama kita bernapas, kita nikmati hidup dan ikuti alurnya." terang Aldi menasehati sahabatnya itu.


Tio akhirnya memilih keluar kamar dan menghubungi Ibunya di kampung ingin meminta persetujuan dan nasehat dari Ibunya.


Setelah berbicara panjang lebar di telepon dan menceritakan perihal dirinya akan menikah, akhirnya Tio bisa tenang karena mendapat persetujuan dari Ibu yang telah melahirkannya ke dunia. "Asalkan kamu bahagia Tio, Ibu selalu mendoakan kamu yang terbaik. Jaga dan didiklah istrimu sebaik mungkin, jangan pernah sakiti hatinya." 


Nasehat dari Ibunya adalah ketenangan dalam hatinya selama ini untuk menjalani proses kehidupan setelah menikah nanti.


*


*


Hari yang dinanti telah tiba. Pak Broto dan Bu Neneng berpakaian senada karena hari ini adalah pernikahan putrinya dan Tio.


Dua jam yang lalu acara pernikahan berjalan sukses dan lancar, pernikahan Tio dan Eni diadakan secara sederhana. Banyak para tamu undangan yang berdatangan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai yang sedang bahagia itu.


"Selamat kawan, akhirnya melepas masa lajang juga nih." ucap Aldi yang merasa bahagia dengan pernikahan sahabatnya itu.


"Selamat Tio, semoga bahagia selalu." kata Ana dan Arif mengucapkan selamat pada Tio secara bergantian.


Beberapa teman Pak Broto dari divisi lain beramai- ramai datang mengucapkan selamat atas pernikahan putrinya itu. Pak Broto dan Bu Neneng nampak bahagia karena putrinya menikah walau terbilang masih muda.


"Selamat Pak Broto atas pernikahan putrimu, maaf aku baru bisa datang. Kamu tahu sendiri orang - orang berkumpul di dermaga demi melihat putrimu itu." kata teman Pak Broto dengan tersenyum dan memeluk erat teman lamanya.


"Terimakasih kawan, kamu jauh - jauh datang kemari sudah sangat membuatku bahagia." sahut Pak Broto memeluk temannya.


Namun berbeda dengan Tio, wajahnya terlihat tersenyum bahagia tapi tidak dengan hatinya yang galau. Hati dan pikirannya langsung tertuju pada Feni kekasih yang ditinggalkannya itu.

__ADS_1


"Maafkan Mas Tio, Feni. Mas sebenarnya rindu padamu, tapi apa daya takdirku seperti terbelenggu." ucap Tio dalam hati.


Terimakasih sudah mampir ke karyaku. Mohon kritik dan sarannya. Dukungan kalian sangat berarti bagi author. Selamat Membaca 😘


__ADS_2