Cold Love

Cold Love
Bab 9. Janji Yang Terlupakan


__ADS_3

Di bawah sinar matahari, burung-burung terbang di atas awan. Mengepakkan sayap mereka naik dan turun. Membawa mereka ke arah yang lebih jauh.


Pagi ini tidak berbeda dengan pagi lainnya. Pohon bergoyang, angin berhembus, awan mengubah bentuknya dalam sekian detik.


Orang-orang melakukan aktivitas mereka masing-masing. Sama seperti pagi biasanya, Freya sudah tiba di sekolah lebih cepat dari murid lain. Dengan Lucas pun, Freya selalu tiba terlebih dahulu.


Kebiasaan ini dikarenakan dia ingin membantu Pak Iki menyiram tanaman di kebun sekolah. Pelajaran dimulai jam tujuh pagi. Freya memiliki waktu satu jam untuk menyiram tanaman.


Itu adalah waktu yang banyak, tapi Freya ingin menikmati waktu itu untuk menyiram dengan santai dan tidak terburu-buru.


Sudah dua tahun dia merawat tanaman di kebun sekolah. Bunga-bunga yang dia tanam pun tumbuh dengan baik. Warnanya cerah seperti sinar matahari pagi. Baunya harum jika dicium dari dekat. Tidak semerbak, tapi bagus untuk penciuman.


Sesekali dia akan bersenandung. Menggumamkan nada acak yang dia sendiri juga tidak tahu lagu apa yang dia senandungkan. Sekadar menunjukkan kesenangan di pagi itu.


"Freya, makasih sekali kamu udah bantu saya."


Freya menghentikan senandungnya. Dia berputar dan menemukan Pak Iki berdiri di belakangnya sambil memegang sapu lidi.


"Sama-sama, Pak."


"Kamu gak capek?" tanya Pak Iki.


Freya menggeleng cepat. "Gak, Pak. Saya suka siram tanaman."


Pak Iki tersenyum. Keriput di kulitnya terlihat jelas. Bintik-bintik hitam di sekitar matanya mulai terpampang nyata.


Pria tua itu mengipas tangannya, membiarkan Freya kembali pada kegiatannya, sementara dia pergi menyapu dedaunan kering.


Tak terasa, satu jam telah berlalu dan bel masuk pun berbunyi. Freya masuk ke dalam kelas dengan peluh di wajahnya. Ketika dia berjalan, orang-orang melihat dia dengan ujung mata. Sebagian ada yang menutup hidungnya saat melihat keringat mengalir di pelipis Freya.


Gadis itu menyadari tatapan menghina mereka. Buru-buru dia mengusap keringatnya menggunakan ujung tangan kardigan hijau lumut yang dia kenakan. Lalu, berjalan cepat menuju kursinya di sudut kelas.


Kelas dimulai dengan pelajaran kimia. Masih terlalu pagi untuk mereka mempelajari suatu hal yang berat. Menghitung jumlah zat, memindahkan bagian ini ke bagian itu agar menemukan jawaban. Mungkin saat ini, kepala mereka telah mengeluarkan asap.


Selesai menjelaskan materi, guru wanita itu membagikan kelompok.


Satu kelompok terdiri dari 5 orang. Campur antara laki-laki dan perempuan.


Murid yang merasa dirinya tidak menguasai materi, berharap akan dimasukkan ke dalam kelompok orang yang pintar. Sebagian dari mereka terwujud keinginannya, sementara yang lain harus menelan kembali harapan itu.


Freya adalah orang yang pintar. Dia cepat memahami materi. Peringkatnya juga bagus. Namun, sekolah tersebut tidak memiliki sistem perubahan kelas. Kelas dibagi berdasarkan minat dan nilai ijazah. Kemudian, mereka akan lulus dengan teman yang sama juga. Setiap tahunnya akan diumumkan juara umum dari seluruh kelas tiap angkatan —berdasarkan jurusan— dan tiap tahun itu pula Freya meraih juara umum.


Ketika tiba di tugas kelompok, mereka yang membenci Freya akan diam-diam berharap bisa sekelompok dengan gadis itu. Untuk dimanfaatkan saja. Mereka tidak ingin repot membuat tugas.


Freya sekelompok dengan dua lelaki dan dua perempuan. Dua lelaki tersebut adalah teman sekelas yang tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Yang satu sibuk mendengar lagu, sementara yang satunya sibuk membuat bagiannya sendiri.

__ADS_1


Freya cukup bersyukur satu kelompok dengan dua lelaki ini. Karena mereka tidak pernah menghina Freya meskipun mereka juga tidak mengajak Freya berbicara. Setidaknya, mereka berdua mau membuat bagian mereka masing-masing.


"Eh, lo tau Lucas 'kan? Anak basket itu?" tanya perempuan yang memiliki papan nama bertuliskan "Lia".


Orang di sampingnya menjawab, "Tau dong. Ganteng gitu, ya kali gue gak tau."


Mendengar nama Lucas disebut-sebut, Freya diam-diam memasang telinganya. Wajah dan tangannya pura-pura sibuk menulis agar tidak ketahuan jika dia sedang menguping.


"Gue denger-denger, Lucas udah punya pacar."


Tangan yang sedang Freya gunakan untuk menulis pun terhenti. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang mendengar kabar Lucas yang telah memiliki pacar.


Sejak kapan?


"Tau dari mana lo?"


Lia menjawab, "Vivi, satu sekolah gue rasa juga udah pada tau. Dia ganteng, keren, tinggi, jago main basket, bisa main gitar juga. Mustahil, sih. Kalo gak ada pacar."


