
Apa yang dipikirkan oleh Lucas, benar terjadi.
Freya menuruti apa yang dikatakannya. Sejak hari di mana Lucas mengatakan pada Bryan bahwa dia ingin menikahi Freya setelah lulus sekolah, Lucas dan Freya selalu pulang bersama.
Jelas, hal ini menjadi perbincangan warga sekolah. Mereka pernah melihat Lucas dan Freya datang ke sekolah bersama, tapi itu hanya sekali.
Kali ini, mereka melihat keduanya tiba-tiba pulang bersama setiap harinya. Namun, tidak satu pun dari mereka berani bertanya secara langsung pada Lucas. Maupun pada Freya, mereka lebih lagi tidak ingin berbicara.
Kecuali satu orang.
"Chiko. Ini udah yang kesekian kalinya lo nanya hal yang sama ke Lucas. Lo kira telinga dia gak sakit denger pertanyaan lo itu?"
Wahyu memukul bagian belakang kepala Chiko. Mereka tengah bermain basket di jam istirahat kedua.
Orang yang dimarahi menoleh sebentar pada Wahyu, kemudian kembali melihat Lucas yang tengah memantulkan bola.
"Lucas. Udah sebulan gue tunggu jawaban lo. Kenapa gak jawab aja, sih?"
Lucas mengabaikan keberadaan Chiko di sampingnya. Dia berlari ke arah lain sambil memantulkan bola basket.
"Woi!" teriak Chiko.
Wahyu menepuk bahu Chiko. "Udahlah. Lo kepo banget urusan orang."
"Bukan gitu." Chiko mengangkat tangannya, bertumpu pada pinggang, "gue curiga mereka pacaran ... tapi gue gak pernah liat interaksi mereka kecuali pulang sekolah sebulanan ini. Sebelumnya malah gak ada sama sekali."
"Urusan dia itu. Kenapa lo yang curigaan, dah?"
"Namanya juga temen. Gue kan penasaran. Apalagi selama gue kenal dia, gue gak pernah liat dia pergi sama cewek. Pacar aja kayaknya kagak punya dia."
"Lo tau sendiri kalo Lucas emang tertutup. Mungkin dia punya pacar, tapi gak pernah tunjukin ke kita."
"Bisa jadi. Eh, tapi yang gue pertanyakan itu hubungan dia sama Freya."
"Udah, deh. Diem aja lo."
Chiko berdecih. Berbicara dengan Wahyu tidak menguntungkan sama sekali. Tidak ada yang dia dapatkan dari pertukaran kata dengan Wahyu.
Ketika tengah berpikir, tiba-tiba dirinya mendapatkan sebuah ide. Chiko mencari keberadaan Lucas dan mendapati lelaki itu masih memantulkan bola untuk dilemparkan ke dalam keranjang.
Dia berteriak, "Lucas! Kalo lo gak ada hubungan apa-apa sama Freya, gue deketin, ya!"
Tepat setelah Chiko berteriak, bola lemparan Lucas meleset dan menabrak papan. Membuat Lucas gagal memasukkan bola.
Chiko tertawa di belakang punggung Lucas, sementara Wahyu telah menjauh dari Chiko.
"Freya itu cantik. Gue suka liatnya. Kalo gak ada hubungan— eh, santai, Bro!"
Lucas memutar tubuhnya dan melemparkan tatapan tajam pada Chiko. Lelaki itu berjalan lamban ke arah temannya yang cerewet itu.
Chiko menjulurkan tangannya ke depan. Kakinya secara otomatis mundur ke belakang. Dia hanya bercanda untuk memancing Lucas, tapi tidak dia sangka jika Lucas benar-benar terpancing.
"Eh, eh, eh. Kok marah? Kok marah? Kan gue bilangnya kalo kalian gak ada hubungan. Nah, kalo lo marah berarti lo sama Freya ada sesuatu. Pacaran kan kalian?"
Mulut Chiko tidak bisa berhenti menantang. Padahal kakinya sudah bergetar ingin melarikan diri dari tatapan Lucas.
"Bro, santai. Gue gak akan deketin kalo dia pacar lo."
Lucas sudah berdiri beberapa langkah di depan Chiko. Lelaki itu berbisik, "Lebih dari itu."
Mimik wajah Chiko terlihat seperti orang bodoh. Antara tidak paham dan bingung.
"Lebih dari itu? Maksudnya nikah? Gak mungkin. Kalian masih sekolah. Kalo gitu ... tunangan?"
Chiko terus menebak-nebak sendiri, sementara Lucas telah kembali bermain basket bersama yang lainnya.
...***...
Sepulang sekolah, setelah selesai membereskan barang-barang dan berpamitan pada teman-temannya, Lucas pergi menghampiri Freya di kelas.
Sudah sebulan berlalu sejak Lucas menunggu Freya di depan kelasnya untuk pulang bersama ... orang-orang masih belum terbiasa dengan kejadian di depan mereka.
