
Angin berhembus menggoyangkan daun di atas ranting. Langit yang gelap di malam hari, perlahan sirna diganti dengan cerahnya pagi hari. Satu per satu, mereka terbangun dari tidur lelapnya.
Jendela kamar dibuka oleh Freya. Membiarkan sinar mentari menusuk mata anaknya yang masih bersembunyi di dalam selimut. Dia menghela napas pelan, bahunya jatuh, kepalanya sedikit miring. Freya berjalan menuju Syakia, menggosok kepalanya sedikit kencang agar dia terbangun.
Anak itu merasa terganggu dengan tangan ibunya, tapi dia tetap membuka mata. Karena hari ini, bukan hari libur. Dia harus masuk sekolah dan belajar seperti biasanya.
"Cepat mandi. Hari ini, Bunda yang antar kamu," kata Freya sambil memperagakan bahasa isyarat seadanya.
Mata kecil itu berkedip-kedip. Antara silau karena cahaya matahari dengan nyawanya masih setengah terkumpul. Bocah itu tidak bisa memproses isyarat Freya karena kepalanya masih kosong. Kantuknya belum hilang dan dia sudah disuruh untuk berpikir. Yang pasti setelah Freya pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, Syakia menebak jika ibunya menyuruh dia untuk mandi.
Semua persiapan berangkat ke sekolah sudah selesai. Seragam Syakia begitu rapi di tubuhnya, sementara Freya tidak peduli dengan penampilannya. Celana jeans serta kemeja hitam polos dengan kaos berwarna senada dengan kemeja, sudah cukup nyaman untuknya. Freya mengikat tumpukan rambutnya menjadi satu sambil berjalan keluar.
"Sejak kapan kamu di sini?"
Freya tersentak dengan kemunculan Lucas di depan rumahnya. Pria itu sama sekali tidak bersuara. Freya, bahkan tidak tahu kapan pria itu tiba di rumahnya.
Hari ini, penampilan Lucas berbeda dari sebelumnya. Biasanya, setiap kali dia bertemu Lucas, pria itu selalu memakai jas dengan warna yang berbeda-beda. Namun, sekarang dia menggunakan kaos merah tua dengan tulisan yang Freya tidak tahu huruf apa yang digunakan. Bagian lengannya dia gulung sedikit, memperlihatkan otot-otot yang tampak selalu dia latih agar tidak kendur.
"Sejak satu jam lalu," jawab Lucas. Suara dan wajahnya sama-sama datar seperti padang pasir, tetapi dingin layaknya Kutub Selatan.
"Ngapain?" tanya Freya sedikit ketus. Dahinya berkerut.
"Antar Syakia."
"Gak usah. Aku bisa antar dia. Ayo, Syakia."
Freya menjulurkan tangannya ke belakang, meminta Syakia menggenggam tangannya agar mereka bisa pergi. Syakia menangkap tangan hangat Freya sambil menatap Lucas.
Sejak tadi, dia terus memperhatikan Lucas. Di dalam benaknya terbesit sebuah pikiran, jika Lucas membuat ibunya menangis lagi, dia akan memukul pria itu.
__ADS_1
Baru satu langkah Freya dan Syakia berjalan, di jalan depan rumahnya, Kakek Pati baru saja tiba bersama dengan becak bututnya. Pria tua itu tidak menghiraukan sakit pinggangnya dan tetap menjemput Syakia seperti rutinitasnya.
"Naik sini, Syakia." Kakek Pati memarkirkan becaknya di pinggir jalan yang sepi. Rumah Freya berada di paling ujung. Oleh sebab itu, jarang ada orang yang melewati jalan di depan rumah Freya.
Kakek Pati bermaksud menggendong Syakia agar dia bisa mendudukkan bocah itu di kursi penumpang. Namun, Lucas bergerak lebih cepat. Dia mengambil Syakia sebelum Kakek Pati bisa melakukannya.
Tangan pria tua itu mengambang di udara. Kemudian, perlahan dia berdiri tegak. "Kamu mau antar Syakia?" tanya Kakek Pati pada Lucas.
"Ya. Seperti yang saya bilang kemarin."
Kakek Pati merasa sedikit kecewa dan sedih karena tidak bisa mengantar-jemput Syakia lagi, tetapi dia tetap mengangguk pelan.
