
"Jadi, kowe udah nikah. Terus suamimu kerja jauh?"
Freya mengangguk. Dia menceritakan setengah kebenaran dari pernikahannya. Mengatakan bahwa suaminya harus pergi jauh untuk bekerja, sementara dirinya juga ingin melakukan hal yang sama.
"Kenapa kalian gak kerja di kota yang sama?" tanya Paijo. Dia juga ikut duduk bersama dengan Leli dan Freya. Saat itu, toko sudah tutup karena jam menunjukkan pukul enam sore.
Freya berdeham. Diam sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat. Di sampingnya, Leli dan Paijo menunggu Freya dengan antusias.
"Dia yang gak bolehin."
"Lah? Kenapa? Oh, pasti biar dia bisa selingkuh. Yakin aku." Leli berkata dengan menggebu-gebu. Pengalaman yang pernah dia alami membuat Leli merasa yakin dengan tebakannya.
Paijo mendorong Leli dengan lengannya. "Kowe iki, yo. Ngasal ae ngomong."
Freya tertawa kecil sambil menggeleng. "Gak papa. Lagian kami juga udah cerai."
"Ha?" Paijo dan Leli berteriak secara bersamaan.
Leli adalah orang yang pertama menggebrak meja kasir. "Loh? Kok cerai? Kowe kan lagi meteng. Masa cerai?"
Paijo menyetujui ucapan Leli. "Iya. Kenapa cerai? Suamimu gak tau kamu lagi hamil?"
Freya melipat bibirnya ke dalam. Apakah dia harus berbohong lagi? Namun, jika dipikirkan lagi . . . bukankah dia tidak sepenuhnya berbohong? Dalam keadaan seperti ini, bukankah sama saja seperti mereka telah bercerai?
Tidak mendapat jawaban dari Freya, Leli bertanya lagi dengan tidak sabaran. "Kowe beneran udah cerai? Selingkuh kah dia?"
Freya tersenyum kecil sambil melihat Leli. "Iya, Mbak."
Mulut Leli yang terbuka pun semakin percaya dengan dugaannya sendiri. Dia melihat Paijo sambil berkata, "Betul kataku. Gak percaya kowe."
Paijo yang selalu menjadi korban Leli pun menyingkir dari sana. Dia memilih untuk pulang dan meminta mereka mengunci pintu toko.
Sementara itu, Leli masih penasaran dengan kehidupan Freya. Dia bertanya lagi. "Jadi, kapan kalian cerai?"
"Sekitar tiga atau empat bulan lalu."
"Eh? Waktu kowe pindah ke sini?"
"Iya, Mbak."
"Suamimu gak tahu dirimu lagi berbadan dua?"
"Sebenarnya, aku juga baru tau, Mbak. Pas udah seminggu di sini."
"Kowe gak ada niat ngasih tau dia?"
__ADS_1
Freya menggeleng tanpa ragu. "Enggak, Mbak. Biarin aja. Aku bisa ngurus sendiri."
Leli memandang sendu ke arah Freya. Dia merasa kasihan sekaligus kagum dengan Freya yang bisa bertahan sejauh ini.
Dia menepuk pelan punggung Freya. Beberapa bulan terakhir dia mengenal Freya, wanita itu telah menganggap Freya seperti adiknya sendiri.
"Kowe yang sabar, yo. Kalo butuh apa-apa bilang aja ke aku. Jangan sungkan."
Freya mengangguk. Lalu, dia diam sejenak sebelum bertanya pada Leli.
"Mbak. Apa ada lowongan pekerjaan? Mungkin di kafe atau . . . di mana gitu. Aku butuh uang tambahan untuk kedepannya."
Leli tampak berpikir. Kemudian, tak lama dia berkata, "Oh, aku punya kawan. Dia baru buka kafe di tengah kota. Butuh pekerja paruh waktu juga. Kowe bisa?"
"Kalo untuk ke sana bisa. Untuk waktu kerjanya gimana, Mbak? Biar gak bentrok sama toko."
"Kata dia kafenya buka sampai malam. Kowe bisa malam-malam? Eh, tapi orang lagi meteng gak bagus keluar malam."
"Gak papa, Mbak. Aku bisa jaga diri."
"Jangan. Bahaya, ah."
"Gak papa, Mbak. Batasnya sampai jam berapa?"
Wajah Freya menjadi kuyu. Padahal dia sudah sangat berharap dengan pekerjaan yang dikatakan oleh Leli.
Melihat Freya tertunduk lesu, Leli mulai merasa bersalah. Dia yang sudah menawarkan, tetapi dia juga yang melarang. Leli pun akhirnya berpikir lagi. Mencari jalan keluar untuk Freya.
