Cold Love

Cold Love
Bab 81. Bicarakan dan Pahami


__ADS_3

Kenyataan memang pahit.


Seberapa keras dirinya mencoba memaklumi dan meyakini diri bahwa itu bukanlah masalah besar . . . dia tidak bisa menanggungnya.


Bohong jika dirinya merasa baik-baik saja.


Beberapa tahun lalu, saat ulang tahun wanitanya, dia menahan diri untuk tidak memberikan benda tersebut. Ketakutan di masa lalu masih membayanginya. Dia takut jika tindakannya akan membuat wanitanya merasa risih dan berakhir dengan meninggalkannya.


Seperti ibunya.


Dia gelisah. Takut. Gugup. Perasaan itu bertumpuk di dalam hatinya ketika akhirnya dia berhasil memberikan benda putih itu. Setiap hari, dia melihat wanitanya selalu memakai barang pemberiannya.


Hatinya sangat senang. Itu artinya orang-orang akan tahu bahwa dia adalah pemilik wanita itu.


Namun, kenyataan yang dia temui tadi siang menampar kuat dirinya.


Wanitanya tidak lagi memakai barang pemberiannya.


Sejak kapan?


Apa sejak dia melangkahkan kakinya ke kota Yogyakarta?


Dia tidak bisa berpikir jernih. Berusaha menekan hatinya dengan mengatakan bahwa itu bukanlah hal besar juga tidak memberikan efek apa pun baginya.


"Lo lagi kacau. Pengen minum, tapi pas udah di sini malah gak jadi minum. Gimana, sih?"


Daniel mengeluh di samping Lucas. Di meja panjang bartender, kedua pria itu duduk berdua. Menikmati alunan musik santai, tetapi menenangkan.


"Gak papa ninggalin istri sama anak lo? Entar kabur lagi." Daniel berkata dengan serius. Mengingat Lucas tidak menjauh sama sekali dari Freya sejak kepulangan wanita itu.


"Ada bokap. Sebelum pergi, tadi mereka lagi ngobrol di ruang tengah."


Lucas menjawab seadanya. Jari panjangnya sibuk memutar-mutar gelas kosong di depannya. Pandangannya fokus menatap benda tersebut seolah sesuatu akan terjadi di sana.


"Jadi, kali ini kenapa? Terakhir gue liat lo stres gini sebelum ketemu Freya. Lo ditolak?"


Daniel bertanya lagi, tapi Lucas diam. Tidak memberi respon.


Melihat pikiran temannya sedang tidak bersamanya, Daniel menghela napas. Dia melihat jam tangan. Sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


"Gue sibuk. Mau ketemu klien. Lo pulang atau di sini?" tanya Daniel.


"Di sini."


"Oke. Jangan minum. Gak ada yang mau ngurus lo. Temen-temen gue lagi gak ada di sini."


"Ya."

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa Lucas benar-benar bisa dia tinggal, Daniel pun berjalan keluar dari bar.


Sepeninggal Daniel, Lucas duduk termenung. Memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dia pusingkan.


Tidak lama setelah Daniel pergi, seorang pria duduk di sampingnya. Lucas tidak peduli, tapi pria di sampingnya tiba-tiba bertanya padanya.


"Maaf, boleh saya tau nama Anda?"


Lucas mengerutkan kening. Tiba-tiba ada orang asing yang bertanya padanya itu sebuah keanehan, tapi dia tetap menjawabnya.


"Lucas."


"Lucas Vermilion?"


"Ya."


Tiba-tiba saja pria itu tertawa.


"Ini gue. Aizi. Masih inget gak?"


Lucas lama memperhatikan wajah orang di depannya, sebelum dia terkejut. "Aizi? Lo beneran Aizi?" Seketika raut tidak ramah itu menghilang.


"Iya. Udah lama, tapi muka lo gak banyak berubah. Ya, makin tegas, sih. Cuma mata lo itu gak berubah sama sekali. Masih tajam kalo natap orang lain." Mereka saling menepuk lengan masing-masing.


"Kapan lo balik?" tanya Lucas.


"Jadi, lo bakal netap di Indo?"


"Iya. Senang gak lo ketemu sahabat lama? Hahaha." Aizi tertawa lebar, sementara Lucas mendengus geli.


"Huh. Ya, gue akui. Orang kayak lo gak banyak."


"Eum. Makasih. Haha."


Kemudian, Aizi memesan minuman. Selagi menunggu, mereka kembali melanjutkan obrolan.


"Lo gak minum?" tanya Aizi.


"Gak. Gue gak bisa mabuk."


"Kenapa? Gue tebak, tingkah lo bakal aneh kalo mabuk."


"Gitulah."


Aizi tersenyum tipis. "Sifat lama yang ilang itu, munculkan?"


