Cold Love

Cold Love
Bab 50. Mulai Ragu


__ADS_3

Rapat hari ini diadakan di perusahaan Vermillion karena Pak Oga memiliki rapat lain bersama dengan Bryan. Pembahasan kali ini terkait hasil survey yang dilakukan oleh Lucas dan Aurora kemarin.


Lucas mengira dengan diadakannya rapat di perusahaannya akan meringankan pekerjaan Lucas. Akan tetapi, apa yang dia dapat lebih dari rasa sakit kepala.


Pak Oga memperkenalkan Mia sebagai stakeholder utama setelah dirinya. Mia akan turut membantu jalannya keberhasilan proyek baru mereka.


Yang berarti, Lucas akan lebih sering bertemu dengan ibunya sampai proyek ini selesai. Membantah atau menolak pun tidak bisa. Karena proyek ini dipegang langsung oleh Pak Oga dan Lucas sama sekali tidak memiliki hak untuk menyuruh Pak Oga memutuskan kerja sama dengan Mia.


Wanita itu tersenyum sambil memperkenalkan dirinya di depan semua orang di dalam ruangan tersebut. Pak Oga pun terlihat senang dan tertawa khas pria berumur.


Rapat berjalan lancar bagi sebagian orang. Sejak Mia diperkenalkan oleh Pak Oga, Lucas sama sekali tidak dalam suasana hati yang baik. Dia lebih banyak diam dan membiarkan Aurora yang menjelaskan.


Lucas tahu jika dia tidak profesional. Membawa urusan pribadi ke dalam lingkup pekerjaan. Namun, dia masih belum bisa menerima Mia. Lucas butuh waktu untuk menyesuaikan diri.


"Terima kasih untuk waktunya hari ini, kalian bisa kembali."


Pak Oga menutup pertemuan hari ini. Sebelum dirinya dipanggil oleh Pak Oga, Lucas langsung bergegas keluar dari ruang rapat dan kembali ke ruangannya sendiri. Dia juga tidak ingin Mia tiba-tiba menghadang dirinya untuk mengatakan ini dan itu yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Lucas.


Melihat kepergian anaknya, Mia hanya bisa menghela napas. Lucas pasti menghindarinya lagi.


"Bu Mia. Gimana kelanjutannya? Apa sudah dalam proses?"


Semua orang sudah meninggalkan ruangan. Kecuali Pak Oga, Mia, dan Aurora.


Melihat ayahnya hendak membicarakan hal penting dengan Mia, Aurora merasa tidak enak jika dia masih berada di sana. Jadi, dia meminta izin untuk menunggu di luar selagi mereka berbicara.


Setelah pintu ditutup oleh Aurora, Mia baru menjawab pertanyaan Pak Oga.


"Belum, Pak. Untuk hal ini butuh waktu yang lumayan lama."


"Mungkin dia gak akan mau menceraikan istrinya." Pak Oga mulai ragu-ragu, tetapi Mia berusaha meyakinkannya.


"Saya jamin dia pasti mau. Pak Oga tenang aja. Biar saya yang urus itu."


Pak Oga diam tampak berpikir. Lalu tak lama dia berujar. "Baik, saya percayakan pada Anda. Ingat! Saya tidak mau anak saya jadi yang kedua."


Mia membalas dengan tawa kecil. "Pernikahan mereka didasarkan perjodohan tidak penting saat mereka masih kecil. Anak saya terlalu bertanggung jawab sampai benar-benar menepati janjinya."


"Benar. Saya suka dengan Lucas karena dia bertanggung jawab dan pintar berbisnis. Proyek sebelumnya saja sudah membuat saya sangat puas. Kalau Lucas menjadi menantu saya, dia pasti akan menjadi pria yang lebih hebat dan terpandang."


Pak Oga berbicara dengan menggebu-gebu. Kesombongan yang sudah ada di dalam jiwanya keluar dari kata-katanya. Dia adalah orang yang hebat dan memiliki relasi di mana-mana. Banyak orang yang ingin bekerja sama dengannya, bahkan meminta diri untuk menjadi besan.


Pak Oga kurang tertarik dengan penawaran mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membuat Pak Oga puas. Proyek yang mereka pegang tidak terlalu berhasil dan cenderung selesai begitu saja tanpa keuntungan yang lebih.


