
Roda berputar seiring dengan kaki yang berlari.
Di atas brankar, Freya menggigit bibirnya. Menahan rasa perih sekaligus nyeri yang dia rasakan di saat yang bersamaan.
"Freya, atur napas dulu. Tahan, ya. Sebentar lagi kita sampai."
Paijo berusaha menenangkan Freya dari kesakitannya. Dia pernah berada di situasi seperti ini. Pria itu tahu bagaimana rasanya walaupun dia tidak berada di posisi yang sama dengan Freya.
Sebelumnya, Freya dibawa ke ruang UGD. Akan tetapi, setelah dokter memeriksanya, dia mengatakan bahwa Freya harus segera dioperasi. Ketubannya pecah sebelum waktu melahirkan tiba. Oleh karena itu, pihak rumah sakit harus segera mengambil tindakan. Usia kandungannya pun baru genap tujuh bulan. Otomatis bayinya lahir prematur. Dengan kondisi Freya yang lemah, dia tidak bisa melahirkan secara normal.
Mereka pun tiba di ruang operasi. Sementara Freya didorong ke dalam oleh pihak medis, Paijo, Leli, dan Ari duduk di kursi tunggu yang terletak di depan ruang operasi.
Jantung mereka bertiga sama-sama berdegup kencang. Melihat Freya yang menahan sakit seperti itu membuat organ tubuh mereka bekerja dengan kurang baik. Paijo dan Ari menyandarkan tubuh mereka di dinding dengan mata yang menatap gelisah ke depan, sementara Leli tidak bisa menghentikan kakinya yang bergoyang-goyang karena khawatir terhadap kondisi Freya.
"Ari, kowe panggil Mbah Pati ke sini." Leli berkata tiba-tiba.
"Mbah Pati kan gak punya hp."
"Kowe carilah."
"Cari ke mana? Mbah Pati gak diam di satu tempat."
"Ah! Kowe cari—"
"Leli. Aku tau kowe khawatir. Biar Mbah Pati kita beritahu nanti. Sekarang, fokus sama Freya dulu."
Paijo tidak tahan mendengar keributan yang dibuat oleh Leli dan Ari. Mereka tengah berada di situasi yang menegangkan. Jika mereka berdebat dalam kondisi seperti ini, hal itu akan menyebabkan kepanikan yang tidak jelas.
Leli tidak lagi menyuruh Ari untuk mencari Mbah Pati. Dia membalikkan tubuhnya, menghadap pintu ruang operasi sepenuhnya.
Kurang dari sejam, Freya selesai dioperasi. Semua orang langsung berdiri dan menunggu dengan gelisah. Seorang dokter yang menangani Freya keluar setelah mencuci bersih tangannya.
"Piye, Dok? Opo ibu dan bayi ne ... ." Leli bertanya dengan gugup. Dia, bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Dokter tersebut tersenyum tipis sambil membuka maskernya. "Ibu dan bayinya selamat, tapi keduanya butuh perawatan lebih lanjut. Sebentar lagi, si ibu akan dipindahkan ke ruang rawat inap."
"Oh, ya, ya. Ma, makasih, Dok."
Leli mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata. Dia merasa takut sekaligus lega. Paijo dan Ari juga merasakan hal yang sama dengan Leli. Kekhawatiran yang menyelimuti mereka pun berangsur-angsur pudar.
"Permisi, siapa di antara Anda semua yang mengurus administrasi?"
Seorang perawat datang dari belakang mereka dan bertanya mengenai biaya rumah sakit. Leli, Ari, dan Paijo saling melihat.
Sial. Mereka lupa tentang siapa yang akan membayar tagihan rumah sakit!
Pada akhirnya, Paijo yang memiliki tabungan yang membayar biaya rumah sakit Freya.
...****************...
