Cold Love

Cold Love
Bab 44. Mengakui Hubungan


__ADS_3

Lucas dan Freya tiba di kampus setengah jam sebelum kelas Freya dimulai. Lucas membawa mobilnya masuk ke dalam pekarangan kampus. Memarkirkannya di tempat biasa dia meninggalkan mobilnya untuk sementara.


"Lucas, kamu gak balik ke kantor?"


Di sampingnya, Freya menoleh ke arah Lucas untuk bertanya karena dia melihat Lucas tidak menurunkan dirinya di depan gedung, melainkan ikut masuk ke dalamnya.


"Aku mau ketemu dosen bentar."


Lucas menjawab sambil mematikan mesin mobilnya. Setelah itu, mereka berdua sama-sama keluar dan tanpa sengaja bertemu dengan Aurora yang baru saja membuka pintu mobilnya.


Lucas menyadari kehadiran Aurora yang memarkirkan mobilnya di ujung sana. Dia tahu jika Aurora akan menyapa ketika mereka tidak sengaja berjumpa. Oleh karena itu, dia bergegas menyuruh Freya untuk keluar dan segera pergi. Akan tetapi, mata Aurora lebih cepat dan tajam dibandingkan dengan dirinya. Wanita itu berteriak memanggil nama Lucas sambil melambaikan tangannya. Angin yang lewat dari arah timur menerbangkan rambut Aurora, membuat wajahnya yang elok tampak seperti model majalah.


Freya memutar setengah badannya ketika mendengar suara seorang wanita memanggil Lucas. Begitu dia berbalik, dia mendapati Aurora mengayunkan tangannya ke kiri dan ke kanan. Kemudian, wanita itu berjalan menghampiri mereka setelah menurunkan tangannya.


"Lo, kok di kampus? Bukannya kita gak sekelas hari ini?"


Freya telah sepenuhnya berbalik. Dia berdiri di depan Aurora, tetapi wanita itu tidak melihat ke arahnya sama sekali dan langsung bertanya pada Lucas. Freya mendongakkan kepalanya, melihat Lucas yang berdiri tepat di belakangnya.


"Ada urusan."


Lucas memberi balasan singkat. Dia hendak berbalik pergi, tapi sepertinya Aurora masih memiliki pertanyaan jika dilihat dari raut wajahnya.


"Oh, ya, Lucas. Gimana kemarin? Lancar?"


Pandangan Freya berganti. Dari Lucas menjadi Aurora. Ada garis kebingungan yang muncul di roman mukanya. Sementara itu, Lucas kembali menjawab dengan satu kata.


"Lancar."


"Om Bryan juga ada kemarin?"


"Ada."


"Baguslah. Mr. Davis maunya jumpa sama Om Bryan langsung. Agak ribet juga karena gak mau diwakilin siapa pun."


Lucas dan Aurora saling bertukar kata. Mengabaikan keberadaan Freya yang berdiri di tengah-tengah mereka. Freya tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena itu semua mengenai bisnis. Yang dia tangkap dari pembahasan keduanya ialah Aurora tahu apa yang dilakukan Lucas kemarin. Sekarang dia merasa sedikit cemburu, tetapi berpikir kembali bahwa keduanya adalah rekan bisnis . . . wajar saja jika Aurora tahu.


Kemudian, dia melihat jam tangannya. Takut jika dirinya terlambat, Freya ingin menyela pembicaraan mereka, tetapi kembali lagi . . . dia merasa tidak enak untuk memotong pembahasan keduanya.

__ADS_1


"Nanti kita bicarain lagi, Freya mau masuk kelas." Seolah mengetahui kegelisahannya, Lucas menghentikan obrolannya bersama Aurora.


"Freya?" Kedua alis Aurora terangkat. Dia akhirnya melihat ke arah Freya setelah sekian lama mereka saling berhadapan.


"Temen kamu?" tanyanya lagi sambil kembali melihat Lucas.


Freya melirik Lucas yang ada di belakangnya. Dia mengira Lucas akan mengangguk, tetapi dia mendapati gelengan di kepala Lucas. 


"Istri gue."


"Ha?"


Aurora mengernyitkan dahinya. Mulutnya sedikit terbuka, mengeluarkan kata tanya yang menunjukkan jika dia tengah kebingungan. Bukan hanya Aurora, tetapi Freya juga memiliki respons yang sama seperti Aurora. Diakui seperti ini di depan orang yang telah membuat dia cemburu beberapa hari belakangan ini . . . rasanya agak memuaskan. Diam-diam sudut bibir Freya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis.


"Istri?" tanyanya lagi untuk memastikan kesalahan pada pendengarannya.


Lucas mengangguk. "Iya. Kami pergi dulu."


Tanpa ingin menunggu lebih lama lagi, Lucas berbalik dan langsung pergi. Menghindari segudang pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Aurora saat otaknya telah lancar mencerna jawaban Lucas.


Mereka berdua berpisah di depan lift. Freya harus naik ke lantai tiga, sedangkan Lucas tidak perlu menaiki lift karena ruangan dosen berada di lantai satu.


