
Freya dan Lucas baru tiba di rumah sekitar jam setengah lima sore karena Lucas membawa Freya ke rumah sakit untuk diperiksa. Ketika Freya bertanya pada Lucas mengapa dirinya dibawa ke rumah sakit, Lucas menjawab jika ayahnya akan khawatir dan tidak akan membiarkan Freya bersekolah selama beberapa hari.
Freya tidak banyak berkata lagi. Apa yang dikatakan oleh Lucas benar. Jika dia pulang dalam keadaan lemah dengan wajah yang pucat, Bryan pasti akan risau dan melarangnya melakukan aktivitas apapun. Cukup diam di kamar sampai dia sembuh.
"Makasih, Lucas. Tolong jangan bilang ke Om Bryan, ya? Tentang kejadian hari ini."
Sebelum naik ke lantai atas, Freya berterima kasih pada Lucas terlebih dahulu. Sekaligus meminta kepadanya untuk tidak mengatakan apapun tentang apa yang terjadi hari ini.
Lucas meletakkan tasnya di sofa ruang tengah. Dia hendak pergi ke dapur, tapi berhenti karena Freya mengajaknya bicara.
Lelaki itu diam, tidak mengiyakan ataupun menolak permintaan Freya. Netranya melihat ke arah Freya, memunculkan perasaan merinding dari dalam diri Freya. Gadis itu mendadak menjadi gugup.
"Lucas?"
"Kamu kenal Jeremy?" tanyanya.
"Ha?"
Lucas tidak mengulangi lagi pertanyaannya. Butuh waktu lima detik untuk Freya memahami pertanyaan Lucas.
"Oh? Jeremy yang tadi?" Freya menggelengkan kepalanya, "gak. Kebetulan dia yang nolongin aku tadi."
Pandangan Lucas masih tertuju pada Freya, tapi itu tidak berlangsung lama karena Lucas memutuskan kontak mata mereka dan pergi menuju dapur.
Freya pun tidak lagi memiliki bahan obrolan dengan Lucas. Ini adalah kebiasaan mereka sejak lulus SMP. Setelah pulang sekolah, keduanya akan melakukan kegiatan masing-masing. Selesai mengganti seragam sekolah dengan baju rumahan biasa, Freya turun dan membantu Bi Surni membersihkan rumah, seperti menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, dan menyiram tanaman di halaman depan dan belakang.
Rumah Bryan cukup besar dengan tanah yang lapang. Bagian depan dapat ditanami banyak tumbuhan. Freya menyukai bunga. Jadi, dia menghiasi area depan rumah dengan berbagai macam jenis bunga. Di bagian belakang pun, Freya membuat kebun kecil. Dia menanam tomat cherry, cabai rawit, lidah buaya, terong, sirsak, dan singkong. Semua tumbuhan itu dia tanam bersama dengan Bi Surni. Sesekali, Bryan juga akan ikut membantu mengurus kebun kecilnya.
Selagi menyiram tanaman di halaman depan, Freya mendengar suara petikan gitar dari balkon kamar Lucas. Sebenarnya, menyiram tanaman di sore hari adalah kegiatan yang paling Freya sukai. Karena pada jam ini, Lucas selalu berlatih gitar di balkon kamarnya. Sekali-kali dia bersenandung bersama dengan suara petikan gitar.
Air bersih meluncur dari lubang-lubang gembor. Jatuh ke tanah setetes demi setetes. Freya tersenyum dalam kegiatannya menyiram tanaman. Mendengar Lucas dari bawah balkon kamarnya terasa menyenangkan.
Freya tidak banyak berharap lagi dengan hubungan mereka. Sudah cukup banyak hutang yang ingin dia bayar kepada keluarga Lucas, terutama pada Bryan. Jika suatu hari nanti, Lucas bersama yang lain, Freya akan memasang wajah paling bahagia dan akan mendoakan yang terbaik untuk Lucas dan pasangannya.
Karena yang Freya inginkan adalah kebahagiaan Lucas dan Bryan. Jika mereka ingin Freya menetap maka dia akan melakukannya, dan jika mereka ingin Freya pergi maka Freya akan pergi dengan rasa terima kasih yang luar biasa.