"Bener juga. Ih, sayang banget. Padahal gue suka sama dia."


"Emang lo ada rencana nembak?"


Vivi tersenyum lebar. "Hehe. Ada."


"Sadar diri. Level dia sama lo tuh jauh."


Vivi mengusap kencang dahinya yang dipukul Lia. "Gak papa. Coba aja, siapa tau diterima."


Lia mendengus. "Halu lo."


Lelaki yang sibuk mendengarkan musik pun menegur mereka berdua karena sibuk bergosip tanpa membuat bagian mereka. Awalnya, mereka berdebat, tapi lelaki itu mengancam akan melaporkan keduanya ke guru jika mereka tidak melakukan bagian mereka. Maka itu, dengan terpaksa mereka melakukannya.


Freya diam saja, tidak memberi tanggapan apapun. Jika Lia dan Vivi tidak mengerjakan bagian mereka, maka dia akan melakukannya. Namun, untuk saat ini perasaannya tidak enak. Dia merasa tidak nyaman ketika memikirkan bahwa Lucas memiliki seorang pacar.


Freya berpikir kembali. Di masa lalu, Lucas memang terlihat sangat mencintainya. Berkata ingin melindungi dirinya selamanya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu ... segala hal berubah. Termasuk perasaan Lucas.


Freya tertawa miris dalam hatinya.


Perasaan di masa kecil tidak perlu dianggap serius. Anak-anak memang suka berjanji karena mereka mengira mereka bisa memenuhinya. Padahal, semakin bertambahnya usia, mereka akan melupakan apa yang telah dijanjikan.


...***...


Sejak Freya mulai tumbuh sebagai anak remaja, dia sudah bisa memasak. Terkadang, jika tidak sibuk dengan tugas sekolah, dia akan turun untuk membantu Bi Surni memasak makan malam.


"Ayo, Om. Duduk."

__ADS_1


Freya memberikan sebuah piring pada Bryan. Selesai memasak makan malam, Bi Surni akan kembali ke rumah dengan membawa pulang makanan yang telah dimasak.


"Eh, Lucas gak turun, Om?" tanya Freya ketika tidak menemukan Lucas. Biasanya, dia akan turun di jam makan malam tanpa perlu dipanggil.


"Loh? Dia gak bilang sama kamu?" Bryan bertanya balik. Nasi putih panas telah berada di atas piringnya.


Freya menggeleng sambil mengambil beberapa lauk dan menaruhnya di piring Bryan.


"Tadi sore dia nelpon. Katanya ada tugas kelompok. Jadi, telat pulang. Makan malamnya sama temen."


Freya mengangguk paham. Mereka telah bertukar nomor, tapi belum pernah sekali pun mereka saling menghubungi. Karena mereka tinggal bersama, nomor telepon seperti tidak dibutuhkan.


Keduanya makan dengan tenang. Cuma terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang memenuhi ruang makan.


Bryan mengambil gelas minuman yang disediakan Freya. Tanpa sengaja matanya melihat ke arah Freya. Gadis itu terlihat bengong. Namun, mulutnya tetap mengunyah pelan makanan.


"Freya? Kamu sakit?" tanya Bryan.


"Ha? Oh, gak, Om." Freya sedikit tersentak saat Bryan memanggil namanya.


"Ada apa? Kamu mikirin apa?" tanya Bryan. Selama ini, Bryan selalu memperhatikan perilaku Freya. Jika dia memiliki pertanyaan dalam pikirannya, itu akan terlihat jelas di raut wajah Freya.


"Om," panggil Freya, "Freya boleh nanya?"


Bryan meletakkan sendok dan garpunya. "Boleh. Tanya aja."


Freya ikut menaruh sendok dan garpunya. Kedua tangannya saling menggenggam di atas meja. Matanya bergerak-gerak, terlihat gelisah.


Menyadari itu, Bryan berkata, "Gak papa. Kamu tanya aja. Om gak marah."


Freya tersenyum kecil. Kemudian dia bertanya, "Om, apa Freya dan Lucas tetap dijodohkan? Maksud Freya ... apa kami bakal nikah?"


Bryan terdiam sejenak. Kakinya bergoyang sedikit. Dia tampak berpikir sebelum menjawab. "Kenapa? Kamu gak mau lagi nikah sama Lucas?"


Freya langsung menggoyangkan kedua tangannya di depan Bryan.


"Gak. Bukan gitu, Om. Freya cuma mau mastiin aja."


"Em. Karena perjodohan itu dibuat saat orangtua kamu masih ada dan juga ketika kalian kecil ... Om menganggap jawaban kalian saat itu masih labil. Jujur, Om gak mau memaksa kalian. Kalo kalian berdua gak mau, ya gak papa. Om bakal tetap jaga kamu kayak orangtua kamu ngejaga kamu."


Freya tersenyum tulus mendengar jawaban Bryan. Dia mengangguk cepat dan menatap Bryan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Makasih, Om. Menurut Freya, Lucas juga gak mikirin soal perjodohan itu. Hehe. Lagian waktu itu kami masih kecil, belum ngerti apapun. Lucas juga udah kenal banyak orang dan dekat dengan mereka. Jadi, Freya yakin Lucas juga udah lupa. Om ... anggap aja perjodohan itu gak ada. Freya gak mau Lucas gak nyaman karena itu." Dia tertawa kecil, tapi Bryan dapat melihat kesedihan di mata gadis itu.


Namun, Bryan memilih untuk diam.

__ADS_1


__ADS_2