
"Jadi, cukup sekian untuk hari ini. Lucas, tolong jangan pergi dulu, ya. Ada yang mau saya bicarakan. Aurora juga tunggu sebentar. Yang lain sudah boleh keluar."
Rapat siang itu berjalan dengan lancar. Proyek yang dipegang langsung oleh Pak Oga pun telah disampaikan pada semua orang yang terkait. Kali ini, Pak Oga menunjuk Lucas sebagai wakilnya. Dia dipercaya untuk mengurus segala hal tentang proyek ini sama seperti proyek sebelumnya. Pak Oga percaya dengan kemampuan Lucas bahwa lelaki itu mampu membawa keberhasilan untuk proyek mereka.
Semua orang telah keluar dari ruang rapat. Menyisakan Pak Oga, Aurora, dan juga Lucas.
"Lucas, saya sudah menghubungi makelar kepercayaan saya. Kamu pergi dengan Aurora buat mastiin tanah di sana sesuai atau tidak dengan proyek yang akan kita laksanakan."
Lucas menahan napasnya sejenak. Dia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak membuat Pak Oga tersinggung.
"Saya bisa pergi sendiri, Pak. Biar Aurora bisa istirahat. Alamatnya bisa Anda kirim ke saya aja." Lucas menolaknya secara halus. Akan tetapi, Pak Oga menggeleng. Mengembalikan penolakan Lucas. Sementara itu, Aurora hanya diam mendengarkan percakapan antara Lucas dan ayahnya. Dia berdiri tepat di belakang Lucas karena tadi, kebetulan dia duduk di sebelahnya.
"Aurora tau tempatnya. Gak usah kirim-kirim alamat lagi. Repot. Mending kamu pergi sama Aurora aja. Biar cepat."
Pria tua itu berkata dengan santai, sama sekali tidak peduli dengan pertimbangan yang diberikan oleh Lucas. Padahal dia sudah mencoba sok perhatian pada Aurora, tapi pria di depannya ini tetap mendesaknya.
Pada akhirnya, Lucas tidak bisa banyak membantah ataupun menolak. Bekerja sama dengan pria tua ini membutuhkan kesabaran dan kepatuhan tingkat tinggi.
Pak Oga memukul pundak Lucas dengan tenaga yang cukup kuat. Mampu membuat dia oleng sedikit.
"Bagus. Jaga anak saya di sana. Jangan sampai kenapa-napa. Pastikan semuanya dengan benar, oke?"
Lucas menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman kecil. Dia mengangguk dan berkata, "Iya, Pak."
Puas dengan paksaannya yang membuahkan hasil, Pak Oga memberikan peringatan pada Aurora agar dia tidak pergi jauh-jauh dari Lucas. Tetap berada di dekatnya dan membantu dia melihat situasi dan kondisi di sana.
Aurora mengangguk. Kemudian, mereka bertiga sama-sama keluar dari ruang rapat. Pak Oga pergi ke ruangannya sendiri; Lucas dan Aurora turun menuju parkiran.
Mereka pergi dengan mobil Lucas. Alamat yang disebutkan oleh Aurora berada di daerah Jakarta Selatan. Wilayah tersebut memang sering dijadikan tempat untuk membangun infrastruktur karena lokasinya yang strategis dan menguntungkan.
Setibanya di sana, seorang pria muda berkisar 25 ke atas itu menghampiri mereka. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Yuga, seorang makelar yang dihubungi oleh Pak Oga beberapa hari yang lalu. Lucas dan Aurora pun melakukan hal yang sama. Menyebut nama dan posisi mereka dalam proyek tersebut.
"Kalo Mbak Aurora saya sudah tau. Gak perlu malu-malu gitu. Hahaha."
Yuga berbicara dengan santai. Tertawa sendiri untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Lucas tidak memberi banyak reaksi, sementara Aurora tersenyum tipis pada Yuga.
"Silakan diliat-liat dulu."
Berada dalam situasi kaku dan dingin seperti ini bukanlah gaya Yuga. Jadi, dia buru-buru meminta Lucas dan Aurora melihat ke sekitar. Sekaligus menghemat waktu. Dia belum makan siang karena harus menunggu kedatangan Aurora dan juga Lucas.
Tanah yang dikatakan cukup bagus dan berada di pusat kota. Dekat dengan jalan raya dan mudah diakses. Setelah mencapai kesepakatan, mereka pun saling berpamitan.
"Lucas, kita belum makan siang. Pergi ke mal yang ada di dekat sini, yuk?"
__ADS_1
Aurora bertanya setelah mereka berkendara selama 10 menit.
"Kenapa mal? Ada tempat makan di sekitar sini."
"Itu . . . malnya ada di depan. Kalo nyari tempat makan jauh lagi. Jam makan siang udah lewat setengah jam, loh!"
Lucas mengintip ke depan dan terdapat mal di sana. Dia tidak ingin mendebatkan hal tidak penting. Jadi, Lucas membelokkan mobilnya menuju mal tersebut.
Akan tetapi, kekesalan harus menghampiri Lucas.
Aurora mengatakan jika mereka akan makan siang di mal tersebut. Namun, pada kenyataannya wanita itu meminta Lucas menemaninya berbelanja pakaian. Dengan alasan ini dan itu yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Lucas.
"Bagus?" tanya Aurora saat dia tengah mencoba baju dengan bahu yang rendah.
"Eum." Lucas mengangguk tanpa minat. Yang dia pikirkan sekarang adalah kembali ke rumah dan menyelesaikan tugasnya yang lain.
Aurora tersenyum senang. Kemudian, tanpa mengganti baju lagi, dia langsung membayarnya dan memakai baju tersebut.
Lucas tidak banyak bertanya mengapa Aurora tidak membungkus pakaian itu. Wanita itu pun tidak mengatakan apa pun padanya.