Lama mereka terdiam sampai pada akhirnya, Leli membuka suara.
"Gini aja. Kowe kerja di sana pas udah lahiran aja. Nanti aku kabari temenku biar dia sediakan lowongan untuk kowe."
"Gak papa, Mbak? Aku jadi gak enak."
"Ah, rapopo. Santai aja. Kalo berani dia tolak aku, abis dia. Hahaha!"
Leli tertawa lebar. Tidak ada yang berani melawan Leli jika dia sudah berkata seperti itu. Wanita itu sungguh bisa menghabisi seseorang yang berani menentangnya. Freya, bahkan tidak berani bermain-main dengannya.
"Makasih, Mbak."
"Sama-sama. Udah, yok. Kita pulang. Kemalaman nanti gak bagus untuk kowe."
Freya mengangguk. Kemudian, dia pergi bersama dengan Leli setelah mengunci pintu toko.
...****************...
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepat. Perut Freya juga semakin membesar. Sejujurnya, Freya tidak tahu sudah berapa bulan usia kandungannya karena dia jarang menghitung dan juga tidak terlalu sering memeriksa kandungannya.
Mual dan pusing yang sering dia alami sebelumnya pun sudah hilang. Freya merasa dirinya baik-baik saja sehingga dia tidak ingin membuang waktu untuk pergi ke rumah sakit. Banyak hal yang harus dia lakukan di toko.
Meskipun Kakek Pati sudah memberitahu Freya untuk beristirahat di rumah karena perutnya sudah membesar, Freya menolak keras hal itu karena dirinya tidak ingin menerima gaji tanpa bekerja.
Freya merasa dirinya masih sanggup untuk melakukan beberapa pekerjaan di toko, kecuali mengangkat beban berat. Paijo dan Leli melarang dirinya untuk melakukan hal itu dan sebagai gantinya, mereka menyuruh Ari untuk menggantikan tugas Freya.
Pemuda itu tidak bisa menolak karena Leli akan menarik telinganya ataupun memukul punggungnya sampai dia bergerak mengangkat semua barang-barang tersebut.
Freya . . . benar-benar bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka.
"Freya, kamu baik-baik aja?" tanya Paijo saat dia melihat Freya yang kelihatan lelah. Padahal jam baru menunjukkan pukul 10 pagi.
Freya yang tengah memeriksa barang pun menoleh ke Paijo. "Baik, Kang. Kenapa?"
"Enggak. Cuma kamu keliatan capek. Wajahmu agak pucat."
Freya menyentuh mukanya sendiri. "Iya? Tapi aku gak kenapa-napa, Kang." Dia memberikan senyum kecil pada Paijo, meyakinkan lelaki itu bahwa dirinya dalam kondisi yang baik.
Paijo mengangguk walau dirinya ragu dengan jawaban Freya. "Bagus kalo gitu. Kalo kamu ngerasa capek atau pusing, istirahat aja di belakang."
Freya tersenyum. "Iya, Kang."
Paijo menatap Freya sebentar sebelum dia berjalan ke ruang penyimpanan barang.
Freya berbalik setelah Paijo pergi. Diam-diam, Freya menggigit bibir bawahnya. Sejak pagi tadi, perutnya terasa sakit. Pinggangnya juga nyeri, tapi dia berusaha melawan sakitnya.
Setelah meminum obat pereda nyeri, Freya langsung pergi ke toko. Untuk beberapa saat, rasa sakit itu menghilang. Namun, tak lama kemudian perut bagian bawahnya terasa sakit kembali. Freya berusaha keras menahannya sampai Paijo datang dan mengajaknya berbicara.
Freya tidak dapat menahannya lagi. Dia hendak pergi beristirahat di ruangan khusus karyawan. Akan tetapi, tubuhnya mendadak lemas. Di bawah kakinya, cairan putih mengalir dari dalam pakaiannya.
"Freya! Ketuban kowe pecah?"
Leli baru saja masuk ke dalam toko setelah membereskan barang-barang di depan. Dia terkejut melihat Freya yang sudah lemas, tidak sanggup menopang dirinya sendiri sehingga harus berpegangan pada rak.
Paijo dan Ari yang mendengar teriakan Leli pun segera keluar.
"Freya!"
Paijo langsung menghampiri Freya untuk memeriksa kondisinya. Dia sudah menikah dan pernah melihat istrinya dalam kondisi yang sama dengan Freya. Jadi, dia segera mengetahui bahwa wanita di depannya ini akan segera melahirkan.
"Ari! Pergi panggil ambulans sekarang."
Dengan keadaan linglung, Ari pun segera mengambil ponselnya untuk memanggil ambulans.
__ADS_1