
Di atas panggung sederhana bersama dengan teman-temannya, Lucas menikmati permainan gitarnya. Dia berdiri sedikit lebih ke samping. Satu mikrofon berdiri di depannya. Lucas memiliki tugas sebagai suara kedua. Maka itu, dia fokus mendengarkan nyanyian Alana.
Di samping itu, sejak dia naik ke panggung. Lucas telah mencari keberadaan Freya dan dia menemukan gadis itu duduk di bagian tengah bangku penonton.
Terakhir kali Lucas melirik Freya, dia masih duduk sendirian, tetapi saat dia melihat lagi tepat saat dia harus mengisi suara kedua ... Lucas melihat Jeremy berada di samping Freya.
Lucas sedikit tidak fokus. Melihat ke arah gitar dan mikrofonnya, lalu melihat ke arah Freya dan Jeremy.
Untuk beberapa detik, Lucas masih menaruh perhatian pada nyanyiannya. Namun, matanya menangkap adegan di mana Jeremy mencium pipi Freya.
Seolah dia sedang merasakan deja vu, Lucas mendadak diam. Pandangannya tidak bisa lepas dari Jeremy dan Freya.
Di depannya, Alana masih bernyanyi, tapi gadis itu merasakan ada sesuatu yang salah dengan Lucas. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Lucas bergeming di tempatnya sambil menatap lurus ke satu arah.
Alana melirik teman-temannya yang lain, berusaha memberi kode jika sesuatu yang salah terjadi pada Lucas. Namun, teman-temannya yang lain menyuruh Alana untuk fokus dan membiarkan Lucas.
"Don't—"
Musik terhenti. Semua orang terdiam.
Lucas melepaskan gitar yang bergantung di tubuhnya. Dia mengabaikan tatapan heran dari semua orang. Penampilan dari kelas Lucas berhenti begitu saja. Teman-temannya berteriak memanggil Lucas, tapi tidak satu pun dijawab.
Lelaki itu sedang dalam keadaan marah dan dia tidak ingin peduli dengan hal lain.
Lucas berlari ke luar aula. Mengikuti ke mana Freya pergi. Gadis itu berlari cukup cepat dan Lucas hampir kehilangan jejaknya.
Dia sampai ke tempat Freya berhenti. Amarahnya semakin membludak saat dari belakang dia melihat Freya menyentuh pipinya.
Di mata Lucas, Freya menyentuh bagian di mana Jeremy menciumnya. Satu pertanyaan muncul di dalam dirinya.
Apakah Freya senang? Sama seperti ibunya dulu?
Berbekal pertanyaan tanpa jawaban, Lucas menghampiri Freya. Menarik kuat lengan gadis itu dan mendorongnya ke dinding.
Mata Freya bergetar ketakutan. Kemunculan Lucas di depannya ini tanpa aba-aba. Langsung menarik dirinya dan menekannya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Freya, "gimana penampilan kalian?"
Menurut perhitungan Freya, seharusnya band Lucas masih di atas panggung. Lalu, mengapa Lucas tiba-tiba datang dengan wajah marah?
"Senang?"
"Ha?"
Bahu Freya ditekan kuat oleh Lucas ke dinding. Mata monolid-nya menajam. Urat lehernya menonjol dan suaranya menjadi lebih dingin. Menimbulkan perasaan merinding ketika sampai di telinga Freya.
"Kamu senang?" Lucas mengulangi pertanyaannya.
Kening Freya berkerut. Dia juga mengulangi jawabannya.
__ADS_1
"Ha? Senang kenapa?"
"Dicium Jeremy. Senang?"
Mulut Freya terbuka mendengar pertanyaan Lucas. Senang karena dicium oleh Jeremy?
Omong kosong!
Freya, bahkan ingin menampar wajah lelaki itu di detik ketika dia mencium pipinya.
"Lucas. Kamu tau aku gak suka disentuh."
Lucas mendengus. "Ya, tapi itu waktu kita kecil. Siapa tau kamu udah suka disentuh?"
Mata Freya membesar. Dia tidak menyangka Lucas bisa berpikir seperti itu tentang dirinya.
Lucas melanjutkan, "Aku udah bilang sama kamu. Jangan dekat-dekat dengan Jeremy. Hah! Kamu ngabain peringatan aku?"
"Aku gak ngabain!"
"Gak? Terus tadi apa!" Dengan kasar, Lucas menarik dagu Freya.
Gadis itu merasa heran. Yang dicium adalah dia dan di sini dirinya lah yang paling marah atas tindakan Jeremy. Mengapa malah Lucas yang begitu murka melebihi dirinya?