...***...
Pentas seni akan diadakan dalam setengah bulan ke depan. Banyak murid yang menjadi perwakilan kelasnya berlatih di ruang kelas ketika istirahat ataupun ketika pulang sekolah.
Kelas IPA/B memutuskan untuk menampilkan sebuah drama. Cerita yang mereka pilih untuk dilakonkan adalah dongeng Bawang Putih dan Bawang Merah. Mereka tidak ingin repot memilih cerita lain sehingga memutuskan untuk mengambil cerita yang sudah biasa mereka dengar dan tonton di beberapa program televisi. Namun, agar terlihat berbeda, mereka mengubah beberapa adegan demi kemudahan mereka dalam mempersiapkan alat dan bahan.
Setengah anggota kelas terlibat dalam drama, sementara setengahnya lagi bertugas mempersiapkan semua keperluan cerita.
Freya tidak ikut menjadi salah satu pemeran dalam drama tersebut. Dia tidak memiliki kepercayaan diri. Sebuah keberuntungan baginya karena dianggap tidak ada di kelas. Jujur saja, dia tidak paham mengapa mereka begitu membencinya hanya karena jarinya tidak lengkap. Freya merasa tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun. Dia juga tidak pernah bertingkah yang membuat orang lain tidak suka padanya.
Dua tahun lebih dia mencari tahu lebih dalam, tapi yang dia dapati hanyalah alasan mereka membenci cuma karena jari kelingkingnya tidak ada. Sekuat apapun usaha Freya menutupinya, mereka tetap memandang Freya sebelah mata.
Jam istirahat kedua Freya gunakan untuk menyapu halaman seperti biasa. Pohon yang tumbuh di dekat lapangan basket selalu menjatuhkan daunnya tanpa tahu waktu. Oleh sebab itu, Freya selalu menyapu di tempat yang sama.
__ADS_1
"Frey, kamu selalu nyapu tiap jam istirahat kedua, ya? Gak makan?"
Freya yang secara penuh menaruh fokusnya pada sapu lidi di tangannya tersentak karena kaget. Spontan tubuhnya berputar ke belakang. Dia mendapati Jeremy berdiri di belakangnya. Kedua tangan lelaki itu berada di dalam saku celananya.
"Haha. Maaf, kamu kaget, ya?" Jeremy tertawa kecil melihat reaksi Freya.
"Ha? Gak. Kamu ... kenapa di sini?"
Freya merasa sedikit aneh dengan perubahan Jeremy. Kemarin dia menggunakan kata "lo, gue" dan hari ini dia mengubahnya menjadi "aku, kamu". Akan tetapi, Freya tidak banyak berpikir tentang itu. Mungkin Jeremy mengubah cara bicaranya karena mengikuti gaya bicara Freya.
"Tadi abis main basket bareng mereka. Terus aku liat kamu lagi nyapu sendirian di sini. Jadi, aku datengin."
Freya melihat ke arah lapangan basket. Ada beberapa siswa yang sedang bermain di sana. Freya juga mendapati Lucas sedang berjalan mundur sambil mengelap keringat di dagunya menggunakan baju kaos. Seragam sekolahnya dia tinggalkan di ruang kelas sebelum pergi bermain.
Dari belakang Lucas, seorang perempuan dengan rambut panjang bergelombang mendatangi Lucas. Di tangannya terdapat satu botol air mineral. Dia menepuk bahu Lucas, memanggil lelaki itu. Lucas menolehkan kepalanya. Perempuan itu memberikan air tersebut pada Lucas dan mengatakan sesuatu. Freya tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena jarak mereka yang jauh. Namun, Freya dapat melihat keduanya sangat akrab. Sudah lama Freya tidak melihat Lucas berbicara panjang lebar dengan seseorang.
Atau mungkin, itu cewek yang dibilang orang-orang pacar Lucas?
"Frey?"
"Ha?"
Freya tersadar dari pikirannya sendiri. Jeremy tertawa kecil dan berdiri lebih dekat di samping Freya.
"Kamu selalu nyapu tiap jam istirahat?" Jeremy mengulangi pertanyaannya.
"Iya."