Ketika Lucas datang dan menjadi ketua tim dalam proyek yang dia tanamkan modalnya, Pak Oga puas dengan hasil yang dibawa oleh Lucas. Dia berencana untuk berbicara pada Bryan, bermaksud menjodohkan putrinya dengan Lucas. Namun, sebelum dia berhasil melakukannya, dia teringat dengan status Lucas yang sudah menikah.

__ADS_1


Pak Oga merasa kecewa, tapi dia tidak bisa melanjutkan keinginannya. Tidak mungkin dia membiarkan Aurora menjadi istri kedua Lucas. Itu akan menjatuhkan harga diri putrinya dan tentu saja dirinya sendiri.


Akan tetapi, saat dia bertemu dengan Mia dan suaminya, Pak Oga baru mengetahui jika Mia adalah ibu dari Lucas. Wanita itu meminta Pak Oga menjodohkan Aurora dan Lucas. Awalnya, Pak Oga menolak karena tahu bahwa Lucas telah menikah. Namun, Mia menjelaskan jika itu hanyalah perjodohan yang dilakukan oleh mantan suaminya bersama dengan temannya.


Dia juga berkata jika Lucas dan Freya tidak akan bertahan lama karena mereka menikah bukan karena cinta, tetapi janji yang mereka katakan sewaktu kecil itu membuat mereka menepatinya. Tidak ada keuntungan dari pernikahan tersebut. Oleh sebab itu, Mia meminta Lucas untuk menceraikan Freya dan fokus pada karirnya saja.


Pak Oga tidak terlalu peduli dengan rumah tangga mereka. Selama bisnisnya berjalan lancar dan harga dirinya tidak jatuh . . . Pak Oga akan melakukan apa pun demi kepuasannya.


"Saya percayakan pada Anda, Bu Mia. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Terima kasih, Pak Oga."


Mereka berdua berjalan keluar bersama-sama. Melihat Aurora yang masih menunggu di depan ruangan, Mia pun mengajaknya untuk turun bersama sambil mengobrol. Sementara Pak Oga sudah pergi ke ruangan Bryan.


...***...


Selama libur kuliah, Lucas banyak menghabiskan waktu di perusahaan. Dia, bahkan selalu bangun pagi dan tidak sempat membawa bekal yang sedang dimasak oleh Freya.


Dia khawatir Lucas tidak makan secara teratur. Di kantin mungkin tidak menyediakan makanan berat. Beberapa hari ini juga Freya merasa Lucas telah kehilangan berat badannya. Wajah lelaki itu tampak tirus dan tubuhnya terlihat kurus dengan sedikit lemak di beberapa bagian.


Jadi, dia memutuskan untuk mengantarkan makan siang untuk Lucas dan juga Bryan. Dia sudah melakukan ini selama dua hari belakangan. Lucas juga tidak menolaknya. Oleh karena itu, hari ini pun dia akan membawa makan siang untuk mereka ke kantor.


"Freya?"


Dia baru saja tiba di pintu masuk dan seseorang yang dia kenal memanggil dirinya.


Freya menelan ludahnya gugup. Terakhir kali dia bertemu dengan Mia, dia merasa tertekan. Wanita itu memanggilnya lagi . . . Freya tidak bisa berpikir positif. Dia merasa jika Mia akan mengatakan hal-hal yang membuat hatinya sakit lagi.


Mia dan Aurora berhenti di depannya. Dia melihat pakaian kedua wanita itu. Sangat jauh berbeda dengan dirinya. Mereka memakai jas yang elegan, sementara dirinya hanya mengenakan baju rajut abu-abu dengan rok lipit berwarna krem yang panjangnya melewati lutut.


Mia tersenyum kecil pada Freya sebelum melihat ke arah Aurora. Dia berkata pada wanita di sampingnya. "Kamu tunggu Mama di mobil, ya? Biar Mama antar kamu pulang. Mama mau bicara sama dia dulu."


Mendengar cara bicara Mia pada Aurora membuat keningnya berkerut. Mama?


Aurora mengangguk malu-malu. Dia melirik Freya dan memberikan senyum yang menunjukkan dua lubang di pipinya. Kemudian, seperti yang dikatakan oleh Mia, dia pergi menuju parkiran dan menunggu Mia di dalam mobil.


