Cold Love

Cold Love
Bab 70. "Dia Anak Kita?"


__ADS_3

Seperti orang yang tidak memiliki pekerjaan, Lucas kembali menemui Freya di pagi hari. Padahal kafe baru buka lima menit yang lalu dan belum ada pelanggan lain di sana.


"Pesanannya mau dibawa pulang atau minum di sini, Pak?" tanya Freya dengan senyuman yang dia paksakan.


Kali ini, Lucas tidak memaksa Freya untuk memanggil namanya karena dia tahu jika wanita itu sedang bersikap profesional.


Dia menjawab tanpa berpikir lama. "Bawa pulang."


Freya bersyukur pria di depannya itu memberi jawaban dengan cepat. Freya tidak tahu apa yang terjadi padanya hari ini, tetapi karena Lucas tampak seperti para pelanggan lain, dia pun melayaninya dengan benar.


"Silakan dipilih menunya."


Lucas mendongak, membaca daftar minuman dan makanan yang diketik rapi beserta dengan harganya. Papan berwarna coklat itu tidak membuat Lucas tertarik untuk membacanya. Jadi, dia memilih bertanya pada Freya.


"Di pagi hari, minuman apa yang cocok dan enak?" tanya Lucas. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya.


Freya membalas seadanya. "Yang hangat."


Tidak puas dengan jawaban yang dia dapat, Lucas bertanya lagi. "Apa?"


Pria ini . . . ternyata memang berniat mengganggu dirinya. Freya hampir memukul meja jika dia tidak ingat bahwa mereka tengah berada di tempat umum.


Meski rasanya mengesalkan, Freya tetap menjawab dengan tenang. Kali ini, Freya mengatakan hal yang benar agar pria ini segera pergi dari kafe.


"Kami punya beberapa jenis minuman yang bisa diminum di pagi hari. Salah satunya Marshmallow Hot Chocolate. Mau pesan yang itu?"


Tanpa berpikir lagi, Lucas langsung mengangguk. Kemudian, Freya mencatat pesanan Lucas. Lalu menyerahkan kertas tersebut ke dapur untuk disiapkan.


Setelah itu, Freya kembali ke meja kasir dan dia mendapati Lucas masih berdiri di sana. Seolah-olah dia tengah menunggu Freya kembali.


"Duduk aja di sana, Pak." Freya menunjuk meja yang berada di belakang Lucas.


Pria itu menggeleng. "Saya tunggu di sini aja."


Freya tidak mengatakan apa pun lagi dan mencoba mengabaikan keberadaan Lucas. Untung saja hari ini dia memiliki kegiatan untuk dilakukan. Menghitung uang pemasukan dan pengeluaran bulan ini bisa membantunya mengalihkan perhatian dari masalah di depannya.


Akan tetapi, baru saja dia mulai berhitung, Lucas tiba-tiba memanggil namanya.


"Freya."


Tidak ada sahutan dari orang yang dipanggil.


Lucas memiringkan kepalanya. Ekspresinya datar ketika dia memanggil Freya lagi. "Freya."


Wanita itu masih tidak menjawab panggilannya. Merasa kesal karena terus diabaikan, akhirnya Lucas menggunakan cara yang lain.


"Sayang."


Tepat seperti dugaannya. Freya refleks mengangkat kepalanya, memberikan perhatian penuh pada Lucas.


Akan tetapi, bukan raut tersipu yang dia dapatkan, melainkan wajah marah seperti wanita itu bersiap menampar mulut Lucas.


Walaupun mendapat respon kurang memuaskan, Lucas tidak merasa kecewa atau sakit hati. Justru dia senang karena Freya melihat dirinya setelah berdiam diri ketika dia dua kali memanggil wanita itu.


"Freya. Ayo, pulang." Lucas mengajaknya lagi. Dia masih berusaha membujuk Freya dengan lembut. Dia sama sekali tidak ingin menggunakan cara kasar seperti yang disarankan oleh Daniel. Temannya itu telah menyiapkan banyak rencana untuk membawa Freya kembali. Seperti menggendongnya di pundak, kemudian melemparkannya ke dalam mobil. Jika Freya memberontak maka ikat tangan dan kakinya sehingga dia tidak bisa lari ke mana pun.


Cukup ekstrim. Namun, jika bujukan lembutnya tidak dihargai sama sekali . . . kemungkinan Lucas akan mencobanya.


"Maaf, saya lagi kerja. Tolong kerja samanya." Freya memaksakan bibirnya tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit.


"Oh, oke. Kita bicara nanti."


Tepat saat kalimatnya selesai, ponsel Lucas bergetar di dalam saku celananya. Pria itu mengambil benda tersebut dan melihat siapa yang menghubunginya di pagi hari. Ketika dia melihat nomor yang tak dikenal, Lucas segera menekan tombol hijau. Namun, dia belum meletakkannya di telinga. Melainkan dia berbicara pada Freya.


"Aku pergi dulu."


