
"Lucas! Berhenti, woi!"
Daniel merasa kepalanya akan pecah karena kelakuan Lucas yang di luar perkiraannya. Orang itu terus minum sampai akalnya hilang, bahkan dia pergi ke meja bartender untuk meminta minuman lagi. Kemeja hijau tuanya sudah kusut karena ditarik oleh Daniel yang mencoba menyeretnya menjauh dari pelanggan lain.
"Temen lo belom pernah minum?" Adri datang dari belakang. Membantu Daniel menahan tangan Lucas yang bersiap mengambil gelas milik orang lain.
Daniel mengedikkan bahunya. "Gak tau. Kayaknya belom pernah."
Daniel membuang kasar napasnya; Adri menepuk-nepuk pelan punggung Lucas. Lelaki itu sudah sepenuhnya jatuh ke dalam alam bawah sadar.
Dari meja mereka duduk tadi, Oscar tertawa kencang melihat Daniel yang kesulitan menyeret Lucas kembali ke tempat mereka. Pria berambut merah itu bangun dan membantu Daniel memegang Lucas yang sudah pingsan.
"Nyesel gue bawa dia ke sini," kata Daniel. Bulir keringat sebesar biji jeruk telah terbentuk di sekitar pelipisnya. Dia kembali mengeluh. "Mana berat lagi ni orang."
Tubuh Daniel dan Lucas memiliki tinggi yang sama, tapi Daniel memiliki otot yang lebih besar. Namun, tetap saja lelaki seperti Lucas ini memiliki tulang yang berat. Dia harus bersusah payah menarik lelaki itu dan melemparkannya ke kursi sofa.
"Hahaha. Duduk dulu. Nih, minum."
Oscar tertawa lagi sebelum duduk di tempatnya kembali. Dia menyodorkan segelas wine pada Daniel dan langsung diterima oleh laki-laki itu. Adri bergabung kembali setelah membereskan kekacauan yang dibuat oleh Lucas.
"Aduh, pusing."
Daniel melirik Lucas di sampingnya dengan ujung mata. Belum selesai dia meminum minumannya, Lucas telah bangun dari pingsannya.
Lucas berusaha untuk duduk dengan benar. Matanya berkedip-kedip, suhu tubuhnya hangat, dan kepalanya terasa pusing. Tangan kanannya terangkat, memijit pelan pangkal hidungnya.
Daniel meletakkan gelas kosong tersebut di atas meja. Dia, Adri, Oscar, bahkan Bima yang sibuk bermain dengan wanita pun menaruh perhatian mereka pada Lucas.
Daniel memukul pelan pundak Lucas. "Lucas? Aman?"
Lucas masih menunduk sambil memijit tulang hidungnya. Tiba-tiba dia mengeluh kesakitan. Namun, suaranya berbeda. Terdengar seperti rengekan anak kecil.
"Aduh! Sakit banget! Kepala aku kena apa, sih?"
Daniel mengerutkan keningnya, lalu dia menatap ke arah Oscar yang juga melihatnya. Kemudian, dia menggeser netranya ke Bima. Bergulir lagi menatap Adri, lalu kembali melihat Lucas.
"Lo kebanyakan minum. Makanya pusing."
Daniel menjawab seadanya sambil mengintip wajah Lucas yang masih tertunduk.
Perlahan pemuda itu mengangkat kelopak matanya, menatap Daniel dengan tajam. Lalu tiba-tiba dia bertanya dengan suara serak. "Lo siapa?"
Daniel dan yang lainnya saling melihat satu sama lain secara bergantian. Kemudian, mereka beralih pada Lucas. Sebelumnya, dia masih memiliki sedikit kesadaran walaupun berakhir dengan mengganggu pelanggan yang lain. Dia hampir mengotori meja bartender dengan muntahannya. Untung saja Daniel cepat tanggap dan langsung membawanya paksa ke toilet.
Setelah itu, dia tiba-tiba jatuh pingsan dan sekarang pikirannya benar-benar menghilang, bahkan dia bertanya nama Daniel yang jelas-jelas adalah teman satu-satunya yang dia miliki di kampus.
"Lo mendadak amnesia apa gimana?"
Daniel tidak menjawab pertanyaan Lucas karena baginya itu adalah hal yang konyol. Dia bertanya balik pada Lucas, tetapi lelaki itu memicingkan matanya.
"Lo Aizi, ya?"
"Ha? Siapa Aizi?"
Tanpa aba-aba, Lucas tiba-tiba mendekat ke arah Daniel dan memegang pipinya. Agak sedikit keras karena terdengar seperti suara tamparan.