Seminggu berlalu dan Freya masih belum membuka matanya. Sejak dioperasi, wanita itu belum mengalami peningkatan sama sekali. Kondisinya masih lemah dan tentu saja biaya rumah sakit terus berjalan.
"Istri kowe gak marah? Uang tabunganmu habis untuk ini." Leli bertanya sembari mengupas kulit apel.
Hari ini adalah giliran Leli dan Paijo yang menjaga Freya, sementara Mbah Pati dan Ari membuka toko. Mereka berganti-gantian dalam mengurus Freya dan berjaga di toko. Karena Freya tidak memiliki kenalan lain selain mereka.
Paijo menjawab sembari mengambil satu potong apel yang telah dikupas. "Kalo tau kan marah."
"Jadi, kowe gak ngasih tau?"
"Kowe mau gantikan uangku?"
Leli menggeleng cepat. "Untuk sendiri aja aku gak punya."
"Yowes. Lagian Freya gak punya Kartu Sehat. Dia juga kekurangan uang. Bayar tagihan rumah sakit pasti susah untuk dia. Tabunganku gak abis untuk ini. Masih ada sisa. Selama istriku gak tau, nanti diam-diam kuganti."
Leli mendadak diam. Tiba-tiba dia merasa kagum setelah mendengar Paijo berbicara. Kata-katanya terdengar santai, tapi memiliki makna yang mendalam. Paijo . . . sangat peduli terhadap orang lain.
"Kenapa kowe?" tanya Paijo.
"Apik tenan kata-katamu, Jo . . . Jo. Kalo kowe belum punya istri, mungkin aku—"
__ADS_1
Paijo segera menutup mulut Leli dengan sepotong apel. "Gak punya pun aku gak mau samamu."
Leli menatap datar Paijo sambil mengunyah apel. "Percaya dirimu ketinggian. Maksudku, kalo kowe belum punya istri, udah kujodohkan dengan Freya."
Kali ini, bukan hanya sepotong apel yang Paijo gunakan untuk menutup mulut Leli, melainkan sampah dari kulit apel dia ambil untuk menyumpal pikiran konyol Leli.
Leli meludahi semua kulit apel yang masuk ke mulutnya. Dia menatap marah pada Paijo.
"Asu emang kowe."
"Opo? Kowe pun ngomong sembarangan. Umurku sama Freya jauh beda. Jangan macam-macam. Kowe cari jodoh untuk sendiri sebelum ngurus orang."
"Ck! Becanda pun."
"Becandamu gak lucu."
Leli mengerutkan mukanya. Kemudian, dia mengambil apel yang lain untuk dikupas.
...****************...
Dua minggu telah berlalu. Kondisi Freya sudah menunjukkan banyak peningkatan.
Dokter mengatakan jika tidak lama lagi Freya akan bangun dari tidurnya. Semua orang menjadi bersemangat setelah mendengar kabar baik ini, bahkan Mbah Pati menyuruh ketiga karyawannya untuk menutup toko dan sama-sama menjaga Freya di rumah sakit.
"Kira-kira . . . Freya bangun gak, yo? Udah mau sebulan iki."
Leli merebahkan dirinya di atas tikar lantai. Duduk di kursi terlalu lama membuat pinggangnya sakit. Jadi, dia harus meluruskan seluruh tubuhnya untuk menghindari tulang rusak.
"Semoga," sahut Paijo.
"Freya pasti baik-baik saja. Kita semua sudah melakukan yang terbaik. Dia ini butuh banyak istirahat." Kakek Pati berkata dengan bijak. Umurnya yang sudah lebih dari 70 tahun itu masih terlihat sehat dengan baju batiknya.
"Aku lapar. Mau beli makan. Ada yang mau nitip?" tanya Ari.
Leli mengangkat satu jarinya. "Aku. Belikan ayam goreng dua. Paha, oke?"
"Duit?"
Ari mendecakkan lidahnya. Dia sudah menduga jika Leli akan mengatakan hal itu. Lalu, dia bertanya pada yang lain, tetapi mereka tidak menitipkan apa pun.
