Cold Love

Cold Love
Bab 80. Ingin Memberi Kesempatan, Tapi Keraguan Itu Masih Ada


__ADS_3

"Gue yakin dia udah curiga sama lo."


Dua sahabat lama dengan sifat yang bertolak belakang tersebut saling berhadapan. Membicarakan sebuah pembahasan dengan raut wajah serius di ruang kerja milik Bryan.


Sejak Freya pulang, Lucas menggunakan ruangan Bryan untuk bekerja di rumah. Jadi, dia bisa mengawasi Freya secara langsung.


"Kenapa?" Lucas menjawab sambil membaca dokumen yang diberikan oleh Daniel.


"Pertama, karena lo gak nikah-nikah sama anaknya. Kedua, lo udah berapa hari gak muncul di kantor. Ketiga, dia udah tau kalo lo beli perusahaan suami nyokap lo."


Kali ini, temannya itu tidak memasang wajah menyebalkan. Dia terlihat serius dengan perkataannya. Lucas mengerutkan keningnya dan bertanya, "Dari mana dia tau?"


"Suami nyokap lo minta bantuan sama dia. Berani juga dia kayak gitu setelah lo ancam, tapi tenang. Udah gue beresin."


Daniel buru-buru menyelesaikan kalimatnya sebelum muka Lucas menghitam. Dia berkata lagi. "Untuk sekarang, gue masih nyari tau apa yang bakal dilakuin Pak Oga. Dia takut lo nyerang dia juga. Oh, nyokap lo juga kayaknya masih belum tau. Gue juga gak tau kenapa Pak Oga gak bilang ke nyokap lo tentang perusahaan suaminya."


Lucas menyahut dengan acuh tak acuh. "Paling dia minta Pak Oga untuk diam. Biar gak malu sama istrinya."


Daniel mengangguk setuju. "Bener juga."


"Jadi, apa yang lo beresin?" tanya Lucas serius.


"Yah, gue ancam. Kalo berani minta bantuan lagi, gue bakar rumahnya."


Mendengar itu, Lucas mendengus. Namun, disertai tawa kecil. Pria di depannya ini tampak bodoh dan santai. Akan tetapi, di dalamnya sungguh berbeda. Perkataannya terdengar penuh omong kosong, tapi kenyataannya dia benar-benar akan melakukan itu.


"Oh, gara-gara itu, diam-diam Pak Oga mau rusakin perusahaan lo dari dalam. Sekretaris lo itu udah dibeli sama dia. Kalo bukan karena gue, manajemen kantor lo udah rusak. Dalam sedetik lo bisa bangkrut. Kan gak lucu."


Lucas tampak tenang mendengar penjelasan Daniel. Tidak ada satu pun yang membuat dirinya gemetar atau goyah. Dia, bahkan sempat menertawakan tindakan Pak Oga yang ingin mengacaukan perusahaannya.


"Ya, gue udah denger itu dari Abriel. Haruskah gue berterima kasih?" tanya Lucas, menaikkan sebelah alisnya dengan sudut bibir terangkat.


Pria itu berlagak membuang ludah ke kaki Lucas. "Gak perlu. Gue punya saham di perusahaan lo, ya. Kalo lo bangkrut, gue rugi juga."


Lucas menarik dirinya, mengangkat bahu acuh tak acuh sambil berjalan menuju pintu. "Jadi, itu emang udah tugas lo."


Di belakangnya, Daniel mencibir. Kemudian, dia mengikuti Lucas yang sudah berjalan keluar sehabis membuka pintu.


Di ruang tengah, Lucas mendapati Freya dan Syakia duduk di lantai sambil menggambar. Dia berjalan mendekati mereka dengan Daniel yang masih mengikutinya di belakang. Diam-diam memperhatikan mereka berdua tanpa mengeluarkan suara apa pun.


"Gambarnya bagus."

__ADS_1


Dua orang dewasa di sana menoleh secara bersamaan, sementara satu anak kecil tidak mendengarkan suara tersebut dan sibuk menarik garis di atas kertas.


Di belakangnya, Daniel tersenyum lebar melihat gambaran Syakia. Tidak peduli dengan air muka Lucas yang tampak ingin memukulnya.


"Syakia pinter gambar, ya." Daniel berkata pada Freya. Wanita itu mengangguk pelan sebagai respon.


"Pulang sana," usir Lucas.


Senyuman Daniel menghilang begitu saja. Dia mendecakkan lidahnya. "Posesif amat. Lagian yang gue liat anak lo, bukan istri lo."


"Gak. Lo gak boleh liat anak gue."


"Iya, iya. Gue balik, nih. Freya, gue pergi, ya."


Freya tidak menjawab, melainkan mengangguk lagi. Lucas tidak repot-repot mengantar Daniel ke depan. Temannya itu sudah terbiasa pulang tanpa diantar.


Sepeninggal Daniel, Lucas kembali melihat kegiatan yang dilakukan oleh istri dan anaknya. Saat sedang memperhatikan mereka, Lucas melihat kedua lengan Freya. Dia baru menyadari, benda yang pernah dia berikan beberapa tahun yang lalu itu, tidak ada di sana.


Lucas spontan menarik tangan Freya. "Gelang yang aku kasih . . . di mana?"