Saling berbisik satu sama lain, baik itu di depan Lucas atau di belakangnya.
"Maaf, Lucas. Kamu lama nunggunya?"
Freya baru saja keluar dengan tergopoh-gopoh. Pelajaran terakhir tadi, mereka diberikan kuis dadakan. Freya adalah orang yang serius dalam mengerjakan setiap tes. Jadi, dia menyelesaikannya secara perlahan. Hal itu membuatnya terlambat keluar.
"Ayo."
Tidak berbasa-basi lagi, Lucas langsung pergi diikuti oleh Freya di belakangnya.
Mereka berjalan bersama menuju parkiran walaupun tidak beriringan. Lucas di depan sementara Freya di belakang. Beberapa siswa yang belum pulang secara diam-diam melihat ke arah mereka. Freya juga sempat bertatapan dengan Alana di koridor, tapi dia memilih untuk tidak melihatnya lebih lama.
"Kamu sibuk?" tanya Lucas tiba-tiba ketika mereka tiba di parkiran.
Freya menggeleng. "Enggak. Palingan cuma bersihin rumah aja."
__ADS_1
Lucas tidak bertanya lagi. Setelah memberikan helm pada Freya, keduanya keluar dari gerbang sekolah.
Freya ingin bertanya ke mana mereka akan pergi karena Lucas tidak berbelok ke arah jalan pulang, tapi dia masih gugup untuk bertanya.
Lucas membawanya ke mall. Selesai memarkirkan motornya, dia berjalan memasuki salah satu toko pakaian. Di belakangnya, Freya hanya menurut. Ikut masuk dan mengikuti kemanapun Lucas berjalan.
Seorang pelayan toko datang menghampiri mereka. Bertanya apakah ada yang bisa dia bantu. Lucas berbicara sedikit pada pelayan itu. Memintanya untuk mencarikan baju santai yang cocok untuk Freya.
Tak lama, pelayan itu membawakan beberapa kemeja wanita dengan berbagai macam warna serta celana jeans yang terlihat seukuran Freya.
Tanpa menyuruh Freya mencoba semua pakaian itu, Lucas menyuruh pelayan tersebut untuk membungkus semuanya.
"Anda tidak ingin mencobanya dulu? Kami takut ada yang tidak sesuai dengan selera Anda."
Lucas melirik sejenak pada semua pakaian itu. Lalu, dia beralih pada Freya.
"Mana yang kamu suka?"
Freya yang sibuk melihat-lihat dan tidak mendengarkan apa yang Lucas bicarakan dengan si pelayan pun hanya menjawab asal.
"Semua. Bagus soalnya."
Lucas mengangguk dan kembali berbicara pada pelayan tersebut, sedangkan Freya memutar tubuhnya dan melihat-lihat kembali pakaian yang lain.
"Em, Lucas? Belanjaan kamu tadi gak dibawa pulang?"
Mereka berdua kembali ke parkiran. Freya tidak terlalu fokus tadi sehingga dia baru menyadari jika Lucas tidak membawa pakaian yang dia beli. Spontan Freya langsung bertanya pada Lucas.
"Dikirim ke rumah."
"Oh ...."
Freya mengangguk paham dan tidak banyak bertanya lagi. Lalu, mereka kembali masuk ke jalan raya.
Beberapa menit mereka berbelok-belok ke sana dan ke sini, akhirnya Lucas memberhentikan motornya di sebuah market yang dekat dengan SD mereka dulu.
Lelaki itu membawa Freya masuk ke dalam market tersebut. Sungguh nostalgia bagi Freya. Market ini tidak terlalu banyak perubahan. Hanya beberapa rak diletakkan di tempat yang berbeda.
Dulu, dia dan Lucas akan mampir ke market ini ketika pulang sekolah untuk membeli es krim. Ah, berbicara tentang ini, Freya jadi ingin es krim sekarang.
"Ini."
Freya tengah berdiri di rak makanan ringan sambil mengingat memori masa lalu. Lalu tiba-tiba, Lucas muncul di sampingnya sembari memberikan satu buah es krim rasa stroberi untuknya.
"Ma, makasih." Freya yang terkejut hampir tidak bisa memberi respon. Dengan kikuk dia menerima es krim pemberian Lucas.
Lucas berjalan terlebih dahulu. Di tangannya ada sekitar 10 es krim rasa stroberi dengan merk yang sama. Itu semua adalah es krim kesukaan Freya ketika dia SD dulu.
Freya ragu-ragu sebelum menyusul Lucas dan bertanya, "Kamu suka es krim ini? Bukannya dulu kamu selalu beli rasa coklat?"
Lucas menjawab tanpa menoleh. "Buat kamu."
Freya berhenti berjalan. Tertinggal beberapa langkah di belakang Lucas.
Buat aku? Kenapa buat aku?
"Freya."
"Ya?"
