Cold Love

Cold Love
Bab 18. Cara Yang Berbeda


__ADS_3

"Kamu bilang apa lagi ke Papa?"


Di depan pintu kamar Freya, Lucas tidak membiarkan Freya masuk sebelum menjelaskan apa yang dikatakan oleh Bryan sebelumnya.


Freya sudah menduga ini. Lucas akan bertanya lagi padanya. Freya tidak menyangka jika Bryan akan mengatakan tentang pembatalan perjodohan pada Lucas.


Freya tidak tahu alasannya, tapi sekarang Lucas terlihat marah.


"Enggak ada."


Lucas menyipitkan matanya. "Kenapa kamu mikir aku lupa dengan perjodohan itu?"


Freya diam karena memikirkan jawaban yang tepat agar amarah Lucas tidak semakin meningkat.


Lama dia diam, akhirnya Freya menjawab, "Karena kamu gak bicara apa-apa tentang itu. Jadi, aku kira kamu—"


"Aku gak bicara bukan berarti aku lupa."


Lucas berbicara dengan tegas. Freya mengangkat kepalanya yang tertunduk.


Lucas menambahkan lagi. "Kalo bukan aku sendiri yang bilang, jangan ngasal ambil kesimpulan."


Freya tahu dirinya bersalah karena sudah asal bicara tanpa tahu apa yang Lucas pikirkan. Jadi, dia hanya diam dan tidak membela diri.


Lucas membuang napasnya. Lalu dia turun kembali untuk menemui Bryan di ruang kerjanya. Ayahnya itu ingin membicarakan sesuatu mengenai pernikahan dirinya dan Freya. Mungkin apa yang ingin Bryan sampaikan adalah hal yang tidak boleh diketahui oleh Freya, mengingat Bryan ingin membicarakan hal ini empat mata dengan Lucas.


"Jadi, sebelum kita bahas lebih lanjut. Papa mau tanya ke kamu."


Lucas menarik kursi di depan meja kerja ayahnya. Kemudian dia mendudukkan dirinya di sana.


"Apa?"


Bryan melepaskan kacamata dari wajahnya. Meletakkannya di atas meja. Kemudian, dia melihat Lucas dengan serius.


"Kamu serius sama Freya?"


"Serius."


Bryan sedikit terkejut. Lucas menjawabnya tanpa pikir panjang. Pria itu bertanya lagi. "Kamu yakin?"


"Ya."


Bryan memalingkan wajahnya. Bibir bawahnya maju sedikit, tampak berpikir. Kakinya bergoyang di bawah meja.


Bryan tahu anaknya ini sangat serius, bahkan sejak dia masih kecil. Namun, sejak perceraian Bryan dan Mia, sifat Lucas berubah drastis. Dengan Freya pun dia menjadi acuh tak acuh. Tidak seperti dulu yang selalu peduli pada Freya.


Maka itu, Bryan mengira perasaan ingin melindungi milik Lucas telah hilang. Sikapnya itu disebabkan karena dirinya yang sudah mulai beranjak remaja. Akan tetapi, di depannya sekarang, Lucas terlihat seperti dirinya ketika kecil.


Saat di mana Lucas berkata jika dia akan menjaga Freya. Anak itu mengatakannya dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Sama seperti sekarang. Lucas menjawab dengan yakin. Bedanya ialah, Lucas kecil mengatakannya dengan wajah riang dan cerah, sementara Lucas yang sekarang mengatakannya dengan wajah datar dan kaku.


Bryan menyandarkan tubuhnya pada badan kursi. Dia berkata, "Oke. Papa percaya kamu bisa jaga Freya. Kalo kamu mau nikah setelah lulus SMA, Papa mau kamu kuliah di luar negeri. Ambil jurusan bisnis."


Lucas langsung menolak. "Bisnis bisa, tapi aku kuliah di mana Freya kuliah."


"Gampang. Freya ikut kamu kuliah di luar negeri."


Lucas kembali menolak. "Jangan atur Freya."


"Kenapa? Toh, Papa yakin Freya gak bakal nolak."


"Ya. Karena dia penurut. Jadi, biarin dia milih sendiri."


"Hah ... kamu ini." Bryan menghela napasnya. Mendorong dirinya sedikit ke belakang.


Lucas menambahkan, "Atur aja aku, tapi jangan Freya. Apa aja boleh selama aku bisa ikut ke mana Freya pergi."


Bryan melirik anaknya. Memandang muka anaknya yang penuh dengan kesungguhan. Pada akhirnya, pria itu menyerah memaksakan kehendaknya.


"Oke, oke. Nanti Papa tanya Freya mau kuliah di mana."


"Biar aku tanya."


Ah, Bryan mengerti sekarang.


Putranya ini memang berubah, tapi di saat yang bersamaan ... dia masih sama, bahkan jauh lebih meningkat daripada yang lalu.


Lucas mengangguk ringan.


Bryan melanjutkan, "Seluruh aset kekayaan Zehan diberikan pada Freya. Karena Papa walinya. Jadi, untuk sementara Papa yang kelola. Awalnya, Papa mau Freya juga ambil jurusan bisnis, tapi kamu bilang jangan ngatur Freya. Yah, Papa juga gak mau maksa Freya."