Freya melihat lengannya sendiri. Tidak menjawab Lucas karena linglung. Sementara itu, Lucas terus menatapnya, menunggu penjelasan Freya. Terlihat tanda tanya besar di wajahnya. Tatapan terkejut bercampur sendu.


"Cincin . . . kenapa satu pun gak ada yang kamu pakai?"


Ah, dia baru mengingatnya.


Beberapa tahun lalu, ketika Freya pergi dari rumah Lucas, dia melepaskan gelang tersebut dan menyimpannya di tempat yang dia sendiri tidak ingat di mana letaknya. Jika dirinya tidak salah ingat, benda tersebut berada di dalam laci meja di rumahnya bersama dengan cincin pernikahan mereka.


"Kamu buang?" tanya Lucas lagi.


Freya tidak menjawabnya. Karena kenyataannya dia tidak membuang kedua benda itu, tapi jika dalam arti yang lain, dia memang membuangnya.


Melihat istrinya masih menutup mulut dan tidak berniat menjawab, Lucas melepaskan lengan Freya secara perlahan dan membuang mukanya ke arah lain.


Freya juga bingung dengan reaksi Lucas. Entah dorongan dari mana, dia berkata, "Kamu sendiri juga gak pernah pakai cincin. Sebelum tanya aku, liat diri kamu sendiri."


Lucas berbalik, mengerutkan keningnya. Kemudian, dia menarik sesuatu dari dalam kerah bajunya. Freya sedikit tersentak, tapi tetap berusaha tenang. Itu adalah cincin yang Lucas jadikan sebagai kalung. Dia pernah melihat kalung itu, tapi tidak terlalu memperhatikan karena Freya mengira itu hanya kalung biasa.


"Aku selalu pakai. Cuma gak di jari karena ukuran jari aku kadang-kadang berubah dan cincinnya sering jatuh."


Kesalahpahaman lainnya. Diam-diam Freya merasa bodoh karena berpikir bahwa Lucas tidak ingin menggunakan cincin pernikahan mereka. Padahal pada kenyataannya pria itu menggantungkan benda kecil itu di lehernya dan membawa barang tersebut ke mana pun dia pergi.

__ADS_1


Namun, Freya tidak ingin mengakui bahwa dirinya salah paham. Jadi, wanita itu hanya mengangguk dan kembali melanjutkan gambarannya.


Sementara itu, Lucas masih menatap Freya dengan sendu. Dia tidak ingin menyalahkan istrinya yang membuang dua barang yang menurutnya sangat penting itu. Ini adalah kesalahannya.


Ya, tidak masalah. Itu hanyalah benda mati. Tidak perlu dipusingkan.


Lucas meyakinkan dirinya, tapi . . . mengapa ada yang mengganjal di hatinya?


Mengabaikan semua itu, Lucas duduk di samping Syakia. Bocah perempuan itu sama sekali tidak terganggu dengan percakapan ayah dan ibunya. Fokusnya hanya pada kertas dan pensil di depannya.


"Syakia," panggil Lucas. Anak itu tidak menoleh, masih sibuk memberi warna pada gambarannya.


Lucas berkedip. Dia mengangkat tangannya dan menyingkirkan sedikit rambut Syakia yang menutupi telinganya. Ketika dia melakukan itu, barulah Syakia menoleh padanya.


Pandangan mereka bertemu. Freya melihatnya dan merasa bahwa cara keduanya menatap orang lain sangatlah mirip. Namun, aura yang dikeluarkan berbeda. Syakia tidak tertarik sama sekali pada Lucas, sementara Lucas memandang Syakia dengan kasih sayang dan rasa bersalah.


Lucas bertanya pada Freya. "Dia gak pakai alat bantu dengar?"


"Udah dilepas. Katanya gak mau dengar suara bising."


Lucas mengerutkan keningnya. "Suara bising apa?"


"Suara orang bicara."


"Ha? Kenapa?"


"Tanya aja dia."


Lucas berpikir sejenak, hendak bertanya. Namun, diurungkan. Dia menepuk bahu Syakia agar anak itu memberikan fokusnya pada Lucas. Bocah itu melihatnya dengan datar.


Lucas bicara perlahan. "Besok, kita ke rumah sakit, ya?"


Memahami perkataan Lucas, Syakia menoleh pada Freya. Ibunya mengangguk pelan. Walaupun enggan, Syakia ikut mengangguk.


Lucas tersenyum. Mengelus pelan rambut Syakia. "Kalo udah sembuh, bisa sekolah kayak biasa, ya."


Freya hanya melihat pemandangan di depannya. Dari tempatnya duduk, Lucas terlihat tulus. Mendadak sebuah pertanyaan muncul di benaknya.


Haruskah dia memberikan kesempatan pada Lucas dan membiarkan pria itu memperbaiki hal-hal yang sudah rusak?


Namun, sesaat kemudian dia berpikir lagi. Jika dia membiarkan Lucas masuk ke dalam hidupnya, memberi kesempatan untuknya . . . tapi, mengapa keraguan itu masih ada?

__ADS_1


Lucas . . . semua yang kamu lakukan itu karena kamu mencintai aku atau karena tanggung jawab belaka?


__ADS_2