Cold Love

Cold Love
Bab 35. Satu Foto. Namun, Bisa Membuat Semua Orang Heboh Membicarakannya


__ADS_3

Di parkiran gedung fakultas ekonomi dan bisnis, semua orang yang berlalu-lalang di sana membuka mulut mereka. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Dua orang yang paling populer di fakultas mereka keluar dari mobil yang sama. Jelas, hal ini menimbulkan tanda tanya dan rasa penasaran yang tinggi.


Yang satu memiliki sikap ramah terhadap semua orang, sementara yang lainnya tidak peduli terhadap apapun dan hanya memikirkan dirinya sendiri.


Dua kepribadian yang berbeda. Bagaimana bisa mereka datang bersama?


Lucas berjalan terlebih dahulu, tidak menunggu Aurora sama sekali. Aurora dianugerahi kaki yang jenjang. Langkah kakinya lebar sehingga dia bisa menyusul Lucas dan berjalan beriringan dengannya.


Ketampanan dan kecantikan sedang berjalan berdampingan. Siapa yang tidak ingin melihatnya? Orang-orang, bahkan memutar kepala mereka hanya untuk memastikan keindahan itu.


Seorang kakak senior yang selalu mengejar Lucas dan Aurora setiap kali mereka berpapasan itu menyapa keduanya saat mereka menaiki tangga gedung. Dia adalah orang yang paling tidak bisa membiarkan sesuatu yang langka seperti ini terlewat begitu saja.


Lelaki bertubuh gemuk dan gemulai itu menahan jalan mereka.


"Aduh! Apa, nih? Kok kalian datang berdua?" Wajahnya mulai membentuk kecurigaan. Alisnya naik dan turun, meminta penjelasan secara tidak langsung.


Lucas ingin pergi, tapi orang di depannya ini tidak membiarkannya begitu saja. Merasa jika mereka berdua sudah sangat akrab, lelaki itu menggandeng lengan Lucas.


"Jangan buru-buru, dong. Kelas sore dimulai 15 menit lagi, kok."


Lucas membuang muka. Malas melihat kakak seniornya ini.


Aurora memegang tas hitam di depan pahanya. Dia menjawab dengan kelembutan yang disukai semua orang.


"Kebetulan kami satu kelompok dan baru selesai ngerjain tugas bareng. Karena kami satu kelas. Jadi, ya, sekalian aja, Kak Popi."


Lelaki itu mengeluarkan suara oh yang nyaring. Lalu, dia menepuk lengan Lucas. "Dek. Ayolah. Gak kasian kamu liat Kakak bolak-balik minta izin?"


Lucas meliriknya sekilas sebelum membuang muka lagi.


Popi menghentakkan kakinya. Ditolak untuk yang kesekian kalinya membuatnya kesal. Dia melepaskan lengan Lucas dan beralih pada Aurora.


"Dek. Kamu gak kasian sama Kakak? Lagian foto kalian gak di apa-apain selain diupload. Ayolah, tanpa muka kalian berdua, instagram komunitas kami terasa kurang. Masa dari fakultas ini doang yang gak ada cewek cantik dan cowok ganteng."


Aurora tertawa sambil menggeleng. "Kan ada yang lain, Kak. Semua maba cantik dan ganteng, kok."


Lelaki gemuk itu merasa tidak setuju. Dia menggoyangkan telunjuknya di depan muka Aurora.


"Memang banyak, tapi yang paling cantik itu kamu dan yang paling ganteng itu Lucas. Ayo, ya? Kakak janji gak akan ganggu kalian lagi kalo kalian izinin fotonya Kakak upload."


Aurora mulai berpikir. Tak lama dia melihat Lucas yang masih berdiri diam di belakang Popi.


"Gimana kalo gini aja, Kak."

__ADS_1


Wanita itu menarik lengan Lucas dan mengalungkan tangannya di celah-celah lengan Lucas.


"Eh? Kenapa gini?" tanya Popi, melihat Aurora memeluk lengan Lucas. Memintanya untuk mengambil foto mereka berdua.


Lucas mengerutkan keningnya. Dia berusaha menarik lengannya, tapi Aurora membawa kepalanya ke belakang telinga Lucas. Dia berbisik, "Turuti aja. Biar Kak Popi gak ganggu kita lagi."


Mendengar bisikan itu, Lucas mulai berpikir. Mengambil foto mereka berdua sepertinya bukan masalah. Setelah ini, hidupnya akan lebih aman karena satu gangguan telah menghilang.


"Ayo, Kak. Foto kami berdua. Biar sekalian aja. Kalo sendirian, Lucas gak percaya diri."


Aurora tertawa kecil sambil melihat Lucas. Lelaki itu tidak mengubah mimik wajahnya. Karena apa yang dikatakan oleh Aurora benar. Dia tidak percaya diri, terlebih Lucas tidak suka berfoto.