Lucas diam. Aizi melanjutkan perkataannya. "Sejak kita sama-sama lulus SMA, kita udah gak komunikasi lagi. Gue gak tau apa yang terjadi sama lo setelah itu, tapi keliatan dari penampilan lo sekarang kayaknya makin parah. Apa ada masalah dengan Freya?"

__ADS_1


Tebakan Aizi selalu benar. Mereka telah berteman sejak awal masuk sekolah dasar. Namun, beberapa tahun kemudian, Aizi harus pindah ke luar negeri karena pekerjaan orangtuanya. Mereka berpisah, tetapi masih saling menghubungi. Komunikasi mereka terputus setelah keduanya mulai berkuliah dan sama-sama sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk bertukar kabar.


Lucas sangat mempercayai Aizi. Baginya, Aizi adalah pria yang baik dan memahami dirinya. Tanpa perlu dia beritahu, Aizi bisa menebaknya. Ketika dia berada dalam suatu masalah, Aizi akan membantunya mencari jalan keluar.


Termasuk permasalahannya dengan Freya.


"Gue gak tau kenapa Freya berpikir gue nikahin dia karena janji. Semua hal yang gue lakukan itu untuk dia. Karena gue gak mau dia ninggalin gue. Kalo gue terlalu nunjukkin, gue takut bakalan kayak bokap. Beberapa pasangan yang gue liat pas masih di kampus juga gitu. Di kantor juga sama. Wanita cepat bosan dengan pria yang terlalu menunjukkan cintanya. Freya pasti juga bakal kayak gitu kalo gue berlebihan."


Lucas mulai menjelaskan semuanya. Tentang pernikahannya dengan Freya, ketika istrinya pergi enam tahun yang lalu, dan semua hal yang terjadi hingga hari ini.


"Dia pergi dari rumah karena gue gak jawab pertanyaan dia."


"Apa?" tanya Aizi.


"Dia tanya, apa gue cinta sama dia? Apa gue punya rasa ke dia selama ini? Zi, apa kurang jelas tindakan gue? Apa gue harus berlebihan biar dia paham?"


"Apa jawaban lo waktu dia tanya gitu?"


"Gue gak jawab."


"Kenapa?"


"Sebelum orangtua gue cerai, bokap gue bilang ke nyokap kalo dia cinta dan gak mau berakhir gitu aja. Lo tau apa? Bokap gue udah nunjukkin dengan tindakan pun, nyokap gue gak peduli. Detik itu juga nyokap minta cerai. Gunanya apa bokap bilang cinta dengan lantang? Hasilnya sama aja."


"Jadi, lo berpikir, kalo lo bilang cinta ke Freya, dia bakal kayak nyokap lo?"


Lucas diam, lalu mengangguk.


"Bro. Gue tau lo takut dan saat itu pikiran lo lagi kacau. Banyak tekanan yang lo dapetin di hari itu. Wajar ketakutan itu muncul."


Aizi memutar posisi duduknya menghadap Lucas sepenuhnya. Raut wajahnya menunjukkan keseriusan. Dia melanjutkan, "Tapi, gak semua wanita kayak yang lo pikirin. Freya nanya itu mungkin untuk meluruskan kesalahpahaman yang ada di diri dia. Lo minta dia percaya sama lo. Kalo ada sesuatu, langsung tanya ke elo. Nah, waktu dia ngelakuin itu, kenapa lo gak dengar dulu? Mungkin ada sesuatu yang buat dia resah dan akhirnya nanya tentang itu."


Sementara Aizi berbicara, Lucas hanya diam dan mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Aizi.


"Ini tentang perasaan seseorang. Gue kenal Freya dari lama dan gue yakin dia bukan wanita yang mudah bosan. Lo yang paling dekat dengan Freya. Harusnya lo yang paling tau kalo dia tulus sama lo. Waktu sifat lo berubah, apa dia juga berubah? Dia tetap sama dan berusaha untuk buat lo nyaman."


"Tapi gimana kalo dia berubah? Manusia itu pola pikirnya gak bisa ditebak. Hari ini baik, besok enggak."


"Iya. Gue tau, tapi gak semua hal berubah. Sifat dasar sulit diubah. Sama kayak lo yang aslinya ceria. Ketika lo berada di situasi yang membuat lo nyaman, sifat itu kembali. Gitu juga Freya. Gue saranin lo untuk bicara sama Freya. Selesain masalah kalian sampai tuntas. Setelah itu, belajar saling memahami."


Lucas mencerna hal itu. Namun, air mukanya tidak bisa bohong. Dia masih merasa ragu.


Tak terasa minuman yang dipesan Aizi telah tiba sejak tadi. Pria itu mengambil gelas tersebut dan menyesapnya sedikit.


Keheningan diantara mereka tiba-tiba pecah karena perkataan Lucas.


"Zi. Tolong bantu gue."

__ADS_1


Sementara itu, Aizi mengerutkan keningnya.


__ADS_2