Lucas memperhatikan wajah Daniel dari dekat, matanya mengecil seolah-olah dia rabun jauh. Setelah memastikan penglihatannya, Lucas menarik diri dari Daniel. Melepaskan tangannya dari pipi pria itu.
"Beneran Aizi, tapi muka lo udah agak gede, ya."
__ADS_1
Daniel mengerutkan wajahnya, dia menatap ke teman-temannya dan mereka juga memasang raut kebingungan.
"Aizi siapa?" tanya Daniel lagi.
Lucas tidak menjawab. Dia seperti orang linglung sekarang. Kelopak matanya jatuh membuat matanya terlihat sayu. Bola matanya bergerak-gerak tidak menentu, seakan-akan dia tengah mencari sesuatu.
"Aizi ... ." Lucas mulai bersuara setelah lama termenung, "kita temenan dari kelas satu SD. Masa lo . . . lupa?"
Daniel tidak tahu haruskah dia menamparnya dengan kuat atau membiarkannya saja dalam keadaan amnesia seperti itu.
Dalam kondisi mabuk, Lucas tidak mengingat siapa dirinya yang sekarang. Ingatannya kembali mundur ke beberapa tahun yang lalu. Daniel tidak tahu pasti kapan tepatnya, yang jelas itu sebelum mereka kuliah.
"Ah, bodo amat. Iya, gue Aizi. Cepat bangun, gue anterin lo pulang."
Daniel berdiri dari duduknya dan berusaha untuk membangunkan Lucas, tetapi lelaki itu mendorongnya. Dia berkata, "Beliin gue es krim. Rasa stroberi untuk Freya, rasa coklat buat gue."
Kerutan di dahi Daniel semakin terlihat jelas. Dia berdiri tegak dan berkacak pinggang. Satu tangannya menggaruk kuat kepalanya, mendadak dia merasakan tekanan yang luar biasa di kepalanya. Saat mabuk pun yang dia ingat dengan jelas hanyalah Freya.
"Udah. Lo iyain aja apa kata dia. Tuh, anak udah bener-bener gak sadar." Oscar berkata sambil memutar-mutar pelan gelasnya.
Daniel membuang kasar napasnya. Dia melirik Lucas. Lelaki itu mengedipkan matanya berkali-kali dan memukul pelan kepalanya.
"Iya, gue beliin. Kita keluar dulu." Daniel berkata sambil menahan tangan Lucas agar dia berhenti memukul kepalanya sendiri.
Lucas tidak lagi memberontak saat Daniel membawanya keluar dari bar. Setelah berpamitan pada teman-temannya, Daniel memapah Lucas menuju mobilnya.
"Eh, lo ke sini dengan apa?" tanya Daniel.
Lucas kesulitan membuka matanya dengan benar. Tubuhnya lembek dan harus bertumpu pada Daniel agar dia tidak ambruk ke tanah.
Lelaki itu menjawab dengan asal. "Mobil? Kayaknya. Eh? Emang gue ada mobil? Tapi 'kan biasanya gue dianter Pak Aryo?"
"Oh, ya. Pak Aryo udah ikut Mama. Hahaha."
Daniel menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Lucas akan kehilangan pikirannya saat mabuk.
Karena bertanya pada Lucas tidak berguna, dia pun meraba celana Lucas. Mencari kunci mobil jika dia memang pergi dengan kendaraan itu.
Lucas tampak tidak peduli. Dia melihat ke langit dan mengatakan hal-hal acak yang tidak dipahami oleh Daniel.
Setelah menemukan kunci mobil Lucas, Daniel mengambil ponselnya dari saku celana dan menghubungi Adri. Meminta bantuan lelaki itu untuk mengikuti mereka dari belakang dengan membawa mobil Lucas.
Adri keluar begitu mendapatkan telepon dari Daniel.
"Nih, pencet." Daniel melemparkan kunci mobil Lucas pada Adri. Pria itu menekan tombol yang tergantung di kunci, lalu suara yang dicari pun terdengar.
Mereka mulai meninggalkan bar dengan Daniel dan Lucas yang berada di depan, sementara Adri mengikuti dari belakang.
"Woi! Alamat lo di mana?" tanya Daniel sambil menyetir.
Di sebelahnya, Lucas tidak bisa duduk dengan benar. Kakinya, bahkan tertekuk kuat di bawah sana. Dia menoleh ke arah Daniel, berkata dengan datar.
"Beliin gue es krim. Rasa stroberi untuk Freya, rasa coklat untuk gue."
Lucas menyuruhnya. Lebih tepatnya dia tengah memaksa Daniel untuk melakukan apa yang dia katakan.