Lucas diam mendengarkan. Tidak memotong ataupun memberi tanggapan.


"Kalo kamu nikah sama Freya, kamu bisa bantu dia kelola semua itu. Papa mau kamu tunjukin ke semua orang kalo kamu bisa dan pantas. Jangan sampai kamu kayak Papa dulu. Ditipu, dibohongi, dikhianati ... Papa gak mau kamu ngalamin itu juga. Jadi, Papa serahin ke kamu. Belajar dengan giat. Jaga Freya juga dengan baik. Kamu harus bisa memberi apa yang Freya butuhkan nanti. Jangan sampai dia terluka karena kamu."


Pandangan Lucas menunduk. Selagi ayahnya memberi nasihat, di kepalanya pun terputar memori-memori lama.


Jangan sampai dia terluka karena kamu.


Kalimat ayahnya masih terngiang, bahkan setelah dia masuk ke kamarnya.


Ya. Lucas tidak akan membuat Freya terluka karenanya. Tidak akan membiarkan Freya bosan dengannya. Tidak akan membiarkan Freya memalingkan wajahnya dan melihat orang lain selain dirinya.


Selama apapun itu, Lucas tidak akan pernah melepaskan Freya. Dia akan menjaganya, melindunginya ... tapi dengan cara yang berbeda.


...***...


Jam istirahat kedua, seperti biasa Freya menyapu di bawah pohon dekat lapangan basket. Hari ini, daun yang berjatuhan lebih banyak karena kemarin, Freya tidak menyapu. Acara pentas seni membuatnya sibuk dan tidak memiliki waktu untuk memegang sapu.

__ADS_1


"Freya!"


Di belakangnya, Freya mendengar suara Jeremy memanggilnya. Ingatan tentang semalam pun terputar kembali. Dia mengabaikan panggilan Jeremy dan sibuk dengan daun-daun di bawah.


Karena Freya tidak menjawab panggilannya, Jeremy pun segera berlari menghampiri Freya. Dia menarik bahu gadis itu agar melihat dirinya.


Dahi Freya mengerut ketika Jeremy menyentuh bahunya. Dia berkata dengan ketus.


"Kenapa?"


Jeremy mendadak bingung. Baru kali ini Freya terlihat seperti membenci keberadaannya. Lelaki itu pun bertanya, "Freya, kamu marah?"


"Ya."


Freya bukan orang yang berpura-pura tidak merasakan emosi apapun. Jika seseorang bertanya padanya, maka dia akan menjawab apa yang dia rasakan dengan jujur. Kecuali dalam keadaan tertentu, seperti agar orang yang bertanya tidak khawatir. Freya akan berbohong mengenai apa yang dirasakannya.


"Kenapa? Apa karena aku cium pipi kamu semalam?"


Freya tidak menjawab, dia membuang mukanya ke arah lain.


Jeremy tertawa kecil. "Karena itu? Freya, itu cuma cium pipi. Bukan bibir 'kan? Kayak kamu gak pernah diapa-apain sama pacarmu dulu."


Jeremy berbicara dengan santai. Seolah apa yang dia katakan adalah hal yang bisa diucapkan begitu saja.


Plak!


Satu tamparan keras mengenai pipi Jeremy. Akhirnya, keinginan Freya yang tertunda semalam bisa dia kabulkan sekarang.


Jeremy melihat Freya dengan mata yang membesar. Tangan kanannya secara otomatis memegang bekas tamparan Freya.


"Berani lo tampar gue?"


Freya tertawa dalam hatinya. Sifat asli Jeremy keluar hanya karena satu kali tamparan.


"Jeremy, aku gak berharap kamu bener-bener jadi orang brengsek kayak apa yang orang bilang. Aku coba percaya dan biarin kamu jadi temen aku. Percaya atau gak, itu terserah kamu. Aku gak punya pacar dan aku gak suka disentuh."


Setelah mengatakan kekesalan yang menyangkut di hatinya, Freya meletakkan sapu lidi tersebut di sisi batang pohon. Kemudian dia pergi melewati Jeremy.


Akan tetapi, lelaki itu tidak tinggal diam. Dia berbalik dan menarik lengan kiri Freya sedikit ke atas sampai membuat lengan kardigan Freya turun.


Mata Jeremy menangkap jari tangan kiri Freya yang tidak lengkap. Dia membeku sejenak. Secara perlahan melihat ke arah Freya.


"Jadi, rumor lo yang cacat itu bener?"


Dada Freya naik turun. Dia membuang wajahnya ke samping. Menarik-narik tangannya dari genggaman Jeremy.


Jeremy tidak melepaskan tangan Freya dan semakin mencengkeramnya dengan kuat.


Ekspresi penuh kehinaan keluar dari raut wajahnya. "Brengsek. Selama ini gue deketin cewek cacat? Haha. Bangsat. Pantesan gak ada yang deketin lo selama ini. Liat secara langsung aja udah geli banget gue. Wajah lo menarik, tapi sayangnya gak lengkap."

__ADS_1


Jeremy melepaskan tangan Freya dan pergi begitu saja. Membiarkan Freya menahan sakit hati sendirian di sana.


__ADS_2