Tak lama sejak Ari pergi, Paijo yang terus melihat ke arah Freya pun melebarkan matanya.
Sekilas dia melihat pergerakan di mata Freya. Dia bergegas mendekati ranjang Freya untuk memastikan. Hal itu membuat Leli yang tengah berbaring pun tersentak dan bangkit untuk melakukan hal yang sama dengan Paijo.
Kakek Pati berjalan pelan dan berdiri di belakang Paijo. Mereka bertiga memperhatikan Freya dengan saksama.
Secara perlahan, mata yang lama terpejam itu pun terbuka sedikit demi sedikit sampai melebar sepenuhnya.
"Panggil perawat! Cepat, cepat!"
Leli memukul lengan Paijo dengan tidak sabaran. Kelegaan dan kesenangan yang muncul membuat Leli tidak bisa menahan dirinya. Dia mendorong kuat Paijo agar pria itu segera keluar untuk memanggil perawat yang sedang berjaga.
"Silakan mundur sedikit, biar bisa saya periksa."
Perawat yang dipanggil oleh Paijo datang bersama dengan dokter yang bertanggung jawab atas Freya.
Leli, Paijo, dan Kakek Pati melangkah mundur sesuai dengan arahan. Membiarkan Freya ditangani oleh mereka yang lebih ahli.
Setelah diperiksa dan memastikan bahwa Freya baik-baik saja, mereka pun bisa bernapas lega. Ari yang baru saja kembali pun tertawa bahagia karena akhirnya hari yang mereka tunggu telah tiba.
"Freya, kowe baik-baik aja 'kan? Lapar? Mau makan?"
Leli menyodorkan satu potong paha ayam pada Freya. Di sampingnya, Paijo tidak tahan untuk tidak memukul lengan Leli.
"Sakit! Ada masalah apa kowe sama aku, ha?"
"Kowe liat-liat kondisi. Dia baru sadar malah dikasih ayam."
"Yo, mungkin dia lapar."
Freya tertawa kecil melihat kelakuan Paijo dan Leli. Rasanya sudah lama dia tidak mendengar perdebatan mereka berdua. Freya . . . merindukan suasana ribut seperti ini.
__ADS_1
...****************...
"Jadi, anak saya gimana, Dok?" tanya Freya di depan ruangan inkubator. Seminggu sejak dia sadarkan diri, Freya baru bisa menjenguk bayinya yang tertidur di dalam inkubator.
"Kami sudah melakukan tes pada anak Anda dan hasilnya . . . maaf Bu Freya. Anak Anda mengalami gangguan pendengaran."
"Ha?" Freya mendongakkan kepalanya. Dia duduk di atas kursi roda sehingga dirinya harus mengangkat kepalanya untuk melihat dokter wanita tersebut.
"Anda jangan khawatir dulu. Masalah ini bisa diatasi dengan beberapa cara. Karena anak Anda masih sangat kecil, kemungkinan ini hanya bersifat sementara. Kami akan membersihkan telinganya yang mungkin terdapat benda asing di dalamnya. Jika nanti ternyata itu tidak berhasil, maka anak Anda harus sering dibawa terapi atau yang paling sulit ialah . . . harus dioperasi."
Tubuh Freya membeku. Dirinya bereaksi sama seperti ketika mendengar kecelakaan yang dialami oleh kedua orangtuanya.
Gangguan pendengaran.
Itu berarti . . . anaknya akan mengalami nasib yang sama sepertinya? Atau akan lebih parah?
"Bu Freya?"
"Kenapa?"
"Ya?"
Bulu mata Freya yang tertunduk itu tampak bergetar. Dia mengangkat matanya, melihat dokter di depannya.
"Kenapa anak saya bisa mengalami gangguan pendengaran?"
