
Di bawah hangatnya selimut, Freya bersembunyi di dada Lucas. Jarum panjang dan pendek bergeser secara bersamaan ke angka 12, menunjukkan waktu telah sampai di tengah malam. Namun, keduanya sama-sama masih terjaga.
Freya mengangkat bola matanya ke atas tanpa menggerakkan kepalanya. Lalu, dia kembali menurunkannya dan menatap lurus ke depan.
Saat ini, hanya ada suara napas serta detak jantung Lucas yang Freya dengar di telinganya. Kehangatan mengalir melewati kulit putihnya. Sesekali, Lucas menepuk pelan bahu Freya dan memutar-mutar ujung jari telunjuknya di sana membuat Freya merasa sedikit geli.
Dalam keheningan malam, Freya mulai bersuara.
"Lucas. Kamu masih marah?"
"Aku gak marah."
Freya tersenyum tipis mendengar nada suara Lucas yang lembut dan bersahabat. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya lagi.
"Terus, ke mana kamu semalaman? Aku gak liat kamu seharian ini."
Udara dingin di malam hari ditambah dengan aktivitas mereka beberapa waktu yang lalu, membuat tenggorokan Lucas kering. Suaranya menjadi serak saat dia menjawab, tapi bagi Freya yang mendengarnya . . . itu terdengar memikat.
"Aku gak sengaja tidur di ruang kerja Papa."
Freya mendongak untuk melihat Lucas dari bawah dagunya. "Tadi pagi kamu ke kantor buat apa?"
Tangan Lucas berpindah dari bahu Freya menjadi kepalanya. Menyisir pelan rambut istrinya yang terasa halus. Dia melirik ke bawah, menatap wajah Freya.
"Ada yang harus aku selesain di pagi itu."
"Di kampus juga aku gak liat kamu."
"Aku gak ke kampus."
"Kenapa? Masih ujian 'kan?"
Lucas menghela napas pelan. Wanita dalam pelukannya ini memiliki banyak pertanyaan untuknya sekarang. Lucas menarik hidung Freya membuat wanita itu meringis.
"Aw! sakit."
Freya menjauh dari Lucas, berpindah dari dada bidangnya. Memilih tidur di sebelahnya. Dia mengusap hidungnya yang kesakitan karena ditarik oleh Lucas.
__ADS_1
Lucas tertawa kecil melihat Freya. "Makanya jangan banyak nanya."
Freya mendadak diam. Dia tertegun dengan tawa yang muncul di wajah Lucas. Freya mulai berpikir . . . kapan terakhir kali Lucas tertawa di depannya?
Melihat Freya yang diam sambil menatapnya, Lucas menghentikan tawanya. Dia meluruskan tubuhnya dan menghadap ke langit kamar. Lucas berujar sembari meletakkan lengan kanannya di atas dahi.
"Banyak yang harus aku kerjain akhir-akhir ini. Waktu aku gak sama kayak dulu lagi. Mau gak mau harus jalani."
Lucas terlihat sangat serius. Ini pertama kalinya dia mengatakan apa yang dia rasakan. Entah karena dipengaruhi oleh waktu yang sudah larut sehingga pembicaraan mereka menjadi dalam.
"Aku kira kamu ngehindar dari aku."
Lucas mendengus kecil. "Jangan mikir yang enggak-enggak."
Lucas tidak sepenuhnya jujur. Sebenarnya, dia merasa kesal dengan pemikiran Freya malam itu. Menurut Lucas, apa yang Freya pikirkan sama seperti orang lain dan hal itu membuatnya marah. Saat dia keluar dari kamar, Lucas memang pergi ke ruang kerja Bryan untuk melanjutkan kerjaannya. Akan tetapi, dia sengaja tidur di sana. Tidak ingin kembali ke kamar.
Lalu, keesokan harinya, Bryan menelpon Lucas di jam lima pagi. Menyuruh Lucas untuk pergi ke kantor dan menyambut klien mereka yang baru saja tiba dari London. Oleh karena itu, dia menghindari Freya tanpa sengaja. Saat Freya menghampirinya pun, Lucas masih merasa kesal dan jengkel sampai tiba-tiba, Freya datang dan memeluknya erat dari belakang.
Freya memajukan bibir bawahnya. Bagaimana dia tidak berpikir seperti itu? Sikap Lucas tiba-tiba berbeda dan dia menghilang begitu saja tanpa kabar. Wajar jika Freya berpikir bahwa Lucas menghindarinya.
