
"Maksud kamu apa?"
Begitu mereka keluar dari gedung tersebut, Freya langsung meminta penjelasan pada Lucas. Di sekitar mereka tidak terlalu banyak orang sehingga Freya langsung bertanya tanpa menahan diri.
"Tenang, Frey. Tuh, Syakia malah bingung liat kamu."
Freya menunduk untuk melihat Syakia di sampingnya dan benar saja anak itu tengah menatapnya.
Freya menarik napasnya sebelum berbalik pada Lucas yang tiba-tiba saja tersenyum. Dia berucap dengan ketus.
"Kamu akhir-akhir ini aneh, ya. Sering senyum gak jelas."
Dikatai seperti itu tidak membuat Lucas tersinggung. Senyumannya malah semakin terlihat jelas. Ini menjadi keanehan bagi Freya yang terbiasa melihat raut dingin dan datar di wajah Lucas.
Lucas menggeleng pelan. "Enggak. Cuma seneng aja."
Freya mengernyit. "Senang kenapa?" Lucas mengangkat bahunya. Tidak menjawab.
Sama saja. Berbicara dengan Lucas membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Mengabaikan hal itu, Freya kembali pada topik awal.
"Maksud kamu tadi apa? Kenapa aku jadi atasan mereka? Kenapa pula kamu bilang aku istri kamu?"
Lucas melirik Syakia yang termenung mendengar percakapan mereka. Entah dia mengerti atau tidak, tapi tatapan polos itu menggemaskan bagi Lucas. Dia tidak tahan untuk berdiam diri tanpa mengacak-acak rambut Syakia.
Namun, sama seperti ibunya. Tangan Lucas ditepis oleh Freya karena dirinya telah merusak kerapian rambutnya.
"Lucas," panggil Freya lagi.
Yang dipanggil menjawab dengan tawa kecil. "Kan kamu emang istri aku. Kebun sekaligus taman bunga ini emang milik kamu."
"Kenapa? Ini dari aset papa aku juga?" tanya Freya. Dia benar-benar bingung jika berurusan dengan bisnis. Kuliahnya saja belum selesai dan dia juga tidak berpengalaman di bidang itu.
Lucas menggeleng. "Gak. Ini aku yang bikin atas nama kamu dari hasil kerja aku sendiri."
"Ha? Kenapa? Gak, maksud aku—" Freya gelagapan. Tiba-tiba perasaan familiar menampakkan dirinya kembali.
Lucas tersenyum tipis. Dia berjalan selangkah lebih dekat ke Freya. Lucas membungkukkan sedikit badannya. Menyesuaikan wajahnya dengan muka Freya yang mendadak kaku.
Dia berbisik, "Kamu suka bunga. Jadi, aku bikin taman ini untuk kamu." Jantung Freya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tenggorokannya tercekat. Sebuah pertanyaan terlintas di pikirannya.
Apa pria di depannya ini benar-benar Lucas?
Freya tak dapat memberi respon. Otaknya terasa kosong dengan berbagai macam pikiran yang mengganggu jalan kerja tubuhnya.
"Ayo, keliling."
Lucas menarik dirinya menjauh. Kemudian, dia hendak meraih tangan kecil Syakia. Namun, anak itu menghindar dan bersembunyi di belakang Freya.
Lucas tertawa kecil sambil menggeleng. Anak ini memang susah didekati. Tidak tahu apakah karena citranya sudah buruk di mata bocah ini atau memang dia tidak suka dekat dengan orang baru.
"Ya sudah. Pegang Bunda yang bener. Jangan ilang." Setelah berkata seperti itu, Lucas berjalan melewati Freya karena jalan menuju taman bunga berada tepat di belakang Freya.
Freya segera menyadarkan dirinya sendiri. Perasaan yang sudah lama dia tekan di dalam hatinya itu tidak boleh keluar hanya karena sikap lembut Lucas.
Dia tidak ingin berharap dan mencintai sendirian lagi.
