
Beberapa hari berlalu, hubungan keduanya semakin hari semakin baik. Tio ingin belajar mencintai istrinya demi melupakan cinta pertamanya dengan Feni.
Semenjak menikah, Tio menjadi semangat bekerja karena ada yang melayani dan menyiapkan segala kebutuhannya. Berkat kerajinannya dalam bekerja, sekarang Tio diangkat menjadi mandor brondol sawit.
Sekarang Eni lebih rajin membantu Ibunya memasak dan juga di toko. Namun, sikapnya yang manja tetap seperti biasa membuat Tio harus menghela nafas dan sabar dalam menghadapi sifat istrinya itu.
Sedang Pak Broto, menjadi lebih tenang bekerja bersama adiknya Suroto yang sama - sama bekerja di kebun sawit. Setiap bulan adik dan kakak tersebut berbelanja ke kota untuk memenuhi kebutuhan toko yang menipis ditemani teman setianya Pak Niko.
"Ini Mas bekalnya, jangan lupa dimakan." Eni menyerahkan bekal makan siang Tio.
"Terimakasih dek," Tio menerima bekal dari istrinya seraya tersenyum.
"Kalau begitu Mas berangkat dulu, waktunya absen pagi di kantor."
"Iya hati - hati Mas," ucap Eni mencium punggung tangan suaminya dan Tio mencium kening istrinya lalu berjalan tergesa - gesa keluar rumah.
Sepeninggal suaminya, Eni melanjutkan kegiatan sehari - hari bersama Ibunya dan karyawan yang lain.
*
*
Di kampung halaman Tio, Bu Nani usaha jualan gorengannya semakin laris dan bisa membantu menyekolahkan Vino hingga ke jenjang SMA nantinya. Semua itu berkat kerja keras Tio yang setiap bulan mengirim uang untuk kebutuhan sehari - hari.
Vino adik bungsu Tio sekarang mulai ujian karena sebentar lagi kelulusan kelas 3 SMP semakin dekat.
"Vino buruan, sudah ditunggu temanmu." teriak Bu Nani dari luar.
"Iya Buk, sebentar ini masih pakai sepatu." Vino memakai sepatu dengan terburu - buru karena ujian kali ini adalah penentu untuk masuk ke jenjang berikutnya.
Vino ingin sekolah SMA favorit dimana teman - temannya juga ingin masuk kesana.
"Vino berangkat sekolah Buk!" pamit Vino mencium tangan Ibunya dan berlalu menuju temannya yang membawa sepeda motor.
"Hati - hati di jalan, jangan ngebut." teriak Bu Nani namun kedua orang tersebut telah berjalan menjauh.
__ADS_1
Sedangkan Feni, gadis tersebut telah lulus sekolah SMA. Semenjak kepergian Tio, Feni memilih kerja ke luar negeri untuk melupakan Tio kekasihnya yang sudah setahun meninggalkannya.
*
*
Malam telah tiba, suasana di divisi 1 sedang dilanda hujan deras disertai petir sejak sore tadi. Tio, Pak Broto dan juga Suroto pulang dalam keadaan basah kuyup.
"Buk, Bapak pulang!" teriak Pak Broto dari belakang rumah. Bu Neneng dan Eni langsung berlari ke kamar untuk mengambil handuk untuk ketiga orang tersebut.
Akhirnya, Pak Broto terlebih dulu untuk mandi karena kedinginan. Sedang Tio dan Pak Suroto numpang mandi di rumah tetangga yang kebetulan saling berdekatan.
Beberapa menit berlalu, mereka selesai mandi. Tio dan Pak Suroto berjalan kaki memakai payung yang dibawanya tadi.
"Ini kopi dan pisang goreng mumpung hangat, silahkan di makan." Bu Neneng menyodorkan camilan hangat untuk ketiga orang tersebut.
"Wah…pas banget nih cuaca dingin makan yang anget - anget," celetuk Pak Broto mengambil pisang goreng.
Kelima orang tersebut akhirnya mengobrol satu sama lainnya di cuaca yang dingin ini.
"Mari semua makan malam."