Kemudian, dia mengambil dompetnya. Mengeluarkan selembar uang merah dan meletakkannya di atas meja. Lalu, pria itu langsung keluar sembari mengucapkan "Halo" pada ponselnya.

__ADS_1


"Luc— Pak! Minumannya!" teriak Freya. Akan tetapi, Lucas sudah berjalan beberapa langkah dan tidak melihat ke belakang sama sekali.


...****************...


Hari sudah sore dan Freya sebentar lagi tiba di rumahnya.


Tidak berbeda dengan hari lainnya, Freya berjalan sendiri sambil melihat ke sekitarnya. Dia selalu melewati jalan yang sama, tetapi setiap kali dia lewat, ada saja yang berbeda.


Seperti bunga yang tumbuh liar di depan tembok pagar rumah seseorang. Hari ini, bunga itu ada. Namun, di keesokan harinya, kuncup yang belum mengembang itu telah menghilang. Freya tidak tahu apakah bunga muda itu dicabut atau tak sengaja terinjak.


Dia melangkah lagi. Selang dua rumah, Freya akan tiba di rumahnya.


Biasanya, ketika Freya pulang. Becak milik Kakek Pati sudah tampak dari jaraknya berdiri sekarang. Akan tetapi, hari ini dia tidak melihatnya. Hanya ada sebuah mobil mewah yang Freya tidak tahu jenis apa itu, terparkir tak jauh dari rumahnya.


Freya mulai berpikir. Apa Kakek Pati belum mengantar Syakia? Dia mengambil ponselnya untuk melihat jam. Sudah pukul 16.30. Ke mana mereka?


Freya lanjut berjalan menuju rumahnya. Dia ingin memastikan, mungkin saja Kakek Pati meletakkan becak di depan rumahnya. Bukan di pinggir jalan komplek seperti biasa.


Namun, saat Freya tiba. Dia melihat pemandangan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.


Di depan teras rumahnya, Lucas tengah duduk bersama dengan Syakia sambil berbicara. Lebih tepatnya, Lucas yang bersuara sendiri, sementara Syakia menatapnya dengan penuh kebingungan.


"Lucas!"


Freya tidak dapat menahan keterkejutannya. Rasanya saat ini kakinya bergetar. Jantungnya memompa lebih cepat. Pikirannya kacau. Tiba-tiba ketakutan menghampiri dirinya.


Jika Lucas mengetahui tentang kesehatan Syakia . . . bagaimana reaksinya? Apa yang akan pria itu lakukan?


Tidak. Bukan itu masalahnya.


Dirinya pergi tanpa mengetahui bahwa dia sedang mengandung Syakia. Sudah jelas bahwa Lucas juga tidak akan mengetahuinya. Namun, dalam situasi ini . . . apa yang akan Lucas pikirkan? Apa dia akan mengakui Syakia sebagai anaknya atau dia akan menuduh Freya yang tidak-tidak?


Tunggu. Apa yang dia pikirkan? Diakui atau tidak, bukankah dia sudah memutuskan untuk tidak terlibat dengan Lucas lagi?


Freya . . . benar-benar kacau sekarang.


Lucas berusaha bertanya lagi, tetapi bocah itu tetap diam dan memandangnya dengan bingung.


Perhatiannya teralihkan karena Freya memanggilnya. Wanita itu baru saja pulang bekerja. Butuh waktu lama untuk menunggunya kembali.


"Freya. Dia anak kita?"


Lucas bertanya langsung pada intinya. Dia berdiri dan berjalan menghampiri Freya. Wanita itu pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua berdiri, saling berhadapan.


Freya menjawab dengan bersungut-sungut. "Bukan." Dia memberikan sebuah kebohongan yang lain.


Mendengar kata itu dari Freya membuat Lucas mendengus. "Gak perlu bohong."


Dia bukan orang bodoh yang tidak menyadari kemiripan di antara dirinya dan bocah di belakang mereka.


Mata monolid itu jelas diturunkan darinya. Bentuk wajahnya pun mirip dengan dirinya. Ditambah dia pernah mengalami morning sickness yang tidak jelas.


Lucas sangat yakin bahwa anak itu adalah anak dia dan Freya.


Freya menggeram marah. Dia melihat ke belakang Lucas, menyuruh Syakia masuk ke dalam rumah setelah dia membukakan pintu.


Lalu, Freya membalikkan badannya. Menghadap Lucas lagi.


"Kenapa kamu bisa di sini? Dari mana tau alamat rumah aku?" tanya Freya. Kulitnya merah karena emosi yang tercampur aduk di hatinya.


Lucas berjalan satu langkah lebih dekat. "Kamu kerja di mal punya aku. Dapatin alamat kamu itu gampang."


Freya menggertakkan giginya. Kemudian, dia membalas, "Itu melanggar privasi."


Lucas tidak terlihat takut atau merasa bersalah. Dia berkata dengan santai. "Secara gak langsung, kamu termasuk karyawan aku. Ditambah, kita masih suami istri. Melanggar privasi? Lucu. Siapa yang larang suami tau alamat rumah istrinya yang kabur?"