"Aku gak tau! Dia yang deketin aku!"
"Aku udah jaga jarak, Lucas. Dia sendiri yang tetap datang."
Freya menarik paksa tangan Lucas yang mencengkeram dagunya.
"Lucas, kenapa kamu jadi kasar?" tanya Freya. Saat ini, tubuhnya bergetar ketakutan karena sikap Lucas terhadapnya.
Dulu, meskipun Lucas marah padanya. Lelaki itu tetap memperlakukan Freya dengan lembut. Tidak pernah sekalipun tangan Lucas mendarat di tubuhnya. Dia akan menjaga Freya dengan baik.
Namun, kini. Freya seolah-olah melihat orang yang berbeda. Lucas sama sekali tidak seperti dirinya yang dulu.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Amarah yang membakar kepala Lucas perlahan memadam. Dia melepaskan tangan Freya. Roman mukanya masih kaku dan keras. Kekesalannya masih ada walau emosinya sudah bisa dia kendalikan.
Mengabaikan pertanyaan Freya, Lucas berkata, "Kita pulang sekarang."
Tangan Freya kembali ditarik oleh Lucas. Menyeretnya paksa menuju parkiran.
Lucas sama sekali tidak peduli atau bahkan mengingat jika dirinya harus pergi dan meminta maaf pada teman-temannya.
Jika mereka marah padanya pun, Lucas tidak acuh. Masa bodoh dengan mereka. Ada hal yang jauh lebih penting untuk dia urus.
...***...
Begitu membuka pintu rumah, Lucas langsung mencari keberadaan Bryan. Sambil menarik tangan Freya, lelaki itu membawanya untuk menemui Bryan.
__ADS_1
"Kenapa kamu teriak-teriak?" Bryan keluar dari kamarnya. Kacamata berlensa duduk di pangkal hidungnya. Dari penampilannya yang hanya mengenakan singlet putih beserta celana pendek selutut, Bryan pasti sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Udah selesai acaranya?" tanya Bryan sambil menutup pintu kamar. Kemudian berjalan hendak ke ruang tengah.
Tanpa menjawab pertanyaan Bryan, Lucas langsung mengatakan tujuannya mencari Bryan.
"Pa. Lulus SMA, aku mau langsung nikah sama Freya."
Layaknya ketika sedang minum air, lalu tersedak karena mendengar berita yang mengejutkan, Bryan hampir tersandung dalam langkahnya.
Dia segera berbalik dengan wajah tercengang.
"Ha?"
Bukan hanya Bryan. Freya yang menjadi bahan omongan pun ikut terkejut.
"Nikah? Lulus sekolah ini?" Bryan mengulangi pertanyaan Lucas, memastikan kebenaran indra pendengarannya.
Lucas mengangguk dengan raut datar.
"Ya."
Kepala Bryan mendadak pusing. Dia menyuruh Freya dan Lucas duduk di sofa ruang tengah. Mereka harus membahas ini dengan benar.
"Jadi, kenapa kamu tiba-tiba bilang itu? Papa kira kamu gak ingat lagi tentang perjodohan ini."
Lucas duduk di hadapan Bryan bersama dengan Freya di sampingnya.
"Bukan karena perjodohan pun aku bakal tetap nikah sama Freya."
Ah, mendengar kalimat itu, Freya tersipu. Bukankah secara tidak langsung Lucas mengatakan jika perasaannya masih sama ketika dia kecil dulu?
"Oh? Gitu? Oke. Gak masalah."
Lucas mengangkat matanya, Freya pun melakukan hal yang sama dengan Lucas.
"Papa gak masalah?" tanya Lucas mencoba meyakinkan dirinya.
Bryan menyandarkan dirinya di sofa. "Loh? Kan bagus kalo kamu mau. Kemarin itu ... Papa lupa kapan. Pokoknya Freya bilangnya kamu gak ingat lagi sama perjodohan ini. Makanya Papa ngira kamu gak mau nikah sama Freya. Dia juga bilang gak usah ingetin kamu lagi. Ya, Papa juga gak singgung masalah perjodohan lagi."
Bryan terlalu banyak bicara. Freya menutup erat matanya. Dia sadar jika Lucas tengah meliriknya tajam.
"Kalo kamu mau nikah setelah lulus sekolah. Ada syaratnya," kata Bryan.
"Apa?"
Bryan sudah membuka mulutnya, tapi dia tidak jadi mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Kita bicara nanti di ruangan Papa."
__ADS_1