Meskipun Daniel mengenal Lucas dan sering mengganggunya, dia juga tidak sampai mencari tahu di mana letak rumah Lucas. Sekarang, dia menyesal karena tidak melakukannya. Jika tahu dia akan direpotkan seperti ini, Daniel akan mencari tahu alamat rumah Lucas agar dia bisa mengantarkan lelaki ini dengan selamat sampai ke rumah.
"Iya, nanti gue beliin."
__ADS_1
Lucas memicingkan matanya. "Gak. Sekarang. Cepat."
Daniel meliriknya sekilas sebelum kembali melihat jalanan di depannya. Dia berkata dengan gusar. "Lo bilang dulu alamat rumah lo di mana. Baru gue beliin es krim."
Lucas menolak tanpa jeda. "Gak. Lo beliin es krim, baru gue bilang alamat gue di mana."
"Bang— hah . . . sabar gue punya temen kayak lo. Waktu kecil lo pemaksa banget, ya, gue rasa."
Lucas tidak menjawab. Dia meluruskan kepalanya dan menatap ke depan. Dia menyentuh lehernya yang terasa aneh. Matanya sayup-sayup tertutup, tapi Lucas menahannya. Sebelum es krim yang dia minta sampai di tangannya . . . Lucas tidak akan membiarkan kantuk menghampirinya.
Tak jauh di depan mereka, Daniel melihat supermarket yang masih terbuka. Dia mengeluarkan tangannya melalui jendela, memberi isyarat pada Adri untuk ikut berbelok.
Daniel keluar dari mobil bersamaan dengan Adri. Dia berdiri di depan pintu dan meminta Adri mengawasi Lucas sementara dia pergi membeli es krim.
Di dalam sana, Daniel tidak tahu es krim apa yang diinginkan oleh Lucas. Jadi, dia mengambilnya secara acak asalkan rasanya adalah stroberi dan coklat.
Adri kembali ke mobil Lucas setelah Daniel selesai membeli es krim.
"Nih, makan tuh es krim."
Daniel tidak dapat lagi menahan kekesalannya. Ingatkan dia untuk tidak menyuruh Lucas meminum alkohol lagi. Dia benar-benar tidak sanggup menghadapi Lucas yang kehilangan ingatan dewasanya. Lebih baik dia diabaikan, ditolak, dan ditendang olehnya selama pria itu dalam keadaan sadar.
Lucas melihat plastik yang diberikan Daniel dengan bahagia. Akan tetapi, itu hanya berlangsung sedetik karena Lucas mengetahui jika es krim yang dibeli oleh Lucas bukanlah merk yang biasa dia dan Freya makan.
"Bukan yang ini!" Lucas tiba-tiba merengek lagi seperti anak kecil.
"Lah? Kan lo minta rasa stroberi ama coklat. Ini 'kan?" Daniel membuka lebar plastik tersebut. Mengambil satu es krim dan menunjukkannya pada Lucas.
"Ih! Bukan yang itu!"
"Jadi, yang mana?"
"Satu lagi. Merk Asa! Masa lo gak tau!"
Bagus. Sekarang, Daniel merasa tengah dimarahi oleh anak berusia 10 tahun.
"Lucas, itu merk yang udah langka. Jarang ada yang jual."
"Bodo. Gue gak peduli."
"Si anj—" Daniel sangat ingin berkata kasar, tetapi dia mencoba menahannya demi kebaikan bersama. Mungkin ini adalah balasan yang dia dapatkan karena selalu mengusik Lucas.
Dia menarik napasnya pelan, lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba mendapatkan ketenangan pikiran sebelum menghadapi Lucas yang memiliki ingatan saat dia masih SD.
"Hah . . . gini. Lo bilang dulu alamat rumah lo, baru kita beli es krim. Mungkin di dekat sana ada yang jual."
Lucas berpikir sejenak. Lalu dia mengangguk. Daniel, akhirnya bisa bernapas lega.
"Oke, di mana?"
Lucas mengernyitkan dahinya. "Zi, lo kan pernah main ke rumah. Masa lupa?"
Daniel salah. Dia belum boleh merasa lega sebelum Lucas berhasil dia antar ke rumahnya.
Dengan tekanan yang semakin berat di ubun-ubunnya, Daniel berteriak, "Lucas! Gue bukan Ai— hah . . . Lucas, denger. Gue lupa di mana rumah lo. Makanya gue tanya."
Lucas melempar plastik es krim itu ke arah Daniel, lalu duduk di kursinya dengan santai sambil menyebut alamat rumahnya.
Jika waktu bisa diulang, Daniel berharap dia tidak akan pernah mengajak, bahkan memaksa Lucas untuk datang ke bar.
__ADS_1