Namun, Freya tidak ingin mengatakan apa pun lagi tentang itu. Dia takut hal tersebut hanya akan memunculkan perdebatan yang tidak penting.
"Capek?"
Satu kata dari sebuah pertanyaan keluar dari suara lembut Freya. Lucas menarik sudut bibirnya, dia menoleh ke samping.
"Udah malam. Tidur aja."
Lalu dia menarik Freya ke pelukannya lagi. Memaksa istrinya untuk memejamkan mata dan tidak membiarkan dia untuk bertanya apa pun lagi padanya.
...***...
Keesokan harinya, Lucas meminta Freya untuk ikut dengannya ke perusahaan. Freya jarang mendatangi kantor Bryan. Dia, bahkan bisa menghitungnya dengan jari.
Bryan sudah pulang dari perjalanan bisnisnya lebih awal, tetapi dia tidak bisa pulang ke rumah melainkan harus tetap berada di kantor untuk melanjutkan tugasnya.
Freya tidak paham mengapa Bryan dan Lucas bekerja seolah-olah mereka berada di bawah aturan orang lain. Freya tidak paham tentang dunia bisnis, bahkan setelah belajar pun dia hanya menghafal teori. Tidak untuk praktek. Dia merasa tidak memiliki bakat dalam bisnis.
__ADS_1
Lucas dan Bryan adalah orang hebat yang mau bangkit saat mereka hampir jatuh dan tetap berusaha keras mempertahankan apa yang telah mereka bangun. Freya merasa beruntung mengenal keduanya. Suatu hari nanti, dia berharap dirinya akan berguna untuk mereka; bisa membantu meringankan pekerjaan Lucas dan juga Bryan.
"Pa, mana suratnya?"
Lucas baru saja membuka pintu ruangan Bryan dan dia sudah langsung menanyakan surat yang Freya tidak tahu tentang apa itu.
Freya, bahkan belum menanyakan kabar Bryan. Suaminya itu langsung membahas pekerjaan bersama ayah mertuanya.
Bryan tersenyum pada Freya yang dibalas dengan senyuman tipis oleh wanita itu. Kemudian, Bryan sedikit menunduk untuk mengambil sebuah map biru dari dalam lacinya.
"Freya, tanda tangan dulu di sini."
Bryan membuka map tersebut. Terdapat beberapa lembar di sana. Bryan menyodorkan beberapa lembar yang mengharuskan Freya membubuhkan tanda tangannya di sana.
Freya menatap kertas yang berisi lanjutan kalimat-kalimat dari kertas di atasnya. Dia bertanya pada Bryan. "Ini apa, Pa?"
"Ini untuk pemin—"
"Tanda tangan aja. Itu bukan surat cerai atau hal buruk lain."
Bryan hendak menjelaskan isi surat tersebut, tetapi Lucas segera menyela. Meminta Freya untuk segera menandatangani kertas tersebut tanpa bertanya.
Dimintai oleh suaminya, Freya tidak dapat membantah. Dia mengambil pulpen yang diberikan oleh Bryan, lalu menandatangani semua kertas yang meminta tanda tangannya.
Diam-diam, Bryan melihat ke arah Lucas yang ternyata juga tengah menatapnya datar. Bryan membawa lari pandangannya, menghindari kontak mata dengan Lucas.
"Udah, Pa."
Lucas buru-buru menyatukan semua kertas itu dan menggabungkannya ke dalam map. Setelah itu, dia menutup map tersebut dan mengembalikannya pada Bryan.
"Kami balik dulu, Pa." Lucas berkata. Freya hanya diam, melihat Bryan dan Lucas secara bergantian. Dia ingin berbicara dengan Bryan sebentar untuk sekadar bertanya tentang kabarnya, tapi Lucas terlihat buru-buru dan langsung keluar dari ruangan Bryan setelah ayahnya mengangguk.
"Lucas, kita mau ke mana lagi?" tanya Freya setelah mereka tiba di parkiran.
"Kampus." Dia menoleh ke belakang, "kamu ada kelas 'kan?"
Freya sejenak lupa dengan jadwal kuliahnya. Pantas saja Lucas buru-buru. Satu jam lagi kelas Freya akan dimulai.
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan membawa diri mereka menuju kampus.