"Gak. Aku cuma mau bantu Pak Iki."
"Beneran? Wih, baik banget kamu, Frey."
Dia menoleh pada Jeremy. Tersenyum kecil dan berkata, "Maaf, Jeremy. Panggil aku Freya aja, ya?"
Jeremy mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Aku kurang nyaman aja."
Sekilas, ekspresi Jeremy menjadi datar, tapi ketika Freya mengangkat matanya untuk melihat Jeremy ... lelaki itu langsung mengubah raut mukanya.
Senyum kecil dia lontarkan. "Oke, maaf udah buat kamu gak nyaman."
"Iya, gak papa."
"Freya!"
Dari depan Freya, Chika berlari menghampirinya setelah berteriak kencang memanggil namanya.
"Kenapa lo?" tanya Jeremy.
__ADS_1
Chika memegang lututnya. Napasnya terengah-engah setelah berlari-lari.
Setelah cukup lama mengatur napas, Chika akhirnya bisa berdiri dengan benar. Gadis itu memegang tangan Freya. Wajahnya memelas, tidak seperti kemarin ketika dia menampar Freya.
"Freya. Gue minta maaf sama lo. Kemarin gue udah nampar lo cuma gara-gara cemburu lo dateng bareng Lucas. Gue minta maaf banget. Tolong maafin gue, ya?"
Freya melihat Chika dengan wajah bingung. Tiba-tiba datang meminta maaf padanya dan terkesan memaksa.
"Lo kenapa, sih?" Jeremy menarik Chika menjauh dari Freya.
"Apaan, sih? Jangan ikut campur lo Jeremy."
Chika menghempas tangan Jeremy. lalu, berbalik kembali. Menarik-narik tangan Freya menuju pipinya.
"Kamu mau apa?" tanya Freya melihat tangannya ditepuk-tepuk ke pipi Chika.
Dengan mata merah yang menggebu-gebu, Chika memaksa Freya untuk menampar pipinya.
"Tampar gue yang kenceng. Sampe pipi gue jadi merah."
"Ha?"
Jeremy menyahut, "Lo minum obat Rasa Bersalah? Kenapa minta ditampar kayak gitu?"
Chika melototi Jeremy. "Diem lo." Kemudian kembali pada Freya.
"Please! Freya, tolong tampar gue sekarang. Sampe merah. Harus kenceng!"
Freya menarik tangannya dari cengkraman Chika, tapi perempuan itu tetap bersikeras menahan tangan Freya.
"Tampar gue cepet." Chika tidak bisa menunggu Freya lebih lama. Dia menggunakan telapak tangan Freya dan menampar pipinya sendiri.
"Udah merah belum?" tanyanya pada Jeremy. Lelaki itu hanya bisa mengerutkan keningnya. Tidak mendapat jawaban, Chika memukul wajahnya dengan tangan Freya lebih keras.
"Udah cukup. Kamu kenapa?" tanya Freya. Menarik paksa tangannya dari Chika.
Gadis itu mengamuk. Dia menarik kerah seragam Freya. Berbicara tepat di wajah Freya "Lo tinggal nampar gue sekenceng yang lo bisa. Susah banget, ha?"
"Kenapa aku harus nampar kamu?"
"Gue udah nampar lo kemarin. Gak inget?"
"Iya, tapi untuk apa aku balas? Kamu kesakitan nanti."
Chika semakin menggila. Bola matanya membesar seolah akan keluar dari tempatnya. "Jangan sok baik, ya. Gue cuma minta lo nampar gue! Bukan untuk liat lo tebar kebaikan. Bangsat!"
Chika melepas kerah seragam Freya dan mendorongnya kuat. Jeremy segera menahan lengan Freya agar tidak terjatuh.
Gadis itu menampar dirinya sendiri dengan kuat. Kemudian bertanya kembali pada Freya dan Jeremy apakah pipinya sudah memerah atau belum.
__ADS_1
"Bukan lagi merah. Bibir lo udah berdarah," kata Jeremy.
Chika menghela napas. Seperti orang gila, dia tertawa tanpa alasan. Lalu, berlari kembali ke arah yang berlawanan dengan datangnya dia tadi.