Cold Love

Cold Love
Bab 33. "Jika Ingin Hubungan Bertahan Lama Maka Jangan Tunjukkan Perhatianmu!"


__ADS_3

Freya mengira setelah malam itu, Lucas akan membuat perubahan.


Nyatanya, hubungan mereka masih sama seperti sebelumnya. Tak ada pelukan di malam yang lain. Tidur bersama, tapi terasa sepi.


Hari yang mereka jalani pun tak ada beda. Makan bersama, terkadang pergi ke kampus bersama, atau Lucas datang menjemputnya.


Hanya seperti itu. Datar dan tidak ada menariknya.


Meskipun begitu, Freya tetap berusaha menjalani semuanya dengan senyuman. Membuat sarapan di pagi hari dan membangunkan Lucas.


Hari ini, Freya tidak memiliki kelas pagi. Dia dan Lucas sama-sama memiliki kelas siang, tapi berbeda mata kuliah. Jadi, keduanya berangkat bersama.


Jalan di kota Jakarta ramai seperti biasa. Terik matahari menyengat kuat begitu Freya membuka pintu. Dia harus menutupi matanya menggunakan telapak tangan untuk menghindari silau cahaya matahari.


Lucas dan Freya berjalan beriringan menuju lift. Kelas Freya berada di lantai dua, sementara Lucas berada di lantai tiga.


Banyak mahasiswa berdiri di depan pintu lift. Mungkin mereka harus dibagi menjadi dua gelombang, dilihat dari banyaknya mahasiswa yang bertumpuk di sana.


Lucas berdiri agak jauh dari kumpulan mahasiswa tersebut. Freya pun berdiri di belakangnya. Dia juga tidak ingin terjepit di antara orang-orang itu.


"Yo! Lucas!"


Freya menoleh saat ada yang memanggil Lucas. Dia menangkap sosok pria yang tak asing di matanya.


Lelaki itu mengangkat tangannya ke atas, menyapa Lucas yang sama sekali tidak memutar kepalanya ke belakang. Seolah dia sudah tanda dengan suara orang yang memanggilnya.


Diabaikan oleh Lucas, lelaki itu memindahkan pandangannya dan melihat Freya berdiri di dekat Lucas. Pria itu menunjuk Freya dengan wajah terkejut.


"Eh? Freya 'kan?"


Mendengar nama istrinya disebut, Lucas memutar tubuhnya dan mendapati Daniel tengah berjalan ke arah mereka.


Freya mengangguk pelan. Kemudian dia melihat ke arah Lucas, menatapnya dengan pandangan bertanya.


Lucas tidak melihat Freya, melainkan ke arah Daniel yang tidak tahu malu ingin merangkul Freya.


"Mau ngapain?"


Lucas bertanya dengan nada tidak ramah. Daniel menghentikan tangan nakalnya dan menariknya kembali. Menyembunyikan niatnya di dalam saku celana.


Daniel tertawa singkat. Dia mengajak bicara Freya. "Lo inget gue 'kan? Daniel, sahabat Lucas."


Freya menggali ingatannya sejenak. Nama Daniel terasa akrab di telinganya. Beberapa detik kemudian, dia baru mengingat tentang lelaki di depannya ini.

__ADS_1


"Oh, yang di pesta malam itu 'kan?" tanya Freya.


Daniel menjentikkan jarinya. "Tepat."


Keduanya tertawa bersama dan mulai berbicara hal-hal ringan. Sementara keduanya sibuk berbicara, di samping Freya, Lucas merasa menjadi orang ketiga di antara mereka. Jadi, dia menarik Freya dan membawanya mendekat ke kerumunan.


"Eh, eh. Tunggu." Daniel berteriak meminta Lucas untuk menunggunya, tapi lelaki itu tidak memedulikannya sama sekali.


Freya tersentak karena tarikan Lucas. Obrolannya dengan Daniel terputus begitu saja. Beberapa orang sudah masuk ke dalam lift. Menyisakan gelombang ke dua di sana. Lucas ingin membawa Freya bergabung dengan gelombang pertama, tapi dia sedikit terlambat dari orang lain sehingga lift sudah penuh dan dia terpaksa menunggu di gelombang kedua.


