
Lucas semakin menggila.
Satu jam berlalu dan dia belum menemukan kedua orang itu sama sekali. Di lampu merah, Lucas memukul stir dengan kuat.
Dia ingin berteriak sekencang mungkin. Dalam hujan seperti ini, Lucas yakin tidak akan ada yang mendengarnya. Namun, dia juga tahu bahwa tindakan itu tidak akan membantunya menemukan Freya dan Syakia.
Lucas menginjak pedal gas ketika lampu berubah menjadi hijau. Dia masih belum menyerah mengelilingi kota Jakarta sampai akhirnya dia menemukan bayangan dua orang yang dia cari.
Dengan segera Lucas berbelok ke halte yang sepi tersebut. Tanpa peduli dengan bajunya yang basah, Lucas berlari menuju keduanya. Memeluk erat Freya sambil berbicara dengan keras di telinganya agar wanita itu mendengar suaranya di tengah derasnya hujan.
"Kamu kemana! Kenapa gak bilang ke aku? Aku telpon, hp kamu gak aktif. Kamu bilang kamu percaya sama aku, tapi kenapa kamu mau pergi lagi? Bukannya aku udah jelasin? Apa aku salah pas jelasinnya? Apa aku gak bisa buat kamu paham?"
Freya tidak tahu apa yang terjadi. Dia berusaha melepaskan pelukan tersebut, tapi Lucas menahannya.
"Jangan lepasin. Aku takut kamu pergi kalo lepas." Mendadak suara teriakan itu berubah menjadi serak. Lucas semakin mengeratkan pelukannya. Dia berbisik di telinga Freya.
"Aku cinta kamu. Tolong, jangan pergi lagi. Jangan tinggalin aku."
Suara Lucas tidak jauh beda dengan rengekan anak kecil yang tidak mau ditinggal oleh ibunya. Pria itu terdengar gelisah, cemas, dan ketakutan.
"Aku cinta kamu. Dari dulu ... sampai detik ini masih sama."
Akhirnya, kalimat yang sangat ingin didengar oleh Freya diucapkan. Sebuah kalimat yang bisa mengembalikan semua kepercayaan Freya.
Kesakitan yang selama ini dia rasakan, secara perlahan menguap seiring dengan pelukan hangat Lucas yang semakin mengerat.
...***...
"Jadi, kenapa kamu bisa di halte itu? Setau aku arahnya gak ke rumah kita."
Di kamar Freya, mereka berdua duduk bersandar di kepala ranjang. Setelah melewati sedikit kesalahpahaman dan pulang dalam keadaan hujan, mereka buru-buru membersihkan diri agar tidak sakit di keesokan harinya.
Freya mulai menjelaskan pada Lucas bahwa setelah pria itu pergi, Freya mendapatkan kiriman paket dari seseorang. Isinya adalah bukti tentang kehamilan Aurora. Karena saat itu Freya berpikir bahwa Lucas tidak mencintainya, jadi dia merasa sedih dan tidak fokus melakukan apa pun. Walaupun, Lucas memintanya untuk percaya, tapi kenangan masa lalu masih menghantuinya.
Kemudian, Syakia datang dan mengajaknya pergi ke taman bunga. Saat pulang, Syakia ingin naik bus. Namun, dirinya malah tersasar karena ketiduran sehingga bis membawanya ke daerah yang tidak dia ketahui. Lalu, hujan pun turun membuat dirinya dan Syakia terjebak di halte.
"Hp aku juga mati. Jadi, gak masuk telpon kamu."
Lucas menghela napas lega mendengar penjelasan Freya. Dia bersyukur bahwa wanita itu bukan pergi meninggalkannya seperti dulu.
Lalu, pria itu meraih tangan Freya. Mengusapnya dengan lembut. "Maafin aku. Semua kesalahan aku ke kamu ... aku mohon kasih aku kesempatan buat nebus itu."
Mata mereka saling bertatapan. Freya pun membalas, "Sebelum itu, ada hal-hal di masa lalu yang harus kita luruskan."
Lucas memasang wajah tegang. "Apa?"
__ADS_1
"Jawab jujur."
"Iya."
Freya menarik napasnya sebelum mulai bertanya. "Dulu, kenapa kamu mau foto bareng Aurora? Padahal kamu gak suka difoto. Pas aku ajak juga kamu malah marah."
Lucas mengerutkan keningnya. "Aku marah?" Freya mengangguk dengan bibir berkerut. "Iya. Kamu malah gak suka kalo aku udah bahas Aurora. Apalagi pas rumor kalian pacaran itu menyebar."
"Oh, itu ...." Lucas menggantungkan kalimatnya, dia berpikir sejenak.
"Jawab dengan jujur kalo kamu mau aku kasih kesempatan."
Lucas menelan ludahnya. Yah, sudah waktunya dia mengaku dan mencoba mengikuti saran teman lamanya.
"Aku malu."
"Malu?"
"Iya. Kalo foto bareng orang lain aku biasa aja, tapi kalo sama kamu aku malu."