...****************...
Berbagai macam bunga ditanam di sini. Jalan setapak yang didesain pun sangat indah dan enak dilewati.
__ADS_1
Taman yang terlihat seperti kebun bunga ini dibagi menjadi dua. Satu area luar dan satu lagi area dalam. Di bagian luar adalah bunga-bunga dan tumbuhan lain yang mudah dirawat, sementara yang butuh perawatan ekstra berada di area dalam.
Warna yang bercampur di antara tumbuhan tersebut memunculkan pemandangan yang sedap dipandang mata. Harumnya pun bukan main. Diam-diam, Freya memuji Lucas karena telah membuat tempat seindah ini.
Dia . . . sangat menyukainya.
Selain menikmati keelokan dari bunga-bunga, banyak orang yang datang untuk mengambil latar belakang foto mereka. Rugi jika tidak mendapatkan gambar.
Freya melihat beberapa tukang foto keliling yang menawarkan jasanya, tapi kebanyakan dari mereka lebih memilih menggunakan ponsel dan menyimpannya di galeri.
Berbicara tentang ponsel, Freya belum menggantinya. Tipe ponselnya masih tertinggal. Yah, tapi itu tidak terlalu penting selama masih bisa dia gunakan.
Tepukan kecil di punggung tangannya mengalihkan perhatian Freya. Dia menoleh pada putrinya. Syakia tengah tersenyum sambil membuat gestur "Cantik".
"Syakia suka?" tanya Freya lembut. Syakia mengangguk dengan semangat. Kemudian, dia kembali melihat bunga di kiri dan kanannya sambil berjalan di antara Freya dan Lucas.
Dari sudut pandang orang lain, mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Padahal kenyataannya, Syakia sengaja berjalan di tengah-tengah mereka untuk memberi jarak antara Lucas dan Freya.
"Permisi. Mau foto, Pak, Bu?"
Tengah asyik menikmati pemandangan, seorang fotografer muda dengan kacamata hitam mendatangi mereka. Pria itu mengangkat kamera dan contoh hasil potretannya.
Freya melihatnya tanpa mengatakan apa pun. Jujur saja dia ingin difoto, tapi rasanya malas jika mengatakannya di depan Lucas.
Namun, Lucas memikirkan hal yang sama dengan Freya. Foto yang sudah dicetak bisa dia pajang di rumah atau meja kantornya.
"Boleh," jawab Lucas. "Sini. Foto."
Lucas berjalan ke pinggir agar bunga di belakang bisa menjadi latar belakang foto mereka.
"Kamu aja," sahut Freya.
Freya melirik acuh tak acuh pada pemuda tersebut. Dia masih bergeming di tempatnya. Tidak ingin membuang waktu lebih banyak, Lucas langsung mengangkat Syakia. Memangku bocah itu di lengannya.
"Eh, nanti jatuh!"
Freya buru-buru menahan lengan Syakia yang mendorong Lucas. "Gak papa. Foto sebentar, ya. Liat kamera."
Ditenangkan oleh ibunya, akhirnya Syakia berhenti memberontak dan melihat kamera dengan patuh.
Posisi mereka sudah pas untuk difoto. Tidak ada gunanya menolak lagi.
"Oke, satu . . . dua . . . senyum."
Freya berusaha menarik senyum agar terlihat alami, tapi pemuda itu mengatakan bahwa dirinya tampak kaku. Di sampingnya, Lucas merasa Freya kurang nyaman. Jadi, dia menarik istrinya lebih dekat. Memeluk pinggangnya perlahan. Membuat Freya tersentak kaget dan refleks melihat Lucas.
"Ti . . . jangan kaku, santai."
Freya berbisik pada Lucas sambil mendelik. "Kamu ngapain? Jangan pegang-pegang."
Lucas menarik sudut bibirnya dan balas berbisik. "Liat aja kamera. Senyum kayak biasa aja udah cantik, kok."