Setelah Aurora pergi, senyum yang terbentuk di bibir Mia pun secara perlahan menghilang. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap Freya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian, dia menggeleng seolah merasa tidak puas.


Freya juga ikut melihat dirinya sendiri. Namun, dia tidak menemukan hal yang aneh pada penampilannya.


"Tante heran kenapa kamu masih bisa bertahan setelah semua yang dilakukan Lucas dan Bryan sama kamu." Akhirnya, Mia membuka suara.


Freya memiringkan kepalanya. "Maksud Tante?"


"Kamu tahu 'kan kenapa Lucas mau nikah sama kamu?"

__ADS_1


Netra Freya bergerak-gerak. Tampak berpikir, tetapi dia menjawab dengan ragu-ragu. "Karena janji?"


Mia mendengus sambil melepaskan lipatan tangannya. "Itu juga termasuk, tapi alasan utamanya itu untuk mengambil aset milik Zehan."


Freya semakin dibuat bingung oleh Mia. Dia bertanya lagi. "Aset apa? Bukannya itu memang dikelola sama Om Bryan atas nama Freya?"


"Eh? Kamu gak tahu?" Mia bertingkah seperti dia baru saja mengetahui sebuah fakta mengejutkan, "kamu sendiri yang tanda tangan, lho. Kamu setuju kalo aset Zehan dibalik nama menjadi nama Lucas. Eh? Apa kamu gak tahu sama sekali? Jadi, dari mana mereka dapat tanda tangan kamu?"


Freya mendadak kaku. Dia kembali teringat hari di mana Lucas membawanya ke ruangan Bryan untuk menandatangani dokumen yang dia sendiri tidak tahu apa isinya.


Mia diam-diam menarik sudut bibirnya. Lalu, dia buru-buru mengendalikan ekspresi wajahnya sebelum berjalan lebih dekat ke Freya.


"Freya, apa Lucas pernah bilang cinta sama kamu?" bisik Mia.


Freya menggeser pandangannya. Menatap langsung ke mata Mia. Tanpa perlu dia jawab pun, Mia sudah tahu jawabannya.


Dia sudah menduganya. Lucas bukanlah tipe yang akan mengatakan cinta secara lantang. Sifat itu mirip dengan dirinya sehingga dia bisa menebak dari tatapan mata Freya.


"Kalo sakit, lepaskan aja. Ya? Jangan memaksakan diri."


Mia menepuk pelan bahu Freya, lalu dia pergi menyusul Aurora yang sudah menunggunya di dalam mobil.


...***...


Freya membuka pintu ruangan Lucas tanpa mengetuk terlebih dahulu. Itu sudah menjadi kebiasaannya di rumah. Jadi, dia sering lupa untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan Lucas. Namun, karena lelaki itu tidak mempermasalahkannya, dia pun tidak mengubah kebiasannya itu.


Freya mendapati Lucas tengah menunduk sambil membaca sesuatu di layar komputernya. Saat pintu dibuka secara tiba-tiba, Lucas tidak melihat siapa pelakunya karena dia sudah tahu jika itu adalah Freya.


"Lucas. Ini makan siang kamu."


Lucas menjawab tanpa menoleh. "Iya."


Freya menggeser map-map lebih ke samping agar dia bisa meletakkan kotak makanan tersebut. Lalu, dia berdiri diam di depan meja Lucas. Memperhatikan keseriusan yang terbentuk di wajah lelaki itu.


Freya sangat ingin menanyakan kebenaran dari perkataan Mia sebelumnya. Namun, melihat Lucas yang sibuk dan terlihat tidak ingin diganggu membuat Freya menelan kembali keinginannya.


"Kenapa?"


Ditatap untuk waktu yang lama, Lucas merasa aneh dan bertanya pada Freya.


Wanita itu tersentak dari lamunannya. Dia tersenyum tipis. "Gak papa. Aku antar ini ke Papa, ya. Terus langsung pulang."


"Papa lagi ada rapat. Kamu taruh aja di situ, biar aku yang kasih."


Freya mengangguk dan meletakkan kotak makanan untuk Bryan di samping kotak makanan milik Lucas.

__ADS_1


"Aku . . . pulang, ya?"


Lucas telah kembali pada pekerjaannya dan membalas Freya hanya dengan gumaman.


__ADS_2