Panggilan Lucas menyadarkannya dari pikirannya sendiri. Dia terlalu lama diam sampai Lucas selesai membayar.
Keduanya keluar dari market dan kembali ke rumah secepat mungkin sebelum es krimnya mencair.
Meskipun menambah kecepatan, es krimnya telah mencair sedikit. Freya buru-buru pergi ke dapur untuk memasukkannya ke dalam Freezer.
"Freya? Baru pulang?"
Freya melihat ke belakang dan mendapati Bryan datang ke dapur dengan pakaian kantornya.
"Eh? Om cepet banget pulang hari ini?"
Bryan meletakkan tas dan sekantong plastik di atas meja.
"Kamu ulang tahun hari ini. Jadi, Om buru-buru pulang biar bisa rayain sama kamu."
Freya terkejut. "Ha? Eh? Aku ulang tahun hari ini?"
Bryan tertawa kecil. "Iya. Masa ulang tahun sendiri gak ingat."
"Aku gak liat tanggal, Om."
"Gak papa. Om, haus. Ada air dingin gak di kulkas?"
Freya kembali berbalik pada kulkas, sedangkan Bryan mengeluarkan isi plastik berisi kue ulang tahun.
"Eh? Kapan Om beli kue?" tanya Freya begitu membuka kulkas.
__ADS_1
"Tadi, pas pulang dari kantor."
Freya mengambil kue dari kulkas dan meletakkannya di atas meja. Akan tetapi, di depannya, Bryan tengah mengeluarkan kue yang lain.
"Loh? Kok Om beli lagi?"
"Ha?" Bryan melihat kue yang ditunjuk Freya. "Bukan Om yang beli."
"Jadi, siapa?"
"Mungkin Lucas?"
Freya menggeleng. "Kayaknya bukan Om. Terakhir kali dia beli pas kami umur 15 tahun."
"Ha? Tiap tahun dia beli, kok. Kue yang Om kasih untuk kamu itu Lucas yang titip."
"Tapi Om gak pernah bilang itu dari Lucas."
Seperti baru menyadari sesuatu, Bryan menutup mulutnya.
"Om?"
"Yah, itu ... kamu tau ... mungkin dia malu, tapi tumben tahun ini gak titip ke Om. Udah ada di kulkas aja."
Freya termenung sambil melihat kuenya. Kemudian dari pintu dapur, Bi Surni datang dengan banyak belanjaan.
"Nona Freya. Ini punya Nona."
Bryan dan Freya melihat ke arah Bi Surni yang kesusahan membawa banyak barang.
Freya bergegas membantu Bi Surni dan meletakkannya di atas meja.
"Nona banyak banget belanjanya," kata Bi Surni.
Freya membuka salah satu tas belanja dan melihat baju-baju dari mall tadi.
"Ini punya Lucas, Bi. Tadi Freya pergi bareng Lucas."
Bi Surni mengernyit. "Tapi ini semua atas nama Nona Freya."
"Freya? Tapi—"
"Hahaha. Itu berarti Lucas beliin buat kamu, Freya. Hadiah ulang tahun."
Freya melihat semua isinya dan itu adalah pakaian yang ditanya oleh Lucas sebelumnya. Lelaki itu benar-benar membeli semuanya.
Dia harus berterima kasih pada Lucas nantinya.
...***...
Selesai merayakan ulang tahunnya bersama dengan Bryan dan Bi Surni, Freya pergi menemui Lucas di kamarnya.
Gadis itu mengetuk pintu kamar Lucas dan menunggunya keluar.
"Kenapa?" Lucas langsung bertanya begitu dia membuka pintu.
Freya sedikit canggung, tapi dia segera berkata, "Makasih untuk kue dan hadiah ulang tahunnya."
Lucas melihat Freya yang lebih pendek darinya sebelum bergumam sebagai jawaban.
"Maaf aku gak panggil kamu tadi. Takut ganggu kamu."
"Iya."
Freya mendadak gugup. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Jadi, dia memilih untuk kembali ke kamarnya.
"Tunggu."
"Ya?"
Freya berdiri kembali di depan pintu kamar Lucas, menunggu lelaki itu mengambil sesuatu di kamarnya.
"Ini."
Freya melihat bingkisan di tangan Lucas.
"Untuk aku?"
Lucas tidak menjawab melainkan menarik tangan Freya dan memberikannya bingkisan tersebut.
Kemudian masuk tanpa melihat respon Freya.
Freya masih berdiri di depan kamar Lucas. Dia melihat ke dalam bingkisan. Itu adalah sebuah gelang emas putih. Bentuknya elegan dan cantik. Pas di tangan Freya.
Sebuah senyuman muncul di wajahnya. Sudah lama dia tidak menerima hadiah dari Lucas. Freya kembali melihat ke dalam dan menemukan kertas bertuliskan,
"Selamat ulang tahun, Frey."
__ADS_1