Dipuji secara mendadak oleh Lucas membuat pipi Freya memerah. Tiba-tiba dia merasa tersipu. Freya mengalihkan pandangannya. Fokus melihat kamera dan melupakan apa yang telah dia dengar beberapa detik yang lalu.
"Ti . . . ga."
Mengikuti arahan sang fotografer, akhirnya foto yang dihasilkan cukup memuaskan. Tidak kaku dan tidak juga dipaksakan.
"Nanti saya hubungi kalo udah siap," kata si fotografer. Dia juga sudah bertukar kontak dengan Lucas.
__ADS_1
Sehabis mengambil foto, tiba-tiba Freya mengingat kejadian dimana dia pernah meminta foto dengan Lucas. Namun, pria itu menolaknya.
Mengapa sekarang pria itu malah memaksa dirinya untuk berfoto?
"Makasih."
Lucas selesai berbincang dan ketika dia berbalik, dia melihat Freya termenung dengan Syakia yang sibuk mengejar kupu-kupu.
Dia berjalan menghampiri wanita itu. Menepuk pelan bahunya dan bertanya, "Kenapa?"
Freya melihatnya sekilas dan menggeleng. "Gak ada."
Lucas tidak yakin dengan jawaban Freya. Tadi dia, bahkan tersipu dan sekarang wajahnya berubah menjadi murung. Pergantian yang terlalu cepat.
"Jujur, Frey. Apa aku buat kamu sedih lagi?" tanya Lucas. Kini, suaranya terdengar pelan dan halus membuat Freya merinding ketika mendengarnya.
"Selama luka lama masih ada, kapan aja bisa sedih tanpa perlu disakiti lagi."
Satu kalimat panjang itu mampu membuat Lucas terdiam. Mimik muka Freya begitu datar ketika mengatakannya, seolah-olah dia sudah terbiasa.
Rasa bersalah itu kembali menyerangnya.
Lucas berpikir sebentar sebelum dia akhirnya mendapat sebuah kesimpulan. "Apa karena foto tadi?"
Freya tidak menjawab. Itu artinya dugaan Lucas benar.
Dia bertanya lagi dengan lebih hati-hati. "Kamu teringat waktu aku nolak kamu pas minta foto bareng?"
Kini, Freya merespons dengan melirik Lucas. Walau hanya sebentar karena dia kembali melihat Syakia. Menjaga anak itu agar tidak terjatuh.
Lucas menarik napas sebelum berbicara lagi. "Aku tau ini udah telat, tapi sekarang aku mau lurusin masalah itu." Freya mendengar tanpa melihat Lucas. Lelaki itu kembali melanjutkan.
"Waktu itu aku malu."
Spontan Freya memutar kepalanya, melihat Lucas. Mulutnya terbuka, takut salah mendengar.
"Ha? Malu?"
Lucas membuang mukanya ke samping. Dia mengangguk pelan.
"Kamu malu foto sama aku?" Alis Freya terangkat sebelah. Lucas buru-buru menjelaskannya lagi.
"Bukan. Aku gak suka difoto. Apalagi kalo di samping kamu."
"Emang kenapa? Kan aku gak nendang kamu atau pukul kamu."
"Ya, emang bukan gitu."
"Jadi, apa?"
Lucas menggaruk bagian kepalanya. Tidak mungkin dia mengatakan alasannya dengan lantang di tempat terbuka seperti ini.
Sekarang, giliran dia yang memerah karena malu.
"Udah. Mau gelap ini. Area dalam belum kita lihat," kata Lucas mengalihkan pembicaraan. Pria itu berjalan terlebih dahulu menuju gedung yang berisi banyak bunga lainnya.
Freya menggelengkan kepalanya. Sejak dulu, dia kesulitan memahami Lucas. Saat ini pun, dia tidak tahu apa yang pria itu pikirkan.
"Ayo, sayang. Kita ke sana," ajak Freya pada Syakia yang disambut dengan wajah riang putrinya.
__ADS_1