Keadaan berubah menjadi tegang. Pandangan keduanya menajam. Yang satu tidak mau kalah, sementara yang satunya lagi berusaha menahan amarah.

__ADS_1


Lucas mengulangi pertanyaannya yang pertama. "Apa dia anak kita?"


"Bukan." Freya berbohong lagi.


"Berhenti bohong, Freya! Kenapa kamu harus bohong? Jelas-jelas dia anak kita. Sekarang, ikut aku pulang. Bawa anak kita balik. Ngapain tinggal di sini? Di Jakarta lebih baik. Beresin semua barang kamu atau tinggalin aja di sini."


Lucas berbicara panjang diselimuti dengan amarah.


"Gak. Di sini lebih baik daripada balik sama kamu."


"Ha? Freya, setelah enam tahun ini kamu masih salah paham? Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Aurora. Selama ini aku ngelakuin semua hal untuk kamu!"


"Apa? Ngelakuin apa? Salah paham apa? Kamu pernah bilang apa sama aku? Lucas! Apa kamu lupa dengan sikap kamu selama ini ke aku? Lupa?"


Freya memberikan tumpukan pertanyaan pada Lucas sampai kepalanya mendongak dan lehernya mengencang. Memperlihatkan garis hijau di balik kulit putihnya


Emosi Lucas ikut tercampur aduk dalam perdebatan ini. Dia menjawab dengan suara rendah.


"Bukan karena sikap aku kamu kayak gini. Terakhir kali kita berantem karena kamu salah paham dengan hubungan aku dan Aurora."


Freya mendengus, tak habis pikir. "Aku bilang sama kamu. Banyak hal yang buat aku pergi dari kamu. Mungkin iya aku bisa bertahan dengan sikap dingin kamu, tapi apa kamu tau apa yang buat aku berhenti bertahan?"


Lucas tidak menjawab, melainkan dia menunggu Freya menjelaskannya sendiri.


"Itu karena di saat aku tanya apa kamu cinta sama aku, kamu malah pergi. Malam itu, aku mikir lagi. Ternyata selama ini kamu emang gak pernah bilang cinta. Aku jadi sadar kalo pernikahan kita ini emang karena janji kamu sama orangtua aku. Aku menjauh, harusnya kamu bersyukur karena udah bebas dari janji itu."


Mendengar penjelasan yang tidak masuk akal bagi Lucas itu, membuat amarahnya semakin meningkat. Dengan kasar, Lucas menarik dan meremas pundak Freya.


Matanya membesar, dia berbicara begitu dekat dengan wajah Freya.


"Apa kamu gak liat hal-hal yang aku lakuin untuk kamu? Apa kamu gak ngerti dengan semua perlakuan aku selama ini? Apa kamu gak tau tentang aku sama sekali padahal kita udah lama bersama?"


Bibir Freya bergetar. Air mata yang dia tahan, akhirnya terjatuh juga.


Lucas berkata lagi, nada suaranya lebih rendah daripada sebelumnya. "Freya. Cinta itu gak perlu diucap. Cukup dengan tindakan."


Freya menghapus air matanya yang mengalir di kedua pipinya. Dia mendorong Lucas menjauh darinya. Pria itu tidak mengeraskan diri dan melepaskan tangannya dari pundak Freya.


"Lucas. Ini tentang perasaan. Hubungan tanpa komunikasi gak akan bertahan lama. Apalagi kalau cinta gak diucapkan. Tindakan yang kamu bilang itu . . . maknanya gak akan tersampaikan dengan baik."


"Tapi harusnya kamu—"


"Cukup. Apa pun yang mau kamu bilang, aku gak peduli. Sekarang, kamu pulang aja. Jangan ajak aku balik. Sekalian urus perceraian kita."


"Freya!"


Sekeras apa pun Lucas memanggil, orang itu tidak berniat melihatnya.


Freya masuk ke rumah dan segera mengunci pintu. Tidak membiarkan Lucas mencegah dirinya lagi.


Di dalam, Freya menjatuhkan tubuhnya. Kakinya terasa lemas, dia akhirnya berhasil mengeluarkan seluruh kesakitan yang tertahan di hatinya. Syakia yang melihat ibunya menangis, langsung menghampirinya. Memeluk erat ibunya tanpa mengetahui apa yang telah terjadi.


Sementara itu, di luar rumah. Lucas menjatuhkan kepalanya. Menatap tanah berumput di bawah kakinya. Pikirannya tiba-tiba kosong. Perdebatan tadi memberikan rasa aneh di dalam hatinya.


Cerai?


Mengapa . . . harus bercerai?


Dia tidak berselingkuh. Selama ini dia berusaha menahan diri untuk tidak terlalu menunjukkan cintanya.


Jika berlebihan, dia akan bernasib sama seperti ayahnya.


Tapi ... .


Mengapa?


Lama dia berdiam di depan rumah Freya. Saat ponselnya berdering, tanpa memeriksa siapa yang menghubunginya, pria itu masuk ke dalam mobil dan kembali ke hotel untuk menemui Daniel.

__ADS_1


__ADS_2