"Kita makan di kafe sana, yuk. Makanan di sana enak-enak."
Lucas mengangguk dan mengikuti ke mana pun Aurora membawanya. Selama itu bisa mempercepat waktu.
Ini adalah hari libur Freya, tapi Aya tidak mengizinkannya untuk beristirahat ataupun mengurus tanaman-tanamannya.
Sejak kemarin, Aya terus merengek padanya melalui telepon. Meminta Freya untuk menemaninya jalan-jalan ke mal.
Padahal hari ini Freya ingin menghabiskan waktu dengan menanam tanaman baru dan memberi pupuk untuk tanaman lamanya.
Karena Aya mengancam akan mendatangi rumahnya jika dia menolak, Freya pun terpaksa menyetujuinya. Jika dipikirkan lagi, dari mana Aya tahu alamat rumahnya sementara mereka tidak pernah saling bertanya?
Sudah jelas jika itu hanyalah sebuah ancaman tidak bermutu.
Akan tetapi, semua sudah terlambat. Pada akhirnya, dia dan Aurora sudah tiba di mal. Berkeliling ke seluruh gedung tersebut. Menemani Aya memilih pakaian, tapi dia tidak membelinya. Hanya melihat dan mencoba di ruang ganti. Tidak menemukan yang cocok dengan dirinya, dia pun menarik Freya keluar.
Di lantai tiga, terdapat pusat permainan yang populer. Seketika Aya berubah menjadi anak kecil. Dia menyeret Freya menuju pusat permainan dan memainkan apa pun yang ada di sana.
"Aya, kamu gak capek?" tanya Freya. Dia sudah lelah ditarik ke sana ke mari oleh Aya.
Aya yang tengah fokus melempar bola basket ke dalam keranjang pun menjawab tanpa menoleh. "Gak. Aku masih ada tenaga."
Freya menghela napasnya. Kemeja putihnya yang tipis terasa menebal. Keringat mulai membanjiri pelipisnya. Dia berkata lagi pada Aya, berharap wanita itu mau berhenti kali ini.
"Aya, aku lapar. Udah lewat waktu makan siang."
__ADS_1
Mereka asyik mengelilingi gedung, ditambah dengan permainan yang mereka lakukan membuat keduanya melewatkan jam makan siang.
Bola terakhir berhasil dimasukkan. Skor akhir tercetak dan tiket pun keluar. Aya menarik tiket tersebut lalu menyimpannya di dalam tas selempang berwarna hitam miliknya.
Dia melihat Freya sambil tersenyum cengengesan. "Ayo, makan. Di lantai satu ada kafe yang jual makanan berat, terus ada es krim juga. Aku mau beli es krim."
"Kamu gak makan dulu? Langsung es krim?"
"Gak. Makan juga, tapi es krim dulu. Lembut tau es krim di situ. Kamu harus rasa."
Freya mengangguk, menuruti saja apa perkataan Aya selama mereka bisa segera pergi dari pusat permainan. Freya benar-benar pusing karena bermain banyak permainan, bahkan dia tidak sanggup lagi melihat semua permainan itu.
"Ayo!" Aya merangkul lengan Freya dan menariknya lagi, tetapi lebih pelan dari yang sebelumnya.
Mereka turun ke lantai satu menggunakan eskalator. Banyak orang yang berlalu-lalang di sana. Kafe yang dikatakan oleh Aya pun terlihat penuh. Freya meminta Aya untuk mencari tempat lain, tapi Aya bersikeras makan di kafe tersebut.
Freya terlalu lelah berdebat. Jadi, dia mengangguk dan membiarkan Aya membawanya masuk.
Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan di dalamnya . . . Freya tidak sengaja melihat ke meja yang berada di sudut kafe. Di sana terdapat Lucas dan juga Aurora. Mereka saling bertukar kata sambil tertawa kecil.
"Eh? Itu Lucas? Di depannya Aurora 'kan?"
Aya sedang mencari kursi untuk mereka duduk saat matanya jatuh pada dua orang yang tidak asing baginya.
Freya tidak menjawab. Dia diam memperhatikan gerak-gerik keduanya.
Dari sudut pandangnya, Aurora terlihat malu-malu saat menjawab Lucas. Sementara lelaki itu sesekali tersenyum tipis. Percakapan mereka terlihat serius, tapi juga santai. Freya tahu jika Lucas bukanlah orang yang banyak bicara sejak umur mereka beranjak 15 tahun. Jadi, apa yang mereka bicarakan sehingga bisa membuat Lucas menjawab dengan kalimat panjang?
"Kayaknya beneran pacaran, deh. Liat aja di mana mereka ketemu. Ini kan tempatnya orang kencan."
Freya mendongak untuk melihat Aya di sampingnya. Dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aya.
Aurora bukan pacar Lucas. Mereka hanyalah sebatas rekan kerja, seperti yang pernah dijelaskan oleh Lucas padanya.
"Pacaran kok diam-diam. Gak ada yang larang—"
"Aya. Kita makan tempat lain aja, ya."
"Eh? Tunggu, Freya!"
Tanpa menunggu persetujuan Aya, Freya langsung keluar dari kafe tersebut.
Dia bukan tidak percaya pada Lucas. Meskipun Freya melihatnya secara langsung jika mereka sedang makan siang bersama, tapi Freya mengingat perkataan Lucas. Mereka hanya sebatas rekan kerja dan terlibat dalam tim yang sama.
Freya percaya pada Lucas, tapi dia tidak ingin melihat kedekatan mereka. Daripada hatinya semakin sakit dan menyebabkan pertengkaran . . . lebih baik dia pergi ke tempat lain dan menganggap semua yang dia lihat itu tidak pernah ada.
__ADS_1