Freya melirik Lucas dengan tajam, tetapi pria itu tampak tidak peduli. Sementara itu, Syakia memberontak di gendongan Lucas. Mendorong dada Lucas agar melepaskan dirinya. Akan tetapi, Lucas semakin mengeratkan pegangannya. Membatasi ruang gerak Syakia. Pada akhirnya, bocah itu menggigit bahu Lucas dengan kuat sampai pria itu menjerit kesakitan.
"Syakia, kenapa kamu gigit Ayah?"
Lucas berusaha menarik Syakia agar bocah itu berhenti menggigitnya, tetapi anak itu tidak ingin melepaskannya. Dia malah semakin memperkuat gigitannya.
"Dia gak mau. Jangan dipaksa. Kena gigit kan." Freya menatap tajam Lucas. Kemudian, dia beralih pada Kakek Pati yang diam memperhatikan mereka.
Freya berkata dengan tulus dan juga merasa bersalah. "Mbah Pati. Freya berterima kasih sekali atas semua bantuan Mbah. Kalo bukan karena Mbah, Freya gak tau sekarang gimana hidupnya. Freya pasti bakal balas utang budi ini. Mulai hari ini, biar Freya aja yang antar Syakia. Nanti pas pulang, Freya izin sebentar buat jemput Syakia. Mbah istirahat yang banyak. Pinggangnya udah mulai sakit."
Tawa rendah keluar dari bibir Kakek Pati. "Tidak perlu balas budi. Mbah senang membantu kamu. Mbah juga tidak ingin ikut campur terlalu jauh, tapi kalau sesuatu terjadi jangan lupa beritahu Mbah. Punya nomornya Opi 'kan? Hubungi dia, ya. Biar nanti dia sampaikan sama Mbah."
Freya mengangguk. "Iya, Mbah. Makasih sekali lagi, ya."
"Iyo, sama-sama. Mbah pergi dulu. Hati-hati kalian di jalan."
"Iya, Mbah."
__ADS_1
Kakek Pati berbalik dan mengendarai becak tuanya. Freya melambaikan tangannya diikuti oleh Syakia.
"Udah telat. Cepat masuk mobil."
Freya hendak membantah, tetapi Lucas sudah merebut Syakia dari tangannya. Membawa anak itu menuju mobil, mengabaikan penolakan keras dari Syakia. Pundaknya jadi sasaran gigi Syakia pun tidak dia pedulikan lagi.
Freya menghela napasnya. Tidak ada gunanya dia berteriak menyuruh Lucas menurunkan Syakia. Karena sejak kecil hingga sekarang, pria itu tidak bisa menghilangkan sifat pemaksa dari dirinya.
...****************...
"Belajar yang rajin, ya." Freya menggerakkan tangannya, memberi isyarat kecil.
Syakia mengangguk. Dia menatap tajam Lucas sebelum berbalik.
Lucas mengerutkan keningnya. Dia merasa jika Syakia menatapnya dengan dingin. Seolah-olah bocah itu tengah mengancamnya melalui tatapan tersebut. Lucas tidak merasa kesal atau marah. Perasaan hangat menyerbu hatinya. Rasanya lucu. Dia ingin tertawa sekarang.
"Kenapa kamu?"
Pertanyaan ketus dari wanita di depannya menyadarkan Lucas dari lamunannya. Dia menggeleng. "Gak ada. Kamu masuk kerja 'kan? Masuk mobil."
Freya segera menolak. "Gak. Makasih." Kemudian, dia berjalan melewati Lucas.
Namun, Lucas tetaplah Lucas.
Dia tidak akan membiarkan Freya pergi begitu saja. Pria itu menarik paksa tangan Freya, memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya.
Freya harusnya tahu, dia tidak akan bisa lepas dari paksaan Lucas.
Selama perjalanan, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Membuat suasana di antara mereka menjadi sunyi.
__ADS_1
Lucas mengintip dari kaca di atasnya. Memastikan Freya baik-baik saja. Lucas masih mengingat bahwa Freya memiliki ketakutan ketika menaiki mobil karena insiden yang terjadi pada orangtuanya. Oleh karena itu, secara khusus Lucas membeli mobil yang memiliki keamanan tingkat tinggi.