Freya tidak memahami hal itu. Dia bertanya dengan jelas. "Maksudnya grogi?"
Lucas membuang pandangannya. "Iya."
Freya ingin tertawa, tapi dia menahannya karena masih ada yang harus dia tanyakan lagi.
Lucas kembali melihat Freya. Ibunya itu memang suka membuat istrinya salah paham. Dia memegang lembut tangan Freya.
"Bener, tapi bukan karena aku mau ambil alih warisan papa kamu."
"Jadi?"
"Aku gak mau kamu capek ngurus hal-hal rumit kayak gitu. Jadi, biar lebih mudah aku harus pindah kepemilikan dulu. Kalo semua udah membaik, aku balikin lagi ke kamu." Lucas juga menjelaskan apa saja yang dia lakukan selama ini, tentang rencana balas dendamnya dan bagaimana hal itu berakhir.
Freya berpikir sebelum menjawab, "FA Ventures itu?" Lucas mengangguk.
Jadi, selama beberapa tahun ini dia salah paham? Mengira Lucas ingin mengambil hartanya. Padahal pria itu memiliki niat yang baik padanya.
"Kenapa kamu gak bilang?"
"Karena aku gak mau kamu tau."
"Kenapa?"
Lucas tersenyum tipis sambil mengusap kepala Freya. "Aku yakin kamu bakal halangi aku. Kamu maunya ngurus sendiri. Iya 'kan?"
__ADS_1
"Iya juga, sih."
"Makanya aku diam-diam."
"Tapi aku kan jadi salah paham."
"Ya, siapa suruh gak mau percaya sama aku?"
Mata Freya tiba-tiba membesar. Tanpa sadar dia menanyakan hal yang sangat ingin dia tanyakan pada Lucas.
"Gimana aku percaya kalo kamu aja bilang gak ada apa-apa sama Aurora, tapi aku lihat kalian ciuman di pinggir kolam waktu pesta di tempat dia. Kamu juga gak jawab waktu aku tanya tentang perasaan kamu ke aku."
Keduanya sama-sama terdiam dan Freya baru menyadari bahwa dia bertanya dengan suara yang tinggi. Freya menoleh ke samping di mana Syakia tertidur. Anak perempuan itu sedikit menggeliat, telinganya sudah mampu menangkap suara-suara di sekitarnya walaupun belum sempurna.
"Maaf," kata Freya merasa bersalah karena sudah berteriak pada Lucas.
Dia mengira pria itu akan marah, tapi nyatanya, Lucas malah tersenyum. Dari raut wajahnya, terlihat penyesalan yang sangat besar terukir di sana.
"Maaf. Aku gak tau kalo kamu liat kejadian itu. Aku mau jelasin waktu itu kami gak ciuman. Aku ngehindar dan kena di sudut bibir, tapi aku langsung dorong dia dan nolak juga." Lucas menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Dan alasan kenapa aku gak jawab karena aku takut. Kalo aku bilang perasaan aku dengan lantang, kamu bakal ninggalin aku kayak Mama ke Papa."
"Ha? Kenapa kamu mikir gitu?"
"Gak tau. Aku cuma ... takut aja." Lucas memandang mata Freya sendu. "Dari semua hal di dunia ini, aku paling takut kehilangan kamu. Sekecil apa pun itu, aku bakal tetap menghindari hal-hal yang memicu perpisahan kita, tapi aku gak nyangka kalo ketakutan aku itu yang buat kita pisah. Maaf Freya, aku bener-bener minta maaf udah bikin hidup kamu kesulitan."
Freya terdiam. Lucas menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. Melihat itu, Freya bergegas menarik Lucas ke dalam pelukannya. Dia mulai menangis.
"Maaf, Lucas. Harusnya waktu itu aku dengerin kamu baik-baik. Nunggu waktu yang pas dan gak maksa kamu."
Lucas menggeleng. "Gak. Aku yang bodoh. Takut gak jelas dan malah bikin semuanya rusak. Maaf, Freya. Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi."
Pelukan mereka terlepas. Lucas menghapus air mata Freya. "Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Bukan cuma karena janji aku ke orangtua kamu. Jadi, tolong percaya sama aku sekali lagi."
Freya mengangguk dengan senyuman bahagia. Lalu, Lucas mengambil tangan kiri Freya dan mengecupnya.
"Eh, jangan!"
"Kenapa?" Freya hendak menarik tangannya, tapi pria itu menahannya dan mengecupnya lagi.
"Lucas, kamu gak geli apa?"
Lucas mendongak. "Geli kenapa?"
"Itu ... jari aku ...."
Lucas tersenyum. Dia mengecup jari tangan Freya dan kemudian bibirnya. "Lucas suka semua hal tentang Freya. Karena bagi Lucas, Freya itu sempurna."
__ADS_1
Dengan malu-malu dan pipi yang bersemu, Freya memeluk suaminya yang akhirnya kembali setelah sekian lama dia menanti.