Daniel mengikuti mereka. Dia berada di kelas yang sama dengan Lucas. Tentu saja dia tidak ingin ditinggalkan begitu saja. Daniel berdiri di samping Freya. Tinggi tubuhnya sama dengan Lucas. Jadi, dia bisa melihat wajah cemburu Lucas dari samping Freya dengan jelas karena tinggi Freya hanya sebahu mereka.


Tak lama, pintu lift terbuka. Orang di dalam keluar, sementara orang di luar masuk. Selagi mereka menunggu lift terbuka, tumpukan semakin bertambah. Jadi, gelombang kedua tidak bisa memuat semua orang. Dibutuhkan gelombang ketiga untuk bisa naik lagi.


Lucas buru-buru menarik Freya sebelum mereka disalip orang yang baru datang. Daniel juga melakukan hal yang sama. Tidak ingin bergabung dengan gelombang ketiga.


Lift berhenti di lantai dua. Freya keluar terlebih dahulu daripada Lucas dan Daniel. Dia melambaikan tangannya pada Lucas. Lalu tersenyum canggung pada Daniel. Dia masih belum terbiasa dengan lelaki yang memiliki mata licik itu. Bukan menuduh yang tidak-tidak, hanya saja Freya dapat merasakan hawa aneh dari Daniel. Namun, dia juga tidak ingin berlama-lama berburuk sangka. Jadi, dia menepis pemikiran itu dan segera pergi ke kelasnya.


...***...


Lucas dan Daniel tiba di kelas.


Kelas dimulai sekitar 10 menit lagi. Lucas ingin duduk di sudut kelas, tapi seorang wanita menyapa mereka. Suaranya terdengar halus dan enak didengar. Lucas melihatnya sejenak dan mengangguk sebagai balasan. Dia hendak melanjutkan jalannya, tetapi Daniel dengan tidak beretika menarik paksa tangannya untuk duduk di tempat yang ditawarkan oleh wanita itu.


"Hai. Kita sekelas hari ini," Aurora menyapa mereka, bahkan dari cara dia duduk pun terlihat elegan. Daniel tidak tahu lagi mengapa wanita yang satu ini begitu menawan. Dia mendorong Lucas ke belakang dan duduk di samping Aurora.


"Iya. Kita sekelas, hehe." Daniel tertawa cengengesan. Lucas meliriknya dari samping dan diam-diam mengatainya idiot.


Aurora melanjutkan pembicaraan dengan Daniel. Sesekali dia mengajak Lucas untuk bergabung dengan mereka. Lucas hanya tersenyum kecil dan menolak dengan halus.


Dia melihat ke sekitar Aurora. Perasaan tidak nyaman menghampirinya. Di dekat wanita itu, banyak teman-temannya yang duduk di sana. Berbicara dengan suara besar dan tertawa seperti orang tidak tahu aturan. Keadaan di sini sangat ramai.


Lucas ingin berpindah tempat, tapi Aurora terus mengajaknya berbicara. Jika bukan karena dia anak dari Pak Oga, Lucas akan secara terang-terangan mengabaikannya seperti dia mengabaikan Daniel.


Selagi mengobrol, ponsel Aurora yang tergeletak begitu saja di atas meja terus bergetar. Wanita itu meliriknya sekilas dan mematikan panggilan tersebut.


Daniel dan Lucas sama-sama melihat nama yang tertera di layar ponsel Aurora. Mereka menebak jika itu adalah kekasihnya. Namun, mereka tidak berniat mengatakan apapun.


Ponselnya kembali bergetar. Aurora hanya melihatnya sebentar sebelum mematikannya lagi. Dia menghela napas pelan. Suasana hatinya menjadi kacau. Dia tidak berminat lagi untuk berbicara.


Daniel menyadari perubahan hati Aurora. Jadi, dia mencoba bertanya padanya.


"Itu cowok lo?" tanya Daniel hati-hati. Di belakangnya, Lucas hanya diam mendengarkan mereka. Tidak ada kegiatan lain yang bisa dia lakukan. Lucas juga bukan tipe orang yang suka bermain dengan ponsel jika tidak ada hal yang penting.

__ADS_1


Aurora menjawab dengan acuh tak acuh. "Iya. Dia protektif banget. Posesif juga iya. Cemburuan juga iya."


Wanita itu menopang kepalanya di atas tangan kirinya yang dia letakkan di kepala kursi.