Bu Neneng mengambil nasi ke piring Pak Broto lalu menyerahkannya pada suaminya dan diikuti Eni yang juga sama mengambilkan makanan di piring Tio. Sedang Pak Suroto mengambil makanannya sendiri.
Suasana hangat ini membuat Tio merindukan Ibu dan adiknya di kampung.
Selesai makan malam, mereka masuk ke kamar masing - masing karena di luar hujan masih sangat deras hingga jalanan tergenang banjir.
"Dek, boleh Mas minta sekarang?" tanya Tio yang saat ini duduk di kasur bersama Eni.
"Boleh Mas, aku 'kan istrimu." jawab Eni dengan sedikit malu - malu.
Ya selama beberapa minggu setelah menikah. Tio selalu menghindari walau hubungan mereka baik - baik saja karena Tio belum siap dengan istrinya tersebut dan Eni bisa memahami hal itu.
Kini setelah lama menunggu, akhirnya Eni bisa memiliki Tio seutuhnya.
__ADS_1
Tio mengganti lampu kamar dengan lampu yang sedikit remang di dekat kasurnya.
Eni berdegup kencang saat Tio mendekatkan wajahnya lalu menutup mata. Hembusan nafas Tio terasa menggelitik bagi dirinya. Ini pertama kali Eni malam pertama dengan suaminya yang sejak 3 minggu yang lalu dinikahinya.
Tio berhenti sebentar dan menatap wajah istrinya itu dengan mengernyit. Namun, sedetik kemudian bibir keduanya menyatu diiringi suara hujan yang membuat suasana semakin dingin. Kehangatan diantara kedua insan tersebut mampu mengalahkan dinginnya malam.
Melepaskan pagutan, Tio membuka kaos dan celana pendeknya. Lalu beralih ke pakaian Eni serta membuka kancing baju satu per satu. Eni merasakan desiran di seluruh tubuhnya saat Tio melepas pakaian dan melemparnya begitu saja ke lantai.
"Aduh kenapa terasa merinding begini ya saat Mas Tio begitu menggoda hari ini?" ucap Eni dalam hati yang perlahan membuka matanya.
Melihat tubuh suaminya dan juga dirinya yang benar - benar polos membuat Eni menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa harus malu? Bukankah aku sudah jadi suamimu sekarang." ujar Tio lirih membuka tangan Eni dari wajahnya.
"Iya Mas aku tahu. Tetap saja aku masih malu karena pertama kalinya buatku." terang Eni kembali menutupi wajahnya yang merona merah seraya tersenyum.
Tio kembali melanjutkan aksinya lalu menindih tubuh istrinya dan mencium leher dengan mencetak warna merah disana. Lalu kembali memagut bibir ranum yang begitu menggoda hasrat Tio hingga menggigit gemas bibir bawah sampai Eni memukul dadanya pelan.
"Aw…sakit Mas! Pelan sedikit kenapa!" geram Eni memegang bibirnya yang terasa perih.
"Maaf…maaf. Habis Mas Tio sudah tidak tahan melihat bibirmu dari tadi sewaktu di ruang tamu." tukas Tio kembali mencium bibir merah tersebut dengan lembut.
Peluh membanjiri tubuh keduanya, Eni berusaha menahan suara erangan agar tidak terdengar dari luar. Kenikmatan yang diciptakan suaminya membuat dirinya tak berdaya dan melayang di atas awan.
Hingga satu jam berlalu, Tio akhirnya mencapai pelepasan bersamaan dengan istrinya. Tio membaringkan tubuhnya di samping Eni dengan nafas yang terengah.
"Hah…hah…"
"Terimakasih Mas, malam ini aku bahagia banget." Eni memeluk tubuh Tio yang polos dan membenamkan wajahnya di leher suaminya dengan tersenyum senang di hatinya.
"Iya dek, sudah larut malam waktunya kita tidur dan Mas besok berangkat pagi." sahut Tio yang menyelimuti tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
Eni hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan suaminya dan mulai memejamkan mata menyusul ke alam mimpi bersama Tio.
Terimakasih sudah mampir ke karya recehku. Selamat Membaca 😘
__ADS_1