Dokter tersebut diam seolah tengah berpikir. Tak lama dia menjelaskan. "Eum, dugaan sementara karena ada sesuatu di telinganya. Akan tetapi, jika bukan karena hal itu maka penyebabnya adalah karena kelahiran prematur dan juga kurangnya nutrisi ketika mengandung. Apa Anda mengonsumsi obat selain yang diresepkan oleh dokter?"
Freya mengangguk kaku. Dokter itu melanjutkan. "Itu bisa jadi salah satu penyebabnya. Kami akan periksa lagi lebih lanjut. Minggu depan Anda beserta si anak boleh pulang."
Freya tidak mendengar kalimat terakhir dari dokter tersebut. Pikirannya kacau. Dia tidak bisa berpikir jernih.
Anaknya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan karena kelalaiannya sendiri. Dia tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Padahal dia sudah berjanji akan merawat dan menjaga anaknya dengan kemampuannya sendiri.
Namun, kenyataan pahit yang baru dia dengar membuat Freya menyalahkan dirinya sendiri.
Freya, bahkan setelah seminggu berlalu pun dia belum bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Kowe bisa sendiri di rumah?" tanya Leli. Mereka baru saja tiba di kos tempat Freya tinggal.
Dengan menggendong bayinya, Freya mengangguk pelan. "Bisa, Mbak. Makasih, ya. Tolong bilang sama Kang Paijo, nanti uang sisanya aku ganti tiap bulan, ya."
"Kata Paijo kowe gak usah ganti."
"Jangan. Itu uang tabungannya. Aku gak enak. Mana banyak lagi."
"Yowes. Urusanmu dengan Paijo lah itu. Hati-hati di rumah. Kalo ada perlu, telepon aku."
Freya mengangguk. "Iya, Mbak. Makasih, ya."
"Iya, sama-sama. Balik dulu, yo."
Sepeninggal Leli, ekspresi ramah di wajahnya seketika menghilang. Diganti dengan raut kesedihan.
Freya menutup pintu setelah memastikan semua barang miliknya berada di dalam. Matanya menjelajah ke sekitar. Tidak ada yang berubah padahal dia sudah pergi selama sebulan. Hanya debu saja yang semakin menebal.
"Hah! Bunda harus bersih-bersih sekarang. Adek tidur dulu di kasur, ya?"
Tak ada jawaban. Bayi dalam gendongannya tertidur dengan tenang.
"Kamu belum Bunda kasih nama. Anak bunda yang cantik . . . kamu maunya nama apa?"
Freya bertanya sambil berjalan menuju tempat tidurnya. Dia bersandar di kepala ranjang sembari meluruskan kakinya.
"Nanti, kalo Bunda udah ada uang tambahan. Kita pindah, ya? Kos ini terlalu kecil untuk kita berdua. Uang tabungan Bunda abis untuk ganti uangnya Kang Paijo. Ada sisa beberapa, sih. Untuk kebutuhan kita tiga bulan ke depan."
Freya bersenandung kecil, mengusir kekalutan di hatinya. Menepuk-nepuk lembut punggung anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Adek. Karena kamu lahir di sini, Bunda minta saran nama dari Mbak Leli. Ada beberapa yang dikasih. Bunda udah pilih dan Bunda suka dengan nama itu. Semoga kamu juga suka, ya?"
Freya menatap bayi dalam gendongannya dengan senyuman tipis. "Syakia Utami. Syakia artinya kebahagiaan, sedangkan Utami itu anak perempuan pertama. Jadi, Bunda harap kamu sebagai anak perempuan pertama Bunda bisa membawa kebahagiaan. Baik itu untuk kamu sendiri atau untuk orang lain. Ya, sayang?"
__ADS_1
Meskipun bayi yang tertidur dengan tenang dalam gendongannya itu tidak memberikan jawaban, Freya telah menetapkan nama tersebut untuknya dengan menaruh harapan yang besar padanya.