"Sejam sekali dia bakal nelpon gue. Nanya gue di mana, sama siapa. Padahal gue udah jawab dan dia tetep aja nelpon lagi. Jawaban gue kan juga bakal sama."


Daniel berkata dengan bercanda. "Ah, karena lo cantik makanya dia takut lo diambil orang."


Aurora menanggapi candaannya dengan tertawa kecil. Dia menggeleng lucu. "Enggak. Dia emang gitu. Takut kalo gue pergi bareng cowok lain. Padahal gue lagi di kampus. Temen-temen gue juga kenal dia. Gak mungkin gue selingkuh."


Dia berkata lagi. "Sebenernya dia perhatian, tapi berlebihan. Gue gak suka. Malah bikin risih."


"Mungkin itu bentuk cintanya ke elo," kata Daniel. Serius mendengarkan curhatan Aurora.


Aurora mengangguk lemah. "Cinta, sih, iya. Cuma jangan berlebihan. Nelpon sejam sekali, ngirim pesan sekaligus, anterin makanan, ngasih bunga tiap ketemu. Aduh, gue bosan lama-lama."


Lucas yang diam mendengarkan curhatan Aurora, tiba-tiba mendadak bernostalgia. Kata bosan yang dikeluarkan oleh Aurora mengingatkannya pada ucapan ibunya.


Diingat-ingat lagi, Bryan juga melakukan hal yang sama pada Mia. Lucas ingat ketika ibunya tidak berada di rumah, ayahnya itu akan menelpon setengah jam sekali untuk memastikan keberadaannya. Memberikan ibunya bunga setiap kali ayahnya pulang bekerja.


Lucas bingung. Mengapa para wanita ini malah risih dan jenuh? Apakah yang dilakukan oleh para lelaki untuk menyenangkan mereka itu salah?


Di sebelahnya, Daniel memberikan saran tidak berguna dengan nada candaan.


"Kalo gak tahan lagi, putus aja. Gue siap menemani kesepian lo." Lelaki itu cengengesan lagi. Lucas ingin sekali menampar senyuman itu, tapi dia sadar jika tangannya terlalu berharga untuk melakukan hal buruk itu.


Suara notifikasi beruntun terdengar dari ponsel Aurora. Seperti yang dikatakannya barusan, kekasih Aurora mengirimkan setumpuk pesan sekaligus untuknya. Mengatakan jika dia sudah berada di luar kelas.


Aurora menghela napas dan pamit untuk pergi menemui kekasihnya di luar.


Daniel memutar badannya ke depan. Melihat Aurora yang buru-buru keluar.


Tiba-tiba dia berkata, "Kalo mau hubungan bertahan lama, cowok jangan pernah nunjukin cintanya." Dia melihat Lucas, "karena kita bakal dipandang rendah sama cewek. Mereka itu makhluk yang gak suka dilembutin. Mulutnya aja bilang suka cowok baik, padahal aslinya suka cowok dingin dan brengsek. Kayak lo misalkan."


Lucas mengerutkan keningnya. Bertanya dengan dagu terangkat. "Maksud lo gue brengsek?"


Daniel terkekeh. "Bukan. Maksudnya lo dingin dan cuek gitu. Cewek-cewek pasti suka karena mereka nunggu diperhatiin diam-diam sama lo. Kalo terlalu nunjukin perhatian yang ada mereka risih. Gak nyaman, bosan. Bingung kan lo mau mereka apa."


Daniel berbicara dengan serius. Seakan-akan dia berbicara berdasarkan pengalaman pribadinya dan entah mengapa Lucas juga serius mendengarkan.


"Kalo lo mau orang yang lo cintai gak pergi ... jangan pernah nunjukin cinta lo, perasaan lo, atau perhatian lo. Jangan manjain dia. Buat dia berada di bawah kendali lo. Buat dia bergantung sama lo. Jadi, dia gak akan pernah bisa pergi dari lo."


Air muka Daniel begitu serius. Layaknya dia mengetahui tentang kegelisahan yang selama ini Lucas rasakan.

__ADS_1


Dia yang biasanya selalu mengabaikan Daniel ketika lelaki itu berbicara, kini dia mendengar semua itu dengan serius.


Karena kalimatnya yang tepat dan bisa membuat hati Lucas merasa aman, mulai hari itu dia menerima Daniel sebagai teman dekatnya.


__ADS_2