Sepeninggal Lucas, Freya kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Sejujurnya, Freya tidak menyangka jika Lucas akan secara terang-terangan menyebutnya sebagai istri di depan Aurora. Dia berpikir Lucas tidak nyaman jika orang lain mengetahui tentang hubungan mereka. Apa ini berarti . . . dia juga boleh mengatakannya pada orang lain? Terutama pada teman baiknya yang tiba-tiba muncul dan mengagetkannya.


"Hayo! Mikir apa? Masih pagi udah senyum-senyum sendiri."


Freya sedang berjalan menuju kelasnya. Dia sadar jika dirinya tersenyum sepanjang jalan, tetapi dia berusaha menunduk agar orang lain tidak memperhatikan. Akan tetapi, tetap saja untuk orang seperti Aya, dia tidak bisa menyembunyikannya.


Aya meletakkan lengannya di atas tengkuk Freya. Menariknya pelan menuju kelas sambil menggodanya.


"Kamu udah baikan, ya sama pacarmu?"


Alis wanita itu bergoyang-goyang. Naik turun mencoba mengganggunya. Wajahnya terlihat menyebalkan sekarang. Aura manis yang dilihat oleh Freya ketika pertama kali bertemu Aya sudah menghilang, diganti dengan aura usil dan menjengkelkan.


Freya menghilangkan senyumannya. Membuang muka ke arah lain sambil mengangguk.


"Nah! Aku bilang juga apa. Cara yang aku kasih berhasil 'kan?"

__ADS_1


"Iya, berhasil."


Sangat malahan. Namun, itu hanya dia katakan dalam hati, tidak bisa mengatakannya secara langsung pada Aya. Wanita ini akan semakin bertanya sehingga Freya akan tanpa sengaja menyebutkan nama Lucas.


Untuk saat ini, dia tidak akan memberitahukan tentang hubungan antara dia dan Lucas pada Aya. Freya belum ingin melihat reaksi yang akan dikeluarkan oleh Aya. Dia melihat ke samping, di mana Aya masih tersenyum bangga karena saran yang dia berikan pada Freya benar-benar berhasil.


Freya mendengus sambil tertawa kecil. Biarlah untuk sekarang ini Aya menganggap dirinya memiliki pacar. Dia akan memberitahunya nanti di waktu yang tepat.


...***...


"Kamu gila, ya, nyuruh mereka cerai?"


Di dalam ruang kerja, terjadi perdebatan antara Bryan dan Mia. Pagi itu, tak lama setelah Freya dan Lucas pergi, Mia datang menemuinya dengan wajah kusut, seperti dia habis melihat sesuatu yang tidak disukainya.


Awalnya, Bryan mengira tujuan Mia menemui dirinya adalah untuk membahas pekerjaan. Karena sebelumnya, Bryan memutuskan kontrak kerja sama dengan suami baru Mia atas dasar permintaan dari Lucas. Lalu, Mia berusaha untuk membujuk Bryan agar mereka bisa bekerja sama lagi, bahkan Mia menawarkan sebuah keuntungan besar jika kedua perusahaan itu melanjutkan kontraknya. Bryan tidak tahu apa tujuan Mia melakukan itu, tetapi dia tetap menolaknya karena tidak ingin Lucas merasa tidak nyaman.


Namun, ternyata Mia datang bukan untuk membahas pekerjaan. Melainkan tentang hubungan antara Freya dan Lucas. Wanita itu tidak terima dengan pernikahan keduanya dan memaksa Bryan untuk menyuruh Lucas menceraikan Freya.


"Aku gak setuju mereka menikah. Kenapa kamu gak tanya aku dulu? Aku ibu kandungnya, masa aku gak tahu apa pun tentang itu?"


Mia berkata dengan amarah yang menggebu-gebu. Warna mukanya yang merah sudah hampir sama seperti pakaian yang dia kenakan.


Bryan menutup dokumen yang tengah dia periksa. Dia mendongak untuk melihat Mia yang berdiri di seberang mejanya.


"Lucas yang gak mau aku bilang ke kamu. Ini pernikahan mereka, kenapa kamu yang gak suka? Gak ada yang salah dengan Freya sampe kamu harus marah kayak gini."


"Ada. Dia cacat. Gimana kalo cucu aku kayak dia juga?"


Mendengar hinaan yang keluar dari mulut Mia, Bryan sepenuhnya menaruh perhatian pada mantan istrinya itu. Meninggalkan tugasnya sejenak untuk berdebat dengan Mia.


"Jaga kata-kata kamu. Dia kayak gitu bukan karena faktor keturunan, tapi ada kesalahan ketika Ghia ngandung Freya. Kalo itu yang kamu takutkan, ya gak perlu kamu liat."


"Lho? Dia cucu aku, masa gak aku liat? Aneh kamu. Pokoknya aku mau mereka cerai. Kamu harus bilang itu ke Lucas."


Bryan membuang mukanya ke samping sambil mendengus. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar setelah berkata, "Kamu aja yang bilang sendiri ke dia."


Mia menggeram melihat Bryan yang sama sekali tidak ingin membantunya atau berada di pihak yang sama. Anak dan ayah sama saja, sulit untuk diajak kerja sama. Mia menggertakkan giginya, menatap ke sekitar ruangan Bryan sampai dia tidak sengaja melihat satu map yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


__ADS_2