"Oh? Okelah. Gak papa juga, sih. Bagus juga kalo kalian berdua gini, hehe."


Popi langsung mengambil ponselnya. Mengarahkan bidikan di tempat yang pas dan dengan beberapa kali tekan, foto Lucas bersama Aurora pun dia dapatkan.


Popi memeriksa hasil bidikannya. Takut jika tidak ada yang bagus dan dia akan kesulitan meminta ulang.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Popi tersenyum puas.


"Makasih banget, Aurora, Lucas."


Aurora melepaskan tangannya dari lengan Lucas. Dia tersenyum manis pada Popi.


"Sama-sama, Kak."


"Aku juga pergi, ya, Kak."


Aurora merasa tidak enak hati pada kakak seniornya itu atas perlakuan Lucas. Jadi, dia meminta maaf atas namanya dan pamit untuk pergi ke kelas.


...***...


Keesokan harinya, kampus dihebohkan oleh foto yang diunggah oleh akun instagram komunitas Perkumpulan Wanita Cantik dan Pria Tampan.


"Mereka berdua manis banget. Cocok 'kan?"


Tulisan di bawah gambar bertanya dengan semangat, bahkan jika itu hanya sekadar beberapa kata. Orang-orang mulai memenuhi kolom komentar. Mengatakan jika mereka menyetujui keterangan di bawahnya.


"Cocok banget. Gue kenal yang cowoknya. Dia pendiem, tapi keren. Pengen deketin, cuma kayaknya gue bukan level dia. Hahaha."


"Itu Aurora 'kan? Lah, pas sendiri gak mau. Ini malah sama cowok. @auroraputriD_ Awas entar pacar lo marah."


"Akhirnya cowok yang diem-diem disukai banyak cewek, diupload juga fotonya. Hihihi. Suka banget. Eh, tapi kenapa harus sama cewek, sih?"


"Kita kalah teman. Ceweknya Aurora. Mundur kalian semua."

__ADS_1


Banyak lagi komentar yang terus masuk ke dalam postingan. Sekarang, keduanya diduga-duga memiliki hubungan khusus. Akan tetapi, mereka tidak bisa memastikannya langsung pada orangnya.


"Anjir lah. Levelnya Aurora, udah jelas kalah ini."


Di kantin yang masih sepi itu, Aya duduk bersama dengan Freya di sudut kantin. Wanita itu telah mengubah gayanya hari ini. Rambutnya dianyam menjadi dua. Biasanya, dia memakai rok dan jas. Sekarang, dia mengenakan kemeja dan celana jeans. Saat ditanya oleh Freya alasan Aya berpenampilan seperti itu adalah dia hanya ingin mencoba gaya baru.


Dari dalam hatinya yang terdalam, Freya merasa aneh dengan penampilan temannya itu.


"Kamu lihat apa?" tanya Freya saat mendengar Aya memaki ponselnya.


"Ini. Aku ngikutin instagramnya komunitas cantik dan ganteng itu. Terus ada yang dari fakultas kita. Nih, lihat."


Aya memutar ponselnya. Memperlihatkan postingan terbaru dari komunitas yang diikutinya.


"Aurora dan Lucas. Dari mukanya aja udah jelas banget mereka cocok. Hah! Orang lain harus cepet-cepet mundur. Kebanting banget sama Aurora, soalnya."


Pupil Freya membesar begitu dia melihat foto tersebut. Memang tidak terlihat mesra. Ekspresi Lucas pun begitu datar, tetapi lengan mereka saling menempel.


Ditambah, keterangan di bawah gambar membuat Freya merasa hatinya nyeri seketika.


Aya menarik kembali ponselnya. Menggulir layar dan membaca setiap komentar di sana.


"Fans Lucas patah hati. Lucas udah ada yang punya, huhu aku sedih. Apaan, sih?"


Aya merasa geli membaca komentar dari para fans Lucas yang terkesan berlebihan.


"Lucas emang ganteng, tapi dingin banget. Gak ramah. Kurangnya di situ aja, sih." Aya memberi pendapatnya. Lalu, dia melihat Freya bermaksud menanyai komentar wanita itu.


"Menurut kamu gimana, Freya?"


Pandangan Freya terpaku pada meja. Pikirannya bercabang entah ke mana. Dia tidak mendengar Aya sama sekali.


"Freya?" Aya memanggilnya lagi, tapi Freya tetap tidak menjawab.


"Freya!" Dengan suara dari gebrakan meja, Freya tersentak dari pikirannya.


"Ya? Kenapa?"


"Kamu kenapa?" Aya bertanya balik.


Freya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Aku pulang dulu, ya? Kelas siang gak masuk 'kan?"


Aya mengangguk meski wajahnya masih bingung.


"Dah, ketemu lagi besok."

__ADS_1


Aya melambaikan tangannya pada Freya. "Ya, hati-hati, Freya!"


__ADS_2